KEMPALAN: Perubahan iklim yang membuat suhu udara semakin panas kini mulai menghantam pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Bukan hanya cuaca terasa makin gerah, tetapi pendapatan usaha kecil juga ikut menurun akibat produktivitas kerja yang melemah.
Riset tim peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) yang terdiri dari Wisnu Setiadi Nugroho, Elan Satriawan, dan Esa Azali Asyahid menemukan bahwa kenaikan suhu rata-rata tahunan sebesar 1 derajat Celsius dapat menurunkan pendapatan usaha hingga 14 persen dan pendapatan per pekerja sampai 21 persen.
Hasil riset yang dirilis
theconversation.com edisi 7 Mei 2026, menunjukkan sektor informal dan usaha berbasis rumah tangga menjadi kelompok paling rentan terhadap cuaca panas ekstrem.
Sebagai ilustrasi, UMKM dengan omzet tahunan sekitar Rp 60 juta diperkirakan kehilangan pendapatan hingga di bawah Rp 52 juta ketika suhu tahunan naik sekitar 1 derajat Celsius seperti yang terjadi di DKI Jakarta sepanjang 2024.
Penurunan produktivitas itu terjadi karena suhu panas memicu kelelahan fisik atau physiological strain. Pekerja menjadi lebih lambat, lebih cepat lelah, dan lebih sering beristirahat. Selain itu, panas juga menurunkan kemampuan konsentrasi dan pengambilan keputusan sehingga meningkatkan kesalahan kerja.
Dampak tersebut paling berat dirasakan usaha yang mengandalkan tenaga fisik, seperti sektor konstruksi, manufaktur, dan usaha kecil berbasis kerja manual.
Menurut riset itu, produktivitas usaha rumah tangga di Indonesia berada pada titik optimal di suhu tahunan 25–26 derajat Celsius. Setelah melewati ambang tersebut, produktivitas mulai turun.
Masalahnya, sebagian besar UMKM tidak memiliki kemampuan finansial untuk beradaptasi menghadapi panas ekstrem. Berbeda dengan perusahaan besar yang memiliki pendingin ruangan dan infrastruktur memadai, usaha kecil umumnya bekerja di ruang sempit dengan ventilasi terbatas.
Akibatnya, pelaku usaha tetap harus bekerja dengan biaya operasional yang sama meski hasil produksi dan penjualan menurun. Kondisi ini makin berat karena sektor informal sering menjadi tempat bertahan masyarakat yang kehilangan pekerjaan akibat dampak cuaca ekstrem.
Saat ini rata-rata suhu di banyak wilayah Indonesia telah mencapai 26,6 derajat Celsius. Ancaman El Niño juga diperkirakan membuat suhu semakin panas. Di kawasan Jabodetabek, suhu maksimum harian bahkan kerap mencapai 36 derajat Celsius.
Para peneliti menilai kebijakan adaptasi iklim pemerintah selama ini masih terlalu berfokus pada sektor pertanian dan industri besar.
Padahal UMKM merupakan tulang punggung ekonomi nasional karena menyerap hampir 97 persen tenaga kerja dan menyumbang sekitar 60,5 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Karena itu, pemerintah dinilai perlu segera memasukkan isu panas ekstrem ke dalam kebijakan UMKM dan ketenagakerjaan.
Langkah yang diusulkan antara lain pemberian insentif finansial, akses teknologi pendingin yang terjangkau, pengaturan jam kerja yang lebih fleksibel terhadap suhu, hingga perlindungan sosial yang responsif terhadap dampak cuaca.
Tanpa intervensi serius, perubahan iklim dikhawatirkan menjadi faktor baru yang memperbesar ketimpangan ekonomi dan mendorong semakin banyak keluarga rentan jatuh ke jurang kemiskinan.
Melindungi UMKM dari dampak panas ekstrem, menurut para peneliti, bukan sekadar isu lingkungan, melainkan investasi penting untuk menjaga ketahanan ekonomi nasional.
Oleh:
Rokimdakas
Jurnalis Surabaya

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi