Mereka pun kembali bergerombol di sekitar piring saus. Buah pala diiris-iris. Irisan itu didulitkan ke saus. Dimakan. Saya minta ijin ikut mencobanya: dan enak. Mirip rujak tapi bukan rujak. Saya hanya mencicipi tiga iris. Terlalu pedas.
Oleh: Dahlan Iskan
KEMPALAN: Pulau paling besar di antara sembilan pulau di kepulauan Banda adalah Banda Besar. Penduduk utamanya juga suku Buton.
Pulau Banda Besar hanya satu lemparan batu dari “ibu kota” kepulauan Banda: Banda Naira. Juga hanya satu lemparan batu dari Pulau Gunung Api. Tiga pulau ini seperti membentuk bulan sabit berbintang dua.
Sabitnya Banda Besar. Dua bintangnya Banda Naira dan Banda Api.
Dari Banda Naira ke Banda Besar tidak perlu naik speed boat. Banyak “taksi” berupa perahu dengan mesin kecil. Satu orang hanya Rp 10.000. Kalau mau carter hanya Rp 50.000 – tidak harus menunggu penumpang lain sampai penuh.
Di Banda Besar kelihatannya seperti tidak ada apa-apa – kecuali hutan pala dan kenari. Orang ke pulau ini untuk melihat tiga objek: dua sumur tua bersebelahan, pohon sejuta umat, dan kebun raya kenari.
Sumur-sumur di Banda Besar dan Banda Naira bermulut besar. Garis tengahnya hampir tiga meter. Pun sumur di samping rumah pembuangan proklamator Bung Hatta. Juga sumur-sumur di depan benteng Belanda.
Semua sumur tua punya cerita. Di mana-mana sama: siapa yang membasuh muka dengan air itu akan awet muda. Pun sumur tua di sebelah barat Danau Xihu di Hangzhou: Sumur Longjing. Terlalu banyak wisata sumur.
Tapi yang di Banda Besar ini tidak hanya untuk wisata. Mereka sumur kehidupan: penduduknya hidup dari sumur itu. Yang kanan diambil airnya – pakai timba – untuk mandi di rumah masing-masing.
Sumur kiri untuk air minum. Rasanya tidak ada bedanya. Tapi penduduk percaya tidak boleh tertukar – kecuali lupa. Waktu saya ke sumur itu sedang ada tiga orang yang ngangsu – mengambil air untuk dibawa pulang. Semuanya laki-laki. Mereka juga percaya hanya laki-laki yang boleh menimba di sumur itu – berarti sumur itu berkelamin perempuan.
Saya pun menduga “pohon sejuta umat” juga hanya nama marketing. Itu pohon mangga biasa. Tidak tampak terlalu besar pula. Tidak ada yang menarik kecuali namanya. Itu pun pasti nama baru – setidaknya sezaman dengan ustaz Zainuddin M.Z. Di era beliaulah istilah “sejuta umat” lahir: ustaz sejuta umat.
Saking percayanya dengan “sejuta umat”, sang ustaz mendirikan partai politik. Tidak laku.
“Sejuta umat” yang terbukti laris itu hanya di mobil Avanza. Itulah merek yang mendapat gelar “mobil sejuta umat”. Sedang pohon mangga ini didatangi bukan karena pohonnya, tapi karena pohon itu tumbuh di dalam reruntuhan benteng Holanda.
Tapi saya tidak menyesal ke pohon sejuta umat. Saya bisa dapat objek foto yang sangat indah, yang hanya bisa didapat bila memotretnya dari situ.
Saya menyebutnya sebagai pohon kehidupan. Pemilik rumah yang bepekarangan benteng itu bisa dapat tambahan penghidupan dari kotak yang ditunggu di bawah pohon itu.
Yang saya menyesal adalah: kalau saya tidak ke “kebun raya kenari”. Letaknya di tengah pulau. Di ketinggian. Harus menapaki jalan menanjak. Istilah “Kebun Raya Kenari” tidak dipromo. Saya baru tahu justru ketika tertarik ke promosi “ada rumah budaya” di dekatnya.
Sebelum sampai di “rumah budaya” saya justru melihat ada rerimbunan pala yang tidak biasa. Lebih teduh. Lebih rindang. Lebih indah. Menyenangkan. Kami pun ke situ. Kian dekat kian menarik.
Apalagi setelah berada di tengah begitu banyak pohon kenari tua. Dengan bentuk akar-akarnya yang pipih-lebar di pangkal-pangkal pohonnya.
Akhirnya kami tertambat di situ. Seperti dikepung pohon-pohon raksasa.
Perut pun mendadak lapar. Alangkah nikmatnya makan di kerindangan kenari tua. Saya pun minta digojekkan nasi bungkus. Di makan di situ – sambil bersandar ke akar pohon kenari tua.
Kawasan ini belum punya nama marketing. Tak bisa jadi omongan seperti pohon sejuta umat. Maka istilah Kebun Raya Kenari saya ciptakan sendiri. Sampai Anda menemukan nama lain yang lebih bernilai marketing.
Yang jelas, menurut saya, Kebun Raya Kenari adalah objek paling mempesona di Banda Besar. Saya berdoa tidak ada sejenis pesta babi di sini. Sayang tidak sedang musim durian. Di dalam Kebun Raya Kenari Tua itu terselip pohon durian tua. Amat tua. Amat tinggi. Amat besar.
Harusnya dicarikan pula nama yang bisa melegenda untuk sepasang durian tua itu. “Orang sini menyebutnya durian tembaga,” kata penduduk setempat. Durian tembaga adalah jenisnya. Bukan legendanya.
Sepasang sumur tua hanya saya lihat sesapuan. Pun pohon sejuta umat. Tapi saya sampai tertidur pulas di keteduhan Kebun Raya Kenari Tua ini.
Satu lagi yang saya temui di Banda Besar: anak-anak. Mereka berlarian di halaman sekolah. Mereka tetap sekolah di hari Sabtu.
Sepulang sekolah mereka bergerombol di depan satu toko kecil. Ada yang duduk ada yang berdiri. Saya hampiri mereka: lagi ramai-ramai makan semacam rujak dari satu piring yang sama.
Ternyata bukan rujak. Itu bakasang. Semacam saus untuk kelengkapan makan daging pala mentah. Waktu saya menghampiri mereka yang tersisa tinggal sausnya. Lalu tiga anak berlari menjauh. “Ke mana mereka?” tanya saya. “Cari buah pala,” jawab yang tertinggal.
Mereka lari masuk kebun. Tak lama kemudian mereka kembali membawa banyak buah pala warna kekuningan – pertanda sudah cukup tua.
Mereka pun kembali bergerombol di sekitar piring saus. Buah pala diiris-iris. Irisan itu didulitkan ke saus. Dimakan. Saya minta ijin ikut mencobanya: dan enak. Mirip rujak tapi bukan rujak. Saya hanya mencicipi tiga iris. Terlalu pedas.
Saus seperti itu hanya ada di Banda. Dijual di toko-toko lokal. Itulah saus yang terbuat dari ikan mentah, jenis cakalang, yang dicampur garam lalu diberi sedikit air. Ketika akan dimakan boleh ditambah sendiri dengan chili – orang setempat menyebut cabe dengan chili.
Inilah kali pertama saya tahu camilan bakasang. Ikan mentah. Merasakannya pula. (Disway)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi