Selasa, 28 April 2026, pukul : 10:03 WIB
Surabaya
--°C

Laut Bercerita

Tokoh utama kisah ini ialah seorang mahasiswa bernama Biru Laut Wibisono yang mulai bercerita bagaimana perjalanan hidup yang telah ia alami. Laut bersama sahabatnya sepantaran mahasiswa di Yogyakarta, Sunu, Alex, Kinan, Daniel, Gusti, Julius, Bram dan beberapa aktivis lainnya berjuang melawan kekuasaan rezim otoriter.

Kisah ini diambil dari peristiwa nyata yang direkonstruksi ulang dengan tambahan beberapa bumbu drama. Para mahasiswa itu menjadi buron yang hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke lainnya. Mereka dikejar aparat karena membantu gerakan petani yang menolak penggusuran. Nyawa para mahasiswa itu menjadi taruhan.

Peristiwa Blangguan, nama sebuah daerah rekaan di Jawa Timur, membawa mereka ke tahanan. Demi membela petani-petani jagung yang lahannya akan dirampas pemerintah, menjebloskan Laut ke dalam penjara. Ia dipukuli habis-habisan, diinjak dengan sepatu bergerigi, dan disetrum. Setelah mereka tak mendapat jawaban, Laut dan kawan-kawannya dibuang begitu saja di Bungurasih, daerah perbatasan Surabaya.

Dari sebuah rumah kontrakan di Seyegan, Yogyakarta mereka secara sembunyi mengadakan pertemuan dan menyusun aksi. Isu orang hilang dan penculikan bukan hanya isapan jempol pada masa itu. Mereka harus waspada setiaps saat. Membaca karya sastra yang radikal dianggap dapat memicu kekacauan politik dan perkumpulan massa dapat dicurigai sebagai gerakan subversif yang memusuhi pemerintah.

Sebagai mahasiswa sastra Laut membaca banyak karya literatur asing dan dalam negeri. Novel-novel Pramoedya Ananta Toer ia baca secara diam-diam, karena ketika itu tindakan ini menjadi kejahatan yang bisa berakhir di penjara atau di kuburan.

BACA JUGA: KKN Horor

Laut dan sahabatnya memperjuangkan keadilan meskipun nyawa mereka dibayangi oleh penghilangan secara paksa atau tembak di tempat. Mereka diculik, dikurung, disiksa, dan diinterograsi, tanpa pernah tahu dimana mereka berada saat menjalani momen tragis itu. Penyiksaan mereka akan berakhir dengan dibuang tanpa tersisa atau dipulangkan apabila mereka beruntung.

Maret 1998 mereka diculik, disiksa, dan diinterogasi dengan tidak manusiawi. Laut, Sunu, Kinan, Bram,  seorang penyair, dan beberapa kawan hilang tanpa jejak setelah disekap. Ada lima orang yang dikembalikan dalam keadaan hidup. Setelah rezim runtuh pada Mei 1998, mereka pelan-pelan mulai mampu bersuara atas kekejaman yang mereka alami.

“Setiap langkahmu, langkah kita, apakah terlihat atau tidak, apakah terasa atau tidak, adalah sebuah kontribusi, Laut. Mungkin saja kita keluar dari rezim ini 10 tahun lagi atau 20 tahun lagi. Tapi, apapun yang kamu alami di Blangguan dan Bungurasih adalah sebuah langkah. Sebuah baris dari puisimu, sebuah kalimat pertama dari cerita pendekmu.’’ Catatan itu ditulis oleh Kinan, mahasiswi perempuan pemimpin gerakan yang tidak kenal takut. Kinan hilang bersama Laut.

Cerita kemudian berlanjut dari sudut pandang Asmara Jati, adik perempuan Biru Laut . Sebagai keluarga yang ditinggalkan sang kakak secara misterius, mereka sangat kehilangan. Bersama keluarga aktivis-aktivis lainnya, Asmara bergabung gerakan untuk mencoba mencari keadilan dari pemerintah yang dirasa lebih peduli.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.