BALIKPAPAN-KEMPALAN: Hari itu media sosial Dinas Kesehatan Balikpapan (DKB) memberi Peringatan Kesehatan: Jangan Anggap Sepele! “Debu Pagi Ini Berbajaya. Kamu Tidak Bisa Melihatnya, Tapi Paru-Parumu Bisa Merasakannya. PM 2,5 Partikel Berbahaya.”
Namun, peringatan DKB tersebut kemudian tiba-tiba menghilang dan dihapus dari media sosialnya.
Kesaksian demi kesaksian warga mulai bermunculan setelah hujan debu yang menyelimuti sejumlah kawasan Balikpapan Tengah dan Balikpapan Timur pada 23-24 Juni 2026.
Desakan agar investigasi hujan debu di Balikpapan dilakukan secara transparan pun semakin menguat.
Gabungan organisasi masyarakat sipil yang terdiri dari JATAM Kaltim, NUGAL Institute, LBH Samarinda, dan Trend Asia meminta agar PT Pertamina membuka seluruh informasi terkait insiden yang terjadi pada 23–24 Juni 2026 tersebut.
Adapun selain mengotori lingkungan permukiman, warga mengaku merasakan gangguan kesehatan dan aktivitas sehari-hari mereka ikut terdampak.
Seorang warga Sumber Rejo berinisial R mengaku melihat langsung partikel debu beterbangan dan menempel di sekitar rumahnya sejak Selasa siang hingga Rabu pagi.
“Iya saya melihat secara langsung abu tersebut beterbangan dan menempel di sekeliling rumah sejak siang pada hari Selasa bahkan sampai pagi hari di hari Rabu saat saya memulai aktivitas,” ujar R sembari mengutip hasil penelusuran koalisi masyarakat sipil yang dirilis, Jumat (26/6/2026).
Menurut R, rumahnya berjarak sekitar empat kilometer dari kawasan kilang. Meski demikian, debu tetap masuk ke lingkungan tempat tinggalnya dan terbawa angin ke dalam rumah melalui celah pintu maupun jendela.
Akibatnya, ia dan keluarganya mulai merasakan tenggorokan kering, gatal, serta perih setelah menghirup udara yang bercampur partikel debu tersebut.
Keluhan serupa juga disampaikan SI, warga Kampung Kangkung, Sumber Rejo. Petani kangkung itu mengaku terkejut ketika mendapati teras rumah, kendaraan, dan lahan tanam miliknya tertutup debu berwarna putih.
“Kaget, saya kira ada gunung meletus. Tapi di Kalimantan ini enggak ada gunung. Baca berita baru tahu ada abu dari Pertamina,” katanya.
SI mengaku sempat mengalami sesak napas dan beberapa hari terakhir memilih menggunakan masker saat beraktivitas. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi