Minggu, 28 Juni 2026, pukul : 11:43 WIB
Surabaya
--°C

Surabaya Green Force Run 2026, 6.000 Pelari dari 10 Negara Hijaukan Kota Pahlawan

SURABAYA-KEMPALAN: Dentuman start menggelegar di kawasan Tugu Pahlawan, Minggu (28/6) pukul 05.30 WIB, menjadi pertanda dimulainya gelaran Surabaya Green Force Run (GFR) 2026. Sebanyak 6.000 pasang kaki dari berbagai penjuru dunia serentak melesat, menyusuri jalan-jalan protokol yang menyimpan jejak sejarah perjuangan arek-arek Suroboyo. Bukan sekadar lomba lari, event kolaborasi DBL Indonesia dan Pemerintah Kota Surabaya ini menjelma menjadi pesta olahraga rakyat yang memadukan semangat juang, gaya hidup sehat, dan denyut ekonomi kota.

Dalam edisi kelimanya, GFR 2026 mengusung kampanye “Lebih dari Lari” —sebuah filosofi yang menegaskan bahwa ajang ini bukan sekadar adu kecepatan di atas aspal, melainkan ruang perayaan identitas kota, kebersamaan komunitas, dan promosi pariwisata yang menyasar pasar nasional hingga mancanegara. Tema tersebut semakin relevan mengingat gelaran ini menjadi bagian dari rangkaian Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) ke-733 sekaligus turut memeriahkan ulang tahun Persebaya yang ke-99.

10 Negara, 119 Kota, Satu Semangat

Data yang dihimpun panitia menunjukkan antusiasme luar biasa dari peserta domestik yang berasal dari 119 kota di 24 provinsi, dengan lebih dari 50 persen di antaranya merupakan pelari dari luar Surabaya. Fakta ini mengonfirmasi bahwa GFR telah bertransformasi menjadi agenda lari berdaya tarik nasional.

Tak hanya itu, kehadiran pelari dari 10 negara—Prancis, Italia, Jepang, Kenya, Korea Selatan, Belanda, Singapura, Inggris, dan Amerika Serikat—menjadi barometer bahwa Surabaya mulai diperhitungkan sebagai destinasi sport tourism kelas dunia. Presiden Persebaya sekaligus Founder dan CEO DBL Indonesia, Azrul Ananda, menegaskan bahwa GFR sejak awal dirancang sebagai jembatan promosi kota.

“Kami ingin setiap peserta pulang membawa pengalaman tentang Surabaya—budayanya, keramahan warganya, hingga energi kotanya. Harapannya, mereka bukan hanya ingin kembali berlari di sini, tetapi juga kembali berkunjung ke Surabaya,” ujar Azrul Ananda dalam sesi konferensi pers di lokasi finish, Minggu siang.

Half Marathon Terverifikasi PB PASI, Ajang Ukir Rekor

Dari lima kategori yang dilombakan—Kids Dash, Family Run, 5K, 10K, dan Half Marathon (21K)—kategori Half Marathon kembali memperoleh verifikasi resmi dari PB PASI. Standar pengukuran jarak dan pencatatan waktu yang presisi memberikan kesempatan bagi pelari untuk membukukan catatan waktu yang diakui secara nasional, sekaligus menambah kredibilitas event di kancah olahraga profesional.

BACA JUGA  Lintas Batas Negeri, Membangun Generasi: Misi Strategis Mahasiswa PPG Unesa di Malaysia

Rute yang disiapkan panitia pun sarat makna. Berangkat dari Tugu Pahlawan, para pelari diajak menyusuri ruas-ruas jalan utama yang memadukan bangunan bersejarah, kawasan modern, ruang terbuka hijau, hingga pusat aktivitas masyarakat. Pengalaman berlari di tengah lanskap kota yang dinamis ini menjadi daya pikat tersendiri, sebagaimana diakui oleh Steven Dumont, pelari asal Prancis yang kini menetap di Labuan Bajo.

“Kami berburu informasi di internet dan menemukan rute menarik di Surabaya. Saya punya ikatan emosional karena sempat tinggal di sini satu tahun pada satu dekade lalu,” tutur Steven yang bersama rekannya Mattia Nizardo (Italia) menjadikan GFR 2026 sebagai ajang Half Marathon perdana mereka di Kota Pahlawan.

Bagi Mattia, event ini memiliki nilai lebih personal. Pelari asal Padova itu menjadikan GFR 2026 sebagai ujian fisik pertama pasca menjalani operasi pada September tahun lalu. “Ini kompetisi pertama saya pasca operasi. Penampilan di Surabaya besok adalah tolok ukur kesembuhan saya,” ungkapnya penuh haru.

Atlet Kenya Kembali Pamer Dominasi

Persaingan di kategori Half Marathon semakin bergengsi dengan hadirnya deretan pelari elit asal Kenya. Dennis Isika, yang finis sebagai pelari tercepat putra pada GFR 2025 dengan catatan 1 jam 14 menit 35 detik, kembali ke Surabaya untuk ketiga kalinya dengan misi mempertajam rekor pribadinya. “Saya baru dari Bali dan berharap bisa memberikan yang terbaik,” tegas Dennis.

Sementara itu, Jackline Nzivo yang menjadi yang tercepat di kategori putri tahun lalu (1 jam 26 menit 58 detik) juga optimistis mampu tampil lebih moncer. “Tahun ini, saya lebih percaya diri bisa memberikan yang terbaik,” ujarnya singkat.

Lebih dari Lari”: Reuni, Mimpi, dan Silaturahmi Lintas Generasi

Sesuai dengan tema yang diusung, GFR 2026 menjadi panggung bagi cerita-cerita kemanusiaan yang menghangatkan. Kemal Ernanto, misalnya, rela menempuh perjalanan ribuan kilometer dari Makassar bersama putranya, Kensi Atharizz Carnen, demi mewujudkan mimpi bertemu langsung dengan pemain Persebaya. Keduanya sudah berada di Surabaya sejak dua pekan lalu, memanfaatkan momen liburan sekolah untuk mengikuti sesi fansign.

BACA JUGA  Tenggat Waktu Pemrosesan dari Pencari Suaka hingga Dapat Izin Tinggal di Belanda atau Uni Eropa

“Saya dan anak sengaja datang ke sini untuk mengikuti acara fansign. Saya sendiri sebetulnya enggak bisa ikut event larinya karena pernah cedera ACL,” ungkap Kemal yang tetap antusias mengantarkan putranya merasakan atmosfer GFR.

Cerita lain datang dari Aris Fatkhur Rohman (Pasuruan) dan Indra Rubi Arko (Surabaya), dua sahabat pecinta Persebaya sejak SMP yang dipertemukan lewat hobi mendaki gunung. Keduanya kompak naik kelas dari kategori 5K ke 10K tahun ini. “Ada sekitar tujuh teman kuliah kami yang ikut lari, tersebar di Surabaya, Lamongan, dan Malang,” cerita Aris.

Tak kalah menarik, duet sahabat lintas generasi Lina Dewi Wijayanti dan Endah Sutjiningtyas—keduanya telah menginjak usia kepala enam—menjadi bukti bahwa lari adalah sarana merawat kesehatan dan silaturahmi. Bergabung dalam komunitas Ikasmanca Runner (alumni SMAN 5 Surabaya), mereka menjadi bagian dari hampir 100 alumni yang turut meramaikan GFR 2026.

“Lewat event lari seperti ini, kami bisa bertemu teman-teman lama. Rasanya happy, badan juga ikutan sehat,” tutup Lina dengan senyum merekah di kawasan finish.

Dorong Ekonomi dan Sport Tourism

Kehadiran ribuan peserta dari luar kota dan luar negeri memberikan dampak ekonomi yang signifikan. Sektor perhotelan, kuliner, transportasi, hingga destinasi wisata lokal turut bergerak. “Ketika peserta datang dari ratusan kota dan berbagai negara, dampaknya bukan hanya bagi event ini, tetapi juga bagi ekonomi kota,” tambah Azrul Ananda.

Dengan festival komunitas, hiburan, dan area festival di kawasan finish, GFR 2026 berhasil menciptakan ruang berkumpul yang inklusif bagi peserta, keluarga, dan masyarakat umum. Konsep ini memperkuat narasi bahwa Surabaya Green Force Run adalah perayaan bersama—sebuah simfoni yang menghubungkan olahraga, komunitas, dan identitas Kota Pahlawan.

Surabaya telah membuktikan diri: lari bukan sekadar soal garis finis, melainkan tentang bagaimana sebuah kota merayakan dirinya.(Ambari Taufiq M Fasichullisan)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.