Senin, 11 Mei 2026, pukul : 21:23 WIB
Surabaya
--°C

Politik Tiongkok Masa Kini, Dahana: Fokus pada Pembangunan Ekonomi dan Dominasi PKT

KEMPALAN: Usai berdiskusi secara panjang lebar mengenai revolusi kebudayaan yang digawangi oleh Mao Zedong dan pembantaian yang mengikutinya. Saya bersama Profesor Dahana bergerak pada pembahasan mengenai nasib Tiongkok pasca Mao, lebih tepatnya era Deng Xiaoping.

Deng Xiaoping merupakan salah orang yang disasar untuk diganyang dalam Revolusi Kebudayaan, namun Mao meninggal terlebih dahulu pada 1976 sebelum melakukan persekusi terhadap birokrat tersebut. Revolusi Kebudayaan memakan banyak korban dari kelompok birokrat.

“Sebenarnya Deng juga sudah jadi sasaran Mao tapi nasib dia tak seburuk Liu Shaoqi,” tutur Sinolog asal Universitas Indonesia itu.

Diketahui bahwa semenjak Deng Xiaoping berkuasa pada usai meninggalnya Mao Zedong, Tiongkok terkenal mengadopsi sistem perekonomian yang lebih liberal yang bisa dibilang dianut hingga sekarang. Doktrinnya adalah sosialisme tidak sama dengan kemiskinan.

Adapun, menurut Abdullah Dahana, pemikiran Deng dipertahankan guna mempertahankan dominasi Kung Chang Tang (KCT/Partai Komunis Tiongkok-PKT). “Deng berulang-ulang mengatakan reformasi tidak berarti demokrasi ala Barat,” tambahnya.

Terkait dampak dari reformasi yang dibawa Deng, pakar Tiongkok itu mengutarakan bahwa tuntutan akan hak-hak demokrasi akan muncul pada suatu saat.

“Ada teori yang mengatakan bahwa pada suatu titik tertentu kemakmuran akan  bertemu dengan demokrasi. Rakyat yang sudah makmur akan menuntut kebebasan berpendapat. Tiananmen 1989 merupakan contohnya,” jelas Dahana.

Deng sendiri semakin menguat dikarenakan dukungan massa terhadapnya pasca wafatnya pemimpin besar revolusi Tiongkok.

“Masyarakat sudah bosan dengan kampanye politik yang tidak ada habisnya semasa Mao,” tutur mantan direktur eksekutif AMINEF itu.

Ia menyampaikan, pola politik Xi Jinping dan Deng Xiaoping ialah sama dengan berfokus pada pembangunan ekonomi serta mempertahankan dominasi PKT. Adapun dominasi ini belum waktunya berkurang dan hanya akan terjadi perubahan politik di Tiongkok kalau sudah ada kemakmuran.

“Karena fokus pembangunan ekonomi PKT mendapat dukungan dari masyarakat Tiongkok,” jelas alumni Universitas Hawaii di Manoa tersebut.

Profesor Sinologi yang sudah pensiun itu berpendapat bahwa segi menarik dari Tiongkok ialah walaupun politiknya menganut komunisme, namun perekonomiannya mengikuti jalur kapitalisme. Hal ini dapat dilihat melalui ekspansi ekonomi yang masif dari negara tetangga Rusia itu.

Seperti yang kita ketahui sekarang, ekspansi perekonomian Tiongkok dilakukan melalui Belt and Road Initiatives yang dulunya bernama One Belt One Road (OBOR). Adapun sejumlah perusahaan Tiongkok seperti Huawei dan Alibaba juga masuk dalam perekonomian Indonesia. (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.