Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa memberi keterangan pada wartawan. (Foto: Dwi Arifin/kempalan.com).
SURABAYA-KEMPALAN: Pemprov Jatim resmi melakukan rebranding Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Menur menjadi Rumah Sakit Daerah (RSD) Prof dr Moeljono. Langkah ini dilakukan untuk memperkuat citra rumah sakit sebagai fasilitas kesehatan dengan layanan yang tidak hanya berfokus pada kesehatan jiwa, tetapi juga pelayanan medis umum yang semakin komprehensif.
Peluncuran identitas baru rumah sakit dilakukan bersamaan dengan acara peresmian Gedung Arunika RSJ Menur, Surabaya, Senin (29/6). Selain Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, acara ini juga dihadiri Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Arifatul Choiri Fauzi. Tampak pula Sekdaprov Jatim Adhy Karyono,
dan beberapa kepala OPD di lingkungan Pemprov Jatim.
Gubernur Khofifah mengatakan, perubahan nama dilakukan agar masyarakat memahami bahwa rumah sakit tersebut saat ini sudah memiliki cakupan layanan kesehatan yang lebih luas.
“Pelayanan di rumah sakit ini sudah sangat komprehensif. Seolah-olah kalau di rumah sakit Menur itu gangguan kejiwaan atau mental. Padahal layanan yang lain itu sudah sangat komprehensif. Maka kita me-launching, me-rebranding rumah sakit ini menjadi Rumah Sakit Prof dr Moeljono,” katanya.
Menurut Khofifah, penggunaan nama Menur masih dapat disertakan untuk memudahkan masyarakat mengenali rumah sakit tersebut.
“Kalaupun mungkin ingin menambahkan Rumah Sakit Prof dr Moeljono Menur, mungkin itu supaya orang asing ini rumah sakit mana, gitu,” jelasnya.
Jadi, lanjut Khofifah, pengembangan layanan Rumah Sakit Prof dr Moeljono Menur akan terus dilakukan, baik pada layanan kesehatan jiwa maupun layanan kesehatan umum.
“Jadi layanan-layanan ini insyaAllah akan makin modern, baik untuk layanan bagi kesehatan mental atau kejiwaan atau layanan umum,” ujarnya.
Bahkan, menurut Khofifah, ada beberapa ruang kelas VIP di rumah sakit tersebut sering diinden oleh para tokoh sentral di Jawa Timur. “Saya termasuk sudah melihat ruangan itu cukup convenient dan saya melihat kesan-kesan mereka pelayanannya cepat,” ungkapnya.
Selain memperkenalkan identitas baru rumah sakit, bertepatan dengan peringatan Hari Keluarga Nasional ini Pemprov Jatim juga meluncurkan program Pelita ASN.
Program tersebut difokuskan pada pendampingan dan layanan konsultasi terintegrasi bagi aparatur sipil negara (ASN). “Terutama yang terkait dengan ketahanan keluarga,” tutur gubernur perempuan pertama di Jatim tersebut.
Menurut dia, program tersebut merupakan bentuk perhatian Pemprov Jatim terhadap kebutuhan ASN akan ruang konsultasi yang diharapkan dapat membantu menyelesaikan persoalan rumah tangga sejak dini.
“Jadi ini sebetulnya lebih kepada inward looking. Kita melihat kebutuhan ASN di Jawa Timur ini membutuhkan ruang di mana mereka bisa konsultasi. Sedapat mungkin kita bisa mencegah kemungkinan yang bisa berdampak sampai kepada perceraian,” katanya.
Khofifah mengungkapkan bahwa persoalan perceraian di kalangan ASN masih menjadi perhatian Pemprov Jawa Timur. “Saya seringkali menyampaikan kenapa kalau tiap Jumat itu hampir selalu dijadikan hari di mana Gubernur menandatangani izin perceraian,” ucapnya.
Karena itu, ia menyebut, layanan konsultasi melalui Pelita ASN diharapkan mampu menjadi ruang penyelesaian masalah keluarga secara preventif.
“Nah, persoalan-persoalan yang dihadapi oleh masing-masing keluarga, sejauh kita masih bisa mencarikan solusi konsultasi, kita ingin melakukannya melalui konsultasi yang solutif,” tandas Khofifah. (Dwi Arifin)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi