Anwar Ibrahim

waktu baca 6 menit
Presiden Jokowi dan PM Malaysia Anwar Ibrahim melakukan sesi foto bersama di Ruang Teratai, Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Senin (09/01/2023) pagi. (Foto: Humas Setkab/Rahmat)

KEMPALAN: DALAM politik, tidak ada kawan abadi dan tidak ada musuh abadi, yang ada hanya kepentingan abadi. Adagium itu menggambarkan karir politik dalam hidup Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim. Adagium itu juga menggambarkan hubungan politik antara Indonesia dengan Malaysia dalam setengah abad terakhir.

Anwar Ibrahim dilantik sebagai perdana menteri November 2022. Dia kemudian melakukan konsolidasi internal untuk menyusun kabinet yang ramping dan afektif. Anwar merangkap jabatan sebagai perdana menteri dan menteri keuangan. Meskipun jabatannya rangkap, tapi Anwar menegaskan tidak akan menerima gaji dari dua jabatannya.

Anwar juga mendorong timnya untuk menunjukkan keprihatinan dengan tidak bermewah-mewah dalam kehidupan keseharian. Anwar memberi contoh dengan tidak memakai mobil mewah sebagai kendaraan dinas maupun pribadi.

Setelah menata kabinet, Anwar mulai melakukan lawatan ke luar negeri, dan Indonesia menjadi tujuan pertama. Senin (9/1) sampai Selasa (10/1) Anwar berkunjung ke Indonesia, bertemu dengan Presiden Joko Widodo dan sejumlah menteri.

Berbagai persoalan bilateral diperbincangkan. Salah satu yang menjadi fokus adalah investasi Malaysia di proyek IKN (Ibu Kota Nusantara). Sejumlah kesepakatan investasi sudah dicapai antara kedua negara untuk berpartisipasi dalam pembangunan IKN.

BACA JUGA: Reshuffle dan Impeachment

Di Malaysia, terpilihnya Anwar Ibrahim sebagai perdana menteri dirayakan sebagai kebangkitan politik Islam. Anwar dilantik menjadi perdana menteri oleh Yang Dipertuan Agung Raja Malaysia, untuk mengakhiri krisis politk karena pemilihan raya tidak bisa menghasilkan pemenang mayoritas yang berhak membentuk pemerintahan dan mengangkat perdana menteri.

Karir politik Anwar Ibrahim diwarnai dengan hubungan yang pernuh turbulensi dengan Mahathir Muhammad. Ia menjadi kader Mahathir Muhammad, perdana menteri yang berkuasa selama 22 tahun. Tapi, keduanya berpisah jalan pada 1998 dan menjadi musuh bebuyutan. Mahathir memenjarakan Anwar atas tuduhan korupsi dan sodomi dan memenjarakannya belasan tahun.

Anwar Ibrahim mengawali karir politik sebagai pemimpin gerakan mahasiswa di Universitas Malaya pada akhir dekade 60-an. Tak lama kemudian, pada 1971, ia mendirikan Gerakan Pemuda Muslim Malaysia (ABIM) dan menjabat sebagai presiden ABIM hingga 1982.

Meski sering mengkritik kebijakan pemerintah Barisan Nasional-UMNO, Anwar akhirnya menerima tawaran Mahathir Mohamad untuk bergabung dengan UMNO dan pemerintah. Karier Anwar menanjak dengan cepat. Ia menjadi Menteri Pemuda, Olahraga, dan Kebudayaan (1983), Menteri Pertanian (1984), Menteri Pendidikan (1986-1991), dan diangkat menjadi Menteri Keuangan (1991-1998), dan Wakil Perdana Menteri (1993 -1998).

BACA JUGA: Sipon

Malaysia berkembang di bawah kepemimpinannya dengan surplus anggaran selama beberapa tahun. Malaysia juga menikmati era kemakmuran dan pertumbuhan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Saat Malaysia dilanda krisis finansial Asia pada 1997-1998, Anwar yang saat itu menjabat di Kementerian Keuangan merumuskan pendekatan ekonomi dan menolak talangan bantuan pemerintah untuk menyelamatkan perusahaan-perusahaan yang dilanda krisis finansial. Langkah itu membuahkan hasil dan memperbaiki situasi ekonomi di negara itu.

Namun tindakannya ini tidak mendapat sambutan hangat dari Mahathir Mohamad dan sekutunya. Anwar dicopot dari pemerintahan dan partai (UMNO) pada 2 September 1998 dan dipenjara pada 1999.

Persidangan dan penahanannya mengundang kecaman internasional yang mencirikan dakwaannya bermotif politik. Ia dibebaskan pada 2004 ketika Pengadilan Tinggi memutuskan bahwa bukti yang digunakan untuk menghukumnya tidak cukup kuat.

Ia dituduh telah melakukan sodomi oleh seorang pembantu laki-laki, tetapi Anwar mengelak tuduhan itu dan mengatakan bahwa tuduhan tersebut bertujuan untuk mencopotnya dari jabatan pemimpin oposisi. Kemudian, Anwar dibebaskan sepenuhnya 2012 oleh Pengadilan Tinggi.

Pada September 2018, Anwar kembali ke parlemen ketika memenangkan pemilihan sela di Port Dickson, Negeri Sembilan, dengan suara mayoritas. Saat mengepalai Kaukus Reformasi dan Tata Pemerintahan di Parlemen, Anwar berjanji akan mengangkat Parlemen sebagai institusi yang berperan sebagai penyeimbang yang efektif dan tidak korup dalam upaya memperbaiki dan menciptakan sistem baru bagi negara

Anwar dianggap sebagai simbol kebangkitan Islam politik di Malaysia. Anwar Ibrahim mewakili genre politisi Islam yang berpandangan moderat dan global, dan memengaruhi pemikiran politik sejawatnya di Indonesia.

BACA JUGA: Ronaldo

Pengangkatan Anwar dirayakan sebagai kebangkitan Asia. Ia seorang politisi cum intelektual jempolan dan ahli keuangan. Ia menulis buku ‘’Rennaissance Asia’’ pada 1996 dan menjadi cetak biru bagi strategi politiknya dalam membangun Malaysia.

Anwar yakin renaissance Asia, kebangkitan peradaban Asia, akan muncul melalui dialog dengan peradaban Barat. Anwar melihat bahwa Islam moderat yang berkembang di Malaysia dan Indonesia, punya potensi besar untuk menjadi mesin kebangkitan Asia.

Islamisasi secara damai dan perlahan ini membentuk ciri muslim Asia Tenggara yang kosmopolit, berwawasan luas, toleran, dan dapat menerima perbedaan budaya. Pandangan ini juga dipengaruhi oleh keberadaan orang non-muslim yang membalas sikap toleran orang Islam.

Hampir tanpa kecuali, bangsa muslim pernah dijajah. Banyak yang belum pulih dari trauma tersebut. Ini tercermin dari sikap ekstrem terhadap Barat. Ada sejumlah orang yang menyalahkan Barat atas kegagalan yang mereka alami.

Pada sisi ekstrem lain adalah kelompok elite yang terkagum-kagum dan silau atas kebudayaan Barat sebagai simbol modernitas. Modernisasi di berbagai daerah bekas jajahan tidak bisa dibedakan dengan westernisasi. Mengadopsi gaya hidup Barat lebih menonjol ketimbang mengambil spirit kemajuan Barat dengan mempelajari sains dan ilmu pengetahuan dari mereka.

BACA JUGA: Anies dan Da Silva

Anwar Ibrahim merumuskan Renaisan Asia dengan mengambil jalan tengah di antara dua ekstrem. Prinsip tawasuth atau moderasi dia terapkan sebagai strategi perjuangan. Spirit kemajuan Barat diambil dan diterapkan, tetapi gaya hidup ala western yang tidak sesuai dengan nilai timur ditanggalkan.

Dalam prioritas Anwar pembangunan umat dikonsentrasikan pada tugas untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan menghapuskan kemiskinan ketimbang memotong tangan pencuri. Mereka lebih suka meningkatkan kesejahteraan wanita dan anak-anak di antara mereka ketimbang menghabiskan waktu mendefinisikan negara Islam yang ideal.

Ekstremisme ditolak. Tapi toleransi juga tidak hanya bisa dipaksakan datang dari satu pihak. Harus ada timbal balik. Sebuah komunitas yang plural dan multi-agama terus-menerus hidup dalam ancaman kecuali jika keadilan sosial bisa dicapai.

Indonesia dan Malaysia mempunyai problem yang kurang lebih sama. Umat Islam yang menjadi mayoritas di kedua negara akan menjadi kekuatan utama dalam membangun keadilan sosial.

Di masa lalu hubungan kedua negara tidak selalu harmonis. Pada dekade 1960-an Indonesia sebagai negara dengan penduduk 10 kali lipat Malaysia seolah menjadi tukang bully bagi Malaysia. Kedua negara bahkan nyaris terlibat perang terbuka karena perebutan wilayah di Kalimantan. Konfrontasi dua negara tetangga berlangsung panas, dan jargon ‘’Ganyang Malaysia’’ membuat negeri jiran keder.

BACA JUGA: Republika

Hubungan kedua negara menjadi mesra di era 1970-an setelah Soeharto menjadi presiden. Prioritas pembangunan ekonomi yang diambil Soeharto membuat Indonesia tidak lagi menjadi tukang bully.

Malaysia berkembang dengan cepat. Pada 1970-an orang Indonesia dikirim ke Malaysia sebagai guru. Sekarang orang Indonesia datang ke Malaysia sebagai wisatawan atau TKI.

Sekarang Anwar Ibrahim datang ke Jakarta sebagai investor. Dua negara ini akan menjadi motor penting dalam kebangkitan Asia, jika sama-sama mampu menciptakan keadilan sosial yang merata.

Anwar Ibrahim sudah membuat peta jalan menuju kesana dan berkomitmen untuk mencapainya. Indonesia harus melakukan hal yang sama kalau tidak mau (semakin) ketinggalan dari Malaysia. (*)

Editor: DAD

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *