Kasus Isnaeni cuma contoh ekstrem. Ekstrem negatif. Dari ribuan aduan masyarakat yang dilayani Ahok. Sukses. Menggembirakan rakyat. “Wong cilik melu gemuyu,” kata Presiden Pertama RI, Soekarno.
Ribuan aduan warga di zaman Ahok. Bukan plintiran. Memang nyata. Sehari bisa 10 – 20 aduan. Sampai Ahok dihukum dua tahun penjara, penistaan agama, Selasa, 9 Mei 2017.
Mungkin, ada jutaan uneg-uneg publik Jakarta. Menunggu giliran mengadu. Katakanlah, sejuta problematika warga DKI Jakarta. Sehari, seorang mengadu. Butuh sejuta hari.
BACA JUGA: Oala… KPK Sudah Mlipir Tertangkis Hukum Adat
Konsekuensi buat pemimpin (yang ikhlas melayani warga) berat. Butuh pemimpin tenaga kuda. Otot kawat, tulang besi. Jujur sejujur balita. Cerdas sederdas ‘the man of millennium’, Albert Einstein. Mentalnya selembut susu (susu sapi, ya…). Gak gampang marah, kayak Ahok.
Kupikir: Anies Baswedan benar. Menutup aduan publik. Tak perlu ada aduan publik. Berat, Cing. Lha, janji rumah DP nol, ternyata angsuran per bulan Rp 9,2 juta.
Jelang akhir jabatan Anies, Kamis, 6 Oktober 2022, Jakarta banjir, parah. Dikutip dari Detikcom, Jumat, 7 Oktober 2022, judul: “Titik Banjir di Jakarta Jadi 90 RT, Tinggi Air Ada yang Capai 2 Meter”.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi