Selasa, 30 Juni 2026, pukul : 05:48 WIB
Surabaya
--°C

Intelektual Stempel

KEMPALAN: DI Surabaya ada Jl Embong Malang yang dikenal sebagai bagian dari segitiga emas dengan Jl Tunjungan dan Urip Sumoharjo. Di masa lalu di jalan itu banyak terdapat kios yang melayani pembuatan stempel. Sekarang, seiring dengan perkembangan zaman, tukang-tukang stempel itu tergusur dari Jl Embong Malang.

Tukang stempel hanyalah bagian dari industri kecil yang mempekerjakan masyarakat menengah bawah dengan skill yang relatif rendah. Tetapi, ada juga tukang stempel yang menjadi bagian dari elite sosial dan politik yang bergengsi. Tukang stempel macam ini tidak beroperasi di Jl Embong Malang, melainkan di tempat-tempat terhormat seperti kampus-kampus ternama. Banyak juga tukang stempel elite ini yang bekerja di lembaga tinggi dan tertinggi negara. Bahkan, ada juga tukang stempel elite ini yang bekerja untuk istana di pusat kekuasaan.

Tukang stempel jenis ini bukan tukang stempel sembarang. Mereka adalah para politisi yang menjadi wakil rakyat dan duduk di gedung-gedung perwakilan rakyat. Tukang stempel ini adalah para birokrat di birokrasi pemerintahan, dan para intelektual yang ada di kampus-kampus perguruan tinggi ternama.

Adalah Prof. Jimly Asshiddiqie yang menengarai ada intelektual tukang stempel yang kerjanya memberi legitimasi kepada apapun kebijakan pemerintah. Tengara ini ia lemparkan setelah pemerintah mengeluarkan peraturan pemerintah pengganti undang-undang (Perppu) Cipta Tenaga Kerja beberapa waktu yang lalu.

Prof. Jimly adalah bagian dari kelas intelektual elite Indonesia. Ia menjadi ahli hukum dan menjadi guru besar bidang hukum. Jimly pernah menjadi ketua Mahkamah Konstitusi (MK), lembaga yang sangat elite dan perannya sangat strategis sebagai benteng demokrasi dan benteng konstitusi.

Jimly menengarai banyak intelektual yang tidak setia lagi terhadap tanggung jawab intelektualnya dan sudah berubah menjadi tukang stempel. Jimly tidak menyebut nama. Tetapi, dalam kasus Perppu Ciptaker ini publik sudah bisa menduga siapa intelektual tukang stempel yang dimaksud oleh Jimly.

BACA JUGA: “Jokowi, Kasihan, dah…”

Akademisi dan aktivis demokrasi Ubaidillah Badrun lebih terbuka menuding intelektual yang dikategorikan sebagai tukang stempel itu. Melihat berbagai pernyataan dan narasi yang muncul selama ini, Ubaidillah menilai Mahfud Mahmudin alias Mahfud MD, sebagai otak di balik terbitnya Perppu Ciptaker itu. Artinya, ada aktor intelektual di balik lahirnya peraturan itu, dan Ubaidillah mencurigai Mahfud MD sebagai aktor intelektualnya.

Mahfud MD sudah dikenal luas sebagai intelektual. Ia menjadi guru besar hukum dan dikenal sebagai pakar ilmu tatanegara par axcellent. Sama dengan Jimly, Mahfud juga pernah menjadi ketua Mahkamah Konstitusi. Ketika itu Mahfud menjadi bagian dari gerakan civil society yang tidak takut mengeluarkan kritik terhadap pemerintah.

Mahfud secara rutin tampil dalam debat-debat di ruang publik dan menjadi bagian dari public conscience, kesadaran publik, yang menyuarakan sikap kritik terhadap ketidakadilan dan kesewenang-wenangan. Mahfud, misalnya, menjadi salah satu nara sumber rutin di Talk Show Indonesia Lawyers Club (ILC) yang dipandu oleh jurnalis senior Karni Ilyas.

ILC menjadi arena adu gagasan dan adu argumen dari dua kelompok yang berseberangan dalam menanggapi berbagai isu mutakhir. Dalam berbagai kesempatan, Mahfud ditempatkan sebagai pembicara terakhir yang menjadi semacam gong yang banyak ditunggu.

Pandangan Mahfud selalu tajam dan kritis terhadap berbagai ketidakadilan dan penyelewengan. Karena itu Mahfud memperoleh legitimasi sebagai intelektual publik yang kritis terhadap kekuasaan. Reputasi Mahfud naik tajam, popularitasnya pun ikut meroket.

BACA JUGA: Pembangkangan Sipil

Puncaknya, Mahfud kemudian digadang-gadang menjadi salah satu nama yang dipertimbangkan untuk menjadi wakil presiden untuk calon presiden Joko Widodo pada pemilihan presiden 2019. Tetapi, detik-detik terakhir nama Mahfud terpental dan digantikan oleh K.H Ma’ruf Amin.

Mahfud kemudian mendapat kompensasi menjadi menteri koordinator politik dan keamanan, sebuah jabatan yang sangat strategis dan menentukan dalam pengelolaan iklim demokrasi di Indonesia. Mahfud MD sang intelektual publik diharapkan akan memberi warna yang berbeda terhadap pemerintahan Jokowi periode kedua.

Tetapi, Mahfud MD menjelma menjadi sosok yang berbeda dari sebelumnya. Ia menjadi bagian dari kekuasaan, dan bahkan dalam banyak kasus, menjadi benteng kekuasaan. Kalau dulu Mahfud menjaga benteng demokrasi sekarang menjadi penjaga benteng kekuasaan.

Perppu Ciptaker ini hanya satu saja dari beberapa belied pemerintah yang dianggap merongrong demokrasi. Publik masih ingat bagaimana Mahfud–ketika masih menjadi intelektual merdeka–begitu gigih mempertahankan eksistensi KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) sebagai garda terdepan pemberantasan korupsi di Indonesia. Tetapi, justru pada saat Mahfud menjadi menko polkam lahir revisi undang-undang KPK yang banyak disebut sebagai pelemahan terhadap lembaga anti-rasuah itu.

Undang-undang ini dikritik secara luas dan memantik unjuk rasa besar dari berbagai kalangan. Pemerintah tutup mata dan telinga, dan revisi undang-undang tetap disahkan. Hal yang sama terjadi pada pengesahan Undang-Undang Cipta Tenaga Kerja yang mendapat kritik luas dari berbagai elemen masyarakat. Kasus Undang-Undang KUHP juga sama saja, pemerintah memilih adu otot melawan suara rakyat ketimbang mendengar dan menampung aspirasi rakyat.

BACA JUGA: Mega-Anwar

Pemerintah boleh menepuk dada karena menang dalam beberapa kali pertarungan show down melawan tuntutan rakyat. Sebagai intelektual yang memahami ilmu politik, Mahfud tentu paham bahwa demokrasi bisa berjalan baik kalau ada mekanisme check and balances, kontrol dan keseimbangan. Kontrol terhadap kekuasaan dilakukan oleh civil society atau masyarakat madani, dan keseimbangan kekuasaan dilakukan melalui kekuatan legislatif yang diwakili oleh DPR (Dewan Perwakilan Rakyat), dan lembaga-lembaga peradilan.

Demokrasi akan berjalan sehat kalau mekanisme trias politika berjalan dengan seimbang. Tiga kekuatan utama, eksekutif, legislatif, dan judikatif, harus berjalan seimbang untuk saling mengontrol. Legislatif harus kuat dan independen supaya bisa mengontrol eksekutif, demikian juga judikatif harus independen supaya bisa mengawasi eksekutif dan legislatif.

Ini adalah rumus dasar demokrasi yang dipahami oleh mahasiswa ilmu politik semester satu. Mahfud MD pasti sudah ‘’ngelontok’’ pemahamannya mengenai hal ini. Mahfud tahu dengan pasti bahwa DPR sekarang tidak menjalankan fungsi check and balances dengan baik.

DPR sekarang dikuasai oleh koalisi pendukung pemerintah sampai 70 persen lebih. Itulah sebabnya undang-undang apapun yang disodorkan pemerintah langsung didok oleh DPR. Perppu Ciptaker sekarang sedang menunggu pengesahan dari DPR. Tidak perlu bertaruh, semua pasti tahu bahwa DPR pasti akan memberikan stempel persetujuan.

BACA JUGA: Mega for President

Kemana suara para intelektual itu? Mereka sudah bersuara, tetapi hilang di kegelapan malam dan hanya menjadi a cry in the darak, teriakan di kegelapan. Sementara itu, intelektual tukang stempel punya suara yang lebih keras membela dan mempertahankan kekuasaan.

Yusril Ihza Mahendra menjadi bagian dari intelektual yang disebut Jimly Asshiddiqie sebagai tukang stempel itu. Yusril ada di barisan terdepan pembela Perppu Ciptaker. Beberapa intelektual menganggap Jokowi layak diimpeach oleh DPR karena melanggar konstitusi. Yusril menjadi tameng Jokowi dan mengatakan bahwa Perppu sudah berjalan sesuai prosedur, dan tidak ada alasan apapun untuk mengimpeach Jokowi.

Rezim Jokowi terlihat begitu digdaya sekarang ini. Ultimatum pengunjuk rasa yang akan melakukan pembangkangan sosial, jika Perppu tidak dicabut, sama sekali tidak digubris. Rezim sudah bisa mengukur kekuatan oposisi, dan rezim sudah menguasai semua alat kekuasaan untuk mematahkan oposisi.

Para intelektual tukang stempel itu tidak mungkin lupa bahwa kekuatan represif sehebat apapun tidak akan bisa melawan kesadaran dan kekuatan rakyat. Rezim Orde Lama jatuh oleh kekuatan rakyat dan Rezim Orde Baru juga jatuh karena kekuatan rakyat.

Para intelektual stempel itu pasti pernah membaca Milan Kundera, bahwa perjuangan melawan kekuasaan adalah perjuangan melawan lupa. (*)

Editor: DAD

“Jokowi, Kasihan, dah…”

KEMPALAN: KETUA Umum PDIP Megawati Soekarnoputri menjadi sasaran kritik karena dianggap merendahkan Presiden Joko Widodo di depan kader-kader PDIP pada acara ulang tahun ke-50 PDIP (10/1)

Mega dinilai merendahkan Jokowi dengan ungkapan “Kasihan, dah”. Pernyataan Mega tidak lengkap dan terputus-putus. Ia kemudian melanjutkan dengan ungkapan “legal-formal”. Yang dimaksud Mega adalah tanpa dukungan legal-formal dari PDIP Jokowi tidak akan menjadi presiden RI dua periode seperti sekarang.

Kalau ungkapan Mega ditarik jauh ke belakang bisa diartikan bahwa tanpa PDIP Jokowi tidak akan bisa menjadi walikota Solo dua periode. Tanpa PDIP Jokowi tidak bakal bisa menjadi gubernur DKI. Tanpa PDIP Jokowi tidak bakal menjadi presiden RI.

Ringkasnya, tanpa PDIP Jokowi tetap akan menjadi tukang mebel. Mungkin itu yang dimaksud Mega dengan ungkapan “Kasihan, dah..”

Banyak kalangan yang menyayangkan ungkapan Mega ini kepada Jokowi dan menganggapnya sebagai upaya mendegradasikan wibawa Jokowi sebagai Presiden RI.

BACA JUGA: Pembangkangan Sipil

Banyak warganet yang mengritik Mega dengan ungkapan itu. Relawan Jokowi juga mengecam pernyataan itu dan menganggapnya tidak pantas diucapkan oleh seorang ketua umum parpol terbesar di Indonesia.

Ini bukan kali pertama Mega dianggap merendahkan wibawa Jokowi. Beberapa waktu yang lalu dalam acara PDIP di Lenteng Agung beredar foto Jokowi menghadap Mega di sebuah ruangan. Mega duduk di kursi besar dengan sebuah meja di depannya. Di seberangnya terlihat Jokowi duduk di kursi menghadap Mega. Posisi Jokowi terlihat seperti bawahan yang sedang menghadap atasan.

Momen itu menjadi makin dramatis karena diabadikan oleh Puan Maharani melalui aksi swafoto. Puan berswafoto dan mengambil video dengan latar belakang Jokowi yang sedang menghadap sang ibunda. Puan malah sempat meminta Jokowi untuk melambaikan tangan.

Momen itu menegaskan bahwa Jokowi sedang menghadap ketua partai yang mempunyai otoritas mutlak atas nasib politiknya. Mega memainkan jurus semiotika politik yang tajam dan ingin menunjukkan kepada publik “who is the boss”, siapa yang sebenarnya menjadi bos.

BACA JUGA: Mega-Anwar

Sejak awal Megawati menempatkan Jokowi sebagai subordinatnya. Ketika Mega mengumumkan kandidasi Jokowi sebagai calon presiden pada pilpres 2014 Mega menyebut Jokowi sebagai petugas partai.

Bahkan ketika itu Mega menyebut Jokowi sebagai “si kerempeng”, merujuk pada badan Jokowi yang kurus. Sejak itu istilah petugas partai menjadi kosa kata yang sering disebut dalam berbagai perbincangan politik.

Istilah petugas partai tidak hanya melekat pada Jokowi tetapi juga kepada siapa pun kader PDIP yang memegang jabatan publik. Ketika Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dianggap banyak bermanuver untuk memupuk popularitas menjelang pilpres 2024 ia juga diingatkan akan posisinya sebagai petugas partai.

Ganjar juga menjadi korban aksi pendegradasian oleh Megawati. Dalam acara ulang tahun itu Mega sama sekali tidak menyebut nama Ganjar Pranowo atau memperkenalkannya. Mega malah memperkenalkan dan menyebut cucu-cucunya, anak Puan Maharani, yang didatangkan ke acara itu dan duduk di deretan kursi VVIP paling depan, sederetan dengan kursi Jokowi dan Wapres Ma’ruf Amin.

BACA JUGA: Mega for President

Ganjar tidak ada di deretan kursi VVIP. Ia berada pada deretan kursi undangan bersama kader PDIP lainnya. Ganjar terlihat terjepit berhimpitan dengan undangan lainnya. Semiotika politik itu bisa diinterpretasikan bahwa di mata Megawati Ganjar bukan siapa-siapa. Keberadaannya dianggap tidak ada, dan karena itu namanya sama sekali tidak di-mention.

Ganjar kalah dari cucu Mega yang secara khusus diperkenalkan kepada semua kader PDIP. Perkenalan itu sekaligus menjadi isyarat kepada publik bahwa Mega sudah menyiapkan dinasti politik generasi ketiga untuk melanjutkan trah Sukarno.

Penampilan cucu Megawati ini juga menjadi isyarat bahwa Mega benar-benar konsen terhadap keberlanjutan trah Sukarno dalam kepemipinan politik PDIP dan kepemimpinan nasional.

Mega ingin melempar kode keras bahwa keberlanjutan trah Sukarno menjadi perhatian utamanya. Karena itu ia mempersiapkan Puan Maharani sebagai putri mahkota dan calon presiden pilihan ibunda. Karena itu pula tidak ada kejutan yang berhubungan dengan pengumuman bakal calon presiden yang banyak ditunggu publik.

Banyak yang mengantisipasi kejutan pada ultah PDIP itu. Sekjen Hasto Kristiyanto sudah memberikan pemanasan dengan mengungkapkan akan ada kejutan dari Megawati. Ternyata kejutannya adalah tidak ada kejutan apapun. Mega mengakhiri spekulasi pengumuman calon presiden dengan ungkapan yang khas, “Itu urusan gue”.

BACA JUGA: Anwar Ibrahim

Meski begitu tidak berarti spekulasi berhenti. Alih-alih malah semakin kencang. Mega menunda pengumuman capres karena elektabilitas Puan yang masih mandek di urutan buncit dalam berbagai survei. Di sisi lain elektabilitas Ganjar semakin moncer dalam setiap survei.

Bisa jadi Mega akan menghadapi situasi fait accompli karena tidak punya pilihan lain kecuali menyerah kepada realitas politik dan menyerahkan tiket kepada Ganjar Pranowo.

Situasinya akan menjadi deja vu bagi Mega sebagaimana yang dialaminya pada 2014. Ketika itu Mega tidak mempunyai pilihan lain kecuali menyerahkan golden ticket kepada Jokowi.

Ketika itu kudeta senyap ala Jokowi berhasil mencuri golden ticket calon presden dari Mega. Diam-diam Jokowi terus memupuk elektabilitas dengan berbagai manuver pencitraan yang canggih. Tanpa terasa akhirnya Mega harus menyerah kepada gerakan creeping coup, kudeta merangkak, oleh Jokowi.

Kali ini strategi yang sama akan dipakai oleh Ganjar. Creeping cou sedang berlangsung sampai akhirnya membuat Mega tidak punya pilihan lain kecuali menyerahkan golden ticket kepada Ganjar Pranowo.

BACA JUGA: Reshuffle dan Impeachment

Kemungkinan ritualnya akan sama dengan yang dialami oleh Jokowi. Ganjar akan mengalami perploncoan seperti yang dialami Jokowi. Ganjar akan diberi tiket dan diingatkan bahwa dia adalah petugas partai.

Kejutan itu tidak akan mengejutkan. Mega harus menyerah kepada realitas politik kalau tidak mau melakukan political suicide, bunuh diri politik, dengan memaksa menyerahkan golden ticket kepada Puan Maharani.

Realitas politik memang kejam. Mungkin nanti Jokowi ganti bergumam dalam hati, “Bu Mega, kasihan, dah..” (*)

Editor: DAD

Pembangkangan Sipil

KEMPALAN: ‘’IKAN hiu makan tomat, janjinya palsu tidak peduli rakyat’’. Begitu bunyi salah satu poster yang dibentangkan pengunjuk rasa yang menuntut pencabutan Perppu Ciptaker, peraturan pemerintah pengganti undang-undang cipta tenaga kerja. Sebanyak 116 organisasi menandatangani petisi menuntut pencabutan perppu dan mengancam akan melakukan pembangkangan sipil jika tuntutan tidak diindahkan.

Pengunjuk rasa memberi waktu satu minggu sampai 17 Januari kepada pemerintah untuk memenuhi tuntutan. Dilihat dari daftar organisasi yang mengajukan tuntutan seharusnya sudah cukup menjadi kekuatan penekan, atau pressure group, yang dipertimbangkan pemerintah. Apalagi mereka umumnya berasal dari organisasi buruh dan petani serta LSM (lembaga swadaya masyarakat) yang selama ini aktif memberi advokasi bidang hukum dan hak asasi manusia.

Pengunjuk rasa juga menuntut agar DPR RI menolak pengesahan perppu ciptaker. Perppu akan menjadi sah jika DPR menyetujuinya, dan sebaliknya bisa batal jika DPR tidak menyetujuinya. Tetapi, melihat komposisi DPR yang 70 persen menjadi bagian dari koalisi pemerintah, harapan para pengunjuk rasa sama dengan menggantang asap.

Para pengunjuk rasa juga menyadari bahwa pemerintah tidak akan mudah menyerah terhadap tuntutan itu. Karena ini pengunjuk rasa sudah menyiapkan langkah lanjutan, yaitu menyerukan pembangkangan sipil sebagai bentuk protes terhadap perppu itu.
,
Seruan pembangkangan sipil masih belum terlalu kencang terdengar. Jika seruan ini dijalankan pun efeknya belum tentu akan terasa karena pembangkangan sipil baru akan membawa efek kalau dilakukan secara masif di level nasional.

Pembangkangan sipil yang paling efektif adalah dengan melakukan mogok kerja, misalnya oleh serikat pekerja transportasi nasional. Jika mogok kerja ini dilakukan secara nasional maka dampaknya akan terasa terhadap layanan publik, dan hal itu akan menjadi tekanan terhadap pemerintah untuk memikirkan tuntutan dari pengunjuk rasa.

Tetapi, gerakan buruh di Indonesia belum menjadi kekuatan penekan yang efektif. Gerakan buruh di Indonesia masih menjadi gerakan parsial yang terfragmentasi dan seringkali termarjinalkan. Meskipun jumlah buruh di Indonesia diklaim puluhan juta, tapi sampai sekarang belum bisa menjadi kekuatan yang efektif untuk menjadi pressure group bagi pemerintah.

Negara yang mempunyai tradisi gerakan buruh kuat adalah Inggris dan Australia. Di Inggris persaingan politik didominasi oleh kekuatan buruh dan kekuatan konservatif yang diwujudkan dalam bentuk persaingan Labour Party (Partai Buruh) dan Partai Konservatif. Kedua partai itu mempunyai garis ideologi yang jelas dan mempunyai garis demarkasi yang menjadi pemisah tegas.

Australia adalah negara satelit Inggris yang mempunyai sistem politik hampir sama. Australia mempunyai tradisi gerakan buruh yang kuat dalam bentuk Partai Buruh. Lawan utama Partai Buruh adalah Partai Nasional atau partai konservatif yang mirip dengan partai konservatif Inggris.

Kedua partai itu saling beradu kekuatan dengan saling adu program. Partai Buruh mempunyai kekuatan riil karena didukung oleh serikat pekerja di berbagai sektor. Hampir semua sektor pekerjaan mempunyai serikat pekerja yang kuat, misalnya serikat pekerja transportasi, serikat pekerja pertanian, sampai serikat pekerja pelayan restoran.

Serikat pekerja itu bernaung di bawah federasi nasional yang diorganisasikan secara rapi dan profesional. Setiap kali ada perselsihan kerja antara buruh dan majikan maka serikat kerja akan turun tangan. Jika persoalan tidak bisa diselesaikan secara lokal maka serikat pekerja nasional akan mengambil alih.

Dalam sistem gerakan buruh yang sudah terorganisasi secara massal dan profesional seperti itu kekuatan buruh akan sangat dipertimbangkan oleh para pengambil kebijakan. Setiap aturan dan kebijakan yang menyangkut buruh pasti akan dipertimbangkan dengan sangat serius supaya tidak memancing reaksi keras dari kalangan buruh.

Senjata utama para buruh adalah unjuk rasa dan mogok kerja. Unjuk rasa yang dilakukan secara nasional sudah pasti akan didengar oleh pemerintah, karena efeknya akan panjang jika diabaikan. Para anggota serikat kerja akan melakukan mogok kerja jika tuntutan tidak diindahkan. Hal ini sudah pasti akan membuat pemerintah tertekan karena layanan publik terganggu.

Dalam sistem demokrasi yang sudah matang seperti di Inggris dan Australia senjata unjuk rasa menjadi andalan tanpa perlu lagi ada pembangkangan sipil atau civil disobedience. Kalangan serikat pekerja pun melakukan kegiatan unjuk rasa secara terukur dengan cara mengurangi layanan, dan tidak menghentikan layanan sama sekali supaya tidak merugikan masyakarat. Jika mogok kerja terbatas tidak bisa menekan pemerintah maka skalanya akan ditingkatkan lagi sampai pemerintah mendengarkan tuntutan mereka. Jika tuntutan tidak didengarkan barulah kalangan buruh melakukan mogok nasional.

Pembangkangan sipil sudah menjadi bagian dari masa lalu. Bentuk pembangkangan bisa dilakukan mulai dari level yang paling rendah, seperti mogok kerja, sampai ke level yang lebih serius yaitu menolak membayar pajak. Pembangkangan dengan mogok kerja pun baru bisa efektif kalau gerakan buruh sudah bisa diorganisasikan secara profesional. Kalau pembangkangan hanya dilakukan secara parsial maka impaknya tidak akan terasa dan gerakan itu akan mudah dipatahkan.

Istilah civil disobedience dipergunakan pertama kali pada 1848 untuk menjelaskan penolakannya terhadap pajak yang dikenakan pemerintah Amerika untuk membiayai perang di Meksiko dan untuk memperluas praktik perbudakan melalui Hukum Perbudakan.

Filosof hukum Amerika John Rawls dalam karya monumental ‘’The Theory of Justice’’ (1971) mendefinsikan pembangkangan sipil sebagai sebagai gerakan tanpa kekerasan dan dilakukan dengan hati-hati dengan tujuan untuk membawa perubahan dalam hukum atau kebijakan pemerintah.

Pembangkangan publik adalah gerakan yang dilakukan oleh warga secara terorganisasi, yang bisa jadi melawan hukum, dan digunakan untuk mengoreksi hukum atau kebijakan publik.Oleh karena itu, orang-orang yang terlibat dalam pembangkangan sipil bersedia menerima konsekuensi hukum dari tindakan mereka, karena ini menunjukkan kesetiaan mereka pada supremasi hukum.

Pemikiran mengenai pembangkangan sipil ini menginspirasi sejumlah tokoh seperti Mahatma Gandhi untuk melakukan gerakan pembangkangan sipil di India dan Nelson Mandela yang memimpin gerakan pembangkangan di Afrika Selatan.

Wujud civil disobedience ini bermacam-macam, mulai dari aksi yang berdampak langsung pada pemerintah dan keberlangsungan negara, atau aksi simbolik seperti aksi diam. Mahatma Gandhi mengajak warga India melawan penjajahan Inggris dengan gerakan damai tanpa kekerasan.

Pada dekade 1970-an Ayatullah Khomeini di Iran mengajak publik untuk tidak membayar pajak dan listrik yang membuat negara tersebut guncang. Dalam tiga kasus itu penguasa yang represif akhirnya kalah oleh gerakan rakyat yang masif.

Salah satu ciri utama gerakan pembangkangan sipil yang sukses adalah munculnya para pemimpin kharismatis yang mempunyai pengikut luas secara nasional. Gandhi, Mandela, dan Khomeini, tidak diragukan lagi, adalah pemimpin nasional yang mempunyai pengaruh luas dan diakui wibawanya secara internasional.

Dalam sistem represif seperti yang dialami India, Afrika Selatan, dan Iran, kharisma perorangan seorang pemimpin menjadi kunci utama. Dalam sistem demokrasi yang sudah mapan seperti di Inggris dan Australia organisasi yang profesional bisa menggantikan kepemimpinan perorangan.

Di Indonesia gerakan buruh masih terfragmentasi dan termarjinalkan. Gerakan buruh di Indonesia juga belum melahirkan pemimpin yang ketokohannya diakui secara nasional. Dalam kondisisi demikian ancaman pembangkangan sipil yang dilempar oleh aktivis buruh tidak akan didengar secara serius oleh pemerintah.

Para buruh itu tidak lebih hanya dianggap sebagai anjing yang menggong, dan kafilah akan tetap berlalu. (*)

Editor: DAD

Mega-Anwar

KEMPALAN: DUA pemimpin bangsa memberikan pidato pada kesempatan yang berbeda dan dalam waktu yang hampir bersamaan. Datuk Sri Anwar Ibrahim, Perdana Menteri Malaysia, yang sedang berkunjung ke Indonesia berbicara pada forum bisnis yang dihadiri ratusan tokoh Indonesia dari berbagai kalangan (9/1). Sehari berselang Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) memberikan pidato pada ulang tahun ke-50 PDIP (10/1) di depan ratusan kadernya.

Dua peristiwa itu tidak berhubungan. Tetapi, mau tidak mau publik memperbandingkan isi pidato kedua pemimpin itu. Perbandingan ini tidak sepenuhnya sejajar, apple to apple. Anwar Ibrahim menjadi perdana menteri, sedangkan Megawati hanya memimpin partai.

Kendati demikian perbandingan itu menjadi bahasan yang ramai di media sosial. Banyak yang berkomentar dengan berbagai argumen. Ada yang memuji-muji Anwar dan mengkritisi Mega. Tetapi banyak juga yang membela Mega dan menganggap pidatonya berbobot.

BACA JUGA: Mega for President

Anwar Ibrahim berbicara di leadership forum yang mengundang tokoh-tokoh dari berbagai kalangan. Ada menteri-menteri kabinet Jokowi, ada kalangan pengambil kebijakan bisnis, pemimpin partai, pemimpin organisasi, dan bahkan kalangan oposisi pun ada.

Anwar berpidato selama 36 menit tanpa teks. Sangat singkat untuk ukuran orasi yang sangat penting. Tetapi, meminjam istilah anak zaman now, pidato Anwar Ibrahim daging semua. Padat dengan retorika dan referensi yang mendalam mengenai persoalan-persoalan strategis yang dihadapi dunia dewasa ini.

Megawati berbicara hampir 2 jam dengan duduk di atas kursi. Mega berbicara tanpa teks tapi membawa pointers untuk menandai topik-topik penting yang dibicarakannya. Mega lebih banyak berbicara mengenai kondisi internal partainya. Komunikasi politik Mega sangat khas, seperti ibu yang berbicara kepada anak-anaknya. Mega banyak bercerita mengenai pengalaman pribadi dan keluarganya.

Seperti biasanya, Mega mengutip beberapa hal dari Presiden Sukarno. Mega juga mengutip beberapa nama pahlawan perempuan Indonesia. Tampaknya Mega ingin memberikan political clue, isyarat politik mengenai kiprah pemimpin perempuan di Indonesia masa lalu, masa kini, dan masa depan. Sangat mungkin Mega sedang menciptakan kondisi untuk memuluskan jalan Puan Maharani, putrinya, untuk menjadi kandidat presiden pada pemilu 2024 mendatang.

Pidato politik 2 jam itu mungkin membosankan bagi kebanyakan orang. Tapi, bagi kader-kader PDIP pidato panjang itu wajib didengarkan. Mungkin bagi para kader yang setia, pidato Mega selama 2 jam itu menarik. Mungkin bagi mereka pidato itu terasa seperti daging semua.

BACA JUGA: Anwar Ibrahim

Sebagian publik ada yang menyimak pidaro itu sampai selesai, karena publik menunggu kalau-kalau Mega mengumumkan siapa calon presiden yang bakal diusung PDIP. Tapi, sampai pidato selesai ternyata tidak ada pengumuman nama itu. Mega malah mempertanyakan mengapa publik seperti mempressure supaya PDIP segera mengumumkan kandidat presiden. ‘’Itu kan urusan gue,’’ kata Mega dengan narasinya yang khas.

Megawati anak kandung Bung Karno. Anak kandung biologis, tapi belum tentu anak kandung ideologis. Begitu kata sebagian pengritiknya. Bung Karno, presiden pertama, proklamator kemerdekaan Indonesia, adalah ‘’undisputed leader’’, pemimpin yang tidak diragukan, kemampuan leadershipnya, wawasan, nasionalnya, wawasan geopolitiknya, semua komplet.

Bung Karno adalah singa podium, orator jago pidato yang tidak ada tandingnya. Kalau Bung Karno berpidato selama 2 jam, rakyat akan berhenti bekerja, mendengarkan melalui radio dengan penuh perhatian. Semua diksi dan narasi Bung Karno penuh makna. Setiap kata dan kalimat dipilih dengan cermat untuk tujuan yang jelas.

Narasi Bung Karno dan istilah-istilah yang diciptakannya masih sangat banyak dikutip orang sampai sekarang. Posisi politik Bung Karno sangat jelas dan tegas. Ia seorang nasionalis sejati yang menempatkan persatuan nasional di atas segalanya. Karena itu ia membenci kolonialisme dan imperialism sampai ke akar-akarnya.

Bung Karno menguasai khazanah pemikiran yang lengkap, mulai dari pemikir-pemikir Barat sampai ke pemikir Timur klasik. Dari keluasan wawasan dan referensinya itu Bung Karno kemudian menggali dan menemukan Pancasila. Ketika Bung Karno berpidato di depan forum persiapan kemerdekaan, semua orang terpukau mendengar konsepnya mengenai Pancasila.

BACA JUGA: Reshuffle dan Impeachment

Pancasila bukan ciptaan Bung Karno. Pancasila lahir dari kontemplasi yang mendalam mengenai kondisi nasional dan internasional, yang kemudian diproyeksikan ke depan menjadi dasar negara, yang bisa menjadi pondasi bagi penyelenggaraan sebuah negara modern.

Pancasila, pembukaan UUD 1945, dan teks proklamasi adalah dokumen sejarah nasional yang menunjukkan keluasan pandangan para founding fathers nasional mengenai kompleksitas persoalan yang bakal dihadapi Indonesia. Sebagai negara yang baru lahir, Indonesia menghadapi persoalan internasional yang kompleks setelah mengalami penjajahan ratusan tahun. Sebagai bangsa yang baru lahir Indonesia menghadapi persoalan internal yang kompleks terutama karena keragaman yang sangat luas di dalamnya.

Bung Karno berusaha merumuskan kompleksitas itu menjadi lima sila dalam Pancasila. Dokumen negara ini mempunyai nilai filosofis yang sangat mendalam, dan dianggap sejajar dengan dokumen negara-negara besar lain seperti Amerika Serikat. Ketika para founding fathers pada 17 Agustus 1945 dini hari di rumah Laksamana Maeda berhasil merumuskan teks proklamasi, ada usul supaya teks itu ditandatangani oleh semua yang hadir.

Hal itu merujuk pada Declaration of Independence negara Amerika Serikat. Dokumen yang banyak digagas oleh Thomas Jefferson itu ditandatangani oleh banyak tokoh yang hadir pada proses pembahasan. Ada usul supaya semua yang hadir di rumah Laksamana Maeda menandatangani naskah proklamasi seperti deklarasi kemerdekaan Amerika. Tetapi, akhirnya disepakati naskah itu hanya ditandatangani oleh Sukarno dan Hatta atas nama bangsa Indonesia.

BACA JUGA: Sipon

Bung Karno telah meletakkan pondasi yang kokoh, yang selalu relevan dengan zaman. Pemikiran-pemikiran Bung Karno yang sangat visioner itu menginspirasi banyak pemimpin dunia. Bung Karno tidak sekadar seorang aktivis politik, tetapi seorang intelektual dan pemikir yang progresif.

Megawati seringkali mengutip Bung Karno. Pada pidato ulang tahun kemarin Mega juga mengingatkan kadernya akan peran Bung Karno sebagai pendiri PNI (Partai Nasional Indonesia), yang menjadi cikal bakal PDI (Partai Demokrasi Indonesia), yang kemudian berinkarnasi menjadi PDIP.

Medengarkan pidato Megawati selama 2 jam butuh kesabaran tersendiri. Sulit menemukan jejak Bung Karno pada pidato-pidato Megawati. Tidak ada referensi yang dikutip, dan tidak terlihat visi yang bisa menjadi haluan untuk menghadapi kompleksitas persoalan global yang dihadapi Indonesia.

Datuk Anwar Ibrahim hanya berbicara setengah jam. Rasanya terlalu pendek. Andai dia berbicara selama 2 jam pun audiens akan tetap mendengarkan dengan penuh perhatian. Khazanah pemikiran Anwar sangat luas. Ia mengutip banyak tokoh besar, mulai dari Al-Ghazali, Ibnu Sina, Ibnu Rusydi dan perdebatan antara iman dan filsafat dalam ‘’Tahafut al-Falasifah’’.

BACA JUGA: Ronaldo

Anwar mengutip Keynes dan Fukuyama, juga Ortega Y. Gasset. Anwar mengutip Iqbal dan juga T.S Eliot. Anwar mengutip Sutan Takdir Alisjahbana, Hamka, Armin Pane, sampai Soedjatmoko. Anwar menunjukkan kualitas kepemimpinannya yang visioner yang bisa menjadi panduan dalam menghadapi kompleksitas persoalan yang dihadapi bangsa-bangsa Asia Tenggara.

Anwar menuangkan pandangan-pandangannya itu sejak 1996 melalui bukunya ‘’The Asia Rennaissance’’. Sekarang saatnya Anwar mewujudkan gagasannya itu menjadi kebijakan yang bisa membawa Asia bangkit menjadi kekuatan glonal.

Para pemimpin Indonesia harus banyak belajar dari Anwar Ibrahim. (*)

Editor: DAD

Mega for President

KEMPALAN: Ulang tahuk ke-50 Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Selasa (10/1) bakal ada kejutan besar. Begitu kata Sekjen Hasto Kristiyanto. Ketua Umum Megawati Soekarnoputri biasanya suka membuat kejutan di saat ulang tahun partai.

Publik kepo dan penasaran, kejutan apa yang akan muncul. Banyak yang menduga bahwa Mega akan mengumumkan calon presiden dari PDIP. Sebagai the winning party (partai pemenang) dan sekaligus the ruling party (partai yang berkuasa) langkah PDIP ditunggu dan diantisipasi oleh kawan dan lawan.

Ternyata kejutan itu belum muncul. Rupanya Mega masih perlu waktu untuk menimbang-nimbang lagi sebelum membuat keputusan final. Nama-nama favorit yang muncul tidak akan jauh dari Ganjar Pranowo dan Puan Maharani. Dua nama itu bersaing di internal PDIP sampai memecah partai menjadi dua kelompok yang berseberangan, baik diam-diam maupun terang-terangan. Untuk sementara, PDIP masih tetap menjagokan Puan Maharani. Tapi, di sisi lain Ganjar Pranowo terus menyeruduk dan secara konsisten menempati posisi tinggi di berbagai survei.

Megawati menjadi pemegang utama golden ticket untuk menentukan siapa yang bakal diusung PDIP sebagai calon presiden. Dilema buah simalakama dihadapi Mega dalam beberapa tahun terakhir. Nalurinya sebagai ibu menginginkan Puan sang putri mahkota sebagai penerus dinasti trah keluarga Sukarno. Tetapi, naluri politiknya memaksanya untuk bertindak rasional dan realistis dengan memilih Ganjar Pranowo.

BACA JUGA: Anwar Ibrahim

Di tengah kegalauan yang rumit itu tiba-tiba muncul wacana untuk mengajukan Megawati sebagai calon presiden. Wacana itu menggelinding beberapa hari terakhir dan mendapat respons beragam dari banyak kalangan. Pendukung gagasan itu menganggap wacana itu wajar karena bagaimanapun Mega mempunyai hak demokratis sebagai warga negara untuk dicalonkan sebagai presiden. Bagi yang tidak mendukung, gagasan itu dianggap sebagai kemunduran dan keputusasaan.

Ada cerita mengenai monyet menimbang roti yang sering diceritakan di kelas taman kanak-kanak. Alkisah, seekor monyet menimbang sepotong roti untuk dibagi rata kepada dua temannya. Si monyet membelah roti menadi dua potong dan meletakkannya di sebuah timbangan.

Ketika timbangan miring ke kiri, dia gigit roti di sebelah kiri. Ternyata timbangan menjadi miring ke kanan. Si monyet pun menggigit roti di sebelah kanan. Ternyata sekarang timbangan miring ke kiri, si monyet pun menggigit roti di sebelah kiri. Begitu terus-menerus sampai akhirnya timbangan menjadi berimbang, tapi roti menjadi habis karena dimakan si monyet.

Tentu pertimbangan politik yang dilakukan oleh Megawati tidak sama dengan cara menimbang roti ala sang monyet. Tetapi, dalam beberapa hal ada kemiripan. Dua potong roti itu ibarat Ganjar dan Puan yang tidak berimbang. Setiap kali ditimbang, selalu ada yang lebih berat dan ada yang lebih ringan. Karena tidak kunjung dicapai keseimbangan akhirnya roti habis dimakan sang monyet.

Memilih Mega sebagai calon presiden, mungkin, bisa menjadi solusi bagi dilema yang dihadapi oleh PDIP. Persoalan persaingan Puan vs Ganjar akan selesai–dan tidak akan ada pihak yang berani menentang–setidaknya secara terbuka. Tapi, di sisi lain, keputusan pencalonan Mega bisa dianggap sebagai indikasi ‘’political desperation’’ atau keputusasaan politik.

Mega sudah punya pengalaman menjadi presiden menggantikan Gus Dur pada 2002. Mega tercatat sebagai presiden perempuan pertama di Indonesia. Hal ini sering disebut sebagai indikator kemajuan demokrasi di Indonesia. Di negara yang demokrasinya sudah matang, seperti Amerika Serikat, sampai sekarang belum pernah mempunyai presiden perempuan.

BACA JUGA: Reshuffle dan Impeachment

Jabatan politik tertinggi yang pernah dicapai oleh perempuan Amerika Serikat adalah posisi wakil presiden yang sekarang diduduki oleh Kamala Harris. Selama 200 tahun lebih kemerdekaan Amerika belum pernah ada presiden perempuan. Sepanjang sejarah Amerika Serikat baru ada satu calon presiden perempuan, yaitu Hillary Clinton pada pemilu 2015. Sayang, Clinton kalah dari Donald Trump.

Megawati menjadi presiden tidak melalui pemilihan langsung. Ketika Mega maju sebagai calon presiden bersama Prabowo Subianto pada 2004 Mega kalah dari Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang berpasangan dengan Jusuf Kalla. Kendati tidak jangkap ketika menjabat sebagai presiden, capaian Megawati tetap menjadi catatan positif bagi prestasi demokrasi Indonesia.

Salah satu faktor yang dianggap menjadi kendala bagi Mega untuk maju sebagai calon presiden pada pemilu 2024 adalah usianya yang memasuki 75 tahun. Ini berarti Mega akan berusia 77 tahun pada 2024. Untuk ukuran Indonesia usia ini dianggap terlalu sepuh. Sebagai perbandingan, Prabowo yang sudah resmi dicalonkan oleh Partai Gerindra sebagai presiden akan berusia 71 tahun yang berarti akan berusia 73 tahun pada 2024.

Di Indonesia usia kepala 7 sudah dianggap sebagai usia uzur yang sudah saatnya pensiun. Tapi, kalau dibandingkan dengan fenomena di beberapa negara lain usia sepuh tidak menjadi halangan untuk maju dalam kontestasi politik.

Di Amerika Presiden Joe Biden berusia 81 tahun. Jika Biden masih akan maju untuk periode kedua pada pemilu Amerika Serikat 2024 usianya akan mencapai 83 tahun. Donald Trump yang sudah mendeklarasikan diri untuk maju lagi dalam pemilu presiden 2024 sekarang berusia 76 tahun, dan akan menjadi 78 tahun pada 2024.

Kalau Biden akan maju lagi dan bersaing kembali melawan Trump dalam partai balas dendam, maka pemilu Amerika bisa disebut sebagai pemilu gerontologi, persaingan antara kakek-kakek. Kalau saja pemilu Indonesia akan diikuti oleh Megawati dan Prabowo yang sama-sama berusia kepala 7 maka pemilu Indonesia juga akan menjadi pemilu gerontologi.

BACA JUGA: Sipon

Di Amerika pemilu hanya akan diikuti oleh dua pasangan saja mewakili Partai Demokrat dan Partai Republik. Di Indonesia kemungkinan pemilu presiden akan diikuti oleh sedikitnya 3 pasangan. Ada kemungkinan Megawati dan Prabowo akan disaingi oleh Anies Baswedan yang masih berusia 55 tahun pada 2024 mendatang.

Para pendukung gagasan ‘’Mega for President’’ menjadikan Amerika sebagai contoh bagaimana pemimpin sepuh masih bisa bersaing untuk memperebutkan posisi tertinggi di pemerintahan. Malaysia juga mempunyai pengalaman dengan pemimpin sepuh, ketika Mahathir Muhammad kembali menjadi perdana menteri pada 2019 dalam usia 95 tahun. Mega dan Prabowo masih termasuk ABG (anak baru gede) jika dibandingkan dengan usia Mahathir.

Tentu saja Amerika, Indonesia, dan Malaysia punya sistem politik masing-masing. Di Amerika seorang calon presiden harus mengikuti konvensi di seluruh negara bagian sebelum memenangkan tiket pencalonan dari partainya. Seorang petahana seperti Joe Biden pun harus ikut konvensi untuk mendapatkan tiket pencalonan dari partai.

Proses konvensi sangat keras, ketat, dan berat, karena harus bersaing dengan kandidat lain. Konvensi juga memakan waktu berbulan-bulan dan menelan biaya politik yang sangat besar. Kalau tidak mendapat sokongan dana dari pendonor, seorang calon akan rontok di tengah jalan. Seorang calon yang memenangkan konvensi sudah teruji kemampuan dan kualitasnya.

BACA JUGA: Ronaldo

Di Indonesia seorang calon presiden mendapatkan tiket pencalonan melalui penunjukan langsung. Tidak ada proses konvensi yang dilalui, sehingga kualitasnya tidak bisa diuji oleh publik. Anies Baswedan yang dicalonkan oleh Partai Nasdem diuji melalui rekam jejaknya selama menjadi gubernur DKI. Prabowo Subianto diuji melalui rekam jejaknya selama menjadi menteri pertahanan. Megawati sudah hampir 20 tahun pensiun dari jabatan publik, sehingga kemampuan kepemimpinannya tidak bisa diuji langsung.

Memilih Mega sebagai calon presiden adalah hak preogratif yang tiketnya dikantongi sendiri oleh Megawati. Publik masih menunggu akankah segera ada kejutan, atau masih butuh waktu untuk ditimbang-timbang lagi.

Waktu sudah semakin sempit. PDIP berburu dengan waktu. Jangan sampai terlalu banyak menimbang, akhirnya roti habis karena dimakan sang monyet. (*)

Editor: DAD

Anwar Ibrahim

KEMPALAN: DALAM politik, tidak ada kawan abadi dan tidak ada musuh abadi, yang ada hanya kepentingan abadi. Adagium itu menggambarkan karir politik dalam hidup Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim. Adagium itu juga menggambarkan hubungan politik antara Indonesia dengan Malaysia dalam setengah abad terakhir.

Anwar Ibrahim dilantik sebagai perdana menteri November 2022. Dia kemudian melakukan konsolidasi internal untuk menyusun kabinet yang ramping dan afektif. Anwar merangkap jabatan sebagai perdana menteri dan menteri keuangan. Meskipun jabatannya rangkap, tapi Anwar menegaskan tidak akan menerima gaji dari dua jabatannya.

Anwar juga mendorong timnya untuk menunjukkan keprihatinan dengan tidak bermewah-mewah dalam kehidupan keseharian. Anwar memberi contoh dengan tidak memakai mobil mewah sebagai kendaraan dinas maupun pribadi.

Setelah menata kabinet, Anwar mulai melakukan lawatan ke luar negeri, dan Indonesia menjadi tujuan pertama. Senin (9/1) sampai Selasa (10/1) Anwar berkunjung ke Indonesia, bertemu dengan Presiden Joko Widodo dan sejumlah menteri.

Berbagai persoalan bilateral diperbincangkan. Salah satu yang menjadi fokus adalah investasi Malaysia di proyek IKN (Ibu Kota Nusantara). Sejumlah kesepakatan investasi sudah dicapai antara kedua negara untuk berpartisipasi dalam pembangunan IKN.

BACA JUGA: Reshuffle dan Impeachment

Di Malaysia, terpilihnya Anwar Ibrahim sebagai perdana menteri dirayakan sebagai kebangkitan politik Islam. Anwar dilantik menjadi perdana menteri oleh Yang Dipertuan Agung Raja Malaysia, untuk mengakhiri krisis politk karena pemilihan raya tidak bisa menghasilkan pemenang mayoritas yang berhak membentuk pemerintahan dan mengangkat perdana menteri.

Karir politik Anwar Ibrahim diwarnai dengan hubungan yang pernuh turbulensi dengan Mahathir Muhammad. Ia menjadi kader Mahathir Muhammad, perdana menteri yang berkuasa selama 22 tahun. Tapi, keduanya berpisah jalan pada 1998 dan menjadi musuh bebuyutan. Mahathir memenjarakan Anwar atas tuduhan korupsi dan sodomi dan memenjarakannya belasan tahun.

Anwar Ibrahim mengawali karir politik sebagai pemimpin gerakan mahasiswa di Universitas Malaya pada akhir dekade 60-an. Tak lama kemudian, pada 1971, ia mendirikan Gerakan Pemuda Muslim Malaysia (ABIM) dan menjabat sebagai presiden ABIM hingga 1982.

Meski sering mengkritik kebijakan pemerintah Barisan Nasional-UMNO, Anwar akhirnya menerima tawaran Mahathir Mohamad untuk bergabung dengan UMNO dan pemerintah. Karier Anwar menanjak dengan cepat. Ia menjadi Menteri Pemuda, Olahraga, dan Kebudayaan (1983), Menteri Pertanian (1984), Menteri Pendidikan (1986-1991), dan diangkat menjadi Menteri Keuangan (1991-1998), dan Wakil Perdana Menteri (1993 -1998).

BACA JUGA: Sipon

Malaysia berkembang di bawah kepemimpinannya dengan surplus anggaran selama beberapa tahun. Malaysia juga menikmati era kemakmuran dan pertumbuhan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Saat Malaysia dilanda krisis finansial Asia pada 1997-1998, Anwar yang saat itu menjabat di Kementerian Keuangan merumuskan pendekatan ekonomi dan menolak talangan bantuan pemerintah untuk menyelamatkan perusahaan-perusahaan yang dilanda krisis finansial. Langkah itu membuahkan hasil dan memperbaiki situasi ekonomi di negara itu.

Namun tindakannya ini tidak mendapat sambutan hangat dari Mahathir Mohamad dan sekutunya. Anwar dicopot dari pemerintahan dan partai (UMNO) pada 2 September 1998 dan dipenjara pada 1999.

Persidangan dan penahanannya mengundang kecaman internasional yang mencirikan dakwaannya bermotif politik. Ia dibebaskan pada 2004 ketika Pengadilan Tinggi memutuskan bahwa bukti yang digunakan untuk menghukumnya tidak cukup kuat.

Ia dituduh telah melakukan sodomi oleh seorang pembantu laki-laki, tetapi Anwar mengelak tuduhan itu dan mengatakan bahwa tuduhan tersebut bertujuan untuk mencopotnya dari jabatan pemimpin oposisi. Kemudian, Anwar dibebaskan sepenuhnya 2012 oleh Pengadilan Tinggi.

Pada September 2018, Anwar kembali ke parlemen ketika memenangkan pemilihan sela di Port Dickson, Negeri Sembilan, dengan suara mayoritas. Saat mengepalai Kaukus Reformasi dan Tata Pemerintahan di Parlemen, Anwar berjanji akan mengangkat Parlemen sebagai institusi yang berperan sebagai penyeimbang yang efektif dan tidak korup dalam upaya memperbaiki dan menciptakan sistem baru bagi negara

Anwar dianggap sebagai simbol kebangkitan Islam politik di Malaysia. Anwar Ibrahim mewakili genre politisi Islam yang berpandangan moderat dan global, dan memengaruhi pemikiran politik sejawatnya di Indonesia.

BACA JUGA: Ronaldo

Pengangkatan Anwar dirayakan sebagai kebangkitan Asia. Ia seorang politisi cum intelektual jempolan dan ahli keuangan. Ia menulis buku ‘’Rennaissance Asia’’ pada 1996 dan menjadi cetak biru bagi strategi politiknya dalam membangun Malaysia.

Anwar yakin renaissance Asia, kebangkitan peradaban Asia, akan muncul melalui dialog dengan peradaban Barat. Anwar melihat bahwa Islam moderat yang berkembang di Malaysia dan Indonesia, punya potensi besar untuk menjadi mesin kebangkitan Asia.

Islamisasi secara damai dan perlahan ini membentuk ciri muslim Asia Tenggara yang kosmopolit, berwawasan luas, toleran, dan dapat menerima perbedaan budaya. Pandangan ini juga dipengaruhi oleh keberadaan orang non-muslim yang membalas sikap toleran orang Islam.

Hampir tanpa kecuali, bangsa muslim pernah dijajah. Banyak yang belum pulih dari trauma tersebut. Ini tercermin dari sikap ekstrem terhadap Barat. Ada sejumlah orang yang menyalahkan Barat atas kegagalan yang mereka alami.

Pada sisi ekstrem lain adalah kelompok elite yang terkagum-kagum dan silau atas kebudayaan Barat sebagai simbol modernitas. Modernisasi di berbagai daerah bekas jajahan tidak bisa dibedakan dengan westernisasi. Mengadopsi gaya hidup Barat lebih menonjol ketimbang mengambil spirit kemajuan Barat dengan mempelajari sains dan ilmu pengetahuan dari mereka.

BACA JUGA: Anies dan Da Silva

Anwar Ibrahim merumuskan Renaisan Asia dengan mengambil jalan tengah di antara dua ekstrem. Prinsip tawasuth atau moderasi dia terapkan sebagai strategi perjuangan. Spirit kemajuan Barat diambil dan diterapkan, tetapi gaya hidup ala western yang tidak sesuai dengan nilai timur ditanggalkan.

Dalam prioritas Anwar pembangunan umat dikonsentrasikan pada tugas untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan menghapuskan kemiskinan ketimbang memotong tangan pencuri. Mereka lebih suka meningkatkan kesejahteraan wanita dan anak-anak di antara mereka ketimbang menghabiskan waktu mendefinisikan negara Islam yang ideal.

Ekstremisme ditolak. Tapi toleransi juga tidak hanya bisa dipaksakan datang dari satu pihak. Harus ada timbal balik. Sebuah komunitas yang plural dan multi-agama terus-menerus hidup dalam ancaman kecuali jika keadilan sosial bisa dicapai.

Indonesia dan Malaysia mempunyai problem yang kurang lebih sama. Umat Islam yang menjadi mayoritas di kedua negara akan menjadi kekuatan utama dalam membangun keadilan sosial.

Di masa lalu hubungan kedua negara tidak selalu harmonis. Pada dekade 1960-an Indonesia sebagai negara dengan penduduk 10 kali lipat Malaysia seolah menjadi tukang bully bagi Malaysia. Kedua negara bahkan nyaris terlibat perang terbuka karena perebutan wilayah di Kalimantan. Konfrontasi dua negara tetangga berlangsung panas, dan jargon ‘’Ganyang Malaysia’’ membuat negeri jiran keder.

BACA JUGA: Republika

Hubungan kedua negara menjadi mesra di era 1970-an setelah Soeharto menjadi presiden. Prioritas pembangunan ekonomi yang diambil Soeharto membuat Indonesia tidak lagi menjadi tukang bully.

Malaysia berkembang dengan cepat. Pada 1970-an orang Indonesia dikirim ke Malaysia sebagai guru. Sekarang orang Indonesia datang ke Malaysia sebagai wisatawan atau TKI.

Sekarang Anwar Ibrahim datang ke Jakarta sebagai investor. Dua negara ini akan menjadi motor penting dalam kebangkitan Asia, jika sama-sama mampu menciptakan keadilan sosial yang merata.

Anwar Ibrahim sudah membuat peta jalan menuju kesana dan berkomitmen untuk mencapainya. Indonesia harus melakukan hal yang sama kalau tidak mau (semakin) ketinggalan dari Malaysia. (*)

Editor: DAD

Reshuffle dan Impeachment

KEMPALAN: DUA isu yang paling ramai dibicarakan beberapa hari terakhir adalah reshuffle dan impeachment. Presiden Joko Widodo kelihatannya sudah berancang-ancang melakukan reshuffle atau kocok ulang kabinet. Sementara lawan-lawan politik Jokowi memunculkan wacana impeachment, pemakzulan atau pemecatan presiden.

Jokowi berada pada tekanan yang keras dari koalisi pendukungnya untuk menyingkirkan Partai Nasdem dari barisan koalisi. Kalau Nasdem dikeluarkan dari koalisi berarti 3 menteri yang sekarang ada di kabinet yang akan diberhentikan.

Jokowi punya 3 kartu truf untuk menarik oposisi supaya masuk ke koalisi. Kabarnya Partai Demokrat sudah diming-imingi untuk mendapatkan jatah menteri, tapi Demorat mengaku tidak tertarik. Demokrat menyatakan akan tetap setia kepada Koalisi Perubahan bersama Nasdem dan Partai Keadilan Sejahtera.

Kocok ulang ini sekaligus akan mempertegas garis demarkasi antara Jokowi dengan Partai Nasdem, sekaligus mengakhiri kongsi politik antara Jokowi dengan Surya Paloh. Nasdem sudah berkali-kali menegaskan akan tetap berada di koalisi Jokowi sampai 2024. Tetapi, PDIP sebagai kekuatan terbesar di koalisi sudah jelas-jelas tidak menghendaki Nasdem ada di dalam koalisi.

BACA JUGA:

Kocok ulang ini buntut dari sikap Nasdem yang secara terbuka mendeklarasikan Anies Baswedan sebagai calon presiden. Jokowi jelas tidak suka dengan manuver ini dan Jokowi tidak bisa menyembunyikan ketidaksukaannya. Salah satu indikatornya adalah Jokowi tidak hadir ke acara ulang tahun Partai Nasdem. Hal ini menjadi indikator yang mencolok, karena Jokowi justru datang di ulang tahun Partai Perindo dan Partai Hanura yang tidak punya kursi di parlemen.

Dengan kocok ulang ini Nasdem secara resmi akan berada diluar koalisi pemerintahan dan menjadi bagian dari oposisi. Masih harus dilihat apakah Nasdem akan memainkan peran oposisi terbuka sebagaimana yang dilakukan oleh PKS dan Demokrat. Atau mungkin Nasdem akan tetap bersikap mendukung Jokowi meskipun sudah tidak lagi berada di kabinet.

Jokowi tegas memainkan kartu truf dan tidak mau ada pengganggu di koalisi pendukungnya. ‘’Either you are with us or against us’’. Mungkin begitu pandangan Jokowi menirukan ucapan Presiden Amerika George Bush, ‘’Kamu menjadi kawanku atau kamu menjadi lawanku’’.

Pendeklarasian Anies Baswedan sebagai calon presiden oleh Nasdem jelas tidak bisa diterima oleh Jokowi, dan kongsi semesra apapun dengan Surya Paloh harus diakhiri. Ibarat pasangan yang cerai, Jokowi sudah menjatuhkan talak, dan bisa jadi langsung talak tiga.

Tapi Jokowi juga sedang berada pada posisi defensive karena diserang isu impeachment atau pemakzulan presiden. Serangkaian kebijakan Jokowi akhir-akhir ini dianggap sudah cukup menjadi alasan untuk memakzulkan atau memecat Jokowi.

BACA JUGA: BACA JUGA:

Dalam mekanisme demokrasi pemecatan Presiden hanya dapat diajukan oleh DPR kepada MPR setelah terlebih dahulu mengajukan permintaan kepada Mahkamah Konstitusi guna mengadili dan memutus pendapat DPR tentang hal pelanggaran yang dilakukan Presiden.

Prosesnya ribet dan panjang karena 80 persen kursi DPR sudah dikuasai oleh koalisi. Tetapi tidak berarti pemakzulan mustahil dilakukan. Dalam politik tidak ada kata mustahil. Dengan keluarnya Nasdem dari koalisi kekuatan Jokowi di parlemen semakin berkurang. Tidak ada yang menjamin bahwa usulan impeachment tidak disambut oleh partai lain yang sekarang masih ada di koalisi. Melihat beberapa perkembangan terakhir terlihat indikasi ada partai yang kurang betah berada di koalisi.

Sejarah perjalanan bangsa Indonesia sudah banyak diwarnai oleh insiden politik yang berakhir dengan impeachment. Kepresidenan Abdurrahman Wahid alias Gus Dur hanya bertahan 2 tahun dan berakhir dengan impeachment. Kepemimpinan Presiden Sukarno bertahan 22 tahun dan kemudian berakhir dengan impeachment yang diwarnai dengan pertumpahan darah.

Presiden Soeharto berkuasa selama 32 tahun, tetapi takhirnya terguling oleh gerakan rakyat yang didukung mahasiswa. Pengalaman impeachment dan pengunduran diri presiden di tengah jalan ini menjadi preseden yang sangat mungkin akan terjadi lagi di Indonesia.

Pada 23 Juli 2001, Presiden keempat Abdurrahman Wahid dilengserkan dari jabatannya oleh MPR RI. Saat itu Presiden masih dipilih oleh MPR dan disebut sebagai pemegang mandat atau mandataris.
Pemakzulan dalam Sidang Istimewa MPR dilakukan karena Gus Dur dianggap telah menyalahi haluan negara. Pemakzulan itu merupakan puncak perseteruan Gus Dur dengan mayoritas partai politik di Senayan yang kala itu ikut berperan memilih Gus Dur sebagai presiden pada 1999.

BACA JUGA: Ronaldo

Gus Dur diangkat oleh Poros Tengah yang diprakarsai oleh Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais yang berkoalisi dengan Akbar Tanjung dari Golkar dan partai-partai Islam seperti Partai Persatuan Pembangunan. Tujuan poros tengah adalah menghambat Megawati Soekarnoputri dari PDIP supaya tidak bisa menjadi presiden RI meskipun partainya menjadi pemenang pemilu.

Pemakzulan Gus Dur dipicu oleh laporan yang disampaikan Panitia Khusus (Pansus) DPR terkait dugaan penggunaan dana Yayasan Dana Kesejahteraan Karyawan Bulog sebesar 4 juta dollar AS. Selain itu, Gus Dur juga diduga menggunakan dana bantuan Sultan Brunei Darussalam sebesar 2 juta dollar AS.
Selama menjadi presiden RI, Gus Dur mengeluarkan kebijakan yang dianggap kontroversial . Penghapusan Tap MPR yang membahas tentang Partai Komunis Indonesia (PKI) dan mengeluarkan Dekrit Presiden yang berisikan tentang pembubaran parlemen. Konflik antara Gus Dur dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan MPR semakin tajam setelah keluarnya Dekrit Presiden 23 Juli 2001.

Gus Dur yang tidak hadir dalam sidang itu, dicopot dari kursi Presiden RI. Gus Dur sempat bertahan di Istana, tapi keesokan harinys Kamis, 26 Juli 2001, Gus Dur keluar dari istana dan langsung terbang ke Amerika Serikat (AS) untuk berobat. Tampuk kepresidenen kemudian beralih ke Megawati Soekarnoputri dan Hamzah Haz sebagai wakil presiden.

Kisah impeachment yang lebih dramatis dialami oleh Sukarno. Sang proklamator yang membidani lahirnya Indonesia harus mengakhiri karir politiknya secara tragis, diisolasi, dan disingkirkan dari kekuasaannya.

BACA JUGA: Anies dan Da Silva

Rencana kudeta oleh PKI pada 1965 gagal dan membawa kehancuran bagi partai itu. Sukarno kehilangan pendukung politik terkuatnya. Politik keseimbangan yang ia mainkan sejak awal 1960-an runtuh dan Angkatan Darat yang menjadi musuh politik utama Sukarno semakin kuat dan mendominasi.

Jenderal Soeharto perlahan mengambil alih panggung dan menyisihkan Sukarno. Kekuatan politik Sukarno surut dengan cepat setelah terbitnya Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar).

Pada 12 Maret Soeharto membubarkan PKI dan pada 18 Maret menangkap 15 menteri loyalis Sukarno. Lalu pada 27 Maret Sukarno terpaksa mengumumkan kabinet baru bentukan Soeharto. Pembersihan loyalis Sukarno pun terjadi di kalangan militer dan birokrasi. Dominasi Soeharto pun menguat di kalangan anggota MPRS (Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara) yang anti-Sukarno.

Pada 22 Juni 1966 di hadapan MPRS Sukarno menyampaikan pidato pertanggungjawaban selama jadi presiden yang dijuduli Nawaksara, tapi MPRS yang sudah berada diluar kendali Sukarno menolak pertanggungjawaban itu.

Sukarno makin terdesak. Pada 22 FebruariSukarno mengumumkan kesediaannya menyerahkan kekuasaan eksekutif kepada pengemban Supersemar Soeharto. Kejatuhan Sukarno semakin dekat

Pada Sidang Istimewa MPRS 7 Maret 1967 memutuskan mencabut kekuasaan Presiden Sukarno dan sekaligus menetapkan Letnan Jenderal Soeharto sebagai Pejabat Presiden Republik Indonesia.

Soeharto kemudian berkuasa selama 32 tahun dan dianggap mempunyai kekuatan yang tidak tergoyahkan. Tetapi akhirnya Soeharto dipaksa mundur oleh demonstrasi mahasiswa yang mendapat dukungan dari kroni-kroni Soeharto di kekuasaan.

BACA JUGA: Republika

Impeachment adalah mekanisme demokrasi yang dijamin oleh konstitusi, tetapi bisa menjadi preseden buruk dalam bernegara. Dalam tradisi islam perceraian atau talak adalah halal, tetapi sangat dibenci oleh Tuhan. Impeachment juga halal tetapi bisa membawa dampak negatif bagi perjalanan demokrasi bangsa.

Negara demokrasi matang seperti Amerika Serikat sangat menghindari impeachment. Jika harus terjadi–sebagaimana dialami Presiden Nixon pada 1972—ia langsung diampuni dan diputihkan oleh Presiden Gerald Ford yang terpilih menggantikannya.

Presiden Bill Clinton hampir diimpeach pada 1997 karena terlibat skandal seks dengan Monica Lewinsky, pegawai magang di Gedung Putih. Clinton akhirnya diampuni dan kasusnya tidak dilanjutkan.

Di Indonesia impeachment sudah menjadi bagian dari sejarah politik. Sekali terjadi impeachment akan terjadi lagi di episode berikutnya. Hukum besi ini berlaku di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. (*)

Editor: DAD

Sipon

KEMPALAN: TIDAK banyak yang mengenal nama Siti Dyah Sujirah. Mungkin nama ‘’Sipon’’ lebih dikenal oleh beberapa kalangan. Apalagi kalau nama itu dikaitkan dengan Wiji Thukul, penyair-pejuang asal Solo yang sampai sekarang hilang tak tentu rimbanya.

Sipon, istri Wiji Thukul, meninggal dunia Kamis (5/1). Tidak banyak yang didengar dari Sipon akhir-akhir ini. Ia hidup sebagai perempuan sederhana di kampungnya bersama anak dan kerabatnya. Tapi, meninggalnya Sipon membangkitkan kembali kenangan akan Wiji Thukul, sang seniman yang pemberani.

Melalui puisi-puisinya yang sederhana tapi tajam, Wiji Thukul tidak pernah lelah menyuarakan penderitaan rakyat kecil yang tertindas selama masa kekuasaan rezim Orde Baru. Ketika penderitaan sudah semakin memuncak dan gerakan menentang Orde Baru semakin meluas, Wiji Thukul menghilang bersama beberapa aktivis gerakan.

Beda dengan para aktivis mahasiswa yang berpendidikan tinggi, Wiji Thukul hanya seorang penyair kampung yang kurus dan lusuh. Tetapi, Wiji masuk dalam daftar ‘’orang-orang berbahaya’’ yang harus diringkus dan disingkirkan.

BACA JUGA:

Maka, pada 10 Februari 1998 Wiji menghilang dari rumahnya. Tidak ada seorang pun yang tahu kemana dia pergi. Belakangan diketahui bahwa Wiji menjadi korban penculikan dan penyekapan yang dilakukan terhadap para aktivis gerakan mahasiswa yang menentang Orde Baru. Sebagian aktivis itu dibebaskan setelah disekap berbulan-bulan. Sebagian klainnya, termasuk Wiji Thukul, dinyatakan hilang permanen.

Selama lebih dari satu dekade pasca-hilangnya Wiji Thukul, Sipon secara aktif bergerak menuntut keadilan. Ia minta pemerintah untuk bertanggung jawab mengungkap kasus ini. Sambil menghidupi keluarganya dengan menjadi penjahit, ia lakoni berbagai aksi bersama para pegiatdemokrasu. Namun, upaya itu selalu membentur tembok.

Saat harapan mendapatkan jawaban ihwal pencarian suaminya hampir redup, dia sempat mendapatkan janji dari Joko Widodo saat menjadi calon presiden pada Pilpres 2014. Jokowi saat itu menjanjikan akan menangani kasus-kasus pelanggaran HAM berat masa lalu. Sipon pun giat mendukung Jokowi saat itu. Bahkan, Sipon membuat kaos-kaos bersablon siluet wajah Jokowi beserta daftar alasan mengapa harus memilih Jokowi.

Setelah Jokowi terpilih ternyata janji itu hanya tinggal janji. Setelah mengetahui Jokowi tidak menepati janji-janjinya, Sipon tak lagi menaruh simpati pada pemerintah. Meskipun begitu, Sipon tak lelah merawat harapan agar Wiji Thukul ditemukan, hidup atau mati.

Kisah Wiji Thukul dan para aktivis yang hilang sudah dilupakan publik. Kepergian mereka seolah dianggap sebagai tumbal yang tidak perlu dipertanyakan. Pemerintah Jokowi juga sudah kehilangan selera untuk mengungkap kasus ini. Apalagi ada kecurigaan bahwa otak pelaku penculikan dan penghilangan paksa yang kejam dan tidak berperikemanusiaan itu sekarang ada di barisan rezim Jokowi.

Upaya mengingatkan nasib orang-orang hilang ini dilakukan dilakukan melalui karya sastra dan buku. Salah satunya adalah novel yang ditulis oleh wartawan-sastrawan Leila Salikha Chudori—lebih dikenal sebagai Leila S. Chudori—berjudul ‘’Laut Bercerita’’ (2017).

BACA JUGA: Ronaldo

Novel fiksi-historikal ini bercerita mengenai aktivis mahasiswa bernama Biru Laut yang diculik karena aktivitas gerakannya di sebuah universitas di Yogyakarta. Laut disekap, disiksa dengan setrum listrik dan dihajar dengan benda keras.

Matanya ditutup dan ditelungkupkan di atas balokan es batu dalam keadaan setengah telanjang. Ia mengalami siksaan ini berbulan-bulan. Pada akhirnya Laut merasakan dirinya dibawa ke sebuah tempat yang dirasakannya di pinggiran laut. Selanjutnya ia merasa telah dieksekusi dan mayatnya ditenggelamkan ke laut lepas. Jejaknya tidak pernah lagi diketahui tenggelam dimakan binatang-binatang laut.

Sebuah kesaksian terhadap gerakan mahasiswa 1998 diterbitikan dalam buku baru berjudul ‘’Aldera, Potret Gerakan Politik Kaum Muda 1993-1999’’. Buku ini memotret gerakan mahasiswa di Jakarta pada masa-masa menjelang reformasi 1998.

Aldera atau Aliansi Demokrasi Rakyat menjadi kelompok yang penting sebagai wadah gerakan mahasiswa menjelang reformasi. Selain Aldera yang umumnya beranggotakan mahasiswa nasionalis dan kiri, ada juga kelompok KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) yang menampung gerakan mahasiswa yang berideologi Islam.

Buku ini merekam salah satu etape perlawanan terhadap rezim otoritarianisme Orde Baru pada awal 1990-an hingga kejatuhan Soeharto. Aldera memainkan peranan penting dalam interaksi perlawanan atas rezim.

BACA JUGA: Anies dan Da Silva

Buku ini menceritakan gerakan pemuda progresif di dekade terakhir kekuasaan Orde Baru yang aktivitasnya bermula di awal 1990-an melalui gerakan pembelaan petani dan pemuda yang berujung pada perjuangan politik untuk mengakhiri otoritarianisme Orde Baru.

Pilihan bergerak bersama rakyat yang dimulai dengan membangun gerakan-gerakan perlawanan atas perampasan tanah di Jawa Barat, telah membangun solidaritas gerakan ini dan menjelma menjadi gerakan politik sebagai pengontrol sekaligus penentang langsung kebijakan Soeharto.

Represi terhadap para pegiatnya menjadi bagian tak terpisah dari dinamika gerakan ini. Aldera membatasi diri bertransformasi menjadi gerakan politik kerakyatan yang tidak berubah menjadi partai politik. Namun, pasca-Orde Baru sejumlah pegiatnya kemudian menjadi bagian penting dalam dinamika politik Indonesia.

Keberanian memang barang langka pada masa 1990-an. Sejak kampus dibungkam oleh kebijakan normalisasi kehidupan kampus (NKK/BKK) pada 1978 dan Dewan Mahasiswa dibubarkan, mahasiswa Indonesia seperti ayam jago tapa taji. Keberhasilannya sebagai driving forces yang menjatuhkan Soekarno pada 1966, tinggal sebagai sebuah mitos atau nostalgia.

Bersamaan dengan kebijakan depolitisasi kampus, sebagai bagian rencana Orde Baru untuk menciptakan floating mass atau massa mengambang, mahasiswa pasca-1966 harus berjuang kembali mendapatkan otoritas politiknya sebagai juru bicara rakyat bagi Indonesia yang sedang berubah. Sebuah negeri yang dulu termasuk new emerging forces yang anti-imperalisme dan kapitalisme, menjadi sebuah negeri yang siap membuka diri kepada pasar kapitalisme global.

BACA JUGA: Republika

Beberapa aktivis Aldera seperti Pius Lustrilanang dan Desmond J. Mahendra menjadi korban penculikan dan penyekapan. Pius dan Desmond dilepaskan tetapi 13 orang korban penyekapan hilang tidak diketahui nasibnya. Di antara mereka termasuk Wiji Thukul.

Gerakan mahasiswa meluas keluar Jakarta. Di Malang, Jawa Timur pada 29 Maret 1998 berdiri KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) yang diketuai oleh Fahri Hamzah. Kota Malang sengaja dipilih sebagai pusat gerakan untuk menunjukkan bahwa gerakan mahasiswa tidak hanya berpusat di Jakarta.

Fahri menuturkan, upaya melengserkan Soeharto sejak awal memang merupakan gabungan usaha seluruh elemen gerakan. Semua bahu-membahu dan berkumpul di rapat-rapat gelap di Jakarta. Para mahasiswa itu bergabung dengan para tokoh senior seperti Amien Rais dan tokoh-tokoh lainnya.

Tepat waktu malam sebelum mundurnya Soeharto, beredar isu akan ada pengerahan persenjataan lengkap ke Monumen Nasional (Monas). Sebelumnya memang massa berencana mengepung Monas. Dari salah satu informan, Fahri mengatakan ada yang membisikkan kabar ke Amien Rais yang saat itu menjabat Ketua PP Muhammadiyah, bahwa akan ada pembantaian massal seperti di Tiananmen, China, jika massa tetap bergerak ke Monas.

Akhirnya setelah dilakukan diskusi, seluruh elemen gerakan membatalkan rencana mengepung Monas. Karena setelah dilakukan pengecekan pada malam di tanggal 20 Mei 1998, memang ada pengerahan alat perang dan pemasangan kawat berduri di seluruh jalur menuju Monas.

Meski demikian, pembatalan acara pada 20 Mei 1998 bukan akhir dari gerakan reformasi. Sebab, gerakan itu semakin menguat dan tuntutan agar Soeharto mundur tetap kencang. Pada 21 Mei 1998, dalam kondisi yang serba terdesak Soeharto pun mengumumkan pengunduran diri.

BACA JUGA: Raja Kodok

Kini, gerakan mahasiswa itu sudah melampaui masa hampir 25 tahun. Lanskap politik sudah berubah. Para aktivis mahasiswa itu sekarang sudah menjadi politisi andal. Rezim otoritarianisme Soeharto sudah berakhir dan lahirlah rezim pemerintahan demokratis yang sekarang dipimpin oleh Jokowi.

Berbagai perkembangan terakhir menunjukkan gejala yang makin nyata akan merosotnya kualitas demokrasi. Keputusan Jokowi untuk memberlakukan Perppu Cipta Kerja memantik kontroversial luas. Lawan-lawan politik Jokowi menyebutnya telah melakukan pelanggaran konstitusi, sehingga sudah memenuhi syarat untuk dimakzulkan.

Tetapi, rezim Jokowi menguasai parlemen sampai 80 persen. Tidak ada lubang yang memungkinkan untuk melakukan pemakzulan melalui parlemen. Harapan akan perubahan seperti biasanya jatuh ke pundak mahasiswa.

Tapi, gerakan mahasiswa masih relatif senyap dan terfragmentasi. Siklus perubahan besar yang dipelopori mahasiswa di Indonesia terjadi dalam selang waktu yang panjang. Orde Lama bertahan 22 tahun. Orde Baru bertahan 32 tahun. Orde Reformasi sudah berlagsung 25 tahun. Akankah mahasiswa membuat perubahan besar lagi? Itulah tantangannya.

Penggalan bagian terakhir puisi Wiji Thukul itu sangat populer, tetapi sudah jarang terdengar: Apabila usul ditolak tanpa ditimbang, suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan, dituduh subversif dan mengganggu keamanan, maka hanya ada satu kata: Lawan! (*)

Editor: DAD

Ronaldo

KEMPALAN: PIALA Dunia Qatar sudah selesai. Argentina jura dan Lionel Messi dinobatkan sebagai pemain terbaik. Messi menjadi perhatian dunia. Pertanyaan mengenai siapa pemain sepak bola terbaik dunia sudah ditemukan jawabannya. Tidak diragukan lagi, Messi telah menjadi yang terbaik.

Di mana Cristiano Ronaldo? Satu-satunya pesaing Messi ialah Ronaldo. Panggung Piala Dunia membuktikan bahwa Messi bersinar dan Ronaldo habis. Messi menjadi inspirator utama kemenangan Argentina dalam final melawan Prancis, yang disebut sebagai final Piala Dunia terbaik. Sementara Ronaldo menangis meninggalkan lapangan setelah Portugal disingkirkan oleh Maroko di babak perdelapan final.

Banyak yang menyimpulkan Ronaldo sudah habis. Usianya sekarang sudah 37 tahun dan sudah kehilangan waktu untuk tampil lagi pada Piala Dunia 2026. Sementara Messi sudah mendapat jaminan dari pelatih Argentina Lionel Scaloni untuk mendapat satu tempat sebagai pemain pada Piala Dunia berikut.

Bukan Ronaldo kalau dia menyerah dari persaingan. Dia membuat langkah kontroversial sebelum berangkat ke Piala Dunia. Dia melakukan wawancara dengan jurnalis Inggris Piers Morgan dan sengaja melanggar aturan terlarang bagi pemain Manchester United (MU), yaitu mengritik klub dan pelatih secara terbuka.

BACA JUGA: Anies dan Da Silva

Ronaldo melanggar tabu haram itu. Ia tidak peduli. Ia mengritik keras Erik Ten Hag yang dianggapnya tidak memberinya respek yang cukup. Ia mengritik keluarga Glazer sebagai pemilik klub. Ia mengritik fasilitas klub. Pokoknya, tidak ada yang luput dari kritik Ronaldo.

Ronaldo cari gara-gara. Dia tahu konsekuensi yang dihadapinya dengan melanggar tabu itu, ia harus siap menerima pemecatan. Dan itulah yang terjadi. Hanya beberapa hari setelah wawancara itu menjadi viral di seluruh dunia, MU memecatnya. Sebuah akhir yang tragis.

Ronaldo datang sebagai bintang yang membawa era keemasan bagi MU di bawah pelatih Sir Alex Ferguson. Ronaldo menjadi bagian sangat penting bagi rekor MU sebagai juara Liga Inggris 20 kali. Ronaldo juga menjadi bagian penting bagi MU ketika memenangkan treble winner–Liga Inggris, Piala Liga, dan Liga Champions—pada 1999. Ronaldo sudah memenangi Ballon d’Or 5 kali dan membawa Portugal menjadi juara Eropa. Tetapi, akhirnya Ronaldo harus diusir dari klub yang membesarkan namanya.

Ronaldo datang ke Piala Dunia sebagai pemain pengangguran yang tidak punya klub. Ia seperti gelandangan. Mantan temannya di MU, Bruno Fernandes menghindarinya selama latihan bersama timnas Portugal di Piala Dunia.

BACA JUGA: Republika

Selama keikutsertaannya di Piala Dunia Qatar Ronaldo hanya mencetak satu gol, itu pun melalui penalti. Meski begitu, Ronaldo tetap mencatat rekor. Ia menjadi satu-satunya pemain yang mencetak gol di lima Piala Dunia. Rekor tetaplah rekor, apapun itu.

Selama Piala Dunia Ronaldo sudah tidak menjadi pilihan utama pelatih Fernando Santos. Ronaldo harus menjadi cadangan untuk memberi kesempatan kepada bintang muda yang lebih segar seperti Goncalo Ramos. Ketika Portugal disingkirkan oleh Maroko di babak perdelapan final, Ronaldo menjadi pemain cadangan. Ia meninggalkan lapangan sambil menangis. Ia bahkan tidak mau bersalaman dengan pemain lawan maupun dengan kawan-kawannya sendiri.

Layar telah diturunkan, dan panggung Ronaldo sudah redup. Itulah komentar hampir semua orang. Ronaldo harus segera mencari klub baru setelah Piala Dunia kalau tidak mau menjadi pengangguran. Ronaldo ingin bermain di klub yang berkompetisi di Liga Champions. Tetapi, tidak ada tawaran yang datang. Banyak klub top Eropa yang menolaknya karena dia dianggap sebagai pengganggu.

Ronaldo punya ide lain. Ia menolak menyerah, dan tetap bertekad merebut perhatian dunia untuknya. Diam-diam, ia berunding dengan klub Al-Nassr dari Arab Saudi. Ketika berita itu mulai bocor banyak orang mencibir dan menertawakannya. Semua komentator mengerutkan dahi dan heran melihat langkah Ronaldo.

BACA JUGA: Raja Kodok

Akhirnya, pekan ini Ronaldo menandatangani kontrak dengan Al-Nassr. Para pundit sepak bola Inggris menanggapinya dengan sinis. Tidak ada satu pun pengamat sepak bola yang menanggapi transfer itu secara positif. Suporter MU meneriakkan chanting tidak peduli kepada Ronaldo. ‘’I don’t care about Ronnie. Ronnie don’t cara about me. All I care about is MUFC’’ (Aku tidak peduli kepada Ronnie. Ronnie tidak peduli kepadaku. Yang kupedulikan hanyalah MUFC’’.

Bukan itu saja. Chant ‘’Viva Ronaldo’’ yang biasanya menggema di Old Trafford setiap kali MU berlaga sudah diganti dengan chant baru ‘’Viva Garnacho’’. Para suporter rupanya sudah move on melupakan Ronaldo dan menggantinya dengan idola baru Alejandro Garnacho, yang digadang-gadang untuk menjadi pengganti Ronaldo.

Sepak bola Eropa boleh melupakan Ronaldo. Untuk kali pertama dalam 20 tahun terakhir Ronaldo bermain untuk klub diluar Eropa. Dengan bermain untuk Al-Nassr Ronaldo dianggap sudah pensiun dan telah menghilang dari panggung sepak bola internasional.

Tunggu dulu. Di Arab Saudi, Ronaldo hadir dengan sambutan yang gegap gempita. Ia dihormati bak raja dan digaji seperti raja. Ketika diperkenalkan kepada suporter Al-Nassr Senin (2/1) Ronaldo seolah menjadi superstar yang terlahir kembali.

Mata sepak bola dunia, mau tidak mau, kembali menyorot Ronaldo. Lionel Messi sudah kembali berlatih bersama klubnya Paris Saint Germain (PSG). Berita mengenai Messi sudah selesai, dan kehadirannya berlatih kembali bersama Kylian Mbappe—yang menjadi seterunya di final Piala Dunia—mendapat liputan yang biasa-biasa saja.

BACA JUGA: Annus Horribillis

Messi nyaris tidak menjadi berita. Apalagi bersamaan dengan itu legenda sepak bola Brazil, Pele, meninggal dunia pada usia 82 tahun. Perhatian sepak bola dunia semuanya beralih kepada Pele. Semua memberi tribute dan penghormatan terhadap Pele. Messi dan tropi Piala Dunia-nya sudah tidak menjadi daya tarik publik sepak bola dunia.

Sekarang, semua mata tertuju kepada Ronaldo. Apa yang kamu cari Ronaldo? Uang? Kekayaan atau kejayaan?

Uang sudah pasti menjadi incaran Ronaldo. Itulah sebabnya ia pindah ke Arab Saudi. Ia dikontrak 2,5 tahun sampai usia 40 tahun, dan menerima USD 200 juta pertahun atau sekitar Rp 3,3 triliun. Dengan jumlah itu Ronaldo memecahkan rekor sebagai atlet dengan bayaran tertinggi dunia.

Transfer Ronaldo ke Al-Nassr langsung membawa berkah besar. Follower Instagram klub langsung melonjak menjadi 9 juta pengikut, sebuah lonjakan yang luar biasa besar yang bisa disejajarkan dengan klub-klub besar Eropa. Ronalado akan menjadi pusat perhatian setiap kali bertanding. Dia juga akan terus dipantau aktivitas pribadinya maupun keterlibatannya bersama klub setiap hari.

BACA JUGA: King Pele

Liga Arab Saudi yang semula tidak dikenal sekarang akan menjadi perhatian setiap minggu. Anggaran USD 200 juta pertahun untuk mengontrak Ronaldo akan kembali dalam waktu singkat. Kehadiran Ronaldo akan memuluskan target Arab Saudi untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2030.

Seusai kontrak dengan Al-Nassr Ronaldo hampir pasti akan menjadi duta sepak bola Arab Saudi yang digaji sangat mahal. Sekarang, selain gaji besar Ronaldo mendapat fasilitas super mewah seperti 5 mobil dan sebuah istana. Tidak ada klub yang bisa membayar Ronaldo sebesar itu.

Qatar mencuri perhatian dunia internasional dengan sukses menyelenggarakan Piala Dunia. Kali ini giliran Arab Saudi yang akan menjadi perhatian publik sepak bola internasional. Dan, Ronaldo berada pada episentrum perhatian itu. (*)

Editor: DAD

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.