Oleh: Ady Amar, Kolumnis
KEMPALAN: Ada kalanya yang membuat orang gelisah bukanlah kekuasaan yang terlalu besar, melainkan seorang anak muda yang terlalu berani menghadirkan kegelisahan itu.
Tiyo Ardianto—Eks Ketua BEM Universitas Gajah Mada—berbicara dengan kelantangan yang membuat banyak orang kagum, tetapi juga cemas.
Bukan karena kritiknya selalu benar, melainkan karena ia mengucapkannya seperti seseorang yang belum belajar takut.
Mungkin persoalannya bukan Tiyo yang terlalu berani. Mungkin justru kita yang sudah terlalu lama hidup dalam suasana yang membuat keberanian terasa sebagai sesuatu yang tidak lazim.
Sebagai mahasiswa, Tiyo sesungguhnya sedang melakukan sesuatu yang menjadi bagian dari tradisi panjang gerakan kampus di Indonesia: mengawasi, mengkritik, dan mengingatkan kekuasaan.
Tradisi itu pernah melahirkan banyak tokoh, banyak perdebatan, dan banyak perubahan.
Kampus tidak dibangun hanya untuk mencetak tenaga kerja yang patuh, melainkan juga warga negara yang berpikir merdeka.
Namun yang membuat Tiyo menonjol bukan semata isi kritiknya—tapi kesan bahwa ia berjalan beberapa langkah di depan kawan-kawannya. Di saat banyak mahasiswa memilih berbicara dalam forum-forum terbatas, ia memilih ruang publik. Di saat banyak yang menimbang risiko, ia tampak lebih sibuk menyampaikan kegelisahan. Akibatnya, suara yang seharusnya menjadi paduan suara kampus terdengar seperti suara seorang diri.
Mungkin saja ada banyak mahasiswa yang memiliki kegelisahan yang sama. Mungkin ada yang menyimpan kritik yang serupa. Mungkin ada yang tidak sepakat dengan berbagai kebijakan pemerintah. Tetapi kegelisahan yang hanya beredar di ruang-ruang tertutup tidak pernah menjadi percakapan publik. Kritik yang hanya berhenti di lingkaran pertemanan tidak pernah menjadi bagian dari kontrol sosial yang sehat.
Karena itu, Tiyo menjadi penting bukan karena ia harus selalu benar. Tidak ada manusia yang selalu benar. Ia penting karena mengingatkan bahwa fungsi moral mahasiswa belum sepenuhnya hilang.
Bahwa masih ada anak muda yang bersedia mengambil posisi yang tidak nyaman demi menyampaikan apa yang menurutnya perlu dikatakan.
Negara semestinya melihat fenomena ini dengan kepala dingin.
Seorang mahasiswa yang menyampaikan kritik bukan ancaman bagi republik. Ancaman justru muncul ketika warga negara mulai takut berbicara. Demokrasi tidak pernah runtuh karena terlalu banyak kritik.
Demokrasi justru kehilangan rohnya ketika kritik dianggap sebagai gangguan yang harus dibungkam.
Karena itu, negara tidak perlu menyetujui semua yang dikatakan Tiyo Ardianto. Negara juga tidak wajib menganggap seluruh kritiknya benar.
Tetapi negara wajib memastikan bahwa hak seorang warga negara untuk berbicara tetap terlindungi. Negara wajib menjamin bahwa tidak ada intimidasi, ancaman, atau teror yang menghampiri mereka yang menggunakan hak konstitusionalnya untuk menyampaikan pendapat.
Hal itu menjadi semakin penting ketika lembaga-lembaga yang secara konstitusional diberi tugas mengawasi kekuasaan tampak kehilangan ketajamannya di mata publik. Ketika parlemen lebih sering terlihat menyetujui daripada menguji, ketika fungsi pengawasan terasa melemah, maka suara dari kampus menjadi semakin berharga.
Pertanyaan-pertanyaan yang tidak lagi terdengar dari gedung parlemen sering kali justru muncul dari ruang-ruang akademik.
Dalam keadaan seperti itu, keberadaan mahasiswa yang berani berbicara bukanlah masalah yang harus dicurigai, melainkan aset demokrasi yang harus dijaga. Sebab sebuah republik yang sehat tidak diukur dari banyaknya pujian yang diterima penguasa, melainkan dari seberapa aman para pengkritiknya hidup dan berbicara.
Karena itu, jika ada yang mengatakan Tiyo Ardianto terlalu berani, mungkin memang benar. Tetapi sebuah republik tidak seharusnya takut pada mahasiswa yang terlalu berani. Menjadi pantas jika yang ditakuti ketika keberanian seperti itu menjadi barang langka, ketika kampus kehilangan suaranya, dan ketika kritik yang dulu tumbuh sebagai bagian alami demokrasi berubah menjadi sesuatu yang dianggap luar biasa.
Negeri ini tidak membutuhkan lebih sedikit Tiyo Ardianto. Negeri ini membutuhkan lebih banyak anak muda yang berani bertanya, berani menguji, dan berani mengingatkan bahwa kekuasaan, sebesar apa pun, tetap harus bersedia diawasi.
Demokrasi tidak hidup dari slogan membuncah. Demokrasi hidup dari keberanian orang-orang yang bersedia mengajukan pertanyaan ketika yang lain memilih diam. Dan hari ini, di tengah sunyi yang terasa semakin panjang, suara itu kebetulan datang dari seorang anak muda bernama Tiyo Ardianto.**

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi