Dilanjut: “Jangan ngeliat org yang ‘menyimpang dikit’, lgsung dicap pendosa. Emgnya buku catatan Rokib Atit, kita yang pegang? Di mana salahnya? Terus yang bener kita harus menjaga jarak gitu ya? dari orang kayak Ragil? Sepertinya anda yg salah guru.”
Ribuan komen menanggapi podcast Dedy tersebut. Kebanyakan kontra. Ada juga yang pro. Persis seperti gambaran dua komentator di atas. Terjadi perpecahan pendapat di masyarakat.
Sesungguhnya, sudah satu dekade ini terjadi perpecahan pendapat masyarakat. Terhadap sesuatu yang dipublikasi, dan terkait agama. Atau materi yang bisa dimasukkan dalam ranah agama. Sehingga menimbulkan konflik pendapat. Di online, bahkan bisa jadi perkelahian fisik di offline.
BACA JUGA: Kebiri Kimia, Hasil Perang Empati vs Egoistik
Kondisi ini tidak sehat bagi kita, sebangsa. Karena dengan berlarutnya konflik pendapat ini, membuat negara kita ketinggalan dibanding negara yang tidak berkonflik pendapat terkait SARA. Kita kalah maju, kalah sejahtera.
Dan, mayoritas kita tampaknya tak peduli dengan kekalahan ini. Tidak maju dan tidak sejahtera, dianggap tidak apa-apa. Terbukti, konflik pendapat terus berlarut. Malah intensitasnya cenderung naik.
Uniknya, kita juga cemburu terhadap negara kaya dan sejahtera. Atau, tepatnya ingin Indonesia seperti kondisi negara yang maju dan sejahtera itu. Dua hal yang kontradiktif.
Masyarakat kurang peduli pada masalah kebangsaan. Persatuan. Masyarakat hanya peduli pada diri sendiri. Pada keuntungan materi untuk diri pribadi. Kelihatan dari banyaknya kasus korupsi.
Bagi Dedy Corbuzier, potensi konflik pendapat ini, justru ditampilkan. Ia pasti paham, bahwa topik LGBT bisa menimbulkan heboh. Justru itu yang ia harapkan.
Karena, podcast mirip koran. Kalau isinya enggak seru, pasti bakal sepi viewers. Dan, viewers banyak dapat imbalan duit banyak dari Google Ads. (B)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi