Menu

Mode Gelap

Kempalpagi · 20 Mei 2022 16:15 WIB ·

Laut Bercerita


					Foto: boombastis.com Perbesar

Foto: boombastis.com

KEMPALAN: “Matilah engkau mati..
Kau akan lahir berkali-kali…”

Pembunuhan politik untuk membungkam suara kritis dilakukan oleh rezim-rezim otoriter yang takut oleh gerakan rakyat yang mengancam kekuasaannya. Dalam setiap kekuasaan akan selalu ada kisah mengenai jiwa-jiwa pemberani yang tidak takut kehilangan nyawa. Mereka kemudian mati menjadi martir yang membuka jalan bagi jatuhnya sebuah rezim otoriter.

Mereka dikenang sebagai pahlawan seperti yang terjadi kepada Arif Rahman Hakim, mahasiswa Universitas Indonesia yang ditembak mati dalam demonstrasi menentang Orde Lama pada 1966. Kematian Arif memicu demonstrasi yang lebih besar yang membawa akibat kejatuhan rezim. Arif kemudian digelari sebagai Pahlawan Ampera, amanat penderitaan rakyat.

Benigno Aquino di Filipina ditembak mati atas perintah Presiden Marcos pada 1983 sesaat ketika menuruni pesawat terbang dari pengasingannya di Amerika Serikat. Aquino menjadi martir yang menyulut people power yang kemudian bisa merobohkan kekuasaan diktatorial Marcos yang sudah bercokol lebih dari 20 tahun.

Nama-nama mereka dikenang dan dikenal. Tapi banyak juga yang tidak dikenal dan tidak dikenang, atau sengaja dilupakan. Sejumlah mahasiswa dan aktivis Indonesia tepat 24 tahun yang lalu hilang diculik dan kemudian disekap. Sebagian dilepaskan kembali, sebagian lainnya hilang tanpa kabar, dan sampai sekarang tidak diketahui nasibnya.

BACA JUGA: Tesla dan Esemka

Mereka meniadi cikal-bakal lahirnya gerakan besar yang disebut sebagai Reformasi yang berhasil menjatuhkan kekuasaan Orde Baru yang sudah menancap selama 32 tahun. Mereka menjadi korban kekerasan, pembunuhan, dan penghilangan paksa yang tidak terungkap siapa pelakuknya.

Bagi kebanyakan orang peristiwa itu sudah berlalu seperempat abad dan sudah dilupakan oleh sejarah. Tetapi, ada keluarga yang ditinggalkan, orang-orang tercinta yang merasa kehilangan dan sampai sekarang tidak bisa melupakan kehilangan yang memilukan itu. Sampai puluhan tahun kemudian kejadian itu seolah baru terjadi kemarin, dan ada di antara mereka yang yakin bahwa anak mereka masih hidup.

Kisah nyata para korban penculikan dan penghilangan paksa itu diceritakan oleh wartawan dan novelis Leila S. Chudori dalam novel ‘’Laut Bercerita’’.  Kisah sekelompok mahasiswa idealis yang tidak kenal takut dalam  berjuang melawan rezim otoriter. Mereka hilang dan mati. Keluarganya terus mencari dan tidak bisa menerima kenyataan bahwa anak-anaknya sudah mati.

Artikel ini telah dibaca 52 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

Survei Terkutuk

1 Juli 2022 - 13:06 WIB

Pahlawan Irpin

1 Juli 2022 - 07:00 WIB

Caltung dan Astung

30 Juni 2022 - 18:36 WIB

Tanpa Jumbo

30 Juni 2022 - 07:00 WIB

From Russia with Love

29 Juni 2022 - 16:59 WIB

Imam Trump

29 Juni 2022 - 07:15 WIB

Trending di Kempalpagi