KEMPALAN: DALAM khazanah budaya Jawa banyak sekali dijumpai sanepa–disebut juga tembung andupara–yaitu ungkapan kata dan kalimat yang punya maksud tertentu. Sanepa disebut juga sebagai pasemon yang artinya sindiran. Yang tahu persis makna sanepa dan pasemon adalah penciptanya sendiri.
Sanepa banyak dipakai pada susastra Jawa atau dunia kesusasteraan Jawa. Tetapi, sanepa juga banyak digunakan di banyak kesempatan lain, termasuk politik. Dalam dunia politik, sanepa disebut sebagai simbolisasi politik, pemakaian simbol untuk menyampaikan maksud tertentu.
Anies Baswedan mengakhiri tugasnya sebagai gubernur DKI, Ahad (16/10). Rangkaian acara purna tugas Anies banyak menampilkan sanepa politik. Namanya sanepa, biasanya tersamar dan bisa menimbulkan multi-tafsir. Tapi, kali ini sanepa politik Anies cukup jelas ditujukan kepada siapa dan apa maknanya.
BACA JUGA: Perang Bintang
Secara budaya Anies tidak mempunyai latar belakangan tradisi Jawa langsung. Garis keturunan keluarganya berasal dari Timur Tengah atau wilayah Hadramaut, sebuah wilayah yang berada di Yaman modern sekarang. Tapi, dari perilaku sehari-hari Anies terlihat sangat Jawa. Tatakrama berbicara maupun tindak lampah Anies sangat Jawa.
Paparan budaya Jawa ia terima semasa ‘’formative years’’ masa-masa pertumbuhan di Yogyakarta sejak sekolah sampai lulus kuliah. Paparan budaya Jawa ini diserap dengan sempurna oleh Anies, sehingga perilakunya terlihat lebih Jawa daripada kebanyakan orang Jawa.
Sanepa politik Anies pada rangkaian acara purna tugas ditujukan kepada seseorang yang berlatar belakang Jawa. Orang tersebut ialah Joko Widodo, Presiden RI. Salah satu sanepa yang ditujukan kepada Jokowi adalah ketika Anies berpidato dan menghadap ke arah utara. Pidato perpisahan Anies diadakan di Balai Kota yang posisinya berada di Jl Medan Merdeka Selatan, di sebelah selatan Istana Negara.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi