Ia ceritakan, ketika ia masuk masa puber, segalanya menjadi jelas. Ragil tahu, teman-temannya pria menyukai (bergairah asmara terhadap) cewek. Sedangkan, Ragil tidak.
Ragil: “Saya malah suka (bergairah asmara) pada bapak guru olahraga yang gagah.” Setelah itu ia sedih, karena ia tahu bahwa itu penyimpangan. Dan, penyimpangan psikologi seksual itu jadi bahan ejekan teman-temannya. Ragil diejek – dibully, dan ia sedih.
Logikanya, Ragil remaja tidak mungkin menyukai (bergarirah asmara terhadap) pria, dengan risiko diejek dan terkucil. Jadi, ia terombang-ambing antara menuruti kata hatinya, yang berarti diejek teman. Atau berpura-pura menyukai lawan jenis, tapi tak sesuai dengan jiwanya.
BACA JUGA: Terbegal Bunuh Begal, Polri Butuh Pendapat
Materi itu informatif. Memberitahu publik, bahwa begitulah gay. Ada orang yang dilahirkan dalam bentuk begitu. Terus, bagaimana sikap masyarakat menerima kondisi orang yang begitu?
Tapi masyarakat Indonesia bukan hanya agamis, melainkan sangat agamis. Sehingga podcast ini jadi kontra-produktif. Atau dikecam banyak orang.
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH Cholil Nafis mengkritik podcast tersebut. Kritik diunggah di akun Twitter, Senin, 9 Mei 2022.
KH Cholil: “Saya masih menganggap LGBT (Lesbian Gay Biseks dan Transgender) itu ketidaknormalan yang harus diobati. Bukan dibiarkan dengan dalih toleransi.”
Dilanjut: “Yang jelas pasangan itu (Ragil dan Frederick) sudah masuk podcast-nya (Dedy Corbuzier). Saya berharap yang punya podcast itu paham kalau Islam melarang dan mengutuk LGBT. LGBT itu harus diamputasi bukan ditoleransi.”
KH Cholil menyatakan, menyayangkan Dedy seolah memberi panggung kepada LGBT, yang mestinya diamputasi.
Tak pelak, warganet ramai mengutuk Dedy. Bahkan, menyoal agama Dedy. Seperti diketahui, Dedy adalah mualaf.
Salah satu warganet di twitter menulis begini: “Bodo amat Ragil dan “lakinya” diundang podcast Deddy.
Dilanjut: “Itu memperjelas dia mualaf bukannya menjadi lebih lebih baik tapi malah sebaliknya. Dedy keliru memilih guru agama.”
Komentar pedas ini pun direaksi warganet lain. Sebagian dari warganet merasa penilaian salah atau benar, tak perlu diutarakan. “Intinya jadi manusia jangan merasa ibadah kita paling bener, ajaran agama kita yang paling baik,” tulis seorang warganet.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi