Lockdown Sapi

waktu baca 6 menit
Foto: istimewa

KEMPALAN: PANDEMI Covid-19 di Indonesia nyaris berakhir. Pembatasan wilayah dilakukan secara terbatas di beberapa daerah, tetapi mobilitas warga berlangsung dengan lancar dan bebas. Selama libur lebaran puluhan juta orang mudik dan balik menjadi ujian apakah penularan virus akan meledak lagi. Sudah hampir dua minggu pasca-arus balik ternyata situasi relatif tenang dan aman.

Warga sudah lupa akan pandemi. Jalan-jalan sudah penuh sesak, tempat-tempat umum sudah dijejali oleh banyak orang. Masih terlihat beberapa orang yang memakai masker, tetapi jaga jarak sudah tidak ada lagi. Bulan-bulan setelah lebaran menuju lebaran haji adalah saatnya ‘’musim kawin’’. Banyak orang punya gawe menikahkan anaknya. Orang datang memenuhi undangan dengan penuh suka cita.

Lebaran Idul Fitri kali ini menjadi momen bahagia setelah dua tahun sebelumnya harus dilewatkan tanpa mudik dan tetap harus tinggal di rumah. Ledakan jumlah pemudik tidak terhindarkan. Macet selama mudik dan balik menjadi fenomena yang meluas dimana-mana. Meski demikian, semua senang, semua bahagia.

Tapi, momen bahagia ini terganggu oleh munculnya penyakit baru yang menyebar dengan cepat dan tidak kalah ganas dari varian Delta maupun Omicron. Kali ini yang diserang bukan manusia, tapi hewan ternak, khususnya sapi.

BACA JUGA: Poltak

Penyakit baru ini disebut sebagai PMK, penyakit mulut dan kaki (foot and mouth disease) yang menyerang sapi, kambing, kuda, dan babi. Yang diserang adalah  bagian mulut dan kaki yang menjalar dengan sangat cepat dan mengkibatkan kematian dalam waktu singkat.

Penyakit ini menyerang mulut sapi dan bagian kuku sapi. Dalam waktu singkat sapi yang terjangkit penyakit ini akan mengalami pendaharahan pada bagian mulut dan menyebabkan luka yang parah. Beberapa waktu kemudian kuku sapi akan terlepas seperti orang terkena penyakit kusta yang parah. Sapi pun mati beberapa waktu kemudian.

Wabah ini menyebar luas di Jawa Timur. Kali ini wilayah Surabaya Raya dan sekitarnya menjadi episentrum penyakit itu. Pandemi sapi ini diperkirakan akan menjalar ke daerah lain kalau tidak diambil tindakan cepat. Pemerintah Jawa Timur bertindak cepat dengan melakukan ‘’lockdown sapi’’. Beberapa hari terakhir ini semua sapi di wilayah Surabaya Raya dan Malang tidak boleh keluar ke daerah lain. Sebaliknya, tidak ada sapi daeri daerah luar yang diperbolehkan masuk ke wilayah Jawa Timur.

Pandemi sapi menjadi kabar yang mengejutkan bagi warga Jawa Timur yang baru saja merasa lega setelah hampir bebas dari Covid-19. Setelah menikmati lebaran dengan suka cita warga harusnya bisa menikmati Idul Adha dengan suka cita pula. Idul Adha diperkirakan akan jatuh pada 9 Juli, dan saatnya warga berpesta dengan melakukan kurban berbagai ternak. Tapi, bencana datang menjelang peternak siap memanen laba di hari raya kurban.

Munculnya wabah PMK membuat harapan itu pudar dan padam. Para peternak sudah berharap banyak untuk bisa memetik panen pada Idul Adha mendatang dengan menjual ternak dengan harga tinggi. Setelah dua tahun tertahan akibat Covid-19, tahun ini Idul Adha untuk kali pertama diperkirakan akan lebih meriah. Tapi, wabah PMK membuat harapan itu pupus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *