Selasa, 28 April 2026, pukul : 10:03 WIB
Surabaya
--°C

Laut Bercerita

Duka kehilangan membuat banyak keluarga hidup dalam penyangkalan. Mereka hidup dalam imajinasi dan merasa bahwa keluarga mereka yang hilang masih tetap ada dalam keseharian. Ayah Laut masih tetap menyiapkan empat piring dalam ritual makan malam bersama di hari Minggu. Memutar lagu yang menandai kehadiran Laut, membersihkan buku-buku dan kamar milik Laut, seolah-olah Laut akan datang secara tiba-tiba kelak.

Serperempat abad berlalu, mereka dilupakan. Hari-hari ini gerakan demonstrasi mahasiswa dan buruh kembali bermunculan. Banyak yang menyebut-nyebut akan muncul lagi reformasi jilid 2, tetapi banyak yang tidak percaya karena setting politik dan sejarah sudah berubah.

Pemerintah Soeharto adalah pemerintah otoritarian yang berkuasa selama 3 dasawarsa dengan melakukan manipulasi terhadap hak demokrasi rakyat melalui pemilu prosedural. Setiap lima tahun diadakan pemilu, sekadar memenuhi formalitas demokrasi tanpa esensi.

BACA JUGA: UAS

Soeharto melakukan ‘’manufacturing consent’’ melakukan pabrikasi kesepakatan publik dengan merekayasa pemilu. Partai-partai politik diberangus dan dibonsai. Kekuatan-kekuatan sosial kemasyarakat dimandulkan dan dipaksa untuk menerima asas tunggal Pancasila.

Oposisi dimatikan dan dituding sebagai subversif. Demokrasi Pancasila ala Orde Baru tidak mengenal oposisi. Keputusan strategis harus diambil melalui proses musyawarah dan mufakat. Dewan Perwakilan Rakyat dan Majelis Permusyawaratan Rakyat sebagai pengambil keputusan tertinggi hanya menjadi lembaga koor yang menyanyikan lagu-lagu setuju. Lembaga tertinggi hanya menjadi lemabaga stempel yang membebek terhadap kehendak rezim.

Kekuasaan yang otoriter itu ditopang oleh mesin birokrasi, tentara, polisi, dan lembaga pengadilan secara total sehingga melahirkan rezim totaliter. Rezim menguasai seluruh kehidupan rakyat secara total dan tidak menyisakan kekuatan apa pun di luar rezim.

Tetapi, pada akhirnya rezim totaliter dan otoriter semacam itu jatuh oleh gerakan sekelompok anak-anak muda polos seperti Biru Laut dan kawan-kawan. Anak-anak itu berjuang dengan berani berbekal idealism dan keyakinan bahwa kezaliman akan bisa diruntuhkan.

Sejarah selalu mengulangi dirinya sendiri. Bedil dan senapan tidak selamanya efektif membungkam perlawanan. ‘’Kamu bisa melakukan apa saja dengan bayonet, kecuali duduk di atasnya,’’ kata Boris Yeltsin, dan Uni Soviet pun runtuh. (*)

Editor: Dhimam Abror

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.