Gubernur DKI dan Sejuta Hari

waktu baca 5 menit
Foto: Dok. Humas Pemprov DKI

Saat Pj Gubernur DKI Jakarta, Heru Budi Hartono akan membuka meja aduan masyarakat, mulai Selasa, 18 Oktober 2022, pikirku: “Cari perkara ia.” Wong, Gubernur Anies Baswedan aja, ogah buka itu. Ngeri, Cing.

***

KEMPALAN: TERBUKTI. Langsung. Di hari pertama, Selasa, 18 Oktober 2022. Petugas PPSU (Penanganan Prasarana dan Sarana Umum) mengadu: Dijadikan budak oleh lurah.

Gubernur Heru Budi, saat memberi pengarahan kepada seluruh lurah dan camat se-DKI Jakarta, di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat, Selasa, 18 Oktober 2022, mengatakan begini:

“Saya nggak ingin menyebut nama lurahnya. Yang ngadu ini PPSU-nya. Lalu, saya panggil lurah ke kantor. Ngaku. Jadi lurahnya itu, bayangin saudara-saudara… yang ngurusin di rumah lurah itu, dua orang. Dan, dijadikan sopirnya, satu. Total tiga PPSU. Ya, kurang dong…”

BACA JUGA: Eliezer Doa Dulu, Lalu Tembak Mati Yosua

Hadirin, para lurah, para camat, staf walikota lima wilayah, staf Kabupaten Kepulauan Seribu, staf gubernur, semuanya, tercengang. Mikir. Mumet. Entah, apa yang dipikir.

Heru Budi, orang Jawa. Ayahnya R. Moelyoto, ibunya Suhartiyah. Heru lahir di Medan, 13 Desember 1965. Maka, kalimatnya terakhir itu ‘tembung sanepo’: “Gak kurang, ta Rek?”

Kupikir: “Jangan-lah, Gubernur Heru buka aduan warga. Berat, Gub. Di hari pertama, di jam pertama, udah begitu. Apalagi selanjutnya.”

Aduan warga DKI, pertama kali dibuka Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Setelah ia dilantik jadi Gubernur DKI Jakarta oleh Presiden RI, Joko Widodo di Istana Negara, 19 November 2014.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *