Orang tua tidak perlu berlomba membawa anak ke tempat wisata yang mahal. Yang dibutuhkan anak sesungguhnya bukan kemewahan, melainkan kehadiran. Bukan banyaknya uang yang dihabiskan, tetapi banyaknya waktu yang diberikan.
Oleh: M. Isa Ansori
KEMPALAN: Ada sesuatu yang sering terlupakan dalam dunia pendidikan kita. Ketika sekolah libur, banyak orang menganggap proses pendidikan ikut berhenti. Padahal sejatinya, pendidikan yang paling menentukan justru berlangsung ketika anak kembali ke rumah, kembali ke pelukan orang tua, dan kembali belajar dari kehidupan sehari-hari.
Karena itu, saya mengapresiasi langkah Dinas Pendidikan Kota Surabaya yang mengajak orang tua mengambil peran lebih aktif selama masa liburan sekolah. Ini bukan sekadar imbauan administratif. Ini adalah panggilan moral untuk dapatnya mengembalikan keluarga sebagai pusat pendidikan karakter.
Di tengah dunia yang semakin bising oleh gawai, media sosial, dan juga berbagai distraksi digital, anak-anak kita sesungguhnya sedang mengalami krisis kedekatan. Mereka mungkin memiliki ribuan teman di dunia maya, tapi belum tentu memiliki cukup waktu untuk berbicara dari hati ke hati dengan ayah dan ibunya.
Mereka mungkin mampu mengoperasikan teknologi yang canggih, tetapi belum tentu memahami arti hormat, empati, dan rasa syukur.
Karena itu, liburan sekolah seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai waktu untuk beristirahat dari pelajaran. Liburan adalah kesempatan emas untuk memperbaiki relasi yang mungkin renggang karena kesibukan.
Liburan merupakan momentum menghadirkan kembali percakapan-percakapan hangat di ruang keluarga yang selama ini tergantikan oleh layar telepon genggam.
Saya teringat gerakan membasuh kaki orang tua yang beberapa waktu lalu yang digagas oleh Pemerintah Kota Surabaya. Banyak yang melihatnya hanya sebagai sebuah simbol. Padahal di balik simbol itu tersimpan pesan pendidikan karakter yang sangat mendalam.
Membasuh kaki orang tua bukan sekadar aktivitas seremonial. Ia adalah pelajaran tentang kerendahan hati. Tentang kesadaran bahwa dari setiap langkah yang kita tempuh hari ini sesungguhnya berdiri di atas pengorbanan ayah dan ibu yang seringkali tidak pernah kita hitung.
Seorang anak yang membasuh kaki orang tuanya sedang diajak untuk memahami bahwa cinta tidak selalu diwujudkan dalam kata-kata. Bahwa rasa hormat tidak cukup diajarkan melalui ceramah. Ia harus dirasakan, disentuh, dan dialami secara langsung. Maka semangat yang sama perlu dihadirkan selama masa liburan sekolah.
Orang tua tidak perlu berlomba membawa anak ke tempat wisata yang mahal. Yang dibutuhkan anak sesungguhnya bukan kemewahan, melainkan kehadiran. Bukan banyaknya uang yang dihabiskan, tetapi banyaknya waktu yang diberikan.
Liburan bisa diisi dengan kegiatan sederhana namun penuh makna. Mengajak anak mengunjungi kakek dan nenek. Memasak bersama di rumah. Membersihkan halaman bersama. Berziarah ke makam leluhur. Berdiskusi tentang sejarah keluarga. Mengajak anak membantu tetangga yang membutuhkan. Atau sekadar duduk bersama sambil mendengarkan cerita mereka tanpa terganggu notifikasi telepon genggam.
Dalam aktivitas sederhana itulah karakter tumbuh. Anak belajar menghormati orang tua ketika melihat bagaimana ayah dan ibunya, menghormati orang yang lebih tua.
Anak belajar empati ketika diajak merasakan kesulitan orang lain. Anak belajar tanggung jawab ketika diberi kepercayaan membantu pekerjaan rumah. Dan anak belajar mencintai keluarganya ketika merasakan dirinya dicintai.
Pendidikan karakter tersebut tidak lahir dari slogan. Ia lahir dari keteladanan dan pengalaman hidup.
Mungkin inilah makna terdalam dari imbauan Dinas Pendidikan Surabaya. Bahwa selama liburan, orang tua tidak sedang diberi pekerjaan rumah tambahan. Justru orang tualah yang sedang diberi kesempatan untuk kembali menjadi guru pertama dan utama bagi anak-anaknya.
Sebab pada akhirnya, yang akan membentuk masa depan bangsa ini bukan hanya kecerdasan akademik anak-anak kita. Tapi juga kemampuan mereka menghormati orang tua, menghargai sesama manusia, serta memahami bahwa keberhasilan hidup tidak hanya diukur dari prestasi, melainkan juga dari karakter yang dimiliki.
Dan, karakter itu selalu bermula dari rumah. Dari ruang makan tempat keluarga bercengkerama. Dari tangan ibu yang menggenggam anaknya. Dari langkah ayah yang menjadi teladan.
Dan dari kesadaran seorang anak bahwa di balik setiap kesuksesannya, ada kaki-kaki orang tua yang telah lebih dahulu berjalan, berjuang, dan berkorban untuk masa depannya.
Karena itu, mari jadikan liburan sekolah tahun ini bukan sekadar jeda belajar, tapi momentum menumbuhkan kembali akar karakter anak-anak kita.
Sebab, bangsa yang besar tidak hanya dibangun oleh sekolah yang hebat, tetapi juga oleh keluarga yang mampu untuk menanamkan hormat, kasih sayang, dan kemanusiaan sejak dini.
*) M. Isa Ansori, Pengurus LPA Jawa Timur dan Wakil Ketua ICMI Jawa Timur Bidang Pendidikan, Kesehatan, dan Lingkungan Hidup dan Dewan Penasehat LHKP PD Muhammadiyah Surabaya
Pendapat dalam artikel ini adalah pandangan pribadi.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi