“Jokowi, Kasihan, dah…”

waktu baca 5 menit
Foto: dok.PDI-P

KEMPALAN: KETUA Umum PDIP Megawati Soekarnoputri menjadi sasaran kritik karena dianggap merendahkan Presiden Joko Widodo di depan kader-kader PDIP pada acara ulang tahun ke-50 PDIP (10/1)

Mega dinilai merendahkan Jokowi dengan ungkapan “Kasihan, dah”. Pernyataan Mega tidak lengkap dan terputus-putus. Ia kemudian melanjutkan dengan ungkapan “legal-formal”. Yang dimaksud Mega adalah tanpa dukungan legal-formal dari PDIP Jokowi tidak akan menjadi presiden RI dua periode seperti sekarang.

Kalau ungkapan Mega ditarik jauh ke belakang bisa diartikan bahwa tanpa PDIP Jokowi tidak akan bisa menjadi walikota Solo dua periode. Tanpa PDIP Jokowi tidak bakal bisa menjadi gubernur DKI. Tanpa PDIP Jokowi tidak bakal menjadi presiden RI.

Ringkasnya, tanpa PDIP Jokowi tetap akan menjadi tukang mebel. Mungkin itu yang dimaksud Mega dengan ungkapan “Kasihan, dah..”

Banyak kalangan yang menyayangkan ungkapan Mega ini kepada Jokowi dan menganggapnya sebagai upaya mendegradasikan wibawa Jokowi sebagai Presiden RI.

BACA JUGA: Pembangkangan Sipil

Banyak warganet yang mengritik Mega dengan ungkapan itu. Relawan Jokowi juga mengecam pernyataan itu dan menganggapnya tidak pantas diucapkan oleh seorang ketua umum parpol terbesar di Indonesia.

Ini bukan kali pertama Mega dianggap merendahkan wibawa Jokowi. Beberapa waktu yang lalu dalam acara PDIP di Lenteng Agung beredar foto Jokowi menghadap Mega di sebuah ruangan. Mega duduk di kursi besar dengan sebuah meja di depannya. Di seberangnya terlihat Jokowi duduk di kursi menghadap Mega. Posisi Jokowi terlihat seperti bawahan yang sedang menghadap atasan.

Momen itu menjadi makin dramatis karena diabadikan oleh Puan Maharani melalui aksi swafoto. Puan berswafoto dan mengambil video dengan latar belakang Jokowi yang sedang menghadap sang ibunda. Puan malah sempat meminta Jokowi untuk melambaikan tangan.

Momen itu menegaskan bahwa Jokowi sedang menghadap ketua partai yang mempunyai otoritas mutlak atas nasib politiknya. Mega memainkan jurus semiotika politik yang tajam dan ingin menunjukkan kepada publik “who is the boss”, siapa yang sebenarnya menjadi bos.

BACA JUGA: Mega-Anwar

Sejak awal Megawati menempatkan Jokowi sebagai subordinatnya. Ketika Mega mengumumkan kandidasi Jokowi sebagai calon presiden pada pilpres 2014 Mega menyebut Jokowi sebagai petugas partai.

Bahkan ketika itu Mega menyebut Jokowi sebagai “si kerempeng”, merujuk pada badan Jokowi yang kurus. Sejak itu istilah petugas partai menjadi kosa kata yang sering disebut dalam berbagai perbincangan politik.

Istilah petugas partai tidak hanya melekat pada Jokowi tetapi juga kepada siapa pun kader PDIP yang memegang jabatan publik. Ketika Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dianggap banyak bermanuver untuk memupuk popularitas menjelang pilpres 2024 ia juga diingatkan akan posisinya sebagai petugas partai.

Ganjar juga menjadi korban aksi pendegradasian oleh Megawati. Dalam acara ulang tahun itu Mega sama sekali tidak menyebut nama Ganjar Pranowo atau memperkenalkannya. Mega malah memperkenalkan dan menyebut cucu-cucunya, anak Puan Maharani, yang didatangkan ke acara itu dan duduk di deretan kursi VVIP paling depan, sederetan dengan kursi Jokowi dan Wapres Ma’ruf Amin.

BACA JUGA: Mega for President

Ganjar tidak ada di deretan kursi VVIP. Ia berada pada deretan kursi undangan bersama kader PDIP lainnya. Ganjar terlihat terjepit berhimpitan dengan undangan lainnya. Semiotika politik itu bisa diinterpretasikan bahwa di mata Megawati Ganjar bukan siapa-siapa. Keberadaannya dianggap tidak ada, dan karena itu namanya sama sekali tidak di-mention.

Ganjar kalah dari cucu Mega yang secara khusus diperkenalkan kepada semua kader PDIP. Perkenalan itu sekaligus menjadi isyarat kepada publik bahwa Mega sudah menyiapkan dinasti politik generasi ketiga untuk melanjutkan trah Sukarno.

Penampilan cucu Megawati ini juga menjadi isyarat bahwa Mega benar-benar konsen terhadap keberlanjutan trah Sukarno dalam kepemipinan politik PDIP dan kepemimpinan nasional.

Mega ingin melempar kode keras bahwa keberlanjutan trah Sukarno menjadi perhatian utamanya. Karena itu ia mempersiapkan Puan Maharani sebagai putri mahkota dan calon presiden pilihan ibunda. Karena itu pula tidak ada kejutan yang berhubungan dengan pengumuman bakal calon presiden yang banyak ditunggu publik.

Banyak yang mengantisipasi kejutan pada ultah PDIP itu. Sekjen Hasto Kristiyanto sudah memberikan pemanasan dengan mengungkapkan akan ada kejutan dari Megawati. Ternyata kejutannya adalah tidak ada kejutan apapun. Mega mengakhiri spekulasi pengumuman calon presiden dengan ungkapan yang khas, “Itu urusan gue”.

BACA JUGA: Anwar Ibrahim

Meski begitu tidak berarti spekulasi berhenti. Alih-alih malah semakin kencang. Mega menunda pengumuman capres karena elektabilitas Puan yang masih mandek di urutan buncit dalam berbagai survei. Di sisi lain elektabilitas Ganjar semakin moncer dalam setiap survei.

Bisa jadi Mega akan menghadapi situasi fait accompli karena tidak punya pilihan lain kecuali menyerah kepada realitas politik dan menyerahkan tiket kepada Ganjar Pranowo.

Situasinya akan menjadi deja vu bagi Mega sebagaimana yang dialaminya pada 2014. Ketika itu Mega tidak mempunyai pilihan lain kecuali menyerahkan golden ticket kepada Jokowi.

Ketika itu kudeta senyap ala Jokowi berhasil mencuri golden ticket calon presden dari Mega. Diam-diam Jokowi terus memupuk elektabilitas dengan berbagai manuver pencitraan yang canggih. Tanpa terasa akhirnya Mega harus menyerah kepada gerakan creeping coup, kudeta merangkak, oleh Jokowi.

Kali ini strategi yang sama akan dipakai oleh Ganjar. Creeping cou sedang berlangsung sampai akhirnya membuat Mega tidak punya pilihan lain kecuali menyerahkan golden ticket kepada Ganjar Pranowo.

BACA JUGA: Reshuffle dan Impeachment

Kemungkinan ritualnya akan sama dengan yang dialami oleh Jokowi. Ganjar akan mengalami perploncoan seperti yang dialami Jokowi. Ganjar akan diberi tiket dan diingatkan bahwa dia adalah petugas partai.

Kejutan itu tidak akan mengejutkan. Mega harus menyerah kepada realitas politik kalau tidak mau melakukan political suicide, bunuh diri politik, dengan memaksa menyerahkan golden ticket kepada Puan Maharani.

Realitas politik memang kejam. Mungkin nanti Jokowi ganti bergumam dalam hati, “Bu Mega, kasihan, dah..” (*)

Editor: DAD

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *