SURABAYA-KEMPALAN: Prof. Dr. Mukhorijin, turut mencermati pada sejumlah komposisi Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) menjelang Muktamar ke-35 NU, Agustus mendatang. Menurutnya, komposisi yang beredar di media sangat bagus, ini menandakan NU benar-benar ‘milik’ ulama.
“Terbaru saya membaca komposisi AHWA (wakila – katanya) versi PWNU dan PCNU, di samping muncul komposisi AHWA versi lain,” tegasnya seperti dilansir duta.co, Kamis (11/6/26).
Menurut Gus Khozin, panggilan akrabnya, ia teringat pesan penting almaghfurlah KH Sholeh Qoshim, Sepanjang, Sidoarjo.
“Adalah sah-sah saja, PWNU maupun PCNU mengusulkan AHWA yang terdiri dari para ulama sepuh. Bukan berarti menilai, tetapi, memberikan amanah kepada beliau soal arah jamiyah ini,” tegasnya.
Pesan Kiai Sholeh, lanjutnya, bahwa yang namanya masyayikh juga manusia biasa. “Kalau ingin menghormati ulama, jangan terlalu ‘dekat’ ulama. Maksudnya agar kita tidak menganggap ulama itu seperti malaikat, tidak. Beliau juga punya kelemahan, tetapi, kelemahan yang manusiawi itu jangan dijadikan acuan dalam memilih Ahlul Halli wal Aqdi. Tetap berpegang pada keilmuan,“ tegasnya.
Seperti diberitakan, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf mengungkapkan, bahwa, PBNU tengah menyusun Piagam Nilai-Nilai Keulamaan. Ini sebagai upaya mempertegas kembali standar dan nilai keulamaan, khususnya di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU).
“Langkah ini diperlukan karena nilai-nilai keulamaan yang selama ini menjadi rujukan belum dipahami secara merata oleh masyarakat. Perlu ada penegasan kembali secara lebih tertulis tentang apa sebetulnya yang kita anggap sebagai nilai-nilai keulamaan,” ujarnya dalam Halaqah Piagam Nilai-Nilai Keulamaan di Gedung PBNU Lantai 8, Jakarta, Jumat (5/6/2026).
Menurutnya, piagam tersebut setidaknya memiliki tiga fungsi utama. Pertama, sebagai pengingat bagi para ulama, bukan untuk menggurui, melainkan sebagai peneguhan nilai-nilai yang selama ini dijunjung. Kedua, sebagai panduan bagi mereka yang bercita-cita menjadi ulama. “Nanti kalau menjadi ulama, standar nilainya seperti ini,” katanya.
Ketiga, sebagai rujukan bagi masyarakat awam dalam mencari guru dan juga bimbingan keagamaan dengan memahami nilai-nilai yang seharusnya dimiliki seorang ulama. “Karena itu dirasa perlu membuat rumusan tentang nilai-nilai keulamaan itu sendiri, apalagi jam’iyyah ini bernama Nahdlatul Ulama,” lanjut Gus Yahya.
Draf piagam tersebut memuat nilai-nilai dasar dari keulamaan, terutama yang berkaitan dengan wawasan keilmuan sebagaimana termaktub dalam Qanun Asasi karya Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari.
“Bahwa yang tergabung dalam jam’iyyah NU adalah para ulama dari kalangan Ahlussunnah wal Jama’ah yang mengikuti mazhab empat. Ini menunjukkan adanya dimensi wawasan keilmuan yang menjadi dasar keulamaan,” terangnya, dilansir NU Online.
Menanggapi masalah terbitnya ‘Piagam Nilai-Nilai Keulamaan’, kata Gus Khozin, baik-baik saja alias sah-sah saja. Ini merupakan ikhtiar yang bagus demi masa depan NU.
“Tetapi, di NU, yang menentukan nilai-nilai keulamaan itu jelas bukan tanfidziyah. Sebaliknya syuriyah yang menetukan tanfidziyah. Kalau menyerahkan amanah kepada masyayikh, itu perlu,” tegasnya.
Diakui, dalam tradisi NU, terdapat parameter yang jelas terkait Ahlussunnah wal Jama’ah maupun mazhab empat sebagai fondasi keilmuan seorang ulama.
”Hanya saja menjelang Muktamar ke-35 NU seperti ini, program tersebut bisa menimbulkan persepsi tersendiri. Apa pun, penguatan lembaga syuriyah PBNU memang sebuah keniscayaan,” pungkas Dosen UNTAG Surabaya, yang juga Pembina Yayasan Museum NU Surabaya ini. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi