“Tidak. Ini bukan kuliah. Tidak perlu bayar uang kuliah,” jawabnya.
Selama mengambil program spesialisasi sahabat Disway tersebut justru digaji. Sama dengan gajinya sebagai dokter umum. “Cukuplah untuk hidup sehari-hari. Masih ada sisa kalau misalnya mama di Indonesia minta dibelikan sesuatu,” ujarnya.
Hak libur dan istirahat pun diberikan sangat cukup. “Kami ada cuti dan libur. Liburnya lebih banyak agar bisa belajar sendiri,” ujarnya.
Kalau pun untuk tambahan belajar itu harus kursus, biaya kursusnya bisa diganti. Termasuk kalau harus ada biaya pindah tempat tinggal.
Topik ini tentu menggiurkan di tengah isu mahalnya biaya menjadi dokter spesialis di Indonesia. Status ”mahasiswa spesialis” membuat calon spesialis masih harus membayar uang kuliah. Padahal ia/dia sudah kehilangan pendapatan: tidak bisa lagi buka warung –istilah buka praktik di kalangan dokter umum.
Status mahasiswa itu pula yang membuat calon spesialis masih terikat di universitas. Padahal universitas bukan mesin uang. Universitas justru perlu uang. Pasti tidak bisa membayar. Justru harus mengenakan uang kuliah.
Beda dengan rumah sakit: mesin uang. Ia perlu dokter ahli. Ia bisa menggaji.
Persoalannya tinggal siapa yang mengeluarkan ijazah spesialis.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi