Selasa, 30 Juni 2026, pukul : 06:48 WIB
Surabaya
--°C

Anies dan Da Silva

KEMPALAN: Macam-macam cara orang menghabiskan malam tahun baru. Bagi Anies Baswedan, malam tahun baru adalah waktu yang asyik untuk berkumpul dengan keluarga dan melakukan kontemplasi ringan. Anies mengajak anak laki-lakinya, Mikail Azizi untuk menonton film dokumenter ‘’The Edge of Democracy’’ yang menceritakan pengalaman politik Presiden Brazil Luiz Lula da Silva.

Anies mengunggah momen kebersamaan itu ke akun Facebook. Anies menceritakan sinopsis singkat film yang ditulis oleh sineas perempuan milenial Brazil, Petra Costa. Film bercerita mengenai pengeroposan demokrasi di Brazil yang terjadi akibat persekusi yang dilakukan terhadap Lula da Silva.

Politisi senior ini pernah menjabat presiden Brazil dua periode 2003-2010. Ia kemudian dipersekusi oleh musuh politiknya, dan kemudian diadili dengan tuduhan korupsi. Belakangan terbukti bahwa tuduhan korupsi itu merupakan fabrikasi musuh politik Da Silva. Mahkamah Agung Brazil membatalkan hukuman Silva pada 2021. Silva kemudian mencalonkan diri sebagai presiden pada 2022 dan berhasil mengalahkan petahana Jair Bolsonaro.

Pelaksanaan pemilu 2022 Brazil banyak mencederai demokrasi. Ada upaya untuk menjegal pencalonan Silva dan banyak kampanye hitam untuk membunuh karakter Silva. Tapi, akhirnya Silva menang tipis atas Bolsonaro. Ketika akhir tahun 2022 Silva dilantik sebagai presiden, Bolsonaro melarikan diri ke Amerika Serikat.

BACA JUGA: Republika

Anies mengingatkan kembali mengenai kematian demokrasi seperti yang ditulis oleh 2 profesor Universtas Harvard Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt ‘’How Democracies Die’’ (2018). Anies mengutip 3 tindakan yang dilakukan oleh rezim untuk melemahkan demokrasi.

Pertama, ‘’kuasai wasitnya’’. Ganti para pemegang kekuasaan du lembaga negara netral dengan pendukung status quo. Kedua, ‘’singkirkan pemain lawan’’. Singkirkan lawan politik dengan cara kriminalisasi, tuduhan suap, dan tuduhan skandal. Ketiga, ‘’ganti aturan mainnya’’. Ubah peraturan negara untuk melegalkan penambahan dan pelanggengan kekuasaan.

Pelemahan demokrasi ini akan mengakibatkan ‘’shifting baseline syndrome’’, yaitu perubahan secara bertahap dan perlahan sehingga publik menjadi terbiasa dengan kondisi baru yang sebenarnya ambruk. Dari pengalaman Brazil itu dunia diingatkan bahwa demokrasi tidak boleh ‘’taken for granted’’, sesuatu yang ada dengan sendirinya. Demokrasi harus terus-menerus dirawat dan tidak boleh dibiarkan digerogoti oleh berbagai upaya pelemahan.

Levinsky dan Ziblatt menjelaskan proses kematian demokrasi di Amerika di bawah Presiden Donald Trump pada 2016-2020, dengan mengungkap sejumlah indikasi yang terjadi di era itu. Semua indikator dan fenomena yang diungkap Ziblatt terjadi di Amerika. Tetapi, penelitian ini bersifat induktif yang memungkinkan peristiwa yang bersifat partikular bisa mengarah ke sifat universal yang berlaku di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

BACA JUGA: Raja Kodok

Pada 2020, Anies pernah membuat posting di media sosialnya dengan mengunggah foto sedang bersantai dengan membaca buku itu. Unggahan Anies dengan buku itu di media sosial menjadi ‘’perfect timing’’ dengan kondisi Indonesia yang mengalami berbagai fenomena yang bisa mengarah kepada kematian demokrasi.

Levinsky-Ziblatt mengajukan beberapa hal yang menjadi indikasi kematian demokrasi. Di masa lalu demokrasi mati karena munculnya diktator dari kalangan militer yang memberangus demokrasi dengan kekerasan dalam sebuah kudeta. Saat ini, diktator model baru muncul dari kalangan sipil yang memenangkan kekuasaan melalui pemilu, tapi kemudian menyelewengkan prinsip-prinsip demokrasi.

Diktator militer sudah menjadi bagian dari masa lalu. Sekarang muncul varian baru diktator sipil alias diktator partikelir. Dia tidak datang dari kalangan jenderal militer yang kuat, tapi datang dari kalangan publik atau swasta, dan bahkan muncul dari kalangan rakyat, atau setidaknya mengaku sebagai bagian dari rakyat melalui politik populisme.

Fenomena diktator partikelir itu terjadi di Brazil dengan munculnya Jair Bolsonaro yang populis. Di Filipina muncul Rodrigo Dutarte yang menapaki karir politik mulai dari walikota sampai menjadi presiden, dan kemudian memerintah dengan tangan besi. Hal yang sama terjadi di Peru, Polandia, dan Rusia dengan munculnya Vladimir Putin.

BACA JUGA: Annus Horribillis

Putin yang sekarang mengerahkan pasukan Rusia menggempur Ukraina adalah personifikasi ‘’diktator demokratis’’ yang memenangkan kepresidenan melalui pemilihan umum sejak awal 2000. Putin kemudian mengamandemen konstitusi yang memungkinkannya untuk memerintah sampai 20 tahun mendatang. Dengan usia Putin yang sekarang 69 tahun praktis Putin bisa menjadi presiden seumur hidup.

Diktator partikelir itu tetap memperbolehkan media beroperasi. Tetapi, seperti kuda yang sudah dtunggangi dan dikendalikan, media hanya sekadar menjadi tunggangan yang bisa dikendalikan. Media sudah terbeli dan selalu ditekan supaya melakukan sensor diri. Publik yang menggunakan media alternatif untuk menyuarakan pendapat kritis akan dijerat oleh pasal-pasal kriminal.

Demokrasi menghadapi kematian ketika diktator partikelir itu melakukan aliansi dengan sejumlah politisi oligark mapan untuk membentuk persekutuan koalisi ‘’Aliansi Saling Percaya’’ atau ‘’Fateful Alliances’’. Oligarki itu merupakan gabungan dari oligarki politik dan oligarki ekonomi, atau gabungan antara keduanya. Di negara yang demokrasinya mati muncul fenomena pengusaha yang sekaligus menjadi penguasa, yang dikenal sebagai ‘’pengpeng’’.

Ada beberapa indikasi yang bisa menjadi tanda matinya demokrasi. Yang pertama, ‘’Rejection of or the weak commitment to democratic rules of game’’, penolakan atau komitmen yang lemah terhadap aturan main demokrasi. Undang-undang yang sudah disepakati ternyata dipermainkan dengan berbagai macam cara, karena rezim sudah menguasai semua perangkat kelembagaan demokrasi dalam kendalinya.

BACA JUGA: King Pele

Pemilihan umum sudah diputuskan, masa jabatan kepresidenan sudah ditetapkan dalam konstitusi. Tetapi, diktator partikelir bisa memainkan kekuasaannya untuk mengubah aturan itu demi memperpanjang kekuasaannya. Penolakan dan komitmen yang lemah terhadap aturan demokrasi ini menjadi indikator utama matinya demokrasi.

Beberapa pertanyaan bisa diajukan untuk melihat kecenderungan ini. Apakah ada upaya menolak perundang-undangan atau menunjukkan keinginan untuk melanggarnya. Apakah ada usulan atau gerakan antidemokrasi seperti membatalkan pemilu, melanggar atau membatalkan undang-undang, melarang organisasi tertentu, atau membatasi hak-hak sipil dan politik?

Di Indonesia jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu sudah terlihat semakin nyata. Pelanggaran terhadap undang-undang terjadi, upaya untuk menunda pemilu sudah mulai diorkestrasi, dan pelarangan terhadap organisasi tertentu dan pembatasan terhadap hak-hak sipil sudah terjadi.

Faktor lain yang menjadi indikasi adalah ‘’Readiness to curtail civil liberties of opponents, including media’’, melakukan pembatasan terhadap kebebasan sipil lawan-lawan politik, termasuk media.

Kasus-kasus pembebasan kebebasan sipil sudah banyak terjadi. Penangkapan dan penahanan dengan dalih yang dibuat-buat sudah terjadi di beberapa kasus. Pemakaian kekerasan terhadap lawan politik juga sudah terjadi. Pembunuhan Kilometer 50 menjadi salah satu indikator adanya penggunaan kekerasan yang didukung oleh kekuatan kekuasaan.

BACA JUGA: Pemilu Kardus

Tradisi demokrasi Amerika melahirkan contoh-contoh yang agung yang layak dicontoh. Salah satunya adalah ‘’the power of forebearnce’’ atau kekuatan untuk menahan diri. Politik yang identik dengan perebutan kekuasaan akan membawa seseorang untuk bernafsu mengakumulasi kekuasaan selama mungkin.

Selalu saja ada godaan untuk berkuasa lebih lama ketika kesempatan itu ada atau memungkinkan. Vladimir Putin di Rusia menunjukkan tidak adanya itikad baik untuk menahan diri. Keinginan untuk berkuasa lebih lama, dengan berbagai alasan, membuat Putin berupaya memanipulasi undang-undang untuk mendukung ambisi politiknya.

Di Indonesia, Presiden Joko Widodo mulai menjukkan gelagat ingin menambah masa jabatannya melebihi periode yang sudah diatur oleh konstitusi. Pelanggaran terhadap konstitusi itu bisa ditutupi dengan melakukan amandemen terhadap konstitusi yang memungkinkannya berkuasa lebih lama. Tindakan itu terlihat demokratis meskipun pada esensinya menghancurkan demokrasi.

Jokowi mengeluarkan Perppu Cipta Kerja untuk memby-pass keputusan Mahkamah Konstitusi yang menyatakan UU Cipta Kerja inkonstitusional bersyarat. Alih-alih melakukan perbaikan, Jokowi membatalkan undang-undang itu dan menggantinya dengan perppu. Tindakan ini dikritik oleh pada aktivis demokrasi dan dianggap sebagai pembajakan terhadap demokrasi.

Seorang Jair Bolsonaro yang memimpin dengan gaya megaloman ternyata bisa dikalahkan oleh Lula da Silva yang sederhana dan jujur. Akankah fenomena ini terjadi di Indonesia? Tidak ada yang tahu.

BACA JUGA: Cuaca Ekstrem

Anies Baswedan menonton film itu untuk mengisi waktu sekaligus mengajari Mikail mengenai nilai-niai demokrasi. Tentu tontonan ini lebih bermanfaat ketimbang membaca komik Sinchan.

Berikutnya, Anies berjanji kepada Mikail untuk nobar film ‘’Avatar, The Way of Water’’ yang sedang menjadi box office. Kita tunggu pesan moral apa yang bakal disampaikan Anies setelah menonton Avatar. (*)

Editor: DAD

Republika

KEMPALAN: Koran akan mati pada 2044. Itu adalah ramalan Prof. Philip Meyer dari University of North Carolina, Amerika Serikat yang sering dikutip setiap kali orang berbicara mengenai nasib koran. Dalam buku ‘’Vanishing Newspaper’’ (2004) itu Meyer tegas, tetapi hati-hati, meramalkan bahwa koran akan bertahan sampai 20 tahun ke depan, dan setelah itu good bye.

Meyer lebih berhati-hati dalam membuat ramalan. Sebagai akademisi Meyer menghitung semua variabel dengan cermat sebelum mengambil kesimpulan. Pada bagian lain, Bill Gates pada 1990-an sudah berani meramal bahwa koran hanya bisa bertahan sampai 2000.

Meyer dan Gates punya dasar prediksi masing-masing. Sebagai inventor teknologi, Gates mendasari ramalannya berdasar pendekatan determinasi teknologi. Terpaan perkembangan teknologi yang sangat cepat akan mempercepat industri media cetak untuk gulung tikar lebih cepat.

Kira-kira 20 tahun setelah ramalan Gates itu koran ternyata masih hidup. Tetapi tidak berarti ramalan Gates meleset sepenuhnya, karena banyak di antara koran yang hidup itu terlihat sebagai mayat hidup atau mungkin bisa disebut sebagai zombie.

BACA JUGA: Raja Kodok

Di Indonesia koran mati lebih cepat. Mengawali 2023 ini koran Republika mengumumkan mengakhiri edisi cetak dan bertransformasi sepenuhnya ke platform digital. Tekanan disrupsi digital akhirnya tidak tertahankan lagi, dan mengakhiri edisi cetak adalah pilihan terbaik.

Berakhirnya edisi cetak Republika menandai akhir sebuah era. Republika lahir pada awal 1990-an ketika media cetak berada pada puncak kejayaan sebagai pengendali informasi. Penerbitan Republika ketika itu menjadi tanda sejarah lahirnya jurnalisme Islam, yang menjadi penyeimbang bagi jurnalisme lain yang tidak islami.

Target yang diincar adalah Kompas, yang ketika itu menjadi media cetak yang paling berpengaruh di Indonesia. Awal 1990an menandai era baru pergeseran pendulum politik ke kanan melalui berdirinya ICMI (Ikatan Cendekiawan Islam Indonesia) oleh B.J Habibie.

Presiden Soeharto menciptakan ICMI sebagai bagian dari politik keseimbangan. Kekuatan ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) yang menjadi andalan kekuatan Soeharto sudah tidak bisa lagi sepenuhnya diandalkan. Soeharto menciptakan penyeimbang bagi pengaruh ABRI, dan pilihannya jatuh ke Islam.

Soeharto–yang selama 20 tahun berkuasa bersikap keras terhadap Islam–kemudian bersikap lebih ramah. Banyak kebijakan yang dikeluarkan yang memberi peluang lebih besar kepada kekuatan Islam untuk berkembang.

BACA JUGA: Annus Horribillis

Dalam situasi seperti inilah Republika lahir. Ia digadang-gadang menjadi media Islam yang menyuarakan jurnalisme yang lebih berpihak kepada Islam. Dalam perjalanannya Republika bisa menunjukkan bahwa jurnalisme Islam bisa bersaing secara profesional.

Tetapi era itu hanya bertahan 30 tahun. Disrupsi digital yang terjadi dalam satu dasawarsa terakhir terlalu berat untuk ditahan. Republika mundur dari persaingan media cetak. Sepeninggalan Repulika masih ada beberapa media sebagai ‘’last man standing’’ atau ‘’the last of the mohicans’’ yang berusaha untuk mempertankan hidup.

Republika dianggap sebagai representasi jurnalisme Islam. Prof. Janet Steele dari George Washington University, Amerika Serikat, menempatkan Republika sebagai bagian dari jurnalisme ‘’Islam kosmopolitan’’. Dalam buku ‘’Mediating Islam’’ (2028) Steele meneliti media-media di Indonesia dan Malaysia untuk mengungkap bagaimana Islam memengaruhi praktik jurnalisme.

Steele meneliti praktik pelaporan profesional jurnalis muslim di lima kantor berita terkemuka di Indonesia dan Malaysia. Kelimanya adalah Republika, Tempo, Sabili, Harakah, dan Malaysiakini. Melalui penelitiannya selama 20 tahun terakhir di kedua negara tersebut, Steele membuktikan bahwa jurnalisme Islam itu ada dan dipraktikkan oleh para jurnalis profesional di Indonesia dan Malaysia.

Steele mengungkap bahwa wartawan-wartawan muslim Indonesia dan Malaysia sudah sangat paham terhadap gagasan Barat tentang prinsip jurnalisme seperti kebenaran, keseimbangan, verifikasi, dan independensi dari kekuasaan. Bedanya adalah para jurnalis muslim itu menempatkan prinsip-prinsip sekuler itu dalam bingkai ajaran Islam.

BACA JUGA: King Pele

Prinsip jurnalisme mengenai keberimbangan (covering both sides) atau keadilan, dibingkai sebagai bagian dari kewajiban muslim untuk berbuat adil kepada siapa pun dalam kondisi apa pun. Bahkan terhadap orang non-muslim pun tetap harus bersikap adil.

Wartawan muslim juga sering menggambarkan proses ‘’isnad’’, atau memeriksa “rantai penyebaran” ucapan dan perbuatan Nabi Muhammad, mirip dengan prinsip jurnalisme verifikasi.

Para jurnalis muslim mendefinisikan jurnalisme islami selaras dengan karakter-karakter sesuai ajaran Islam dengan misi ‘’amar ma’ruf nahi munkar’’ atau mengajak kebaikan dan mencegah hal-hal buruk.

Di kalangan jurnalis muslim Indonesia dan Malaysia, peran pers sebagai pengawas watch dog diposisikan bukan dalam bingkai liberalisme dan humanisme, tapi lebih pada eksistensi manusia yang diciptakan oleh Tuhan untuk beribadah.

Dalam konsep Barat kebebasan pers adalah bagian dari kebebasan individual, untuk memenuhi haknya guna mendapatkan informasi yang dibutuhkan sebagai bagian dari pemenuhan hak-hak asasi manusia. Dalam konsep Islam, pemenuhan hak-hak informasi bukan sekadar untuk memenuhi hak asasi, tetapi bagian untuk memenuhi tugas ibadahnya sebagai hamba Tuhan.

BACA JUGA: Pemilu Kardus

Sabili merupakan media konservatif dan politis yang lahir seiring era keterbukaan media di Indonesia. Islam yang direpresentasikan Sabili adalah skripturalis literalis, dan oleh sebagian keangan disebut sebagai fundamentalis.

Republika adalah representasi dari Islam yang lebih moderat dan modern. Persaingan dengan media sekuler dilakukan dengan membidik pasar muslim kelas menengah perkotaan yang cenderung lebih aman dengan praktik Islam yang moderat.

Harakah adalah surat kabar Parti Islam Se-Malaysia (PAS) yang menerapkan prinsip jurnalisme dengan ajaran Islam dan kebutuhan partai politik mereka. Para editor Harakah berupaya menjembatani kebutuhan partai dengan standar jurnalisme islami yang lebih tinggi, misalnya tentang verifikasi, yang sejalan dengan prinsip isnad. Namun terlepas dari komitmen terhadap kebebasan berekspresi, baik PAS maupun semua orang yang terkait dengan Harakah tetap berkomitmen terhadap gagasan negara Islam.

Malaysiakini lebih liberal ketimbang Harakah. Meski demikian para jurnalis Malaysiakini menempatkan Islam sebagai dasar untuk melaksanakan tugas profesional mereka. Ada perbedaan nyata di antara wartawan Indonesia dan Malaysia karena faktor-faktor seperti warisan aturan kolonial, perkembangan awal pers nasional, politisasi agama, otoritas keagamaan, dan peran negara.

BACA JUGA: Cuaca Ekstrem

Janet Steele juga melihat Tempo dalam perspektif nilai-nilai Islam. Bagi Tempo, yang penting adalah pluralisme, bukan Islam, meski sebagian besar wartawannya muslim. Tempo telah memberi ruang pada para cendekiawan Muslim progresif yang menyerukan pembaruan dalam pemikiran Islam. Dengan demikian, Tempo dikategorikan telah mempromosikan pendekatan Islam yang kosmopolitan.

Janet Steele menyimpulkan bahwa wartawan muslim di Indonesia dan Malaysia menjunjung tinggi prinsip-prinsip dasar jurnalisme yang sama. Hanya saja cara mereka dalam memahami prinsip-prinsip tersebut berbeda karena nilai-nilai tempat mereka berpijak tidak liberal.

Wartawan Muslim di Indonesia dan Malaysia–yang menolak label liberal dan sekuler–tetap mempromosikan toleransi dan demokrasi. Kosmopolitanisme ini tampak pada Tempo dan Republika. Di Malaysia, Harakah dan Malaysiakini juga punya nilai-nilai kosmopolatanisme yang sama.

Republika menjadikan Islam kelas menengah atas sebagai ceruk pasar yang bermanfaat secara ekonomis. Ketika Erick Thohir mengambil alih media itu pada awal 2000-an identitas keislaman masih dipertahankan, terutama untuk merebut ceruk pasar muslim kelas menengah kota.

Disrupsi digital mengubah total lanskap itu. Idealisme Republika mungkin masih tetap bisa dipertahankan. Tetapi untuk bisa survive dalam persaingan digital, Republika tetap harus bersaing memperebutkan pengaruh algoritma, dan mau tidak mau harus terlibat dalam jurnalisme clickbyte. (*)

Editor: DAD

Raja Kodok

KEMPALAN: TEPAT sehari menjelang Natal 2022 majalah Inggris ‘’The Week’’ mengeluarkan edisi akhir tahun dengan liputan khusus berjudul The Faces of 2022, Wajah-Wajah 2022. Pada cover majalah itu terpampang wajah-wajah karikatur para pemimpin dunia. Ada Raja Charles III dan sang istri Camilla Parker, ada Perdana Menteri Inggris Rishi Sunak, ada pemimpin Tiongkok Xi Jinping. Yang menarik, di antara Xi Jinping dan Camilla Parker duduk seseorang dengan wajah mirip Presiden RI Joko Widodo.

Wajah yang mirip Jokowi itu digambarkan duduk diapit oleh Camilla Parker di sebelah kanan dan Xi Jinping di sebelah kiri. Charles dan Camilla sama-sama memakai mahkota dari kardus mirip anak-anak yang sedang berulang tahun. Pasangan itu terlihat sedang mengadakan pesta makan-makan menyambut Natal dan tahun baru. Di meja makan tersedia berbagai macam makanan dan beberapa botol anggur.

Di sebelah Rishi Sunak ada Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, dan di luar jendela terlihat Presiden Rusia Vladimir Putin melampiaskan kekesalan dengan menendang boneka salju. Putin terlihat kesal karena tidak diundang ke pesta. Ada mantan perdana menteri Inggris Boris yang minum anggur sambil merangkul pundak Zelensky. Ada bintang Hollywood Will Smith yang bengong sendirian di kursinya, dan ada dua pemain timnas sepak bola perempuan Inggris.

Ada beberapa tamu yang tidak kebagian kursi, seperti Elon Musk yang berdiri di pojok pohon natal dekat kursi, sambil memainkan boneka twitter. Ada mantan perdana menteri Inggris Liz Truss yang bertugas menjadi waitress yang membagikan makanan.

BACA JUGA: Annus Horribillis

Di antara deretan tokoh karikatur itu ada wajah yang mirip Jokowi. Semula publik Indonesia mengira Jokowi diundang oleh Raja Charles ikut pesta karena keberhasilannya menjadi tuan rumah G-20.

Tetapi, penampilan ‘’Jokowi’’ digambarkan cukup aneh. Ia menghadap sepiring makanan dengan segelas anggur, tangan kirinya memegang garpu yang sudah ada seekor kalajengking besar yang siap dimakan oleh ‘’Jokowi’’. Lebih unik lagi karena di kepala ‘’Jokowi’’ bertengger seeokor kodok besar yang masih hidup.

Edisi cover itu dengan cepat beredar di Indonesia melalui media sosial dan grup percakapan Whatsapp. Banyak menganggap tokoh karikatur itu benar-benar Jokowi karena memang sangat mirip.

Tetapi, ternyata tokoh itu bukan Jokowi. Sosok itu ialah mantan Menteri Kesehatan Inggris, Matt Hancock, yang mengundurkan diri pada Juni 2021. Ia mundur dari kabinet setelah skandal perselingkuhan dengan salah satu direktur kesehatan, Gina Coladangelo.

Publik Inggris, terutama para dokter dan keluarga korban COVID-19 marah, karena Hancock tertangkap kamera berangkulan dan berciuman dengan Coladangelo. Adegan ciuman Hancock dan Coladangelo disebut terjadi di gedung Departemen Kesehatan pada 6 Mei 2021. Coladangelo ditunjuk oleh Hancock untuk menjabat direktur non-eksekutif di Depkes Inggris. Publik makin marah Hancock maupun Coladangelo sama-sama sudah berkeluarga.

BACA JUGA: King Pele

Hancock berada di bawah tekanan untuk mundur setelah The Sun merilis foto-foto dia dan Gina Coladangelo berciuman. Baik Hancock, 42, maupun Coladangelo, 43, telah menikah dengan pasangan masing-masing dan keduanya sama-sama memiliki tiga anak. Perempuan tersebut menikah dengan miliarder di bidang fesyen, Oliver Tress.

Publik Inggris saat itu menyebut Hancock telah menghina pengorbanan publik, dan menyebut perbuatan di tengah serangan pandemi itu menjijikkan. Seratus lima pulih ribu orang tewas selama masa jabatannya yang dirundung skandal, penuh ketidakmampuan dan ketidakjujuran.

Sebuah foto yang beredar luas–mungkin saja editan–memperlihatkan Hancock tengah berenang, mengenakan kacamata renang. Di atas kepalanya menclok seekor kodok, persis penggambaran dalam karikatur The Week.

The Week adalah majalah mingguan politik yang mengklaim sebagai media yang menjadi panduan politik di Inggris. Setiap edisi The Week menghadirkan 200-an lebih narasumber dan memastikan pembaca pandangan berita yang seimbang dan tidak memihak. Majalah itu juga mengklaim punya 300 ribuan pembaca setiap pekan. Jumlah yang relatif kecil untuk ukuran Eropa.

BACA JUGA: Pemilu Kardus

Edisi cover itu dengan cepat menyebar di Indonesia dan memantik reaksi luas. Bagi haters Jokowi—atau lebih sering disebut kadrun–penggambaran karikatural ini sesuai dengan persepsi yang selama ini melekat pada Jokowi yang dianggap sebagai bapaknya para cebong, julukan untuk pendukung Jokowi. Dengan kodok besar ada di atas kepala, Jokowi disebut sebagai Raja Kodok.

Kalajengking besar yang siap dilahap oleh ‘’Jokowi’’ dianggap sebagai gambaran bahwa Jokowi bisa memakan apa saja, termasuk hewan berbisa seperti kalajengking. Jokowi dianggap sebagai predator demokrasi karena beberapa kebijakannya. Yang terbaru Jokowi mengeluarkan Perppu (peraturan presiden pengganti undang-undang) Cipta Kerja yang menganulir keputusan Mahkamah Konstutusi (MK), yang menyebut UU Cipta Kerja inskonstitusional bersyarat.

Para aktivis demokrasi menyebut Jokowi telah membajak demokrasi dengan mengeluarkan Perppu itu. Para aktivis buruh melakukan banyak demonstrasi menentang UU Cipta Kerja yang dianggap menyusahkan buruh dan hanya berpihak kepada pengusaha dan investor asing. Jokowi tetap jalan dengan kemauannya, dan ketika MK menganulir undang-undang itu Jokowi langsung menganulir balik dengan senjata Perppu.

BACA JUGA: Cuaca Ekstrem

Sebelumnya, para aktivis demokrasi dan hak asasi manusia juta kecewa kepada Jokowi setelah DPR mengesahkan Undang-Undang KUHP. Banyak pasal di undang-undang itu yang dikhawatirkan akan memberangus kebebasan berdemokrasi. Alih-alih melakukan sesuatu, Jokowi memilih diam.

Hal yang sama terjadi ketika DPR melakukan amandemen terhadap undang-undang KPK pada 2019. Publik marah dan melakukan unjuk rasa besar-besaran. Jokowi didesak untuk mengeluarkan Perppu guna membatakan undang-undang itu. Jokowi diam dan membiarkan undang-undang itu berlaku.

Undang-undang Ibu Kota Nusantara juga menjadi kontroversi luas di masyarakat. Banyak yang meminta agar Jokowi tidak memaksakan keinginannya untuk memindah ibu kota, tetapi Jokowi bergeming. Tekadnya kokoh untuk memindahkan ibu kota negara dan harus memastikan proyek itu jalan terus.

Muncul wacana perpanjangan masa jabatan presiden untuk menjamin keberlangsungan proyek IKN. Wacana ini tidak populer dan ditentang secara luas. Jokowi kemudian memakai strategi lain, dengan memberikan endorsement kepada calon presiden yang diharapkan bisa melanjutkan proyek IKN.

Jokowi mendukung Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo sebagai calon presiden dengan membuat indikator ‘’rambut putih’’. Meskipun tidak menyebut nama tapi publik tahu bahwa Jokowi jatuh cinta berat kepada Ganjar Pranowo dan menghendakinya sebagai pengganti.

BACA JUGA: Sukadiono Atau Tidak Suka-diono

Ganjar Pranowo disebut sebagai ‘’The Little Jokowi’’. Awal 2023 ini disebut-sebut akan menjadi penentuan nasib Ganjar Pranowo. PDIP sebagai the winning party, kabarnya, akan memutuskan siapa yang menjadi calon presiden antara Ganjar Pranowo atau Puan Maharani.

Hari-hari ini posisi Ganjar sedang disorot, gegara memakai dana zakat untuk merenovasi rumah kader PDIP. Setelah disorot publik keputusan itu dibatalkan. Tapi, Ganjar tetap berada dalam sorotan karena hari-hari ini wilayah Semarang tenggelam oleh banjir.

Cuaca memang sedang buruk. Banjir dan badai menerjang dimana-mana. Cuaca politik pun sedang tidak ramah terhadap Ganjar. Mungkin Jokowi pun sedang galau melihat kondisi ini.

Banjir menjadi habitat yang menyenangkan untuk cebong dan kodok. Tapi, Jokowi tidak senang dengan habitat banjir. Tentu, Jokowi tidak mau disebut sebagai raja kodok. (*)

Editor: DAD

Annus Horribillis

KEMPALAN: ANNUS horribillis adalah ungkapan latin untuk menggambarkan tahun yang penuh peristiwa suram atau bahkan peristiwa yang mengerikan. Ungkapan itu kali pertama dipakai oleh Vatikan pada 1891 ketika mengumumkan konsep infalibilitas kepausan. Dengan konsep ini Paus dianggap terlindung dari berbuat kesalahan. Dalam istilah Islam infalibilitas disebut sebagai ‘’ma’shum’’, terlindungi, Nabi Muhammad mempunyai kualitas ‘’ma’shum’’ dari perbuatan dosa dan tercela.

Ungkapan annus horribilis populer dan viral ke seluruh dunia pada 1992. Ketika itu Ratu Elizabeth II (1926-2022) dari Inggris memberikan pidato rutin akhir tahun. Pada saat itulah Elizabeth menyebut 1992 sebagai annnus horribillis, tahun kesuraman dan kesedihan.

Disebut demikian karena banyak tragedi yang terjadi di lingkungan monarki Inggris. Yang paling mencolok adalah perceraian yang terjadi pada anak-anak Elizabeth. Pangeran Charles bercerai dari Putri Diana. Pangeran Andrew pisah dari Sarah Ferguson, Putri Anne bercerai dari Kapten Mark Phillips.

BACA JUGA: King Pele

Selain itu ada banyak peristiwa ekseternal yang menambah kesuraman. Istana Windsor yang menjadi salah satu istana kesayangan Elizabeth terbakar. Kemudian pada tahun itu Mauritania, salah satu negara anggota persemakmuran yang terletak di Afrika Timur, menyatakan merdeka dan mencopot gelar Elizabeth sebagai kepala negara dan menggantikannya dengan seorang presiden.

Dalam sejarah Islam juga dikenal adanya ‘’Amul huzni’’, tahun kesedihan. Nabi Muhammad mengalami kesedihan yang mendalam pada tahun 619 karena wafatnya orang-orang yang dicintainya, yaitu sang istri Siti Khadijah dan sang paman Abu Thalib.

Siti Khadijah menemani Nabi Muhammad seama 25 tahun, memberinya beberapa anak perempuan dan menyokong perjuangan dakwah Nabi dengan harta dan pengaruhnya. Siti Khadijah menjadi wanita pertama yang beriman kepada Rasulullah setelah menerima wahyu pertama di Gua Hira. Khadijah mendapat julukan sebagai ‘’Ummul Mu’minin’’ ibu segenap orang-orang yang beriman. Kepergian Siti Khadijah benar-menar memukul Nabi Muhammad.

Tidak berselang lama, Abu Thalib menyusul wafat. Paman Nabi ini menjadi pelindung, yang memberi proteksi terhadap Muhammad dari persekusi kaum kafir Quraisy. Sebagai kepala Bani Hasyim, Abu Thalib sangat disegani oleh semua kabilah di Mekah. Dengan perlindungan Abu Thalb tidak ada orang yang berani mengganggu Nabi Muhammad. Kepergian Abu Thalib membawa kesedihan yang mendalam bagi Nabi Muhammad.

Tahun itu dikenang sebagai tahun kesedihan. Tetapi Allah kemudian memberi hiburan kepada Nabi Muhammad dengan mengundangnya untuk bertemu di Sidratul Muntaha. Maka pada tahun itu Nabi Muhammad mengadakan perjalanan spiritual yang dikenal sebagai ‘’Isra’ Mi’raj’’. Perjalanan pada malam hari dengan dua etape dari Mekah menuju Masjidil Aqsa di Palestina, dan kemudian Mi’raj naik ke langit untuk bertemu dengan Allah.

BACA JUGA: Pemilu Kardus

Hari ini kita berada pada pengujung 2022. Sangat banyak peristiwa buruk yang terjadi sepanjang tahun yang membuat situasi menjadi suram. Tetapi, di sisi lain ada juga peristiwa yang menciptakan optimisme dalam menyambut tahun yang baru.

Tepat pada akhir tahun, Indonesia mengumumkan pencabutan PPKM (pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat) yang menandai akhir dari siaga pandemi yang sudah berlangsung selama 3 tahun terakhir. Dengan pencabutan PPKM Indonesia secara resmi menyatakan lepas dari siaga pandemi. Hal ini disambut dengan suka cita, tetapi juga dengan kewaspadaan yang membawa waswas.

Pandemi Covid-19 telah memporakporandakan dunia internasional. Ketika sains dan teknologi berkembang membawa manusia kepada kemakmuran dan kesejahteraan, muncul virus kecil yang membuat seluruh dunia tunggang langgang. Terbukti bahwa sistem kesehatan dunia tidak siap menghadapi serangan tidak terduga itu.

Tahun-tahun pandemi membuktikan betapa rapuhnya pertahanan dunia dari serangan virus kecil itu. Serangan itu sekaligus membuktikan bahwa masyarakat internasional tidak mempunyai mekanisme baku untuk mempertahankan dirinya sendiri. Setiap negara mempunyai caranya sendiri untuk menghindari bencana. Tidak ada komando tunggal yang bisa menjadi panutan. Amerika Serikat, Eropa, dan Tiongkok, tiga kekuatan besar internasional, tidak berdaya menghadapi serangan pandemi.

BACA JUGA: Cuaca Ekstrem

Organisasi kesehatan dunia (WHO) mengumumkan bahwa pandemi telah menelan korban jiwa lebih dari 16 juta jiwa di seluruh dunia. Amerika Serikat yang diharapkan berada pada garda paling depan melawan pagebluk ternyata malah menjadi korban yang paling parah. Tiongkok, yang menjadi titik awal penyebaran virus, tunggang langgang dan dilanda kepanikan masal.

Serangan virus ini membuat masing-masing negara mencari selamat sendiri dan tidak peduli terhadap keselamatan orang lain. Filosof Slavoy Zizek yang berpaham kiri menertawakan negara-negara kapitalis global yang kehabisan akal menghadapi pagebluk. Kapitalisme global yang bertumpu pada individualisme dianggapnya gagal menghadapi pandemi. Zizek pun menegaskan bahwa sekaranglah saatnya dunia internasional beralih memeluk ideologi sosialisme internasional dengan bersatu padu melawan pagebluk.

Teknologi kesehatan dunia akhirnya bisa menemukan vaksin penghalau pandemi. Tesis Zizek terbantahkan sekali lagi. Kapitalisme global kembali membuktikan bahwa dia mempunyai mekanisme internal yang bisa membebaskan dirinya dari kesulitan. Itulah sebabnya kapitalisme bisa tetap bertahan hidup, sementara komunisme sudah ambruk sejak 1990-an ketika Uni Soviet dan sekutu-sekutunya bubar.

BACA JUGA: Sukadiono Atau Tidak Suka-diono

Kapitalisme global bisa dengan cepat menemukan vaksin yang kemudian diproduksi secara masal dan didistribusikan ke seluruh dunia. Dalam sejarah ilmu kesehatan, penemuan vaksin membutuhkan waktu panjang sebelum dinyatakan layak untuk dipakai. Tetapi, kali ini dunia kedokteran modern membuktikan bahwa vaksin bisa ditemukan dalam hitungan bulan.

Kapitalisme global bisa lolos dari resesi besar pada 1930-an dengan munculnya resep Keynes. Ketika dunia hampir bangkrut karena resesi, muncul John Maynard Keynes, ekonom Inggris, yang menyarankan pemerintah mengeluarkan anggaran besar untuk menggerakkan ekonomi dan membantu rakyat yang kelaparan. Kapitalisme selamat dengan mengadopsi cara sosialisme yang melibatkan peran negara untuk mengatur ekonomi.

Kali ini dunia selamat dari ancaman pandemi. Tapi, segera muncul ancaman yang nyata dalam bentuk perang Rusia melawan Ukraina. Perang sudah berlangsung hampir setahun, tetapi tidak ada penyelesaian yang komprehensif. Dunia punya PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa), tetapi tidak ada artinya. PBB hanya menjadi kepanjangan tangan negara-negara Barat pemenang Perang Dunia Kedua, dan tidak punya gigi menghadapi negara penentang Barat seperti Rusia.

Perang Rusia vs Ukraina ini menjadi ironi. Rusia marah karena tetangganya itu masuk menjadi anggota NATO (North Altantic Treaty Oganization) organisasi pakta pertahanan Atlantik Utara yang dikomandoi oleh Amerika Serikat. Tujuan Ukraina masuk ke NATO adalah supaya mendapatkan perlindungan militer. Tapi, ternyata NATO tidak bisa berbuat banyak ketika Ukraina dihajar tiap hari oleh Rusia.

BACA JUGA:

Perang masih terus berlanjut, dan belum ada solusi kongkret sampai sekarang. Ekonomi internasional yang seharusnya bisa mulai bernafas pasca-pandemi, harus megap-megap lagi karena perang yang membawa ancaman resesi. Kalau perang tidak bisa diselesaikan maka dunia harus siap-siap menghadapi resesi.

Tahun yang suram semakin gelap karena munculnya berbagai bencana alam. Musim dingin tahun ini menjadi yang terburuk di Amerika. Sedikitnya 60 orang tewas menjadi korban badai dan terperangkap kedinginan karena suplai listrik terputus.

Di semua penjuru dunia bencana alam terjadi dalam bentuk banjir, gempa bumi, dan tsunami. Bencana alam terjadi karena perubahan cuaca yang tidak terkendali. Filantropis dan aktivis lingkungan Bill Gates sudah mengingatkan, bahwa bencana berikut yang mengancam dunia adalah bencana lingkungan.

Bill Gates berkampanye ke seluruh dunia supaya emisi karbon dunia dihapuskan dari 51 miliar ton pertahun menjadi nol persen. Hal ini mustahil terjadi, tetapi harus terjadi. Ironisnya, penghasil emisi karbon terbesar dunia adalah Amerika Serikat, negara tempat Bill Gates tinggal.

Nasib manusia terletak pada tangan manusia sendiri. Bencana pandemic, perang, dan lingkungan adalah ‘’man-made disaster’’, bencana akibat ulah tangan manusia sendiri.

Bisakah annus horribillis diubah menjadi annus mirabilis yang penuh harapan? Selamat Tahun Baru. (*)

Editor: DADA

King Pele

KEMPALAN: TIDAK banyak orang yang mengenal nama Edson Arantes do Nascimento. Tidak ada yang tahu persis mengapa dan bagaimana nama panjang itu kemudian lebih dikenal nama empat huruf saja, Pele. Empat huruf itu menjadi kata yang paling terkenal dan paling mudah diucapkan oleh orang seluruh dunia. Kalau ada survey empat kata apa yang paling dikenal orang di seluruh dunia, jawabnya adalah ‘’Okay’’ dalam bahasa Inggris, dan Pele.

Pele meninggal dunia (30/12) dalam usia 82 tahun setelah beberapa bulan terbaring di rumah sakit karena kanker. Pada masa tuanya Pele menderita berbagai penyakit dalam beberapa tahun terakhir harus memakai kursi roda. Kendati demikian hal itu tidak menghalangi Pele untuk bepergian ke berbagai even penting dunia.

Gaya hidup Pele penuh warna, glamour, dan jetset. Ia menghabiskan waktu bermain untuk klub Santos di Brazil yang membesarkan namanya. Ia bermain film layar lebar, menjadi selebritas, bertemu dengan Paus dan Presiden Nixon, Presiden Carter, serta Ratu Elizabeth, dan para pemimpin selebritas terkenal dunia, termasuk para bintang rock.

Pele memenangkan piala dunia 3 kali di usia 17 tahun pada 1958 di Swedia. Empat tahun kemudian dia memenangkannya di Chile, dan yang ketiga di Meksiko yang sangat ikonik pada 1970 mengalahkan Italia.

BACA JUGA: Pemilu Kardus

Ia bukan hanya seorang pesepakbola. Pada 1970-an ketika media tidak sepervasif dan semasif saat ini, Pele sudah menjadi media darling global. Kemana pun ia pergi, dari New York, Paris, Sao Paulo, sampai ke ujung dunia pun ribuan orang akan mengerubutinya. Ketika itu belum ada media sosial yang menghasilkan viral, tapi Pele sudah menjadi viral tiap hari.

Hanya Pele dan Brazil yang bisa memiliki Piala Dunia selama-lamanya setelah memenanginya 3 kali. Piala Jules Rimet terpaksa harus diserahkan selama-lamanya kepada Barzil karena 3 kali memenangkannya. Sekarang Piala Dunia yang baru belum pernah dimenangkan back to back oleh negara mana pun.

Seorang jurnalis secara iseng bertanya kepadanya mana yang lebih terkenal antara Pele dengan Yesus Kristus. Pele yang dilahirkan sebagai Katolik menjawab dengan sangat diplomatis tapi menohok, ‘’Ada banyak tempat dui dunia ini dimana Yesus Kristus tidak begitu dikenal’’.

Dalam permainan sepak bola global sekarang ini seorang pemain berusia 19 tahun atau bahkan 21 tahun akan disebut sebagai ‘’the wonder kid’’. Julian Fernandez gelandang Argentina memenangkan penghargaan pemain muda terbaik Piala Dunia Qatar 2022, usianya 21 tahun. Jude Bellingham, gelandang Inggris dianggap sebagai gelandang jangkar terbaik dunia, usianya 19 tahun. Kylian Mbappe, striker Prancis yang disebut-sebut sebagai pewaris Lionel Messi atau Ronaldo, usianya 23 tahun.

BACA JUGA: Cuaca Ekstrem

Mbappe ialah wonder kid, anak ajaib yang membawa Prancis menjadi juara dunia pada 2018 dalam usia 18 tahun. Tapi Mbappe tidak bisa membawa Prancis menjadi juara back to back pada Piala Dunia kali ini. Pele sudah mulai mencetak gol-gol yang spektakuler ketika usianya baru 15 tahun. Saat menginjak 17 tahun dia sudah menjadi bagian dari tim Brazil yang memenangkan Piala Dunia pada 1858. Pele kemudian menjadi inspirasi ketika Brazil mempertahankan title juara dunia back to back pada 1962 dan 1970.

Ia terkenal dengan tendangan salto yang dikenal sebagai ‘’tendangan sepeda’’ bycicle kick. Ia mempunyai loncatan yang sangat tinggi untuk menanduk bola-bola silang. Ia disebut punya kekuatan melawan graffiti bumi dengan loncatannya yang tinggi. Cristiano Ronaldo mewarisi Pele dengan kemampuan tendangan sepeda dan loncatan anti-gravitasi. Ronaldo adalah mesin hasil kerja keras dan paduan sains olahraga. Pele murni lahir dari bakat alam.

Foto: twitter.com

Tidak ada satu pun pesepakbola dunia yang pernah memenangkan Piala Dunia 3 kali dan back to back seperti capaian Pele. Lionel Messi ditasbihkan menjadi ‘’GOAT’’ the greatest of all times, pemain paling hebat sepanjang masa, setelah membawa Argentina menjadi juara dunia tahun ini. Messi baru sekali membawa Argentina juara dunia. Mungkin kalau ada mukjizat Messi masih bisa bermain pada Piala Dunia 2026 dan membawa Argentina juara dunia back to back. Tapi, Messi tidak akan bisa memecahkan rekor Pele dengan tiga kali kemenangan Piala Dunia.

Kalau Messi dinobatkan sebagai GOAT karena satu kali mengangkat Piala Dunia, maka julukan the super-GOAT layak disematkan kepada Pele.

BACA JUGA: Sukadiono Atau Tidak Suka-diono

Pada akhir karirnya Pele mencatat 1279 gol dari 1363 pertandingan dan tercatat sebagai rekor dunia oleh The Guiness Book of Records. Ada perdebatan mengenai rekor ini karena beberapa gol dari pertandingan persahabatan dimasukkan sebagai gol internasional.

Kehidupan Pele sangat berwarna-warni. Maradona yang sering diperbandingkan dengan Pele juga punya cerita hidup yang sama, terutama yang berkaitan dengan perempuan. Pele menikah 3 kali, yang terakhir ketika dia berusia 75 tahun dengan Marcia Aoki yang 30 tahun lebih muda. Pele punya 7 anak dan semasa hidup dikaitkan skandal dengan banyak perempuan. Tetapi, Pele tidak pernah punya masalah dengan obat bius sebagaimana yang dialami oleh Maradona. Tapi, dalam soal perempuan, Pele dan Maradona mungkin sama-sama punya catatan yang penuh warna.

BACA JUGA: Budak

Orang selalu memperdebatkan siapa yang paling hebat di antara Pele, Maradona, Johan Cruyff, George Best, Lionel Messi, dan Cristiano Ronaldo. Setiap zaman ada orangnya, dan setiap orang ada zamannya. Pele menjadi orang pada zamannya. Pele manusia unik. Dia hanya hidup di dunia satu kali, tetapi memenangkan Piala Dunia tiga kali. Pele dan Maradona diperbandingkan, tetapi sekarang dua orang itu bermain bersama di surge. Begitu kata penggemarnya.

Orang-orang di Brazil memujanya sebagai dewa dan raja. Orang Brazil suka menyebutnya sebagai ‘’King Pele’’. Di tengah masyarakat Brazil yang mayoritas Katolik Pele dianggap punya kualitas ketuhanan. Ada dua dimensi Pele sebagai manusia dan sebagai pesepakbola. Pele ialah manusia biasa, tetapi ketika bermain bola dia menjadi tuhan.

Foto: twitter.com

Sebagaimana pesepakbola Amerika Latin pada umumnya Pele lahir di favela, wilayah kumuh yang miskin, di Tres Coracoes. Sewaktu kecil ia mengalami kesulitan mengeja, seperti umumnya anak miskin yang kurang sekolah. Dia mulai main sepak bola di jalanan dengan telanjang kaki dan dengan bola dari kertas yang dibungkus plastik.

Pada usis 15 tahun ia ditemukan oleh klub Santos, dan sejak itu klubnya langsung berani memproklamasikan bahwa Pele akan menjadi pesepakbola terhebat di dunia. Ramalan itu menjadi kenyataan. Pele menjadi pemain paling hebat di dunia dan menjadi atlet berbayar paling mahal ketika itu.

Timnas Brazil pada dekade itu penuh bertabur bintang. Djalma Santos, Didi, Mario Zagallo, Garrincha, Nilton Santos, dan Orlando. Tetapi Pele adalah permata pada ujung mahkota Brazil. Pada final Piala Dunia 1958 ia mencetak dua gol untuk menumbangkan tuan rumah Swedia 2-5. Dan sejak itu Pele tidak bisa lagi dihentikan.

BACA JUGA: Wanita Emas

Semua klub besar di seluruh dunia memburu tanda tangannya, Real Madrid, Inter Milan, Juventus, dan Manchester United. Pele bergeming. Ia tetap memilih Santos. Ia berkeliling dunia dengan klubnya untuk membuat pertandingan eksebisi yang selalu menggemparkan.

Pada akhir karirnya pada 1975 ia bermain untuk klub Amerika Cosmos bersama para bintang gaek seperti Franz Beckenbeauer, Johan Cruyff, dan George Best. Pele yang bersahabat dengan Muhammad Ali ingin agar sepak bola berkembang di Amerika Serikat.

Pada 1977 Pele mengumumkan pensiun dari sepak bola dengan pertandingan antara Santos vs Cosmos di Amerika. Hujan turun pada pertandingan selamat tinggal itu. Esok harinya headlines surat kabar berbunyi ‘’Langit pun Menangis Melepas Pele’’.

Sekarang, ketika Pele harus berpulang, bukan hanya langit yang menangis, seluruh dunia pun ikut menangis. (*)

Pemilu Kardus

KEMPALAN: Pemilu 2024 akan menggunakan kotak suara dari kardus. Begitu pengumuman KPU (Komisi Pemilihan Umum). Alasannya, supaya lebih efisien dan praktis, tidak perlu sewa gudang untuk penyimpanan, dan kardus bisa langsung dijual setelah selesai dipakai.

Pada Pemilu 2019 yang lalu KPU juga memakai kotak suara kardus. Ketika itu muncul protes keras dari berbagai kalangan yang mencurigai kemungkinan terjadinya kecurangan. Kotak kardus dianggap rentan terhadap pembobolan. Arief Budiman, ketua KPU ketika itu, sampai duduk di atas kotak suara kardus untuk membuktikan bahwa kotak suara kardus cukup kuat.

Biaya pemilu 2024 naik fantastis dibanding 2019. Kali ini total anggaran tembus Rp 100 triliun mencapai Rp 104 triliun. KPU mendapat anggaran Rp 76 triliun, selebihnya anggaran untuk Badan Pengawas Pemilu, Bawaslu.

Anggaran ini naik 3 kali lipat dari pemilu 2019 yang menghabiskan dana Rp 26 triliun. Kenaikan tiga kali lipat ini harusnya dibarengi dengan kenaikan kualitas pemilu yang memadai. Pada Pemilu 2019 muncul kecurigaan terjadinya berbagai kecurangan, termasuk pencurian suara.

Kematian hampir 900 orang petugas KPPS (kelompok penyelenggara pemilihan suara) dan 5.000 orang mengalami sakit menjadi salah satu catatan yang tidak boleh diabaikan. Kematian masal ini tidak mendapatkan perhatian yang memadai dan tidak dilakukan penyelidikan yang komprehensif. Alasan resmi yang disampaikan pemerintah adalah para pekerja itu kecapekan karena beban kerja yang tinggi.

BACA JUGA: Cuaca Ekstrem

Hasil pemilu 2019 menjadi sengketa hebat yang harus diputuskan melalui gugatan di Mahkamah Konstitusi (MK). Persidangan berjalan alot karena pasangan pengugat Prabowo Subianto-Sandiaga Uno mengajukan bukti-bukti yang masif mengenai kecurangan di berbagai daerah.

Tapi, akhirnya MK memenangkan pasangan Joko Widodo Ma’ruf Amin, dan menyatakan semua kecurangan yang dituduhkan oleh pengugat tidak terbukti. Sengketa pemilu seolah menjadi kenangan yang terkubur, setelah Prabowo Subianto masuk ke kabinet Jokowi sebagai menteri pertahanan. Menyusul kemudian Sandiaga Uno juga masuk ke kabinet Jokowi sebagau menteri pariwisata.

Kecurangan yang masif itu menjadi kenangan yang terkubur dalam-dalam dan tidak pernah lagi diperbincangkan. Salah satu faktor yang ketika itu diperdebatkan adalah penggunaan kotak suara kardus yang dianggap rentan terhadap kecurangan. Kali ini kasus kardus muncul lagi dan seolah menjadi de javu, sesuatu yang pernah terjadi di masa lalu dan sekarang terjadi lagi.

Dengan kenaikan anggaran 3 kali lipat seharusnya kualitas pelaksanaan pemilu naik 3 kali lipat dari 2019. KPU sebagai penyelenggara pemilu diharapkan bekerja profesional dan netral. Berbagai kecurangan yang ditengarai terjadi pada 2019 seharusnya tidak terjadi lagi.

BACA JUGA: Sukadiono Atau Tidak Suka-diono

Pemilu 2019 masih menyisakan residu yang belum selesai sampai sekarang. Ketika itu KPU diguncang skandal ditangkapnya anggota KPU Wahyu Setiawan oleh KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) karena menerima suap dari peserta pemilu. Wahyu divonis 6 tahun penjara. Ada keterkaitan dengan petinggi partai dalam kasus ini. Tetapi, saksi mahkota, Harun Masiku, tiba-tiba raib dan sampai sekarang tidak diketahui dimana rimbanya.

Pelaksanaan pemilu 2024 yang dijadwalkan pada Februari akan menjadi tonggak 5 tahun buron Harun Masiku. Baru kali ini ada buron politik yang bisa menghilang bertahun-tahun tanpa terdeteksi. Setiap kali ditanya mengenai kasus Harun Masiku, KPK menjawab masih dalam proses perburuan.

Ketika masih musim pandemi KPK beralasan tidak bisa melakukan operasi penangkapan karena masih ada lockdown. Sekarang ketika situasi sudah lebih baik, belum ada progres yang berarti dalam upaya pencarian buron politik itu. Nama Harun Masiku lalu diplesetkan oleh publik menjadi ‘’Harun Masiku-cari’’.

Kali ini KPU sebagai penyelenggara pemilu sudah menghadapi beberapa kasus yang bisa menjadi skandal yang memalukan. Ketika masih dalam proses verifikasi partai, sudah muncul tudingan ada intervensi dari KPU terhadap KPU di daerah. Ada upaya mengintervensi KPU daerah supaya mengubah data verifikasi untuk meloloskan dan tidak meloloskan partai tertentu.

BACA JUGA: Budak

Muncul juga dugaan skandal seks yang melibatkan Ketua KPU Hasyim Asyari. Hasnaeni Moein, ketua Partai Republik Satu mengaku menjadi korban pelecehan seksual oleh ketua KPU. Hasnaeni mengaku diminta memberikan gratifikasi seksual sebagai imbalan untuk meloloskan partainya sebagai peserta pemilu.

Ibarat permainan sepak bola sekarang ini baru pemanasan. Tapi kecurigaan akan terjadinya kecurangan sudah banyak bermunculan. KPU pusat digugat oleh KPU daerah karena dugaan intervensi. Para aktivis demokrasi juga menecurigai sekrteraiat KPU melakukan intervensi terhadap sekretariat KPU daerah supaya mengubah data untuk meloloskan atau tidak meloloskan partai tertentu.

Partai Ummat besutan Amien Rais menjadi salah satu partai yang merasa dicurangi dalam proses verifikasi oleh KPU. Beberapa hari sebelum KPU mengumumkan partai-partai yang lolos, Amien Rais sudah mencium gelagat tidak beres. Ia mengaku mendapat informasi A1 bahwa partainya menjadi korban kecurangan dan tidak akan lolos dari proses verifikasi.

Amien Rais melawan dan menggugat KPU. Bawaslu kemudian melakukan mediasi dan dicapai kata sepakat untuk memberi kesempatan kepada Partai Umat untuk memenuhi persyaratan yang belum lengkap. Gugatan Partai Ummat berakhir happy ending dan Partai Ummat akan dinyatakan resmi lolos oleh KPU, Jumat (30/12) hari ini.

BACA JUGA: Wanita Emas

Lolosnya Partai Umat menjadi kemenangan moral penting bagi Amien Rais. Persaingan dengan Partai Amanat Nasional (PAN) akan menjadi salah satu yang paling panas pada pemilu 2024 nanti. Amien Rais mendirikan PAN dan menjadi godfather selama 20 tahun terakhir. Amien Rais tetap konsisten dengan posisi oposisi terhadap pemerintahan Jokowi. Di sisi lain, Zulkifli Hasan, sebagai ketua umum, sangat bernafsu untuk membawa PAN masuk ke koalisi pendukung Jokowi.

Amien Rais disingkirkan melalui kongres PAN 2020 di Kendari. Zulkifli Hasan memenangkan kursi ketua umum untuk kali kedua, dan membersihkan orang-orang Amien Rais dari kepengurusan. Tidak menunggu lama, Zulkifli Hasan membawa PAN menjadi anggota koalisi dan mendapat imbalan menjadi menteri perdagangan.

Dengan reward itu PAN punya peluru logistik yang cukup untuk bertarung pada pemilu 2024. Sebaliknya, Partai Ummat akan mengandalkan karisma Amian Rais untuk bisa mengalahkan PAN. Pertarungan dua partai sekandung ini akan sangat ramai. Dengan perolehan suara sekitar 7 persen PAN harus bekerja keras untuk mempertahankan parliamentary threshold supaya bertahan di pemerintahan.

BACA JUGA: Meikarta

Persaingan juga akan terjadi antara PKS (Partai Keadilan Sejahtera) dengan Partai Gelora yang menjadi pecahan PKS. Seperti halnya persaingan PAN vs Partai Ummat, persaingan PKS vs Partai Gelora akan memperebutkan konstituen yang sama. Bedanya, Partai Ummat jelas dan tegas berada di oposisi melawan PAN yang berada di koalisi pemerintahan. Partai Gelora masih gamang menempatkan posisinya menghadapi PKS yang jelas-jelas berada di kubu oposisi. Menempatkan diri sebagai pendukung pemerintah akan merugikan Partai Gelora. Tetapi menjadi oposisi berarti akan berada pada barisan yang sama dengan PKS. Itulah dilema Gelora.

Persaingan keras akan terjadi antara koalisi perubahan berhadapan dengan koalisi status quo. Sangat mungkin persaingan keras seperti pada pilpres 2019 akan terulang kembali pada 2024. KPU sebagai pengatur pertandingan dituntut supaya menjadi wasit yang adil dan profesional.

Kotak suara kardus boleh saja dipakai. Tetapi, jangan sampai terjadi kecurangan dan kebocoran. Jangan sampai demokrasi Indonesia hasil pemilu 2024 nanti menjadi sekelas demokrasi kardus. (*)

Editor: DAD

Cuaca Ekstrem

KEMPALAN: ‘’SIAPA pun Anda yang tinggal di Jabodetabek dan khususnya Tangerang atau Banten, mohon bersiap dengan hujan ekstrem dan badai dahsyat pada 28 Desember 2022.’’ Itu adalah cuitan twitter Ema Yuliastin, peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang viral beberapa hari terakhir.

Penelitin klimatologi ini menjelaskan, badai dahsyat akan bermula dari laut dan berpindah ke darat melalui dua jalur. Pertama, dari barat melalui angin baratan yang membawa hujan badai dari laut atau westerly burst. Kedua, dari utara melalui angin permukaan yang kuat atau northerly. Sehingga diperkirakan ada dua suplai hujan atau dua suplai badai yang akan terakumulasi di kawasan Jabodetabek tersebut. Maka Banten, dan Jakarta-Bekasi akan menjadi lokasi sentral tempat serangan badai tersebut. Dimulai sejak siang hingga malam hari pada 28 Desember 2022.

Prediksi hujan ekstrem menggemparkan masyarakat. Tapi, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) belum dapat memastikan terjadinya badai pada di Jabodetabek hari ini. Alih-alih badai ekstrem, BMKG lebih suka menyebutnya sebagai sebagai hujan lebat dan hujan ekstrem.

Untuk mengantisipasi kondisi buruk, Plt Gubernur DKI Heru Budi Hartono menyiapkan berton-ton garam untuk disebar sebagai upaya memecah awan supaya menyebar dan tidak semuanya tumpah di wilayah DKI dan sekitarnya. Ini bukan ritual perdukunan ala Mbak Ara di Mandalika. Penyebaran garam ini diakui sebagai metode ilmiah untuk memecah awan.

Beberapa waktu yang lalu di media sosial beredar video yang menunjukkan emak-emak menyebar garam di sekitar rumahnya ketika hujan lebat disertai angina terjadi. Narasi pada video yang viral itu menyebutkan bahwa si emak berusaha menghentikan hujan dengan ritual itu.

Ritual itu ternyata ditiru oleh Heru Budi Hartono dengan skala yang jauh lebih besar. Kalau si emak cuma menyebar garam beberapa genggaman tangan, Heru Budi menyebar berton-ton garam di sekitar langit Jakarta.

BACA JUGA: Sukadiono Atau Tidak Suka-diono

Teknologi modifikasi cuaca (TMC) ini dilakukan dengan cara menaburkan garam dapur atau natrium klorida di sejumlah tempat. TMC sudah sudah melakukan 55 kali penerbangan dengan menaburkan 154,3 ton garam dapur. Modifikasi cuaca ini mulai dilakukan 26 Januari lalu atas permintaan Pemprov DKI Jakarta bekerjasama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan BPPT.

Guna mengantisipasi prakiraan BMKG tersebut, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bekerja sama dengan Tentara Nasional Angkatan Udara (TNI AU) akan melakukan operasi teknologi modifikasi cuaca (TMC) dengan menyemai garam ke awan-awan yang menuju wilayah Jabodetabek dan sekitarnya.

Dari pagi hingga siang pada Jumat, 3 Januari 2020, telah dilakukan tiga kali penyemaian dengan menggunakan dua pesawat TNI AU, yaitu pesawat angkut CN 295 yang mampu mengangkut 2,4 ton garam sekali terbang dan pesawat Cassa 212 dengan kapasitas 800 kilogram garam.
Cara menyemai awan dilakukan menggunakan pesawat angkut yang membawa berton-ton garam. Kemudian, pesawat tersebut memasukan garam tersebut kedalam inti awan.

Menurut ramalan BMKG, cuaca ekstrem yang berpotensi di Jakarta dan sejumlah kota lain mulai hari ini hingga tahun baru 2023 mendatang. Cuaca ekstrem di Jakarta dan kota lain akan menimbulkan hujan lebat hingga sangat lebat yang berlangsung sampai 2 Januari 2023.

BACA JUGA: Budak

Pada 21 Desember 2022 BMKG telah mengeluarkan rilis potensi cuaca ekstrem yang dapat terjadi dalam sepekan hingga tanggal 1 Januari 2023. Informasi tersebut berkaitan dengan adanya signifikansi dinamika atmosfer yang dapat meningkatkan potensi cuaca ekstrem selama periode Natal 2022 dan Tahun Baru 2023.

Berdasarkan analisis cuaca terkini, kondisi dinamika atmosfer di sekitar Indonesia masih berpotensi signifikan terhadap peningkatan curah hujan di beberapa wilayah dalam sepekan kedepan.

Cuaca ekstrem menjadi masalah internasional yang bisa membawa dampak serius di seluruh dunia. Presiden Amerika Serikat Joe Biden telah menyetujui deklarasi keadaan darurat di Negara Bagian New York. Hal itu menyusul dampak parah yang dialami wilayah tersebut akibat badai musim dingin Elliot.

Presiden Biden memerintahkan bantuan Federal untuk melengkapi upaya tanggapan negara bagian dan lokal karena kondisi darurat akibat badai musim dingin yang parah yang dimulai pada 23 Desember 2022, dan berlanjut.

Salju menyelimuti lingkungan, Ahad, 25 Desember 2022. Jutaan orang berjuang melawan cuaca beku yang telah menewaskan sedikitnya 24 orang di seluruh Amerika dan diperkirakan akan merenggut lebih banyak nyawa setelah menjebak beberapa penduduk di dalam rumah dengan timbunan salju dan mematikan listrik ke beberapa ratus ribu rumah dan bisnis.

Terdapat lebih dari 3.800 penerbangan dari maskapai-maskapai AS yang dibatalkan akibat badai musim dingin Elliot. Diperkirakan gangguan dalam lalu lintas penerbangan akibat Elliot masih akan berlanjut hingga fase perjalanan liburan Tahun Baru akhir pekan ini.

BACA JUGA: Wanita Emas

Badai musim dingin Elliot dilaporkan telah menyebabkan setidaknya 60 warga AS meninggal. Sebagian besar korban berada di New York. Suhu dingin pun mengganggu pengoperasian pembangkit listrik. Ratusan ribu warga yang tersebar di sejumlah wilayah AS harus menghadapi pemutusan aliran listrik.

Miliarder Bill Gates sudah mengingatkan jauh-jauh hari bahwa ada bencana yang tidak kalah serius ketimbang Covid-19. Dalam bukunya ‘’How to Avoid Climate Disaster’’ (2021) Gates mengingatkan bahwa bencana selanjutnya setelah Covid-19 adalah bencana lingkungan.

Hal ini terjadi karena manusia ugal-ugalan dalam memakai energi yang tidak terbarukan atau non-renewable energy. Satu mantra yang menjadi andalah Gates adalah ‘’Dari 51 miliar ton menjadi nol’’. Artinya, sekarang ini produksi emisi karbon yang merusak atmosfer setiap tahun sebanyak 51 miliar ton. Kalau mau menyelamatkan bumi, tidak ada pilihan lain kecuali menghapus total emisi karbon menjadi nol.

BACA JUGA: Meikarta

Tentu ini pilihan sulit, karena produser karbon terbesar dunia adalah negara-negara maju termasuk Amerika Serikat. Negara-negara miskin sangat sedikit memroduksi karbon, karena penggunaan energi yang terbatas.

Gates menyimpulkan bahwa penghasilan dan penggunaan energi berjalan seiring. Masyarakat pada di negara-negara yang mengkonsumsi sedikit energi per kapita memiliki pendapatan per kapita terendah. Hal itu terjadi di negra-negara Afrika yang tidak mempunyai cukup pasokan listrik.

Di negara-negara yang sudah maju, listrik selalu ada, lampu jalan terus hidup di malam hari, AC, komputer, dan TV dapat selalu berfungsi. Hal ini sudah menjadi gaya hidup modern selama berpuluh tahun. Manusia modern tidak menyadari dampak lingkungannya sampai terjadi situasi darurat seperti di Amerika, atau ancaman cuaca ekstrem di Jakarta.

Manusia modern mengandalkan suplai listrik setiap hari. Cara produksi listrik sejauh ini menyumbang perubahan iklim paling banyak. Manusia modern harus memikirkan mendapatkan listrik yang lebih bersih, dan menggunakannya untuk membantu mengurangi emisi karbon. Pemakaian moda transportasi berbasis listrik adalah salah satunya.

BACA JUGA: Luhut dan OTT

Gates menerangkan bagaimana penciptaan energi bersih ini dapat dilakukan dengan mempercepat inovasi, memberikan insentif yang menurunkan biaya dan mengurangi risiko, juga membuat aturan agar teknologi baru dapat bersaing. Membuat standar kelistrikan, standar bahan bakar bersih dan standar produk yang bersih, hingga memberi denda atas pengrusakan karbon.

Mengatasi ancaman lingkungan tidak bisa dilakukan dengan kebijakan instan dan menginginkan hasil yang instan juga. Apa yang dilakukan oleh Heru Budi Hartono di DKI menunjukkan cara berpikir yang paradoksal dan tidak koheren. Dia menghapus jalur sepeda, memangkas anggaran subsidi transportasi dan mengalihkannya untuk kepentingan lain.

Ketika Jakarta terancam cuaca ekstrem dia malah sibuk menebar garam. Emak-emak di Jakarta bisa protes kalau suplai garam kosong gegara diborong oleh Pemprov DKI. (*)

Editor: DAD

Sukadiono Atau Tidak Suka-diono

KEMPALAN: MUSYAWARAH Wilayah (Musywil) Muhammadiyah Jawa Timur sudah selesai (25/12), dan memunculkan Dr. dr. Sukadiono sebagai ketua. Banyak catatan yang sudah diberikan terhadap pelaksanaan Musywil ke-16 ini. Kemunculan Sukadiono sebagai ketua juga memunculkan beberapa catatan, antara lain adanya pergeseran orientasi warga Muhammadiyah Jawa Timur, yang lebih cenderung memilih manajer sebagai ketua, ketimbang ulamah fakih yang betul-betul faham mengenai agama.

Tengara ini diungkapkan oleh Prof. Agus Purwanto, guru besar ITS (Institut Teknologi 10 November Surabaya) yang juga Wakil Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PWM (Pengurus Wilayah Muhammadiyah) Jawa Timur. Ada dua fenomena baru yang disorot Prof. Agus. Pertama, terjadinya pergeseran orientasi dari ulama ke manajer. Yang kedua, baru kali ini ketua Muhammadiyah punya nama Jawa, dan bukan nama Arab sebagaimana para ketua sebelumnya.

Di antara sederet nama ketua PWM Jatim, Sukadiono memang satu-satunya nama Jawa. Lain-lainnya adalah nama Arab, yakni Abdul Hadi, M. Saleh Ibrahim, Anwar Zein, Abdurrahim Nur, Fasichul Lisan, Syafiq Mughni, Thohir Luth, dan Sa’ad Ibrahim.

BACA JUGA: Budak

Pujangga Inggris William Shakespeare mempertanyakan ‘’What is in the name’’, Apa arti sebuah nama. Bunga mawar akan tetap harum meskipun diberi nama lain. Begitu ungkapan lengkap dari Shakespeare. Seseorang yang punya kualitas hebat akan tetap diakui kehebatannya siapa pun namanya.

Tapi, di sisi lain, nama adalah sebuah identitas. Nama Arab diasosiasikan dengan Islam dan santri (tentu tidak selalu demikian, Samsul Nursalim, contohnya), dan nama Jawa dianggap kurang Islam, atau paling tidak kurang santri.

Orang Jawa suka memberi nama anaknya dengan satu suku kata saja, misalnya Sukarno atau Soeharto (untuk keperluan pengurusan paspor agak merepotkan karena nama minimal harus dua suku kata). Kedua tokoh itu adalah presiden Republik Indonesia, sebuah negara dengan penduduk mayoritas Islam terbesar di dunia. Supaya terlihat lebih islami maka nama Sukarno ditambahi menjadi Ahmad Sukarno. Soeharto ditambahi menjadi Muhammad Soeharto, bahkan masih ditambahi lagi dengan titel haji. Lengkaplah sudah identitas Islamnya.

Salah satu ciri masyarakat tradisional adalah masih percaya kepada logosentrisme, hal-hal yang bersifat aksesoris menjadi simbol yang penting. Gelar haji maupun gelar akademis yang panjang akan menambah gengsi seseorang. Status sosial seseorang lebih banyak dipengaruhi oleh ‘’ascription’’, seperti gelar, ketimbang ‘’achievment’’ atau kemampuan dalam menyelesaikan tugas.

BACA JUGA: Wanita Emas

Simbol-simbol fisik seperti jenggot, gamis, kopiah, sarung, dan baju takwa, menjadi simbol kesantrian seseorang. Karena itu, ada insiden lucu pada pembukaan Musywil Ponorogo. Ketika itu Sukadiono yang duduk di deretan depan tidak memakai kopiah. Beberapa saat kemudian seseorang mengirim kopiah dan Sukadiono mengenakan kopiah itu. Kabarnya, Prof, Dien Syamsudin yang membisiki supaya Sukadiono berkopiah.

Sebagai organisasi dakwah yang konsen terhadap gerakan tajdid, simbol-simbol artifisial dan aksesoris itu seharusnya sudah tidak menjadi isu. Terpilihnya Sukadiono sebagai ketua justru bisa menjadi tonggak perubahan yang menjadi preseden bagus di masa depan. Mungkin setelah Sukadiono menjadi ketua akan muncul ketua-ketua dengan nama Jawa yang ‘’kurang santri’’, misalnya Agus Purwanto dan lainnya.

Hal yang lebih esensial adalah tengara terjadinya pergeseran orientasi di kalangan warga Muhammadiyah. Hal itu ditandai dengan munculnya kecenderungan untuk memilih manajer ketimbang ulama sebagai ketua. Selama berkiprah di Muhammadiyah Sukadiono memang lebih menonjol kemampuan manajerialnya. Hal itu dibuktikannya dengan menjadi rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya selama 3 periode. Sukadiono juga dikenal punya tangan dingin dalam mengelola AUM (Amal Usaha Muhammadiyah).

BACA JUGA: Industri Islamophobia

Pertanyaannya adalah, apakah pergeseran itu terjadi di level warga Muhammadiyah, atau justru terjadi di level pengurus PWM. Dari perspektif strukturasi Giddens, PWM adalah struktur dan warga Muhammadiyah adalah agen. Pergeseran pada level struktur akan lebih mudah memengaruhi perubahan pada level agen ketimbang sebaliknya. Artinya, dalam kasus Musywil Ponorogo ini pergeseran orientasi terjadi di level struktur yang kemudian memengaruhi agen, bukan sebaliknya.

Salah satu sorotan terhadap Musywil kali ini adalah munculnya gejala politisasi. Ditengarai ada gerakan yang memakai cara-cara politik untuk mendukung seorang kandidat. Ada juga cara-cara politik untuk mendiskreditkan seorang kandidat. Salah satu kandidat mengeluhkan adanya black campaign, kampanye hitam yang menimpa dirinya. Kampanye hitam itu dianggapnya sudah menjurus ke arah character assassination atau pembunuhan karakter yang menjurus kepada fitnah.

Beberapa senior di jajaran pimpinan PWM memprihatinkan situasi ini, dan mengingatkan musyawirin supaya menghindari cara-cara yang tidak sesuai dengan adab dan tradisi Muhammdiyah. Diakui atau tidak, aroma politik pada Musywil Ponorogo ini cukup menyengat. Ada tim sukses yang mengatur dan menyiapkan strageti supaya kandidat yang didukungnya menang. Salah satu cara yang dipakai adalah menerapkan strategi ala ‘’multi-stage random sampling’’ supaya kandidatnya mendapat dukungan suara terbanyak.

Pengaruh tahun politik 2024 tidak bisa dihindarkan. Mungkin ada yang punya kepentingan politik pada 2024 dan menjadikan Musywil ini sebagai batu loncatan. Hal itu bisa dimaklumi mengingat pengaruh Muhammadiyah yang cukup besar selama ini.

Musywil sudah selesai. Proses pemilihan ketua sudah dilaksanakan secara demokratis. Tentu proses ini tidak bisa menyenangkan semua orang. Ada yang suka kepada Sukadiono, dan ada juga yang ‘’Tidak Suka-diono’’.

BACA JUGA: Meikarta

Sebagai catatan terakhir, Muhammadiyah harus tetap istiqomah sebagai gerakan dakwah. Pergeseran orientasi yang terlihat pada Musywil Ponorogo adalah cermin dari pergeseran di level struktur. Karena itu, dibutuhkan kesadaran dan komitmen di level struktur, supaya persyarikatan ini tidak tergelincir menjadi hanya sebuah holding company. (*)

Editor: DAD

Budak

KEMPALAN: PERDANA Menteri Belanda Mark Rutte pekan lalu meminta maaf atas perbudakan yang dilakukan oleh Belanda selama masa penjajahan yang berlangsung selama ratusan tahun. Permintaan maaf itu ditujukan Rutte kepada semua orang yang diperbudak dan yang menderita akibat tindakan itu, termasuk semua keturunan korban perbudakan pada masa lalu hingga saat ini.

Sayangnya permintaan maaf Rutte itu tidak termasuk Indonesia, negara yang pernah mengalami penjajahan langsung oleh Belanda sejak tahun 1800-an. Rutte hanya sesekali menyebut istilah Hindia Belanda dan VOC, tapi secara spesifik tidak mengajukan permintaan maaf kepada pemerintah Indonesia.

Hal ini menimbulkan berbagai pertanyaan dari Indonsia. Para ahli sejarah menegaskan Belanda harus secara spesifik menyebut Indonesia, dan meminta maaf atas perbudakan yang dilakukan selama masa penjajahan.

Ada kemungkinan Belanda sengaja menyembunyikan jejak kelamnya di Indonesia. Tetapi menjadi pertanyaan, kalau tidak tulus ingin meminta maaf atas kejahatan di masa silam mengapa harus mengungkit soal perbudakaan itu. Belanda hanya mengakui perbudakan di Suriname, Antalia, dan Curacao yang nota bene wilayah Barat. Sementara penjajahan di Indonesia hanya disebut sepintas tanpa ada permintaan maaf khusus.

Jejak perbudakan Belanda di Indonesia sangat jelas dan masih teramat banyak bukti yang bisa dikumpulkan. Sejarawan dan budayawan Betawi Ali Shahab membuat kronikel praktik penjualan budak di Hindia Belanda dalam buku ‘’ Betawi Tempo Doeloe; Robin Hood Betawi’’.

Pada tahun 1800-an, Jan Pieterzoon Coen, yang ketika itu menjadi gubernur jenderal Belanda, membuka sentra sentra penjualan budak di Batavia, terutama para budak yang berasal dari Manggarai di Nusa Tenggara Timur. Lokasi pasar budak itu sekarang dinamakan sebagai Kampung Manggarai.

Sejarah perbudakan di Batavia diawali saat Coen menaklukkan Jayakarta pada 1619 dan mengganti namanya menjadi Batavia. Ketika itu kondisi kota nyaris tanpa penduduk, karena orang-orang pribumi Jawa dan Sunda kabur karena takut dibunuh.

Bersamaan dengan itu Belanda membutuhkan tenaga kerja untuk membangun kota yang hancur karena peperangan. Orang-orang Belanda kemudian mendatangkan para tawanan perang dari berbagai tempat seperti Manggarai, Bali, Bugis, Arakan, Makassar, Bima, Benggala, Malabar dan Kepulauan Koromandel di India. Mereka dipekerjakan dalam berbagai proyek pembuatan benteng, loji, jalan, dan rumah-rumah para pejabat kompeni.

Seiring perkembangan Batavia yang begitu pesat, bisnis perbudakan semakin marak. Selain untuk memenuhi tenaga kerja, budak-budak perempuan pun kemudian didatangkan guna mengurus rumah tangga dan bahkan memenuhi nafsu biologis kaum laki-laki penghuni Batavia.

Mula-mula harga budak ditentukan oleh usia dan tenaga saja. Tetapi pada abad ke-18, harga jual seorang perempuan muda meroket tinggi, jauh dua sampai tiga kali lipat harga seorang budak lelaki. Itu terjadi karena pada saat itu permintaan akan budak perempuan–terutama dari kalangan pebisnis Tionghoa–sangat tinggi.

Pada era berikutnya di era kekuasaan Gubernur Jenderal Petrus Albertus van der Parra (1761-1775), setiap tahun didatangkan kurang lebih 4000 budak dari berbagai pelosok Nusantara. Perdagangan budak pun makin marak dan kepemilikan budak menjadi gengsi tersendiri di kalangan orang-orang Belanda.

Satu orang kaya Belanda di Batavia bisa memiliki sampai 200 budak. Semakin banyak budak semakin tinggi gengsi seseorang. Para budak itu laksana aset dagang yang disamakan dengan aset lain seperti tanah maupun kuda sebagai sarana transportasi.

Lakunya para budak di kalangan orang-orang kaya Batavia tidak berbanding lurus dengan nasib mereka. Alih-alih diperlakukan baik, mereka justru sering menjadi obyek penyiksaan kejam dan pemerkosaan.

Sebuah catatan menunjukkan bahwa pada abad ke-19 Batavia memiliki hampir 15 ribu manusia berstatus sebagai budak. Bahkan ketika secara resmi sistem perbudakan dilarang oleh pemerintah Hindia Belanda pada 1860 perbudakan di Batavia masih terjadi. Orang-orang Belanda masih hobi menangkapi sekaligus menjual secara diam-diam orang-orang di pedalaman Nusantara. Praktik perbudakan di Nusantara mulai jarang terdengar dan mulai habis ketika zaman memasuki abad ke-20.

Ada kecurigaan sejarah perbudakan di Hindia ini secara sengaja dikaburkan oleh Belanda sampai sekarang, sehingga generasi milenial tidak mengetahui adanya praktik kejahatan kemanusiaan ini. Eksploitasi dan imperialisme yang dilakukan oleh VOC di Hindia Belanda malah dianggap sebagai kehebatan bangsa Belanda dalam persaingan perdagangan internasional.

Yang diakui secara dangkal oleh Belanda sekarang hanya perbudakan di Suriname dan Antila dan juga Curacao, yang nota bene adalah ada di wilayah Barat. Tapi pengisapan dan penjajahan di Hindia Belanda tidak diakui secara terbuka.

Keterlibatan Belanda dalam perbudakan berjalan seiring dengan perluasan kepentingan kolonial dan perdagangannya di seluruh dunia pada abad ke-17, yang disebut di Belanda sebagai Zaman Keemasan. Setelah pendirian perusahaan perdagangan Dutch East India Company (VOC) pada 1602 dan Dutch West India Company (WIC) beberapa tahun kemudian, perdagangan, termasuk budak, berkembang pesat.

Kota-kota besar di Belanda seperti Amsterdam menjadi sangat kaya, salah satunya karena perdagangan budak. Kekayaan dari perdagangan budak ini secara tidak langsung memengaruhi gaya hidup orang Belanda, sehingga muncullah karya-karya seni hebat sebagaimana yang dihasilkan oleh Rembrandt.

Pola perbudakan Belanda sama saja dengan pola perbudakan di Amerika Utara maupun Amerika Selatan. Negara-negara kolonial itu menyerang dan menundukkan negara yang lebih lemah dan kemudian menawan penduduknya untuk dijadikan budak.

Sejarah perbudakan Belanda dimulai pada 1634, ketika 1.000 budak diculik dari Gold Coast–sekarang Ghana—kemudian dibawa ke Brasil oleh WIC untuk bekerja di perkebunan. Pada tahun yang sama, WIC menundukkan Curacao, yang dengan cepat menjadi pusat perdagangan budak. Pada 1667 Belanda merebut Suriname di pantai timur laut Amerika Selatan, yang berkembang menjadi koloni perkebunan dan sangat bergantung pada tenaga kerja budak dari Afrika.

Untuk mengisi tenaga kerja di Suriname didatangkan hampir 200.000 budak dari berbagai wilayah, termasuk dari Jawa. Itulah sebabnya mengapa sekarang banyak diaspora Jawa yang hidup di Suriname dan menggunakan Bahasa Jawa sebagai bahasa pergaulan.

Wilayah jajahan itu disebut sebagai’’Dunia Baru’’, sama dengan penyebutan Amerika Utara oleh orang Inggris. Setidaknya 650.000 budak dibawa ke Dunia Baru. Sebagian besar budak Belanda dibawa ke Cape Town dari Madagaskar modern. Sayangnya, keterlibatan Belanda dalam perdagangan budak di Samudra Hindia dan Asia kurang diteliti dengan baik, dan karenanya sejarah perbudakan di Hindia Belanda pun kabur.

Belanda menjadi salah satu negara terakhir yang menghapus perbudakan pada 1 Juli 1863. Namun, butuh satu dekade lagi di Suriname karena harus ada transisi wajib 10 tahun. Pada masa transisi itu banyak budak harus terus melayani tuannya sampai 1873. Kelompok oposisi di Belanda mengatakan bahwa 1 Juli 2023 depan adalah tanggal yang tepat untuk permintaan maaf karena tepat 150 tahun sejak perbudakan di Karibia benar-benar dihapuskan.

BACA JUGA: Industri Islamophobia

Isu permintaan maaf Belanda telah beredar selama bertahun-tahun, tetapi langkah kongkret baru diambil tahun lalu. Sebuah laporan berisi 272 halaman oleh sebuah komisi merekomendasikan agar Belanda mengakui perbudakan sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan dan meminta maaf.

Generasi milenial Belanda sekarang ini sangat mungkin tidak membaca novel karya Multatuli alias Edward Douwes Dekker (1820-1887) ‘’Max Havelar’’. Novel yang terbit pada 1860 ini mengguncang Belanda, sampai akhirnya menyadarkan pemerintah Belanda akan kekejaman mereka di Hindia, terutama karena program tanam paksa.

Douwes Dekker menggunakan nama pena Multatuli. Arti judul Max Havelaar adalah ‘’Lelang Kopi Perusahaan Dagang Belanda.’’ Buku ini berisi kritik terhadap kesewenang-wenangan pemerintahan kolonial Belanda pada masa penjajahan.

Salah satu bagiannya berkisah mengenai kisah cinta Saijah dan Adinda, sejoli anak petani melarat yang saling jatuh cinta di Lebak, Jawa Barat. Saijah merantau bekerja di rumah keluarga Belanda di Batavia. Beberapa tahun ia kembali, tetapi menjumpai kampungnya sudah luluh lantak dibakar Belanda, dan kekasihnya diculik. Saijah akhirnya meninggal ketika berusaha membebaskan kekasihnya dari orang Belanda.

BACA JUGA: The Real Winner is Qatar

Buku ini mengguncang Belanda sampai melahirkan kebijakan ‘’Politik Etik’’ untuk membalas rasa bersalah kepada Hindia. Beberapa orang pelajar Hindia diberi kesempatan untuk berkuliah di Belanda pada awal abad ke-20. Lahirlah generasi pemimpin seperti Muhammad Hatta dan kawan-kawan, yang akhirnya membawa kemerdekaan Indonesia.

Kebijakan tanam paksa atau cultuur stelsel adalah salah satu episode perbudakan paling buruk dalam sejarah dunia. Belanda harus mengakuinya terus terang dan meminta maaf, serta membayar ganti rugi untuk bangsa Indonesia. (*)

Editor: DAD

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.