Mega for President

waktu baca 6 menit
Foto: Dokumentasi PDI-P

KEMPALAN: Ulang tahuk ke-50 Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Selasa (10/1) bakal ada kejutan besar. Begitu kata Sekjen Hasto Kristiyanto. Ketua Umum Megawati Soekarnoputri biasanya suka membuat kejutan di saat ulang tahun partai.

Publik kepo dan penasaran, kejutan apa yang akan muncul. Banyak yang menduga bahwa Mega akan mengumumkan calon presiden dari PDIP. Sebagai the winning party (partai pemenang) dan sekaligus the ruling party (partai yang berkuasa) langkah PDIP ditunggu dan diantisipasi oleh kawan dan lawan.

Ternyata kejutan itu belum muncul. Rupanya Mega masih perlu waktu untuk menimbang-nimbang lagi sebelum membuat keputusan final. Nama-nama favorit yang muncul tidak akan jauh dari Ganjar Pranowo dan Puan Maharani. Dua nama itu bersaing di internal PDIP sampai memecah partai menjadi dua kelompok yang berseberangan, baik diam-diam maupun terang-terangan. Untuk sementara, PDIP masih tetap menjagokan Puan Maharani. Tapi, di sisi lain Ganjar Pranowo terus menyeruduk dan secara konsisten menempati posisi tinggi di berbagai survei.

Megawati menjadi pemegang utama golden ticket untuk menentukan siapa yang bakal diusung PDIP sebagai calon presiden. Dilema buah simalakama dihadapi Mega dalam beberapa tahun terakhir. Nalurinya sebagai ibu menginginkan Puan sang putri mahkota sebagai penerus dinasti trah keluarga Sukarno. Tetapi, naluri politiknya memaksanya untuk bertindak rasional dan realistis dengan memilih Ganjar Pranowo.

BACA JUGA: Anwar Ibrahim

Di tengah kegalauan yang rumit itu tiba-tiba muncul wacana untuk mengajukan Megawati sebagai calon presiden. Wacana itu menggelinding beberapa hari terakhir dan mendapat respons beragam dari banyak kalangan. Pendukung gagasan itu menganggap wacana itu wajar karena bagaimanapun Mega mempunyai hak demokratis sebagai warga negara untuk dicalonkan sebagai presiden. Bagi yang tidak mendukung, gagasan itu dianggap sebagai kemunduran dan keputusasaan.

Ada cerita mengenai monyet menimbang roti yang sering diceritakan di kelas taman kanak-kanak. Alkisah, seekor monyet menimbang sepotong roti untuk dibagi rata kepada dua temannya. Si monyet membelah roti menadi dua potong dan meletakkannya di sebuah timbangan.

Ketika timbangan miring ke kiri, dia gigit roti di sebelah kiri. Ternyata timbangan menjadi miring ke kanan. Si monyet pun menggigit roti di sebelah kanan. Ternyata sekarang timbangan miring ke kiri, si monyet pun menggigit roti di sebelah kiri. Begitu terus-menerus sampai akhirnya timbangan menjadi berimbang, tapi roti menjadi habis karena dimakan si monyet.

Tentu pertimbangan politik yang dilakukan oleh Megawati tidak sama dengan cara menimbang roti ala sang monyet. Tetapi, dalam beberapa hal ada kemiripan. Dua potong roti itu ibarat Ganjar dan Puan yang tidak berimbang. Setiap kali ditimbang, selalu ada yang lebih berat dan ada yang lebih ringan. Karena tidak kunjung dicapai keseimbangan akhirnya roti habis dimakan sang monyet.

Memilih Mega sebagai calon presiden, mungkin, bisa menjadi solusi bagi dilema yang dihadapi oleh PDIP. Persoalan persaingan Puan vs Ganjar akan selesai–dan tidak akan ada pihak yang berani menentang–setidaknya secara terbuka. Tapi, di sisi lain, keputusan pencalonan Mega bisa dianggap sebagai indikasi ‘’political desperation’’ atau keputusasaan politik.

Mega sudah punya pengalaman menjadi presiden menggantikan Gus Dur pada 2002. Mega tercatat sebagai presiden perempuan pertama di Indonesia. Hal ini sering disebut sebagai indikator kemajuan demokrasi di Indonesia. Di negara yang demokrasinya sudah matang, seperti Amerika Serikat, sampai sekarang belum pernah mempunyai presiden perempuan.

BACA JUGA: Reshuffle dan Impeachment

Jabatan politik tertinggi yang pernah dicapai oleh perempuan Amerika Serikat adalah posisi wakil presiden yang sekarang diduduki oleh Kamala Harris. Selama 200 tahun lebih kemerdekaan Amerika belum pernah ada presiden perempuan. Sepanjang sejarah Amerika Serikat baru ada satu calon presiden perempuan, yaitu Hillary Clinton pada pemilu 2015. Sayang, Clinton kalah dari Donald Trump.

Megawati menjadi presiden tidak melalui pemilihan langsung. Ketika Mega maju sebagai calon presiden bersama Prabowo Subianto pada 2004 Mega kalah dari Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang berpasangan dengan Jusuf Kalla. Kendati tidak jangkap ketika menjabat sebagai presiden, capaian Megawati tetap menjadi catatan positif bagi prestasi demokrasi Indonesia.

Salah satu faktor yang dianggap menjadi kendala bagi Mega untuk maju sebagai calon presiden pada pemilu 2024 adalah usianya yang memasuki 75 tahun. Ini berarti Mega akan berusia 77 tahun pada 2024. Untuk ukuran Indonesia usia ini dianggap terlalu sepuh. Sebagai perbandingan, Prabowo yang sudah resmi dicalonkan oleh Partai Gerindra sebagai presiden akan berusia 71 tahun yang berarti akan berusia 73 tahun pada 2024.

Di Indonesia usia kepala 7 sudah dianggap sebagai usia uzur yang sudah saatnya pensiun. Tapi, kalau dibandingkan dengan fenomena di beberapa negara lain usia sepuh tidak menjadi halangan untuk maju dalam kontestasi politik.

Di Amerika Presiden Joe Biden berusia 81 tahun. Jika Biden masih akan maju untuk periode kedua pada pemilu Amerika Serikat 2024 usianya akan mencapai 83 tahun. Donald Trump yang sudah mendeklarasikan diri untuk maju lagi dalam pemilu presiden 2024 sekarang berusia 76 tahun, dan akan menjadi 78 tahun pada 2024.

Kalau Biden akan maju lagi dan bersaing kembali melawan Trump dalam partai balas dendam, maka pemilu Amerika bisa disebut sebagai pemilu gerontologi, persaingan antara kakek-kakek. Kalau saja pemilu Indonesia akan diikuti oleh Megawati dan Prabowo yang sama-sama berusia kepala 7 maka pemilu Indonesia juga akan menjadi pemilu gerontologi.

BACA JUGA: Sipon

Di Amerika pemilu hanya akan diikuti oleh dua pasangan saja mewakili Partai Demokrat dan Partai Republik. Di Indonesia kemungkinan pemilu presiden akan diikuti oleh sedikitnya 3 pasangan. Ada kemungkinan Megawati dan Prabowo akan disaingi oleh Anies Baswedan yang masih berusia 55 tahun pada 2024 mendatang.

Para pendukung gagasan ‘’Mega for President’’ menjadikan Amerika sebagai contoh bagaimana pemimpin sepuh masih bisa bersaing untuk memperebutkan posisi tertinggi di pemerintahan. Malaysia juga mempunyai pengalaman dengan pemimpin sepuh, ketika Mahathir Muhammad kembali menjadi perdana menteri pada 2019 dalam usia 95 tahun. Mega dan Prabowo masih termasuk ABG (anak baru gede) jika dibandingkan dengan usia Mahathir.

Tentu saja Amerika, Indonesia, dan Malaysia punya sistem politik masing-masing. Di Amerika seorang calon presiden harus mengikuti konvensi di seluruh negara bagian sebelum memenangkan tiket pencalonan dari partainya. Seorang petahana seperti Joe Biden pun harus ikut konvensi untuk mendapatkan tiket pencalonan dari partai.

Proses konvensi sangat keras, ketat, dan berat, karena harus bersaing dengan kandidat lain. Konvensi juga memakan waktu berbulan-bulan dan menelan biaya politik yang sangat besar. Kalau tidak mendapat sokongan dana dari pendonor, seorang calon akan rontok di tengah jalan. Seorang calon yang memenangkan konvensi sudah teruji kemampuan dan kualitasnya.

BACA JUGA: Ronaldo

Di Indonesia seorang calon presiden mendapatkan tiket pencalonan melalui penunjukan langsung. Tidak ada proses konvensi yang dilalui, sehingga kualitasnya tidak bisa diuji oleh publik. Anies Baswedan yang dicalonkan oleh Partai Nasdem diuji melalui rekam jejaknya selama menjadi gubernur DKI. Prabowo Subianto diuji melalui rekam jejaknya selama menjadi menteri pertahanan. Megawati sudah hampir 20 tahun pensiun dari jabatan publik, sehingga kemampuan kepemimpinannya tidak bisa diuji langsung.

Memilih Mega sebagai calon presiden adalah hak preogratif yang tiketnya dikantongi sendiri oleh Megawati. Publik masih menunggu akankah segera ada kejutan, atau masih butuh waktu untuk ditimbang-timbang lagi.

Waktu sudah semakin sempit. PDIP berburu dengan waktu. Jangan sampai terlalu banyak menimbang, akhirnya roti habis karena dimakan sang monyet. (*)

Editor: DAD

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *