SIDOARJO-KEMPALAN: Denting gamelan Jawa tak terdengar. Namun, semangat melestarikan bahasa ibu justru bergema dari bibir belasan siswa SD dan SMP yang berlomba pidhato (pidato) dan mendongeng dalam Bahasa Jawa di ajang Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Kabupaten Sidoarjo, 2-3 Juni 2026. Festival tahunan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Sidoarjo ini bukan sekadar lomba, melainkan benteng terakhir melawan lunturnya aksara Jawa di tengah derasnya arus globalisasi dan digitalisasi.
Mengusung konsep tersebar, FTBI 2026 berlangsung simultan di tiga lokasi, yaitu SMPN 1, SMPN 2, dan SMPN 4 Sidoarjo. Sebanyak delapan cabang lomba dipertandingkan untuk dua jenjang, dengan rincian:
Hari pertama (2 Juni 2026 – Tingkat SD):
· SMPN 1 Sidoarjo menggelar Lomba Pidhato, Lomba Maca lan Nulis Aksara Jawa, serta Lomba Mendongeng.
· SMPN 2 Sidoarjo menjadi arena Lomba Tembang Macapat dan Lomba Daheglan Tunggal.
· SMPN 4 Sidoarjo menguji kreativitas lewat Lomba Geguritan dan Lomba Menulis Cerkak.
Hari kedua (3 Juni 2026 – Tingkat SMP):
· SMPN 1 Sidoarjo kembali menjadi tuan rumah lomba yang sama: Pidhato, Maca lan Nulis Aksara Jawa, dan Mendongeng.
· SMPN 2 Sidoarjo kembali menggelar Tembang Macapat dan Daheglan Tunggal.
· SMPN 4 Sidoarjo menutup festival dengan Lomba Geguritan dan Menulis Cerkak untuk jenjang SMP.
Pelaksanaan teknis dikawal oleh tiga sekolah negeri unggulan tersebut, dengan SMPN 4 Sidoarjo sebagai posko utama koordinasi.

Komando Plt Dikbud: Ini Panggung Kebanggaan, Bukan Sekadar Seremonial
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sidoarjo, Dr.Netty Lastiningsih M.Pd., saat membuka acara di SMPN 4 Sidoarjo, menegaskan bahwa FTBI adalah kegiatan tahunan yang wajib menjadi denyut nadi penguatan karakter budaya.
“Ini merupakan kegiatan tahunan yang tidak boleh surut semangatnya. Kami sengaja menghadirkan delapan cabang lomba, dari pidhato hingga menulis cerkak (cerita cekak), agar anak-anak tidak hanya hafal tembang, tapi juga mampu mencipta, berbicara, dan menulis dalam Bahasa Jawa yang baik dan benar sesuai unggah-ungguh,” ujar Netty.
Netty mengakui bahwa tantangan terbesar saat ini bukanlah kurangnya bakat, melainkan minimnya ruang ekspresi. “Anak-anak kita generasi Z dan Alpha tumbuh dengan ponsel dan konten global. Bahasa ibu sering dianggap kuno. FTBI adalah ruang eksklusif untuk membalik stigma itu.”
Tantangan Pembelajaran Bahasa Ibu di Sekolah: Antara Kurikulum dan Realitas
Di balik gegap gempita FTBI, narasi tajam justru muncul dari para guru pendamping. Mereka menyoroti ironi: festival ini bergairah, namun pembelajaran Bahasa Jawa di sekolah-sekolah masih berjalan seperti “orkestra tanpa dirigen”.
Sebagian besar sekolah di Sidoarjo hanya mengalokasikan satu jam pelajaran per minggu untuk muatan lokal Bahasa Jawa. Padahal, untuk mencapai kompetensi maca aksara Jawa atau nulis cerkak dibutuhkan latihan intensif. “Anak-anak baru bisa mengenal aksara Jawa di kelas 4 SD, lalu di kelas 5 mereka sudah harus lomba. Itu lompatan yang ekstrem,” keluh seorang guru SD dari Kecamatan Waru yang enggan disebutkan namanya.
Selain itu, digitalisasi yang seharusnya menjadi alat justru kerap menjadi penghalang. Gawai yang digunakan siswa rata-rata tidak memiliki font aksara Jawa. Platform media sosial mayoritas menggunakan alfabet Latin. Akibatnya, ketika siswa diminta menulis aksara Jawa manual di papan tulis, banyak yang ragu-ragu atau salah struktur.
Tantangan lain datang dari faktor sumber daya manusia. Tidak semua guru pengampu muatan lokal memiliki kompetensi tutur (pelafalan) dan tata krama basa Jawa yang memadai. “Unggah-ungguh basa Jawa (ngoko, madya, krama) itu rumit. Jika gurunya sendiri tidak percaya diri, maka yang diajarkan hanya basa Jawa versi ‘pasar’ yang kering dari nilai etika,” ujar salah satu juri lomba pidhato FTBI.
Presisi Dikbud: Dari Festival Menuju Kurikulum yang Hidup

Menanggapi tantangan tersebut, Netty menjelaskan bahwa Dikbud Sidoarjo telah merancang strategi jangka panjang. FTBI hanyalah puncak gunung es. Di bawahnya, Dikbud sedang menguji coba “Model Pembelajaran Bahasa Jawa Berbasis Proyek” yang terintegrasi dengan aplikasi pembelajaran digital.
“Kami tidak anti-teknologi. Justru kami sedang mengembangkan game edukasi aksara Jawa dan podcast cerita rakyat Sidoarjo dalam Bahasa Jawa krama. Targetnya, pada 2027 setiap sekolah di Sidoarjo memiliki digital library yang berisi cerkak dan geguritan karya siswa sendiri,” paparnya.
Dikbud juga bekerja sama dengan Balai Bahasa Jawa Timur untuk melakukan refreshing kompetensi guru secara berkala, serta menyediakan buku pengayaan yang tidak hanya teks, namun bergambar dan interaktif.
Tunas yang Harus Disiram, Bukan Sekadar Dipamerkan
FTBI Sidoarjo 2026 membuktikan bahwa api kecintaan terhadap bahasa ibu masih menyala di hati pelajar. Namun, tanpa dukungan sistemik—jam pelajaran yang memadai, guru yang berdaya, dan teknologi yang bersahabat—festival ini hanya akan menjadi seremoni tahunan yang indah sekilas.
Sebagai media Online Nasional yang berbasis kebudayaan, kami mencatat: FTBI Sidoarjo adalah uri-uri (memelihara) budaya Jawa yang patut diapresiasi. Tapi tantangan sebenarnya bukan pada hari-H lomba, melainkan pada 363 hari lainnya di dalam kelas. Bahasa Ibu tidak akan lestari hanya dengan piala dan sertifikat. Ia butuh napas setiap hari.(M Fasichullisan/ Ambari Taufiq).

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi