KEMPALAN: Sepertinya setiap kejadian buruk dan tidak terpuji selalu ditimpakan pada Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta. Meski kejadian itu tidak sedikit pun nyerempet pada Anies, tetap saja dipaksakan, dibuat menjadi perbuatan Anies. Setidaknya dikesankan Anies ada dalam skenario perbuatan tidak terpuji itu. Pokoknya nama Anies harus dicantolkan di situ.
Dibuat seolah ada Anies pada setiap kejadian tidak terpuji, itu memang skenario kampanye hitam (black campaign) yang dilakukan oleh mereka yang memang bekerja untuk menjegal Anies dalam perhelatan Pilpres 2024. Skenario menggerus akseptabilitas Anies terus diupayakan. Dan dengan segala cara.
Teranyar kasus dihajarnya ramai-ramai Ade Armando, saat Demo Mahasiswa, 11 April. Ade babak belur dihajar mereka yang merasa mendapat kesempatan bertemu dengannya. Kesan yang timbul seakan demikian. Tragedi Ade Armando ini tidak terlepas dari sebab akibat. Tidak ujug-ujug. Tidak berdiri sendiri. Ade Armando sebenarnya pihak yang memantik api, yang api itu berkobar saat kesempatan menemukan momennya.
Ade Armando kerap melontarkan pernyataan penistaan terhadap Islam. Dilaporkan pada pihak Kepolisian, tapi tidak diproses. Bahkan sejak 2017 ia dinyatakan tersangka pada kasus penodaan agama, tapi kasusnya mandek. Muncul asumsi publik, bahwa Ade Armando juga kawan-kawannya–Denny Siregar, Abu Janda dan lainnya–kebal hukum. Menjadi manusia terlindungi, meski mereka disangkakan melecehkan keyakinan (agama) yang sakral, dijadikan bahan mainan atau olok-olok.
Pembiaran Ade Armando dan kelompoknya–yang kebetulan sebagai pendukung rezim–itu bisa jadi yang memunculkan pengadilan jalanan. Ade Armando dihajar ramai-ramai entah oleh siapa. Bisa jadi dilakukan oleh mereka yang merasa tersakiti oleh ulahnya melecehkan agama. Atau justru ini peristiwa yang diskenariokan lain, mengambil tempat saat demo terjadi. Ade Armando menjadi korban pengeroyokan, atau justru sengaja dikorbankan untuk dikeroyok. Polisi sedang bekerja, dan berharap bisa membuka tabir peristiwa itu seadil-adilnya.
Peristiwa dihajarnya Ade Armando itu terus digoreng oleh kelompok buzzer, bahwa pelakunya disebutnya biadab. Menyasar pada satu kelompok, yang disebutnya radikal-intoleran-kadrun. Narasi itu yang memang terus dibangun. Tidak perlu melihat latar belakang peristiwa, apalagi melihat peran siapa di balik peristiwa itu. Terpenting peristiwa itu ditarik dan bisa diarahkan pada satu nama: Anies Baswedan.
Dihadirkan Anies pada peristiwa itu, meski nantinya tidak terbukti, itu tidaklah menjadi masalah. Terpenting nama Anies disebarkan buruk, setidaknya dikesankan buruk. Ingin menstempel Anies intoleran. Atau setidaknya dikesankan, bahwa pendukung Anies itu kelompok intoleran bahkan radikal. Disebutlah ada HTI dan FPI sebagai pendukung utamanya. Nalar publik terus dijejali narasi buruk tentang Anies. Tidak saja dilakukan oleh buzzer non partai, tapi juga dilakukan oleh Partai Solidaritas Indonesia (PSI), sebuah partai yang seolah dihadirkan bekerja untuk mengganjal Anies Baswedan.
Skenario yang Mudah Terbaca
Peristiwa tragedi Ade Armando coba ditarik agar mengena pada Anies Baswedan. Dibuatlah skenario, meski tampak asal-asalan. Yang penting bisa meramaikan jagat pemberitaan, khususnya jagat media sosial. Dimunculkanlah grup WhatsApp (WA), yang menamakan diri Relawan Anies Apik 4.
Tidak persis tahu apakah ada Relawan Anies Apik 1, 2 dan 3. Tapi yang muncul justru Relawan Anies Apik 4. Belum pernah terdengar sebelumnya, adanya Relawan Anies 4 itu. Pasti pula belum dideklarasikan. Tampaknya grup relawan ini dihadirkan bersamaan dengan tragedi Ade Armando.
Grup Relawan Anies Apik 4 ini yang disebut sebagai pihak yang menginformasikan kehadiran Ade Armando di lokasi demonstrasi. Seorang anggota grup bernama Usman yang membagikan foto demo di depan Gedung DPR RI. Di situ tampak juga Ade Armando sedang diwawancara. Tampak pula seseorang paruh baya yang melihat kamera sambil mengajak orang-orang untuk memukuli Ade Armando.
Media pojoksatu.id (13 April), mencoba membongkar kemunculan Relawan Anies Apik 4 yang serba misteri itu:
(1) Baru terdengar, (2) Belum deklarasi, (3) Foto demo janggal, (4) Framing, (5) Dibuat usai Ade Armando dikeroyok.
Framing dibuat menggiring seolah pengeroyokan itu dilakukan oleh relawan Anies Baswedan. Mencari cantolan, bahwa ada unsur Anies Baswedan di situ. Jagat pemberitaan dibuat menjadi ramai, bahwa ada Anies di belakang pengeroyokan Ade Armando. Kesan yang ingin ditimbulkan, bahwa Anies atau setidaknya relawan Anies, melakukan tindakan biadab. Terus saja itu yang disuarakan. Berharap ada yang mempercayainya. Menganggap rakyat bodoh, tidak melek pada sebuah peristiwa yang dipolitisir.
PSI lewat Grace Natalie, mantan Ketua Umumnya, yang saat ini menjabat Wakil Ketua Dewan Pembina, itu merasa perlu come back guna menyudutkan Anies Baswedan. Sebagaimana disampaikannya di kanal Cokro TV, Rabu (13 April).
Ia sampaikan tuduhan yang tidak main-main, dan itu cuma berdasar asumsi yang dibuatnya. Katanya, bahwa simpatisan FPI dan HTI ini menjadi Relawan Anies Baswedan, yang ikut aksi demo 11 April, dan mengeroyok dosen UI, Ade Armando.
Seolah Grace Natalie lebih tahu dari polisi yang sedang melakukan penyelidikan. Atau jangan-jangan Grace sendirilah salah satu pihak yang terlibat menyiapkan skenario menyudutkan Anies Baswedan. Pola yang dipakainya memang khas politisi busuk, yang bekerja nyaris serupa buzzer. Bicara tanpa perlu data penunjang.
Manusia semacam Grace Natalie dan kawan-kawannya bisa menyampaikan pendapat asbunnya, itu hanya di kanal Cokro TV, yang memang dihadirkan seolah punya tugas khusus memframing negatif Anies Baswedan. Membicarakan Anies dengan tidak sebenarnya akan terus dilakukan, setidaknya sampai 2024.
Ade Armando jadi pihak yang patut dikasihani. Betapa tidak, kasusnya dijadikan alat politisasi kawan-kawannya sendiri. Digoreng sampai waktu tak terbatas, bisa jadi sampai ditemukan lagi kasus negatif yang bisa dicantolkan pada Anies Baswedan. Maka, entah sampai kapan gorengan itu dimainkan. Dan, Anies seperti biasanya, tidak menanggapi hal demikian. Anies sepertinya tidak mau buang waktu percuma. Menganggap sebagai angin lalu saja. Anies tetap dengan kerja-kerja terukurnya, tak risau dengan gunjingan para buzzer dan politisi busuk. Emang gue pikirin, bisa jadi itu yang ada di benaknya. Memilih tak ambil pusing. (*)
Editor: Muhammad Tanreha

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi