Johan
Tahun pertama tugas Lutfiya adalah mempelajari bahasa Mandarin. Harus lulus dulu sebelum melangkah ke materi kuliah yang dia ambil. Semoga sukses. Pastikan juga naik pesawat yang tepat. Air China, jangan China Airlines. Nanti terbang ke Taiwan. Turun pesawat di bandara Taoyuan dia bilang ke sopir taksi mau ke Tsinghua, diantar ke Universitas Tsinghua di Hsinchu. Wkwkwk
Liam Then
Gubernur yang kok takut wakilnua nyalon? Tak percaya diri, jadi pecah kongsi. Ini bukan contoh pemimpin yang baik. Di dapuk untuk pimpin masyarakat dengan visi masa depan yang lebih baik, malah ributan dengan wakil gegara tak mau bagi wewenang. Tapi lebih baik prasangka baik saja, Gubernur yang borong wewenang, sampai wakil nya merasa tak kebagian, itu bisa jadi karena Gubernurnya maniak kerja, apa-apa semuanya dia. Atau Gubernur orangnya perhatian, takut wakilnya kecapekan, jadi tak di kasih kerjaan.
Pryadi Satriana
Menurut saya, ada bbrp ‘kebijakan pendidikan’ yang SANGAT SALAH. Pertama, ‘kebijakan’ – walaupun atas permintaan – mengirim ‘guru2 terbaik kita’ di sekitar th. 70-an dst. Kesalahan dimulai dari situ: ‘anak tetangga diurus dg baik’, tapi anak sendiri ‘gak kopen’! Kedua, penerapan ‘zonasi’ dalam Penerimaan Siswa Baru (PSB). Maksudnya pemerataan kualitas pandidikan, yg terjadi ‘pemerataan kualitas pendidikan yg rendah di hampir seluruh sekolah negeri’! (Fakta: sekolah2/pesantren2 yg memberlakukan seleksi masuk ketat yg berjaya!). Ketiga, penghapusan Ujian Nasional! (Fakta: Tiongkok – yg sangat ketat dlm standard UN – melesat jauh di bidang pendidikan, teknologi & ekonomi pun otomatis mengikuti!). Keempat, Mendikbud yg TIDAK memahami masalah2 pendidikan di Indonesia & penanganannya. Nadiem berorientasi ke negara2 Barat, yg sistemnya sudah mapan & kemampuan SDM-nya relatif merata. Kita tidak begitu! Kebijakan ‘zonasi’ & ‘penghapusan UN’ didasarkan pada dua hal tadi, yg di Indonesia masih amburadul! Demikian menurut saya. Salam. Rahayu.
Mirza Mirwan
Konon, sebelum hubungan diplomatik Indonesia-Tiongkok dibekukan pada 30 Oktober 1967 dulu banyak mahasiswa Tiongkok yang kuliah di Indonesia. Cerita itu saya dengar dari dosen senior saya di paruh akhir dekade 1970-an. Padahal di Tiongkok ada Universitas Peking (Beijing) dan Tsinghua yang, dari segi usia, lebih tua ketimbang UI, ITB, dan UGM. Tetapi sejak normalisasi hubungan diplomatik pada 23 Februari 1989 keadaannya jadi terbalik. Justru banyak mahasiswa Indonesia yang kuliah di Tiongkok. Dan semakin banyak lagi sejak awal milenium ke-3. Tidak ada yang berlebihan, memang. Saya menyaksikan sendiri, di pertengahan 1980-an Tiongkok itu terkesan tertinggal jauh dari Indonesia. Tetapi sekarang beda ceritanya. Tsinghua University, tempat Luthfiya mengambil program master itu, juga Peking University, termasuk dalam Top20 universitas dunia. Versi The Times Higher Education World University Ranking, Tsinghua nangkring di peringkat 16 dunia, diikuti Peking University di peringkat 17. Sementara versi QS World University Ranking, Tsinghua di peringkat 17 diikuti Peking University di peringkat 18. Kedua universitas sohor di Tiongkok itu kampusnya berdekatan, tetapi sebenarnya Peking University jauh lebih tua ketimbang Tsinghua. Bandingkan dengan UI, ITB, UGM yang peringkatnya sekian ratus sekian. Apakah sekarang tak ada lagi mahasiswa Tiongkok yang kuliah di Indonesia? Ya, masih ada.Tetapi kebanyakan mengambil Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi