Publik sudah mulai bosan dengan penampilan politik SBY yang serba-formal dan serius. Semua diksi dan narasi dalam pidato SBY dipilih dengan cermat. Ekspresi wajah dan gesture tubuh diatur dengan saksama. Kapan tangan harus bergerak dan kapan kepala harus menoleh, semua diatur dan disesuaikan dengan teliti. Penampilan priyai ala SBY ini menjadi ciri khas yang menghipnotis psyche publik Indonesia, dan membawa SBY menjadi presiden 2 periode.
Nyaris tidak ada humor yang muncul dalam pidato SBY selama 10 tahun. Hal ini berbalik 180 derajat dari gaya Presiden Gus Dur yang slengekan dan banyak guyon. Gus Dur mewakili genre santri yang penuh humor, SBY menjadi antitesa dengan mencitrakan diri sebagai pemikir yang serius dalam berbagai hal.
BACA JUGA: STY Out
Pidato-pidato Gus Dur akan sangat mudah dikumpulkan menjadi banyak buku humor berjudul ‘’Mati Ketawa ala Gus Dur’’. Sementara terhadap SBY, orang tidak akan bisa menemukan humor sampai mati. Gus Dur adalah sebuah era, dan SBY juga sebuah era.
Jokowi juga menjadi era tersendiri. Ia mencitrakan dirinya sebagai punakawan yang sederhana dan menjadi bagian dari rakyat. Karena itu Fadli Zon menyebutnya sebagai Prabu Kantong Bolong dalam episode Petruk Dadi Ratu. Penyebutan itu berbau prejoratif yang merendahkan dari Fadli. Padahal cerita Petruk Dadi Ratu menyisipkan kisah pemberontakan orang biasa terhadap kekuasaan oligarki elitis para Dewa. Petruk membongkar oligarki itu. Tetapi, kualitas intelektual Petruk yang terbatas akhirnya membuat kepemimpinannya kacau balau.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi