Kamis, 11 Juni 2026, pukul : 11:02 WIB
Surabaya
--°C

Menyala dari Kegelapan

Karena itu, pekerjaan terbesar Indonesia bukan sekadar melahirkan pemimpin yang baik, tetapi membangun manusia dan institusi yang sekaligus berkarakter, cakap, dan konsisten.

Oleh: Yudi Latif

KEMPALAN: Saudaraku, Indonesia akan terus menjadi ajang mainan kekuatan proksi kapitalis global dan lokal karena alasan yang bersifat perenial. Di satu sisi, bangsa ini tak pernah surut mereproduksi para pengkhianat. Di sisi lain, mereka yang lantang memperjuangkan kedaulatan dan kemandirian nasional kerap tak menunjukkan kompetensi dan konsistensi.

Dalam keterperangkapan seperti itu, bangsa Indonesia seakan berdiri di tepi jurang, dan yang tampak di hadapannya hanyalah kegelapan. Harapan terasa seperti kemewahan, sementara keputusasaan tampak lebih masuk akal daripada keyakinan.

Pandu-pandu bangsa tak lagi mampu membedakan antara malam yang panjang dan malam yang tak menemukan fajar.

Namun, sejarah dunia sesungguhnya tak mengecualikan Indonesia sendirian. Betapa limpah kisah tentang bangsa-bangsa yang pernah rebah di titik terendah, lalu perlahan menemukan jalan kembali menuju terang.

Jepang pernah hancur sepenuhnya setelah perang. Kota-kotanya rata oleh bom, ekonominya lumpuh, rasa percaya dirinya runtuh.

Tapi, kebangkitannya tidak dimulai dari mukjizat, melainkan dari disiplin kolektif yang begitu panjang: reformasi pendidikan dan etos kerja yang dibangun ulang, hubungan erat antara negara dan industri, serta budaya kualitas yang menolak keteledoran. Mereka membangun kembali bukan hanya infrastruktur, tetapi cara bekerja dan cara berpikir.

Jerman juga bangkit dari kehancuran fisik dan moral. Mereka melakukannya dengan langkah yang berat: mengakui kesalahan masa lalu, memutus jaringan ideologi lama melalui denazifikasi, serta membangun institusi ekonomi dan politik yang menekankan stabilitas dan kepercayaan. Mereka tidak lari dari sejarah, tapi menatapnya sebagai syarat untuk bisa melanjutkan hidup.

China keluar dari kekacauan panjang Revolusi Kebudayaan melalui perubahan kebijakan yang tegas dan bertahap, yaitu: membuka diri pada reformasi ekonomi, memperkenalkan mekanisme pasar secara terkontrol, membangun zona ekonomi khusus, serta mengirim jutaan orang untuk belajar kembali keterampilan dasar pembangunan.

Mereka tidak menunggu sistem sempurna – mereka memperbaikinya sambil berjalan.

Ethiopia bangkit dari kelaparan dan stagnasi dengan kembali ke fondasi paling dasar: air, energi, dan pertanian. Investasi besar pada infrastruktur dasar dan layanan publik menjadi titik awal untuk menghidupkan kembali masyarakat yang pernah berada di ambang kehancuran.

Singapura menunjukkan jalan yang berbeda: sebuah negara kecil tanpa sumber daya alam membangun dirinya melalui disiplin institusi, birokrasi yang efisien, perencanaan jangka panjang yang konsisten, serta meritokrasi yang dijaga ketat. Eksekusi kebijakan menjadi inti, bukan sekadar desain kebijakan.

Afrika Selatan, setelah apartheid, memilih jalan yang tidak mudah: rekonsiliasi melalui pengungkapan kebenaran, bukan penyangkalan. Truth and Reconciliation Commission menjadi ruang untuk membuka luka sejarah agar tidak diwariskan sebagai kebohongan baru. Mereka mencoba membangun masa depan tanpa menghapus masa lalu.

Formula Kebangkitan

Dari berbagai pengalaman itu, tampak satu hal yang berulang, meski dalam bentuk yang berbeda: kebangkitan tidak pernah bertumpu pada satu kunci tunggal.

Ia selalu lahir dari rangkaian yang saling mengikat dalam waktu panjang.

Ada saat ketika sebuah bangsa harus berani memutuskan dirinya dari pola lama – baik melalui krisis, perubahan sistem, atau runtuhnya cara-cara yang tidak lagi bekerja. Dari titik putus itu, ruang baru untuk bergerak perlahan terbuka.

Lalu perhatian kembali pada yang paling dasar: fondasi kehidupan. Pendidikan, kapasitas kerja, dan kebutuhan elementer menjadi tanah tempat masa depan ditanam. Tanpa itu, bangunan yang lebih tinggi tak pernah benar-benar berdiri kokoh.

BACA JUGA  Akankah Krisis Nilai Tukar 1997 Terulang?

Di atas fondasi itu, institusi dibentuk dan diperbaiki – karena di dalam aturan main dan sistemlah arah sebuah bangsa ditentukan, dan konsistensi dijaga.

Namun institusi tidak cukup tanpa disiplin pelaksanaan. Sebab banyak hal runtuh bukan karena salah rancangan, tetapi karena tak pernah benar-benar dijalankan sebagaimana mestinya.

Dan bahkan itu pun belum cukup tanpa kesabaran waktu – tanpa kesediaan untuk menjaga arah yang sama di tengah tekanan, kelelahan, dan pergantian keadaan.

Dalam banyak pengalaman, ada pula satu lapisan yang sering akan menentukan: kemampuan menata kembali hubungan sosial dan luka sejarah, agar masa depan tidak terus dibebani bayang-bayang masa lalu.

Maka kebangkitan bukanlah satu langkah, melainkan suatu jalinan: pemutusan, penguatan fondasi, pembenahan institusi, disiplin eksekusi, konsistensi waktu, dan rekonsiliasi sejarah. Jika satu saja terputus, ia mudah kembali jatuh menjadi siklus yang berulang.

Pelajaran dari pengalaman bangsa-bangsa tersebut mendapatkan simpul penguatan wawasan dari Jared Diamond dalam Upheaval: Turning Points for Nations in Crisis (2019).

Diamond tak hanya mempertanyakan apa yang dilakukan bangsa-bangsa yang berhasil bangkit, tetapi juga mengapa sebagian lain gagal melakukannya.

Di titik awal, ia menempatkan satu syarat yang menentukan: kejujuran untuk mengakui bahwa krisis itu benar-benar ada. Tanpa pengakuan ini, tidak ada langkah berikutnya yang bisa berdiri di atas kenyataan.

Dari sana, jalan kebangkitan bergerak melalui kesediaan untuk belajar – termasuk belajar dari luar diri sendiri – diikuti oleh perubahan institusi yang lebih dalam, dan akhirnya ditopang oleh konsistensi yang panjang, meski mahal dan tidak selalu nyaman.

Dengan demikian, yang tampak sebagai pola dari berbagai negara bukanlah kebetulan, melainkan rangkaian yang saling terhubung: dari pengenalan masalah, pembelajaran pemahaman, perubahan institusi, implementasi, dan akhirnya menuju ketahanan waktu.

Persoalan Indonesia

Jika kerangka Diamond tersebut digunakan untuk membaca Indonesia, maka yang tampak bukan kekurangan niat, melainkan keterputusan di berbagai segi.

Pertama, belum terbentuknya konsensus yang utuh bahwa Indonesia sedang berada dalam situasi krisis yang serius.

Padahal, kita tak bisa melakukan perubahan apa pun, tanpa kejujuran untuk mengakui adanya persoalan. Kita harus berhenti melebih-lebihkan capaian kosmetik, dengan melupakan problem besar yang terus kita abaikan.

Dalam banyak ruang elit dan publik, masih terdapat pula kecenderungan untuk menyangkal atau memperhalus realitas tersebut, dengan menggantinya menjadi istilah yang lebih netral seperti “tantangan pembangunan”.

Akibatnya, titik awal yang seharusnya jernih menjadi kabur, dan kebutuhan untuk perubahan mendasar tidak selalu muncul sebagai urgensi kolektif.

Kedua, Indonesia sering gagal belajar pada (sejarah) dirinya sendiri dan gagal belajar pada bangsa lain.

Dari dalam, kegagalan itu tampak pada ketidakmampuan menjadikan pengalaman historis sebagai pelajaran yang benar-benar hidup. Seringkali, bangsa ini jatuh ke lubang yang sama berkali-kali; mempertahankan yang buruk, membuang yang baik.

Pola yang terbukti lemah diterapkan secara berulang. Pengalaman kegagalan sebelumnya tidak menjadi dasar koreksi kebijakan, dan keberhasilan yang pernah dicapai tidak menjadi dasar penguatan yang berkelanjutan.

Akibatnya, sejarah dirayakan sebatas seremoni atas peristiwa masa lalu, bukan sebagai modal pengamalan untuk membangun masa depan.

Dari luar, kegagalan belajar juga terlihat dalam kecenderungan mengadopsi model secara superfisial.

Gagasan, konsep, dan desain kebijakan dari berbagai negara memang diambil, tetapi seringkali tidak disertai pemahaman atas logika, disiplin, dan konteks yang membuatnya berhasil di tempat asalnya.

BACA JUGA  Kisah Kasih Dalam Sejarah Mutakhir Kita

Yang terjadi bukan internalisasi yang utuh, melainkan peniruan bentuk yang tidak benar-benar mengubah cara kerja yang mendasar.

Ketiga, perubahan institusi sering tidak bergerak seiring dengan desain reformasi yang telah dirumuskan. Kebijakan dapat disusun secara lengkap dan mengikuti kerangka modern tata kelola, tapi dalam praktiknya tidak selalu berubah menjadi perilaku institusional yang konsisten.

Akibatnya, institusi kerap mengalami transformasi yang bersifat formal, namun belum sepenuhnya menyentuh cara kerja dan budaya organisasinya.

Keempat, tantangan muncul pada aspek konsistensi jangka panjang, ketika perubahan yang membutuhkan waktu panjang berhadapan dengan siklus kebijakan dan politik yang relatif pendek.

Dalam kondisi seperti ini, kesinambungan reformasi mudah terpecah oleh pergantian prioritas, tekanan jangka pendek, atau kebutuhan untuk menunjukkan hasil yang cepat, sehingga arah perubahan tidak selalu terjaga secara utuh.

Penutup

Maka inti persoalannya menjadi jelas: bukan kekurangan gagasan, bukan pula ketiadaan upaya.

Melainkan keterputusan antara kenyataan dan pengakuan, antara pengakuan dan keputusan, antara keputusan dan pelaksanaan, serta antara pelaksanaan dan keberlanjutan.

Selama keterhubungan itu belum pulih, pergerakan akan terus terpenggal, tersesat di banyak tikungan, dan tidak pernah benar-benar sampai pada tujuan.

Lebih dari itu, Indonesia juga menghadapi persoalan yang lebih mendasar: keterbelahan antara watak dan kemampuan. Di satu sisi, selalu muncul mereka yang memiliki kecakapan, tetapi menjualnya demi kepentingan sempit.

Di sisi lain, tidak sedikit yang memiliki semangat perjuangan, tetapi tidak cukup kompeten untuk mengubah cita-cita menjadi kenyataan. Akibatnya, bangsa ini kerap terombang-ambing antara pengkhianatan yang efektif dan idealisme yang tak efektif.

Padahal sejarah menunjukkan bahwa kebangkitan tidak pernah lahir dari salah satu di antaranya.

Ia tumbuh ketika integritas bertemu dengan kapasitas; ketika keberanian moral berjalan seiring dengan kecakapan mengelola kenyataan; ketika kesetiaan pada kepentingan bangsa dipadukan dengan kemampuan untuk bekerja secara tekun, disiplin, dan konsisten.

Lebih dari itu, bahwa Indonesia menghadapi persoalan yang lebih mendasar: keterbelahan antara watak dan kemampuan. Di satu sisi, selalu muncul mereka yang cakap tetapi menjual kecakapannya demi kepentingan sempit.

Di sisi lain, tidak sedikit yang tulus memperjuangkan kedaulatan, tapi tidak cukup kompeten untuk mengubah cita-cita menjadi kenyataan. Akibatnya, bangsa ini kerap terombang-ambing antara pengkhianatan yang efektif dan idealisme yang tak efektif.

Padahal sejarah menunjukkan bahwa kebangkitan tidak pernah lahir dari salah satu di antaranya.

Ia tumbuh ketika integritas bertemu dengan kapasitas; ketika keberanian moral berjalan seiring dengan kecakapan mengelola kenyataan; ketika kesetiaan pada kepentingan bangsa dipadukan dengan kemampuan untuk bekerja secara tekun, disiplin, dan konsisten.

Karena itu, pekerjaan terbesar Indonesia bukan sekadar melahirkan pemimpin yang baik, tetapi membangun manusia dan institusi yang sekaligus berkarakter, cakap, dan konsisten.

Sebab hanya dengan cara itulah ruang bagi pengkhianatan dapat dipersempit, sementara cita-cita kedaulatan memiliki peluang untuk benar-benar diwujudkan.

Namun sejarah selalu menyimpan satu kemungkinan yang tak pernah hilang: tidak ada bangsa yang ditakdirkan selamanya berada dalam kegelapan. Bahkan dari malam yang paling panjang sekalipun, fajar selalu menemukan jalan untuk terbit kembali.

Pertanyaannya bukan lagi apakah Indonesia dapat menemukan terang, melainkan apakah kita bersedia menyiapkan manusia dan institusi yang mampu menyambut kedatangannya.

*) Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan

Pendapat dalam artikel ini adalah pandangan pribadi.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.