Jumat, 12 Juni 2026, pukul : 12:33 WIB
Surabaya
--°C

Parigi Moutong

Kejahatan yang dilakukan tentara Amerika Serikat dalam perang Vietnam selama kurun waktu 20 tahun sejak 1955 sampai 1975 adalah bagian dari pembelaan terhadap kepentingan negara. Pembunuhan orang-orang sipil satu desa dengan pembakaran bom napalm adalah bagian dari tugas negara.

Kejahatan terhadap kemanusiaan yang mengerikan menjadi sesuatu yang biasa, karena dilakukan atas nama negara. Benar atau salah tidak menjadi pertanyaan, sepanjang masih dijustifikasi atas nama kepentingan negara.

Dalam tradisi pewayangan, darma kepada negara melahirkan kekerasan skala masif dalam Perang Barata atau Baratayuda. Sesama saudara saling membunuh, sesama saudara saling mengkhianati dengan berbagai intrik, semuanya dilakukan atas nama darma kepada negara.

Kisah epik pewayangan menampilkan tokoh-tokoh nasionalis pembela negara yang mempunyai motif yang berbeda-beda. Dalam kisah Baratayuda Adipati Karna, seorang ksatria yang jujur dan berintegritas, membela Kerajaan Astina yang zalim terhadap Pandawa.

BACA JUGA  Ketika Dunia Mulai Mengurangi Eksposur ke Indonesia

Adipati Karna seorang ksatria profesional yang tangguh dan sakti mandraguna tidak ada tanding. Satu-satunya ksatria yang bisa menandingi Karna adalah Arjuna yang masih bersaudara. Arjuna menolak bertarung melawan Karna, tetapi Batara Kresna meyakinkan Arjuna bahwa darma seorang ksatria harus dilaksanakan dengan risiko apa pun.

BACA JUGA: Wadas Bagai Negeri Menjelang Merdeka

Kresna bersedia menjadi kusir Arjuna dalam perang saudara melawan Karna. Panah Pasopati Arjuna akhirnya menembus leher Karna yang gugur ke bumi dengan tersenyum tanpa dendam atau sakit hati. Dua ksatria saling membunuh dengan alasan masing-masing.

Dalam epik Ramayana, Raksasa Kumbakarna membela kakaknya, Rahwana, yang menculik Dewi Sinta, istri Rama. Sedangkan Wibisana, adik kandung Kumbakarna dan Rahwana memilih menyeberang ke kubu Rama dan memerangi negara dan saudaranya sendiri.

BACA JUGA  Politik MBG: Tidak ada Makan Siang Gratis

Kumbakarna mati ditembus panah Rama. Ia mati sebagai pahlawan negara. Wibisana membantu Rama menaklukkan negara Alengka yang zalim. Rama membunuh Rahwana dan membebaskan dewi Sinta. Wibisana menjadi pahlawan kebenaran dengan mengkhianati negaranya.

Ben Anderson mengaitkan wayang dengan politik Orde Baru dengan mengatakan bahwa ABRI di masa Orde Baru diberi doktrin wayang oleh Soeharto. Dengan doktrin itu ABRI merasa mendapatkan pembenaran atas kejahatan yang dilakukan dalam bentuk represi terhadap rakyat. Di bawah Soeharto, ABRI mengalami banalitas kekerasan dan menganggap kejahatan yang dilakukannya adalah bagian dari darma terhadap negara.

Joko Widodo mengadopsi filosofi kepemimpinan Jawa yang mirip dengan Soeharto. Di bawah Jokowi sekarang tanda-tanda banalitas kekerasan itu juga mulai terlihat jelas. (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.