Selasa, 19 Mei 2026, pukul : 08:01 WIB
Surabaya
--°C

Bahas Dakwah di Era VUCA, Wakil Ketua PWM Jatim Minta Mubaligh Punya Bekal 4M

Rapat Kerja (Raker) Majelis Tabligh PWM Jawa Timur yang digelar di Hotel Metro Park View, Semarang, Sabtu (8/2).(Foto: Istimewa).

SURABAYA-KEMPALAN: Era VUCA (Volatile, Uncertain, Complex, and Ambiguitas) menjadi perhatian serius para mubaligh Muhammadiyah. Dalam menghadapi era yang penuh ketidakpastian ini, diperlukan pendekatan mendalam dalam melaksanakan dakwah agar tetap relevan dan tepat sasaran.

Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur Dr. M. Sholihin Fanani menekankan bahwa para mubaligh harus memiliki bekal 4M, yaitu Manhaj, Ma’rifah, Muwajahah, dan Mu’asyarah.

“Keempat aspek ini dianggap krusial agar para dai dapat menyampaikan pesan Islam dengan lebih efektif di tengah perubahan sosial yang cepat,” katanya dalam pembukaan Rapat Kerja (Raker) Majelis Tabligh PWM Jawa Timur yang digelar di Hotel Metro Park View, Semarang, Sabtu (8/2).

Pertama, Manhaj. Para mubaligh perlu memiliki pemahaman manhaj (metode) yang jelas dalam berdakwah sesuai dengan prinsip Islam dan nilai-nilai Muhammadiyah. Hal ini bertujuan agar dakwah yang dilakukan tidak keluar dari koridor yang telah digariskan oleh organisasi.

Kedua, Ma’rifah. Bekal keilmuan (ma’rifah) menjadi aspek penting dalam dakwah. Seorang mubaligh harus memiliki wawasan luas tentang agama, sosial, budaya, serta teknologi agar pesan yang disampaikan bisa diterima oleh berbagai kalangan.

Ketiga, Muwajahah. Kemampuan menghadapi berbagai tantangan dalam dakwah sangat dibutuhkan.

“Para mubaligh harus siap menghadapi beragam kondisi dan dinamika sosial yang berkembang di masyarakat, termasuk tantangan di era digital,” tandasnya.

Keempat, Mu’asyarah. Interaksi sosial yang baik atau mu’asyarah menjadi kunci keberhasilan dakwah.

“Para mubaligh harus bisa membaur dengan masyarakat, memahami kebutuhan mereka, serta mampu membangun komunikasi yang efektif agar pesan dakwah lebih mudah diterima,” paparnya.

Dengan memiliki bekal 4M ini, para mubaligh Muhammadiyah diharapkan mampu menjalankan peran dakwahnya secara lebih optimal di era VUCA.

“Dakwah yang berbasis pada pemahaman yang kuat dan strategi yang tepat akan membuat Islam lebih mudah dipahami dan diamalkan oleh masyarakat luas,” tandas Sholihin.

Dalam kesempatan itu, Sholihin juga menekankan empat tugas utama mubaligh. Pertama, mencerahkan umat dengan memberikan pemahaman yang benar, bukan membodohi mereka.

“Kedua, menggerakkan umat agar aktif berkontribusi dalam kehidupan sosial, tidak hanya mendengarkan ceramah saja,” katanya.

Ketiga, memberdayakan umat dengan keterampilan dan potensi yang dimiliki.

“Keempat, menyejahterakan umat, baik secara spiritual maupun material,” paparnya.

Sholihin juga menyoroti pentingnya gaya dakwah yang efektif dengan memperhatikan tiga aspek utama: kinestetik (gerakan tubuh yang komunikatif), intonasi yang jelas, serta substansi yang berbobot.

Menurutnya, mubaligh harus mampu menarik perhatian audiens dengan penyampaian yang tidak monoton dan tetap fokus pada pesan inti. (Dwi Arifin)

Cermin Buram Birokrasi Di Indonesia

KEMPALAN: Kasus pemerasan di sektor pelayanan publik kembali mencuat ke permukaan setelah Kedutaan Besar China di Indonesia melaporkan 44 kasus pemerasan yang dialami oleh warganya di Imigrasi Bandara Soekarno-Hatta.

Temuan ini bukan sekadar insiden biasa, tapi cermin potret buram birokrasi Indonesia yang selama ini bergulat dengan persoalan integritas dan akuntabilitas.

Lebih dari itu, kasus ini membuka perbincangan yang lebih luas mengenai masalah sistemik yang mengakar dalam tubuh pelayanan publik, khususnya di titik-titik vital seperti bandara internasional, yang menjadi wajah pertama Indonesia di mata dunia.

Menurut laporan Kedutaan Besar China, kasus-kasus pemerasan ini terjadi dalam berbagai bentuk, mulai dari permintaan uang secara terang-terangan hingga ancaman deportasi jika tuntutan tidak dipenuhi.

Dalam beberapa kasus, warga negara asing dipaksa membayar sejumlah uang untuk mempercepat proses pemeriksaan atau menghindari tuduhan pelanggaran imigrasi yang sengaja dibuat-buat.

Salah satu korban, seorang warga negara China yang meminta identitasnya dirahasiakan, mengaku harus membayar lebih dari Rp5 juta hanya untuk bisa keluar dari area imigrasi tanpa hambatan.

Yang membuat situasi ini semakin mengkhawatirkan adalah indikasi bahwa praktik ini bukan sekadar ulah individu nakal, melainkan bagian dari sistem pemerasan yang terorganisir.

Hal ini memperlihatkan bahwa korupsi di layanan publik Indonesia tidak lagi bersifat insidental, melainkan telah menjadi bagian dari budaya birokrasi yang sulit diberantas.

Dr. Bambang Widodo, pakar tata kelola pemerintahan dari Universitas Gadjah Mada, menegaskan bahwa kasus ini menunjukkan adanya kultur korupsi yang masih mengakar kuat dalam birokrasi Indonesia.

“Masalah ini tidak hanya soal individu yang menyalahgunakan wewenang, tetapi juga menunjukkan lemahnya pengawasan internal dan komitmen pemerintah dalam menerapkan reformasi birokrasi secara menyeluruh,” jelasnya.

Praktik pemerasan ini tidak hanya merusak kepercayaan publik terhadap pelayanan imigrasi, tetapi juga berdampak serius terhadap citra Indonesia di mata internasional.

Sebagai negara yang tengah berupaya menarik investasi asing dan meningkatkan sektor pariwisata, berita tentang pemerasan di bandara internasional seperti Soekarno-Hatta bisa menjadi penghalang besar dimata international

Investor dan wisatawan cenderung menghindari negara yang dianggap tidak aman atau tidak profesional dalam layanan publiknya. Kasus ini bahkan berpotensi merusak hubungan diplomatik Indonesia dengan China, salah satu mitra dagang terbesar Indonesia.

Dr. Arief Prasetyo, pengamat hubungan internasional dari Universitas Indonesia, mengingatkan bahwa insiden semacam ini bisa memperburuk hubungan bilateral.

“Jika kasus ini tidak ditangani dengan serius, bisa berdampak pada kerja sama ekonomi dan diplomatik dengan China. Ini bukan sekadar soal pelayanan imigrasi, tetapi juga soal bagaimana Indonesia menjaga kepercayaan mitra-mitra internasionalnya,” ujar Arief.

Pendapat ini sejalan dengan pandangan Dr. Michael Johnston, pakar antikorupsi dari Colgate University, yang menyebut bahwa korupsi dalam pelayanan publik memiliki efek domino terhadap stabilitas ekonomi dan politik suatu negara.

“Korupsi di titik-titik vital seperti bandara bukan hanya merusak reputasi, tetapi juga menciptakan ketidakpastian hukum yang membuat investor ragu untuk berinvestasi,” ungkap Johnston.

Setelah laporan ini mencuat, Direktorat Jenderal Imigrasi mengeluarkan pernyataan resmi bahwa mereka akan melakukan penyelidikan mendalam dan memberikan sanksi tegas kepada pelaku. Namun, publik skeptis terhadap langkah ini, mengingat banyak kasus serupa yang sebelumnya hilang tanpa ada perubahan signifikan.

Febri Diansyah, mantan juru bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), menegaskan bahwa respons pemerintah harus lebih dari sekadar penyelidikan internal. “Kita sudah terlalu sering melihat kasus seperti ini muncul dan kemudian tenggelam tanpa solusi jangka panjang.

Pemerintah harus menunjukkan komitmen nyata dengan membentuk satuan tugas independen atau melibatkan KPK secara langsung untuk memantau praktik di lapangan,” katanya.

Selain pengawasan ketat, Febri juga menyarankan adanya audit rutin terhadap kinerja petugas imigrasi, serta pemanfaatan teknologi untuk meminimalisir interaksi langsung antara petugas dan penumpang, yang sering menjadi celah terjadinya pemerasan.

Negara-negara maju seperti Singapura dan Jepang telah lama menerapkan sistem otomatisasi imigrasi yang transparan, mengurangi peluang terjadinya praktik korupsi.

Dr. Robert Klitgaard, ahli kebijakan publik dan penulis buku Controlling Corruption, menekankan pentingnya reformasi struktural dalam memerangi korupsi.

Menurutnya, korupsi terjadi ketika ada monopoli kekuasaan, diskresi tinggi, dan akuntabilitas rendah.

“Solusi jangka panjang bukan hanya soal teknologi, tetapi juga menciptakan sistem yang membuat korupsi menjadi tidak menguntungkan dan berisiko tinggi bagi pelakunya,” jelas Klitgaard.

Korupsi dalam layanan publik sering kali berakar dari rendahnya kesejahteraan aparat dan minimnya pendidikan tentang etika kerja.

Pemerintah perlu memperbaiki sistem penggajian dan memberikan insentif bagi pegawai yang bekerja dengan jujur.

Daniel Kaufmann, Presiden Natural Resource Governance Institute, menekankan pentingnya kesejahteraan sebagai alat pencegah korupsi.

“Petugas yang digaji layak dan bekerja dalam lingkungan yang menghargai integritas cenderung lebih resisten terhadap godaan korupsi,” ujarnya.

Namun, insentif saja tidak cukup. Pemerintah harus memastikan bahwa ada sanksi tegas bagi pelaku korupsi, termasuk pemecatan dan proses hukum yang transparan.

Tanpa sistem penghargaan dan hukuman yang jelas, sulit bagi aparat untuk menghindari praktik korupsi, apalagi jika lingkungan kerja mereka mendukung perilaku tersebut.

Langkah lain yang krusial adalah menyediakan saluran pelaporan yang mudah diakses oleh wisatawan dan warga asing, dengan jaminan bahwa laporan mereka akan ditindaklanjuti.

Perlindungan terhadap pelapor juga penting untuk memastikan mereka tidak takut melaporkan kasus serupa.

Transparency International merekomendasikan penggunaan platform digital sebagai sarana pelaporan yang aman dan anonim, yang memungkinkan masyarakat melaporkan pelanggaran tanpa takut akan represaliasi.

Kasus pemerasan di Imigrasi Bandara Soekarno-Hatta ini seharusnya menjadi alarm keras bagi pemerintah untuk segera memperbaiki sistem pelayanan publik.

Jika tidak, Indonesia berisiko kehilangan kepercayaan internasional dan dukungan ekonomi dari negara-negara mitra, termasuk China.

Lebih dari itu, kasus ini menjadi cerminan bagaimana korupsi kecil bisa berdampak besar terhadap reputasi negara.

Dengan penanganan yang tepat dan reformasi yang konsisten, Indonesia memiliki kesempatan untuk memperbaiki citra dan membangun sistem pelayanan publik yang bersih, transparan, dan profesional.

Namun, tanpa komitmen yang nyata, kasus seperti ini hanya akan menjadi bagian dari siklus korupsi yang terus berulang, menggerogoti fondasi negara dari dalam.
                         *
Oleh :Bambang Eko M

Mohon Koreksi Bos 🙏🙏

Tahap Pertama 2025, Pemkot Surabaya Lelang 74 Unit Kendaraan

SURABAYA-KEMPALAN: Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kota Surabaya kembali melakukan lelang kendaraan dinas eks kepala perangkat daerah (PD) di lingkup Pemerintah Kota (Pemkot). Lelang kendaraan tahap pertama di tahun 2025 ini sudah dibuka mulai tanggal 5 hingga 12 Februari setiap pukul 09.00 dan 10.00 WIB.

Kepala BPKAD Kota Surabaya Wiwiek Widayati mengatakan, ada sebanyak 74 unit kendaraan, terdiri dari 67 unit roda dua dan 7 unit roda empat dilelang dalam tahap tersebut.

“Penawaran untuk lelang kendaraan tahap pertama di tahun 2025 ini, sudah dibuka mulai tanggal 5 Februari lalu dan akan berakhir pada tanggal 12 Februari,” kata Wiwiek, Jumat (7/2).

Wiwiek menjelaskan, proses lelang untuk 74 unit kendaraan eks operasional itu, dibuka untuk masyarakat umum. Adapun beberapa tipe kendaraan yang dilelang, antara lain untuk roda dua adalah Honda Supra, Suzuki Shogun, Suzuki Titan, Suzuki ts, Honda Win, dan Honda Vario.

Kalau untuk roda empatnya eks operasional ambulan dengan tipe mobil Panther dan Panther Turbo,” imbuhnya.
Bagi masyarakat yang ingin mengikuti lelang, Wiwiek menyampaikan, dapat melakukan pendaftaran melalui situs https://portal.lelang.go.id/ Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu) RI. Selain itu, peserta lelang bisa melihat unitnya secara langsung di Gudang BPKAD yang beralamat di Jalan Dupak Rukun Nomor 104, Surabaya.

“Masyarakat yang berminat bisa mendaftar melalui online dengan syarat memiliki email, identitas KTP, NPWP, buku tabungan atau rekening bank (ini untuk pendaftaran akun di web KPKNL),” terangnya.

Wiwiek mengungkapkan, lelang eks kendaraan operasional kali ini dibuka mulai harga Rp 500.000 hingga Rp 2.850.000 untuk kendaraan roda dua. Lalu, untuk kendaraan roda empat dimulai dengan harga Rp. 24.240.000 sampai Rp 63.030.000. Masyarakat yang berminat, nantinya bisa menyetorkan jaminan lelang sebagai tanda keseriusan.

“Nilai jaminannya berbeda-beda menyesuaikan limit dari barang yang diminati. Pengumuman mengenai jaminan bisa dilihat melalui portal.lelang.go.id,” imbuhnya.

Sebelumnya diketahui, BKAD Kota Surabaya telah melakukan tiga tahap lelang kendaraan eks operasional sepanjang tahun 2024. (Dwi Arifin)

Prof. Bambang Menjaga Kewarasan Dengan Melukis

Di antara deretan angka, strategi bisnis dan konsep ekonomi yang kompleks, Prof. Dr. Bambang Tjahjadi, SE, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga menemukan ketenangan di tempat yang tak terduga, yakni di atas kanvas. Seperti maestro yang menggubah simfoni dengan kuas, akademisi yang akrab disapa Mas Mbeng ini melukis bukan sekadar hobi tetapi sebagai bentuk perlawanan halus terhadap kepenatan intelektual.

Bagi Mas Mbeng melukis bukan sekadar aktivitas selingan melainkan pemanjaan batin. “Jika ada yang memilih bertamasya ke pegunungan, saya justru memindahkan gunung dan flora ke atas kanvas,” katanya sembari tersenyum. Ruang estetik yang ia ciptakan menjadi tempat pelarian dari hiruk-pikuk dunia akademik.

Sejak 2005 puluhan karyanya lahir dari perpaduan ekspresi dan presisi. Tak heran jika dalam pameran tunggalnya di Gedung Balai Pemuda Surabaya, 4–9 Februari 2025, atmosfer yang tercipta bukan hanya sekadar visual tetapi juga narasi kebebasan. Dengan sentuhan peragaan keris, wayang krucil, dan batik, pameran ini menyerupai altar keindahan budaya.

RUANG TERAPI

Di tengah rutinitas akademiknya, melukis menjadi bentuk healing, cara Mas Mbeng menjaga kewarasan. “Melukis itu terapi, menenangkan pikiran dan menyegarkan jiwa,” ujarnya. Seperti seorang empu yang menempa keris, dibentuknya keseimbangan hidup di antara warna-warna yang memenuhi kanvas.

Tak sedikit yang memilih berwisata alam atau menikmati kuliner untuk mengusir kejenuhan tetapi Mas Mbeng justru tenggelam dalam cat dan kuas. Baginya, setiap sapuan warna adalah luapan emosi, setiap garis adalah jejak perjalanan batin. Seni bukan hanya estetika tetapi juga medium refleksi diri, terapi ekspresif yang tak selalu bisa diungkapkan dalam bahasa lisan.

GARIS TAKDIR

Kecintaan Mas Mbeng pada seni rupa telah bersemi sejak remaja. Dulu, ketika masih SMA di Probolinggo bercita-cita kuliah di Institut Seni Rupa di Yogyakarta. Namun ayahnya mengarahkan langkahnya ke jurusan ekonomi di Universitas Airlangga. Takdir mungkin membawanya ke dunia akademik namun hasratnya terhadap seni tak pernah padam.

Kini, di usianya yang ke-68, Mas Mbeng tetap setia pada dua dunia, ekonomi dan seni rupa. Bahkan gaya khasnya yang selalu mengenakan sarung modis, termasuk saat mengajar di kampus, mencerminkan karakter unik yang memadukan intelektualitas dan kebebasan berekspresi.

Pameran tunggal Mas Mbeng bukan sekadar perayaan seni, tetapi juga penghormatan dari mahasiswa dan alumni. Salah satunya adalah Joseph Theodorus Wulianadi, pendiri Jogger Bali. “Saya salut pada Mas Mbeng karena tetap meluangkan waktu untuk mengekspresikan diri dalam seni rupa,” ujarnya.

Eko Bening, koordinator pameran sekaligus civitas ekonomi Unair, menegaskan bahwa acara ini juga merupakan bentuk penghargaan atas dedikasi Mas Mbeng dalam dunia akademik. “Ini adalah apresiasi yang kami haturkan bertepatan dengan hari ulang tahun beliau,” katanya.

Di atas kanvas Mas Mbeng menemukan kebebasan yang mungkin tak bisa ia temukan di ruang kuliah. Seperti seorang penari yang meliuk mengikuti irama, ia menari dengan kuas, menciptakan harmoni yang menyegarkan pikiran dan menenangkan jiwa. Seni bukan sekadar hobi baginya, melainkan jembatan antara realitas dan imajinasi, antara logika dan intuisi.

Di sana, di atas kanvasnya penuh warna, Mas Mbeng menjaga kewarasan dalam tarian estetik tiada henti.

Oleh:
Rokimdakas
Wartawan & Penulis
7 Februari 2025

Surabaya Dibakar Dengan Demo Anti Jokowi

MAPOLDA JATIM, SURABAYA – KEMPALAN: Setelah viral grafiti dan tulisan adili Jokowi merebak di hampir semua kota besar di Indonesia, hari ini Jum’at (7/2) GAS (Gerakan Arek Suroboyo) yang berkantor di Jl. Siwalankerto Selatan III, Surabaya Jawa Timur bersama elemen masyarakat yang berprofesi sebagai pengantar layanan penumpang motor (Gojek) melakukan demontrasi dengan mengangkat tema Adili Jokowi Perusak NKRI. Jumlah peserta diperkirakan tiga ratus sampai lima ratus orang orang lebih, mengingat masa yang terus berdatangan memenuhi halaman Mapolda Jatim. Adapun aparat kepolisian yang dikerahkan juga terlihat sangat banyak dari berbagai unsur.

Salah satu poster yang dipegang pendemo (foto: Izzat)

Demo yang dijadwalkan mulai jam 12:30 WIB tersebut mundur menjadi jam 13:30 an dan berakhir pada jam 16:00 WIB karena sudah ada 7 perwakilan yang diterima Polda Jatim untuk menerima aspirasi mereka.

Pernyataan sikap dari GAS (Gerakan Arek Suroboyo) yang diterima kempalan (foto: Izzat)

Berikut pernyataan sikap dari GAS yang diterima kempalan dari peserta demo:

Gagasan nawacita untuk menghadirkan pemerintahan yang bebas korupsi hanya menjadi pepesan kosong. Penegakan hukum terkesan menjadi alat politik kekuasaan, seperti dalam hal pembongkaran kritik sipil dan media massa. Keamanan dan perlindungan bagi masyarakat menjadi semu dengan sikap Represif aparat penegak hukum terhadap warga yang berbeda sikap dengan pemerintah titik sebaliknya, berbagai kasus lama seperti pelanggaran berat HAM masa lalu yang menjadi utang untuk dituntaskan justru terus diharapkan pada ketidakpastian.

Nampak demonstran memenuhi mobil komando di depan Mapolda Jatim (foto: Izzat)

Joko Widodo sebagai Presiden RI lebih mengutamakan pertumbuhan ekonomi yang ternyata juga gagal diwujudkan karena masalah hukum tidak terpenuhi terlebih dahulu titik misalnya, Ambisi Joko Widodo berbagai proyek strategis nasional (PSN) yang mengutamakan kepentingan investor, tetapi mengabaikan kepentingan publik atau keadilan yang lebih luas. Pembangunan infrastruktur seringkali mengabaikan aspirasi masyarakat. Kebijakan insentif terus dikelompokkan untuk mendukung investor, sementara masyarakat adat dan lokal cenderung terpinggirkan. Konflik agraria terus meletus, dan banyak terjadi di area proyek strategi nasional (PSN), seperti di ibukota nusantara (IKN), rempang, dan Pantai Indah Kapuk 2 (PIK2).

Salah seorang peserta demo yang penuh semangat (foto: Izzat)

Joko Widodo sebagai presiden ke-7 menggunakan cara pandang hukum yang positivistik dalam pengelolaan sumber daya alam, sehingga dengan mudah menyingkirkan masyarakat, terutama petani, nelayan, masyarakat adat, masyarakat pedesaan dan miskin kota aparat penegak hukum dan hukum dijadikan tameng dari kritik dan protes masyarakat. Melihat kondisi tersebut, gerakan arek Suroboyo untuk keadilan merasa perlu mendorong institusi Kepolisian Republik Indonesia sebagai salah satu aparat penegak hukum yang menjadi ujung tombak penegakan hukum dan elemen penting dalam proses penegakan hukum yang berkeadilan, untuk menjadi profesional, mandiri, dan berintegritas serta berani mengambil peran sebagai pelindung dan pengayom masyarakat yang tidak berpihak pada siapapun selain hukum, kebenaran, dan keadilan. Ini termasuk mengusut tuntas berbagai kasus selama pemerintahan Joko Widodo, terutama yang diduga ada keterkaitan dengan Joko Widodo atau kroni-kroninya.

  1. Usut tuntas berbagai kasus KKN yang Jokowi dan keluarga diduga terlibat diantaranya kasus BPMKS atau bantuan Pendidikan Masyarakat Kota Surakarta, korupsi BMW, korupsi Transjakarta, korupsi dana KONI, korupsi DJKA, blok Medan, korupsi melalui rekomendasi tas bansos di Sritex, kasus pengurangan denda PT SM yang melakukan pembakaran hutan, jet pribadi untuk liburan, pagar laut dan lain-lain yang semuanya sudah diadukan ke lembaga-lembaga penegakan hukum dan dipublikasikan di berbagai media namun tidak ada langkah penyidikan penyelidikan.
  2. Mengusut tuntas kasus-kasus terkait kebijakan yang merugikan rakyat diantaranya kasus pagar laut Banten, Bekasi, Sidoarjo dan daerah-daerah lain termasuk mengusut kebijakan-kebijakan anti rakyat yang sudah menelan korban jiwa secara tidak langsung seperti kelangkaan gas elpiji 3 kg.
  3. Meminta Polri untuk kembali menjadi polisi rakyat yang independen dan berpegang teguh pada konstitusi sebagai pelindung dan pengayom yang tidak berpihak pada siapapun selain pada hukum kebenaran dan keadilan.
Aparat keamanan yang dikerahkan di Mapolda Jatim bersiap dengan perlengkapannya (foto: Izzat)

Sementara demo dilaksanakan, lalu lintas di depan Mapolda Jatim tetap lancar dan tidak mengganggu kendaraan yang lewat walaupun kegiatan anti Jokowi tersebut menarik perhatian masyarakat kota Surabaya. (Izzat)

Editor: Nur Izzati Anwar

Grafiti Adili Jokowi Muncul di Surabaya


SURABAYA – KEMPALAN: Grafiti yang beberapa hari muncul di kota-kita besar di tanah air, seperti di Solo, Jakarta dan kota besar lainnya, hari ini diketahui muncul di Surabaya, tepatnya di jalan raya Jemursari.

Bila dari arah selatan (RSI) ke arah utara, tepatnya sebelum belokkan ke arah Plaza Marina, anda akan menemui tulisan tersebut dengan jelas.

Anggapan masyarakat terhadap cawe-cawenya Jokowi hingga saat ini membuat orang-orang geram. Banyak komentar netizen maupun masyarakar di berbagai tempat yang menginginkan Jokowi duduk diam saja menikmati masa pensiunnya dari jabatan presiden. Hal tersebut yang mungkin memicu ketidaksukaan masyarakat terhadapnya, sehingga meluapkan berbagai komentar maupun tulisan baik di media sosial maupun di tembok-tembok jalanan seperti grafiti tersebut. Di media sosial, tuntutan terhadap Jokowi agar segera diadili bahkan sangat banyak.

Menurut salah seorang warga yang bernama Ismo ketika diwawancarai kempalan, dia mengatakan “Saya tidak tau kapan tulisan tersebut muncul”. Ketika ditanya lebih lanjut mengenai pendapatannya, Ismo mengatakan, “Itu wujud kepekaan rakyat Indonesia terhadap apa yang dilakukan Jokowi selama menjabat presiden, dimana banyak pelanggaran, nabrak norma politik, konstitusi. Selama ini kan kelihatan sekali nepotismenya pak”, pungkasnya.

Sementara ketika kempalan mencoba berbelok ke arah kiri (Plaza Marina – arah Margorejo Indah) kemudian balik lagi dan meneruskan perjalanan ke arah Jemursari, tidak ditemukan tulisan yang sama. (Izzat).

Editor: Nur Izzati Anwar

Jalan Tasawuf KH. Syaiful Ulum Nawawi (2)

KEMPALAN: Tentu saja jalan tasawuf yang sudah bertransformasi ke dalam diri Syaiful Ulum muda yang makin lama makin menebalkan sufiisme yang dijalankannya berdasarkan singgungan amali maupun ilmi, juga diajarkan di Pondok Pesantren Darul Ibadah Al-Baiad yang didirikan dan diasuhnya.

Kapan itu? “Sejak pondok pesantren ini didirikan, nilai-nilai tasawuf sudah diberikan,” tutur KH. Syaiful Ulum Nawawi.

Tahapan pembelajaran tasawuf tersebut melalui sejumlah kajian kitab, dari tingkat Awaliyah sampai Aliyah.

“Penanaman nilai-nilai tasawuf itu pada pembelajaran di pondok dilakukan dalam bentuk ngaji tasawuf dengan implementasi menelaah kitab-kitab tasawuf maupun belajar secara empiris mengamalkan nilai-nilai laku kasih sayang dalam kehidupan praktis,” jelas KH. Syaiful Ulum Nawawi lirih namun menyiratkan ketegasan.

Nah, dua elemen yang dinarasikan KH. Syaiful Ulum di atas, itulah sudut pandang ke-tasawuf-an yang disebut ilmi dan amali.

Begitulah, dalam dunia tasawuf nilai rasa menjadi acuannya. “Ini sepengerahuan saya. Lebih dari itu mungkin ada. Tapi tetap kembali kepada qolbu,” kata beliau menegaskan.

“Sebagaimana dunia jurnalistik yang memberi dasar pokok-pokok penulisan berita dengan rumus 5 W + 1 H (who, when, what, where, why — ditambah how),” kata KH. Syaiful Ulum Nawawi, “Dalam dunia tasawuf juga ada pokok-pokok, ‘rumus-rumus’ seperti itu,” tambahnya.

“Saat kuliah di Akademi Dakwah, saya juga diberikan sub-mata kuliah Dasar-Dasar Menulis Berita,” katanya lagi. “Dan itu domain aqliyah logika rasional.”

Namun dalam tasawuf resapan rasa mengimplikasikan pesan moral ajaran Tuhan (Alloh) yang begitu kuat melekat.

“Oleh sebab itu,” lanjutnya, “Sebaiknya logika rasional (akal) simetris dengan resapan qolbu (hati).”

Dalam pesan Alqur’an, sebut Pak Kyai yang sudah menjelajah hampir seluruh wilayah Tanah Air ini, diistilahkan dengan
sebutan ‘berfikir dan berdzikir’. Tapi dalam praktiknya berdzikir terus berfikir karena struktur ayat Alqur’an mengatakan BERDZIKIR terus BERFIKIR. Itulah predikat Ulul Albab (orang yang berakal) sehat.

Ketika disinggung bahwa puncak dari jurnalisme adalah ‘kemanusiaan’, KH. Syaiful Ulum Nawawi sependapat.

Kalau puncak dari tasawuf?

KH. Syaiful Ulum Nawawi menyatakan dengan pelan tapi tegas : Keselarasan dalam membangun kehidupan sebagai kholifah Alloh di bumi dengan “pemberatan” pada nilai-nilai welas asih. (Amang Mawardi – Bersambung).

Khofifah-Emil Siap Membangun Jawa Timur sebagai Pintu Gerbang Baru Nusantara

Gubernur dan Wakil Gubernur Jatim terpiilih Khofifah Indar Parawnsa-Emil Elestianto Dardak.(Foto: Dwi Arigin/kempalan,com)

SURABAYA-KEMPALAN: Pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa telah ditetapkan KPU Jatim sebagai gubernur dan wakil gubernur Jatim terpilih melalui rapat pleno di Hotel Double Tree by Hilton Surabaya, Kamis (6/1).

Ketua KPU Jatim Aang Kunaifi mengaku bersyukur setelah melakukan rapat pleno penetapan gubernur dan wakil gubernur Jatim terpilih Pilgub Jatim 2024.

“Alhamdulillah pagi ini,  kami bisa melaksanakan rapat pleno terbuka  dengan lancar agenda penetapan calon terpilih gubenur dan wakil gubernur Provinsi Jawa Timur hasil Pilkada Serentak 2024,” kata Aang Kunaifi, Kamis (6/1).

Untuk selanjutnya, sambung Aang, sebagaimana ketentuann yang sudah ditetapkan, sehari setelah menetapkan calon terpilih, KPU Provinsi Jatum punya kewajiban menyampaikan usulan kepada Bapak Presiden melalui DPRD Provinsi Jawa Timur, sehingga pada Jumat (7/2) jam 10 pagi, di Gedung DPRD Jawa Timur pihaknya akan menyampaikan usulan pengangkatan Khofifah Indar Parawansa-Emil Elestanto Dardak sebagai calon gubernur dan wakil gubernur Jawa Timur terpilih.

Sedang pelantikan  gubernur dan wakil gubernur Jawa Timur terpilih, menurut Aang, berdasarkan informasi dari Menteri Dalam Negeri (Mendagri) akan dilaksanakan pada tanggal 20 Feberuari 2025 di Jakarta.

Sementara calon gubernur Jawa Timur terpilih  Khofifah Indar Parawansa menyatakan bersyukur atas penetapan dirinya bersama Emil Elestianto Dardak sebagai gubernur dan wakil gubernur terpilih di Pilgub Jatim 2024 oleh KPU Jatim.

“Alhamdulillah seluruh proses panjang dari Pilgub, saya rasa hari ini KPU Jawa Timur sudah melaksanakan rapat pleno terbuka dan sudah menyampaikan penetapannya. Bahkan sudah ada nomornya tadi yang ditandatangani oleh seluruh komisioner KPU Jawa Timur;” kata Khofifah.

Sehingga, lanjut Khofifah, ini adalah merupakan awal dari dirinya bersama Emil Elestianto Dardak mengemban amanat untuk periode kedua. “Tentunya dengan dinamika yang hari ini terus dilakukan proses adaptasi bersama di dalam membangun Jawa Timur sebagai Pintu Gerbang Baru Nusantara,” ujarnya.

Mengenai pelantikan, Khofifah menyebut bahwa dirinya dan Emil mengikuti saja apa yang telah dijadwalkan, di mana dan kapan akan dilakukan. “Insya Allah kita siap,” tegasnya.

Bahkan, Khofifah menyebut bahwa dirinya juga sudah siap retreat. Sebab, kata dia, karena dinamika antara lokal, regional, nasional, dan global penting untuk melakukan proses penyesuaian kebijakan-kebijakan baru dari pemerintah.

“Saya kira kita juga perlu melakukan koordinasi bersama antar kepala daerah, baik provinsi maupun kabupaten kota,” tandasnya.

Pada kesempatan tersebut Khofifah juga mengaku telah menerima ucapan selamat dari Presiden Prabowo. Tepatnya pada saat dirinya menghadiri HUT NU  ke-102 di Jakarta, Rabu (5/1) malam, sebagai Ketua Umum PP Muslimat NU yang kebetulan juga menjabat salah satu Ketua PB NU.

“Beliau (Presiden Prabowo) menyampaikan dan menyebut saya pertama sebagai Ketua Umum PP Muslimat NU dan kemudian beliau menyampaikan selamat, karena memang proses dari MK sudah diumumkan tanggal 4 (Februari) dan acara tadi malam tanggal 5, sehingga kami mengucapkan terima kasih,” aku Khofifah.

Tentunya, lanjut Khofifah, dirinya dan Emil merupakan satu paket, tidak bisa dilihat satu-satu. Kalau ada ucapan selamat dari Pak Presiden Prabowo kepada dirinya, karena kebetulan dirinya yang saat itu ada di forum HUT NU ke-102. Sehingga ucapan selamat dari Pak Presiden Prabowo itu sebenarnya ditujukan kepada dirinya bersama Emil.

Selain itu, pada Rabu (5/1) malam Khofifah juga mengaku mendapat ucapan selamat melalui  WhatsApp dari calon gubernur Jatim Luluk Nur Hamidah.

Tapi ketika ditanya apakah juga mendapat ucapan selamat dari calon gubernur Tri Rismaharini, Khofifah langsung buru-buru pergi. “Wes rek, wes rek,” pungkasnya. (Dwi Arifin)

Era Transisi Jokowi: Membangun Manusia Indonesia Seutuhnya Demi Menghasilkan Nasionalisme Atau Drakula Wiwik-Wowok di Antara Oligarki

Oleh: Sri-Bintang Pamungkas

KEMPALAN: Membangun manusia Indonesia seutuhnya itu adalah cita-cita Pak Harto. Saya merasa menjadi salah satu dari jutaan manusia Indonesia yang dicita-citakan pak Harto, sekalipun presiden ke dua itu memusuhiku, menghukumku dan memenjarakanku dengan berbagai rekayasa yang aku terpaksa harus melawannya.

Banyak Aktivis, juga Cerdik Pandai yang berdalih: Kan Pak Harto lebih baik daripada Jokowi… kan Pak Harto memegang teguh Pancasila dan UUD 1945… Dan lain-lain, dan lain-lain… Tentu mereka miskin pemikiran… dan tidak tahu Sejarah Perjuangan Bangsa. Mereka juga tidak membaca Konstitusi 1945 dengan seksama. Aku melawan, karena Soeharto menyimpang dari cita-cita membangun manusia dan ingin terus-terusan menjadi Calon Tunggal, justru itu melawan UUD 1945.

Umur tiga tahun, kami bertujuh bersama Ibu mengungsi ke Solo menghindari kejaran PKI. Ayah terbunuh dan adikku satu. Kami ditolong Kapten Soemadi yang memimpin beberapa Tentara Pelajar. Ada rumah besar kosong, dan kami ditempatkan di situ. Kami makan ubi… kadangkala nasi krawu… kadangkala grontol jagung. Kami mencuri daun ubi kayu tetangga untuk dibikin urap, sewaktu-waktu ramban daun ubi jalar untuk dibikin brambang-asem.

Sewaktu Taman Kanak-kanak ada pembagian minum susu. Di Sekolah Rakyat kami mengenal “4 Sehat 5 Sempurna”… tapi hanya sekedar tahu… Di usia 9 tahun, kami mendapat Perumahan Rakyat dengan cicilan 20 tahun dari pensiun Ayah. Tapi luar biasa: Ukurannya 100/60.

Tugasku menyalakan kompor bersumbu pakai minyak tanah, menjerang air, menanak nasi pakai kètèl dan dandang. Aku mengambil jatah beras dari Koperasi Wanita teman-teman Ibu, juga menukar girik dari pak RT dengan minyak goreng dan lain-lain. Sampai SMA, pagi-pagi aku masih ke pasar beli Sego Pecel. Juga ke Pegadaian menukar apa saja menjadi uang. Tapi tak ada yang membikin hatiku bahagia selain hadiah Atlas Indonesia dan Dunia dari Ibuku: Indonesiaku Luar Biasa!

Tapi bertujuh kami semua lulus SMA, lalu masing-masing meninggalkan Solo: Satu ke UGM, dua ke UI, satu ke Airlangga, satu lagi ke UI, lalu dua ke ITB. Kemudian dua ke AS menyelesaikan S3. Aku kira itulah manusia seutuhnya: ada ilmu dunia, ada budi pekerti, ada ilmu agama, ada cinta tanah air dan setia kepada konstitusi.

Sekalipun hanya nasi krawu, grontol, urap, brambang asem dan sego pecel, itulah “4 Sehat 5 Sempurna” yang kami pahami, di samping Perumahan Rakyat. Ada jutaan yang hidup seperti kami, tapi ratusan juta lainnya tidak sebaik rahmat Allah yang kami terima. Pengalaman hidup seperti kami itulah, minimal, yang dituntut oleh seluruh keluarga rakyat Indonesia. Tidak néko-néko seperti Wowok si Drakula dengan 100-an mumi hidupnya… dengan makanan bergizi gratis (MBG)nya. Sebab, itu tidak akan membuat perekonomian menjadi lebih baik, bertumbuh 8%, tidaklah mungkin!

Setiap orang tua harus punya rumah. Karena dengan itu, dia bisa bekerja dan anak-anaknya bisa bersekolah. Khusus pribumi yang pemilik republik ini, rumahnya harus bisa diangsur; dan tanahnya yang 10×10 harus gratis. Sedang untuk bisa mengangsur, tentu harus ada pekerjaan dengan upah atau gajinya harus bisa mencukupi kebutuhan hidupnya. Termasuk makan-minum cukup untuk isteri dan 2 atau 3 anak-anaknya, tidak perlu lagi makan ubi, Nasi krawu dan grontol jagung. Begitulah kalau mau membangun kesejahteraan rakyat.

Begitulah pula di negara-negara maju, unsur manusia dinomorsatukan. Mereka digaji tinggi karena dengan itu, si Manusia mampu menciptakan segala mesin, termasuk mesin-mesin pengolah sumberdaya alam. Dengan ilmu dan teknologi (IT) yang dimilikinya itu, mesin-mesin produksi bisa berjalan lebih mudah dan lebih banyak menghasilkan. Begitulah seharusnya pendapatan nasional bisa dilipatgandakan dengan investasi, dan investasi pada sumberdaya manusia (SDM), demi meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Maka adalah keliru besar mau membangun manusia seutuhnya tapi memberi gaji kecil kepada para buruh yang merupakan tulang punggung perekomomian. Begitu menyimpangnya Pak Harto dari prinsip perekonomian yang sangat mendasar sehingga tega aparatnya membunuh Marsinah, tokoh pembela buruh wanita dari Sidoarjo. Pak Harto juga yang memulai membungkam suara manusia.

Sedang dengan liberalisme dan kapitalismenya, Oligarki dari salah satu etnis Indonesia itu memupuk kekayaannya. Uang-uang yang dicurinya dari tangan pribumi-pribumi Indonesia itu, dari bank-bank kita, dari berbagai sumberdaya alam kita, haruslah kita ambil kembali. Terserah kepada mereka, apa masih mau terus bikin ribuan pulau-pulau reklamasi untuk mencaplok Indonesia. Atau, berinvestasi dengan cara-cara yang baik dan benar di sektor-sektor yang bermanfaat demi kepentingan rakyat bangsa dan negara. Kalau nekat, silahkan pergi dan keluar dari Indonesia.

Seorang presiden Republik Indonesia harus bisa tegas seperti itu: Take It or Leave It!, kata Bung Karno kepada Asing soal sumur-sumur minyak kita. Berkali-kali pula rakyat Indonesia sudah dikhianati para pemimpinnya. Banten sudah meradang!, juga mereka yang ada di Sabang sampai Merauke. Sekarang rakyat mau tegas kepada Wowok…: Terus memainkan sejoli drakula Wiwik-Wowok bersama barisan mumi hidup dan para oligarki salah satu etnis tertentu yang keparat. Atau bersama rakyat menghukum Wiwik dan mengusir para Oligarki.

Apa pun pilihanmu, Wok, kita mainkan sekaligus jurus revolusi…: Kembali ke Pancasila dan UUD 1945. (@SBP)

Jakarta, 6 Februari 2025

Editor: Nur Izzati Anwar (Izzat)

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.