SURABAYA-KEMPALAN: Di sebuah ruang yang dipenuhi aroma kayu dan logam di SMA Labschool Unesa 1 Surabaya, dentuman kendang tak sekadar menjadi penanda ritme, melainkan jembatan komunikasi dua benua. Melalui tabuhan saron dan bonang, para siswa bersinergi dengan mahasiswa internasional asal Uzbekistan dan Prancis dalam sebuah dialog budaya yang melampaui batas bahasa.
Kegiatan ini bukan sekadar kunjungan biasa. SMA Labschool Unesa 1 sedang memainkan peran sebagai duta kebudayaan. Di bawah bimbingan Mela Yunitasari, S.Pd., M.Pd., guru Bahasa Jawa yang juga motor penggerak kegiatan ini, instrumen karawitan bertransformasi menjadi media cultural exchange yang elegan.
Simfoni Peradaban di Atas Bilah Saron

Bagi Camilia Kouandi, mahasiswi asal Prancis, menyentuh bilah-bilah logam gamelan adalah pengalaman sensorik yang magis. “Suaranya sangat unik dan indah. Ini pengalaman pertama saya, dan ada koneksi instan saat memainkannya bersama para siswa,” ungkap Camilia dengan binar mata antusias.
Ketertarikan Camilia bukan tanpa alasan. Karawitan Jawa dikenal dengan sistem titi laras pelog dan slendro yang secara matematis rumit namun secara rasa sangat menenangkan. Inilah yang ditonjolkan oleh sekolah: bahwa pendidikan bukan hanya soal menghafal teori, tapi merasakan filosofi “selaras” yang ada dalam gamelan.
Membangun Kebanggaan di Era Global

Kepala SMA Labschool Unesa 1 Surabaya, Dewi Purwanti, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa kegiatan ini adalah strategi sekolah untuk menciptakan lulusan yang globally connected namun tetap memiliki akar budaya yang kuat.
“Kami ingin membangun rasa bangga. Ketika siswa melihat orang asing terpukau dengan budaya kita, saat itulah rasa memiliki mereka tumbuh berlipat ganda,” ujar Dewi. Senada dengan itu, Mela Yunitasari menambahkan bahwa karawitan adalah manifestasi nilai seni yang kaya makna—sebuah bahasa universal yang bisa dimengerti oleh warga dunia.
Suara Siswa: Dari Surabaya untuk Dunia

Bagi para siswa seperti Steffy Aulia, Endang Ceisa, dan Alzena, kehadiran rekan-rekan dari Uzbekistan dan Prancis memberikan perspektif baru. Mereka tidak hanya berperan sebagai tuan rumah, tapi juga sebagai pengajar budaya.
“Bermain karawitan bersama membuat suasana menjadi lebih akrab. Kami belajar percaya diri memperkenalkan identitas kami sebagai anak muda Indonesia,” tutur Endang Ceisa.
Kegiatan ini membuktikan bahwa di tangan generasi yang tepat, kebudayaan tradisional tidak akan menjadi artefak yang berdebu. Di SMA Labschool Unesa 1, karawitan tetap hidup, bernapas, dan terus berdenting, mengabarkan pada dunia bahwa harmoni dari Surabaya bisa menyatukan perbedaan dari penjuru bumi.(Ambari Taufiq/M Fasichullisan)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi