Tokoh Bu Asih mendadak menjadi saksi pembunuhan setelah melihat kejadian mengerikan dari balik jendela rumahnya. Malam itu juga hidupnya berubah menjadi ancaman ketika dirinya menjadi target pihak pelaku.
Oleh: Rokimdakas
KEMPALAN: Ruang gelap bioskop kembali menjadi tempat lahirnya gagasan dan kegelisahan generasi muda melalui CINEPRIME #3 bertema “Stoa di Kota” yang digelar SINEMAROLAS pada tanggal 19–20 Mei 2026 di gedung bioskop Cinépolis Surabaya.
Gala premier tahunan karya siswa Jurusan Produksi Film SMKN 12 Surabaya itu menjadi penutup rangkaian Rolas Art Festival 2026 dengan menghadirkan tujuh film pendek dari berbagai genre.
Melalui tema “Stoa di Kota”, para siswa mencoba memotret kehidupan urban sebagai ruang yang dipenuhi perubahan, tekanan sosial, harapan, dan pertanyaan tentang manusia modern.
Terinspirasi dari konsep stoa dalam filsafat Yunani sebagai ruang dialog dan juga perenungan, festival ini menempatkan sinema bukan sekadar hiburan, melainkan medium refleksi sosial.
Tujuh film yang diputar dalam ajang tersebut meliputi “Sampai Tujuan” karya Pesawat Kertas, “Hadiah Malam Lebaran” produksi Lakara Production, “Luka Dalam Coretan” dari One Production, “Kronosia Sebelum Dering” garapan Hitam Putih Sinema.
Ada “Saksi Tengah Malam” produksi Bumi Cendana, “Keluarga Bencana” karya Daun Semanggi Production, serta “The House After You” dari Jingga Film.
Dari seluruh karya yang ditampilkan, “Saksi Tengah Malam” dan “Keluarga Bencana” menjadi dua film yang menarik dicermati karena menghadirkan persoalan keseharian masyarakat kota dengan pendekatan emosional dan dramatik yang kuat.
“Saksi Tengah Malam” karya sutradara Abdiel Fallo membawa penonton masuk ke situasi mencekam di sebuah rumah laundry kecil.
Tokoh Bu Asih mendadak menjadi saksi pembunuhan setelah melihat kejadian mengerikan dari balik jendela rumahnya. Malam itu juga hidupnya berubah menjadi ancaman ketika dirinya menjadi target pihak pelaku.
Film produksi Bumi Cendana tersebut menempatkan ruang rumah sederhana sebagai pusat ketegangan psikologis. Dalam kondisi terjebak, Bu Asih hanya memiliki dua pilihan: bersembunyi atau melawan. Film ini diproduseri Hanifah Nia dengan penulis skenario Elis Nuraini.
Berbeda dengan nuansa thriller tersebut, “Keluarga Bencana” menawarkan drama keluarga yang dekat dengan realitas masyarakat urban kelas menengah bawah.
Film arahan Paulus Arnold itu menceritakan kehidupan Coki dan Anggun yang tinggal di rumah kecil yang sekaligus difungsikan sebagai toko fotokopi bersama Kelik dan Ayu.
Keterbatasan ruang membuat pasangan itu berharap dapat menikmati waktu berdua ketika Kelik pergi study tour. Namun harapan sederhana tersebut berubah ketika muncul kejadian tak terduga yang menguji kehangatan dan solidaritas keluarga mereka.
Film produksi Daun Semanggi Production itu diproduseri Kania Nilam dengan naskah karya Orizativa Maheswara.
Ceritanya menghadirkan potret tentang sempitnya ruang hidup di kota, tekanan ekonomi, serta pentingnya menjaga kebersamaan di tengah situasi sulit.
Penyelenggaraan CINEPRIME #3 juga menjadi tahap akhir perjalanan akademik para siswa setelah melalui proses panjang mulai pengembangan ide, penulisan skenario, produksi hingga pascaproduksi. Seluruh karya akhirnya dipertemukan langsung dengan penonton dalam format layar lebar bioskop.
Melalui ajang ini, SINEMAROLAS ingin memperkuat ekosistem pendidikan film yang relevan dengan perkembangan industri kreatif sekaligus membuka ruang interaksi antara dunia pendidikan, komunitas seni, media, keluarga, dan (juga) masyarakat luas.
Lebih dari sekadar festival film pelajar, CINEPRIME #3 menjadi penanda tumbuhnya generasi baru pembuat film Indonesia yang tidak hanya piawai mengolah visual, tetapi juga memiliki keberanian menyampaikan gagasan dan membaca realitas sosial di sekitarnya.
*) Rokimdakas, Jurnalis Surabaya

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi