Senin, 11 Mei 2026, pukul : 17:14 WIB
Surabaya
--°C

Gombloh Dihidupkan Kembali di Bangunrejo Surabaya Lewat Multi Even

KEMPALAN : Nama maestro musik legendaris Gombloh  kembali menggema dari kampung Bangunrejo. Bekas lokalisasi terbesar di Surabaya yang menjadi ladang inspirasi musisi legendaris tersebut.

Bukan sekadar nostalgia, tiga komunitas lintas generasi bersinergi menghidupkan kembali warisan sosial dan kultural sang seniman melalui sebuah event bertajuk “Gombloh Bukan Hanya di Radio”  pada 12–14 Juli 2026.

Kegiatan yang diinisiasi oleh Memories of Gombloh (Mogers), Sanggar Seni Omah Ndhuwur Bangunrejo, dan JatiSwara ini menghadirkan pameran memorabilia sebagai inti acara.

Beragam artefak akan dipamerkan, mulai dari barang peninggalan pribadi, arsip media lama, hingga dokumentasi foto perjalanan hidup Gombloh.

“Di dalam acara itu terdapat pameran memorabilia Gombloh. Akan disajikan berbagai benda terkait, baik peninggalan, artikel media lama, maupun foto-foto,” ujar Esthi Susanti Hudiono, perwakilan panitia.

Namun lebih dari sekadar pameran, event ini menjadi ruang refleksi tentang nilai-nilai kemanusiaan yang diwariskan Gombloh.

Perhelatan bertajuk Sasana Shanti Antropologi yang diangkat dari salah satu lagunya menggambarkan bagaimana peradaban masa kini kelak dibaca melalui artefak dan jejak sejarah.

“Lagu itu mengisahkan tentang masa depan. Tentang sebuah museum yang berisi tulang-belulang atau fosil manusia masa kini,” ujar Affandy Willy Yusuf, Ketua Mogers Indonesia.

Bangunrejo dipilih bukan tanpa alasan. Kawasan ini pernah menjadi ruang hidup sekaligus sumber inspirasi Gombloh.

Di tengah realitas sosial yang keras—bahkan dikenal sebagai kawasan prostitusi—Gombloh justru melahirkan karya-karya yang sarat empati terhadap kaum marjinal.

“Gombloh pernah berkiprah di Bangunrejo. Ia menjadikan kawasan ini sebagai sumber inspirasi. Banyak lagu-lagunya bertema kemanusiaan,” ujar Abdul Semute, Ketua Sanggar Seni Omah Ndhuwur.

Lagu-lagu seperti Loni Pelacur, Jamilah Penghuni Lorong Hitam, hingga Mulyati-Mulyati, bukan sekadar cerita melainkan potret getir kehidupan yang diolah dengan pendekatan humanis.

Bahkan, menurut beberapa sahabatnya, Gombloh dikenal aktif membantu para pekerja malam keluar dari lingkaran kehidupan tersebut.

“Ia ingin mewujudkan dunia tanpa prostitusi… sudah banyak pekerja malam yang dientaskan,” kata Guruh Dimas Nugraha, ketua panitia sekaligus penulis biografi Gombloh. Semangat itulah yang kini ingin dihidupkan kembali.

Bagi panitia, Gombloh bukan hanya musisi dengan lagu populer, tetapi juga representasi kepekaan sosial yang kuat.

“Ia tidak hanya dikenal melalui karya-karya populer… tapi juga melalui sensibilitas sosial yang kuat dalam merepresentasikan realitas masyarakat,” ujar Esthi.

Dukungan juga datang dari pemerintah setempat. Lurah Dupak, Lutfan Hadie Wibowo, menyebut kegiatan ini sebagai langkah positif untuk mengenalkan kembali sosok Gombloh kepada masyarakat luas.

“Agenda ini positif. Demi memperkenalkan sosok Gombloh pada masyarakat,” ujarnya.

Selama tiga hari pelaksanaan, event ini tidak hanya menghadirkan pameran, tetapi juga live music, lomba menyanyi lagu Gombloh, hingga diskusi publik yang melibatkan seniman, akademisi, hingga penggemar lintas generasi.

Di tengah arus zaman yang serba cepat, upaya ini menjadi pengingat bahwa karya besar tak hanya hidup di radio atau rekaman, tetapi juga dalam tindakan dan nilai kemanusiaan.

Dari Bangunrejo, Gombloh seolah kembali—bukan sekadar dikenang, tetapi dihidupkan kembali sebagai inspirasi.

(Rokimdakas)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.