SURABAYA-KEMPALAN: Menghadapi ancaman nyata penurunan kualitas kesehatan publik, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) mengambil langkah konkret yang progresif. Melalui tim pakar dari Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK), Unesa menginisiasi program pengabdian masyarakat (PKM) strategis bertajuk “Membangun Komunitas Sehat melalui Pengembangan Program Olahraga dan Kebugaran” di Kelurahan Lidah Wetan, Surabaya.
Langkah ini diambil bukan tanpa alasan. Berdasarkan data situasi riil di lapangan, Kelurahan Lidah Wetan tengah menghadapi alarm keras di bidang kesehatan dan sosial. Statistik menunjukkan potret yang memprihatinkan: hanya 24 persen masyarakat setempat yang memiliki tubuh bugar, dan partisipasi olahraga mandiri baru menyentuh angka 34 persen. Lebih mengkhawatirkan, rata-rata aktivitas fisik warga sangat rendah, yakni hanya 3.513 langkah per hari—jauh di bawah standar kesehatan ideal.
Kondisi kurang gerak (sedentary lifestyle) ini berdampak linear pada kesehatan warga. Satu dari empat penduduk dewasa di wilayah tersebut kini menderita obesitas. Krisis kebugaran ini bahkan sudah menjangkiti generasi muda; tercatat hanya 0,14 persen pelajar di kawasan tersebut yang masuk dalam kategori kebugaran “Baik Sekali”. Masalah ini kian kompleks akibat terbatasnya infrastruktur ruang publik hijau dan minimnya tenaga keolahragaan berkualitas di tingkat kelurahan.

Merespons krisis tersebut, Dr. Irmantara Subagio, M.Kes., selaku Ketua Tim PKM Unesa, menegaskan bahwa intervensi ini tidak hanya sekadar memasyarakatkan olahraga, tetapi juga merupakan bentuk hilirisasi sains olahraga (sports science) kampus untuk mendongkrak kualitas hidup masyarakat lokal.
“Kami tidak hanya membawa gerakan fisik, tetapi juga membawa sistem. Kolaborasi komprehensif selama enam bulan, mulai Juli hingga November 2025 ini, dirancang untuk mengintegrasikan aktivitas fisik dengan sistem database pemantauan kesehatan yang terukur,” ujar Dr. Irmantara.
Gerakan bugar terintegrasi ini dilaksanakan langsung di dua titik strategis, yakni pemukiman Kelurahan Lidah Wetan dan fasilitas olahraga Kampus Unesa Lidah Wetan. Rangkaian program yang disajikan sangat variatif dan inklusif, mulai dari senam massal, manajemen aktivitas fisik terukur (jalan sehat, lari, dan bersepeda bersama), hingga pemeriksaan kesehatan gratis secara berkala. Melalui program ini, Unesa juga mengurai keterbatasan prasarana dengan membuka akses fasilitas kampus bagi warga, sekaligus melatih tenaga keolahragaan lokal agar program ini memiliki keberlanjutan (sustainability) jangka panjang.
Menariknya, program ini juga menjadi katarsis bagi dinamika sosial remaja setempat. Dengan minimnya ruang publik, kawasan ini sempat mengindikasikan adanya peningkatan aktivitas tidak produktif di kalangan pemuda, seperti kerawanan sosial dan kenakalan remaja. Intervensi olahraga terstruktur dari FIKK Unesa ini hadir sebagai solusi preventif yang elegan; mengalihkan energi negatif koridor pemuda menjadi prestasi dan produktivitas fisik.

Melalui sinergi erat bersama Pemerintah Kelurahan Lidah Wetan dan dukungan dunia usaha yang terus digalang, target luaran dari pengabdian ini sangat jelas. Unesa berkomitmen penuh untuk membalikkan rujukan statistik negatif tersebut, meningkatkan derajat kesehatan interpersonal, dan membangun sebuah ekosistem komunitas urban yang sehat, tangguh, serta berdaya saing tinggi dari pinggiran kampus.(Ambari Taufiq/M Fasichullisan)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi