KEMPALAN: Wadas tiba-tiba menjadi berita nasional, bahkan internasional. Wadas yang tadinya tak dikenal, menjadi terkenal seantero penjuru. Berita tentang Wadas menyita perhatian publik. Sebelum peristiwa Wadas itu meletus dan jadi pembicaraan, tidak banyak orang mengenalnya.
Wadas bahkan bisa diserupakan penemuan benua baru yang muncul dari dasar laut, atau penemuan planet baru di jagat raya antariksa. Agak berlebihan ya… Atau setidaknya yang lebih riil, Wadas semacam negeri jajahan, yang berjuang menjelang merdeka. Ada perlawanan di sana. Mengingatkan negeri sendiri dulu kala saat melawan penjajah.
Padanan Wadas berlebihan yang diserupakan temuan benua baru, atau seperti munculnya planet baru, atau bahkan negeri yang tengah bergolak menuju kemerdekaannya, itu sah-sah saja diungkap sebagai sebuah ibarat. Tapi realita tentang Wadas, yang jadi berita menghebohkan itu, sejatinya cuma sebuah desa kecil. Adanya di Purworejo, Jawa Tengah.
Meski desa kecil, Wadas bisa diserupakan dengan negeri yang berharap merdeka. Maka perlawanan atas hak-hak sebuah negeri dilakukan. Perlawanan warga Wadas atas tanah yang dipaksa “dirampas”, konon untuk sebuah proyek bendungan. Ada pula yang mengatakan, bahwa di tanah itu mengandung Andesit dengan jumlah tidak kecil. Jika benar, itu pastilah mendatangkan uang tidak recehan.
Rakyat di Desa Wadas cuma berpikir sederhana. Tidak melihat bahwa di permukaan tanahnya ada harta karun peninggalan nenek moyang yang bernilai fantastis. Rakyat Wadas yang hidup sederhana hanya berpikir simpel penuh kesyukuran, bahwa tanah tempat tinggal dan tempat mengais rezeki turun-temurun itu tanahnya subur. Tanah itulah yang menghidupi mereka. Dan, itu yang ingin dipertahankannya.
Maka, pecahlah peristiwa di pagi menjelang siang. Gabungan aparat Kepolisian, TNI dan Satpol PP dengan jumlah tidak sedikit memasuki desa Wadas. Warga Wadas terteror ketakutan. Ibu-ibu menjerit pilu dan anak-anak mereka pun menangis histeris. Lelaki remaja dan berumur, setelah tertekan lari ke masjid mempertahankan diri di rumah Tuhan. Tapi aparat tetap mencokoknya satu persatu, hingga puluhan jumlah yang ditangkap layaknya penjahat. Meski lalu dilepas, karena publik memprotes kesewenang-wenangan menjadi berita besar.
Wadas bukan termasuk wilayah yang masuk dalam proyek Bendungan Bener, itu sahut Wakil Rakyat yang mendatangi wilayah itu mencari tahu. Maka, kotak pandora mulai terbuka. Apa sebenarnya yang dikehendaki mereka yang ada di balik “perampasan” tanah Wadas, mulai sedikit terkuak. Bahkan terkuak pula lewat pintu apa dan siapa yang meloloskan pengembang di Desa Wadas itu.
Asumsi adanya harta karun di bawah tanah Wadas seakan jadi pembenar. Syahwat perampasan yang dilakukan, bagai watak penjajah. Merampas dengan cara menekan lewat teror pada warga, berharap keseluruhan tanah Wadas itu bisa dikuasai. Disebagian tanah Wadas memang sudah digarap penambang, yang bahkan tak memiliki Izin Usaha Pertambangan (IUP) dari pemerintah pusat. Pastilah ini penambang istimewa, yang dapat keleluasaan setidaknya lewat pemerintah daerah.
Pengembang bergerak lewat izin yang diberikan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Setidaknya itu yang menggerakkan gabungan aparat masuk ke desa Wadas. Alasan absurd dipakai, bahwa aparat hanya sekadar mengawal pengukuran tanah. Mengukur tanah orang lain tanpa izin, itu upaya teror atas warga Wadas.
Hak apa Gubernur Ganjar Pranowo mengerahkan aparat dengan jumlah tidak sedikit, ada yang menyebut seribuan aparat dikerahkan, meski dibantah Kapolda Jawa Tengah, hanya ratusan aparat dari Kepolisian. Selaku pimpinan wilayah, Ganjar Pranowo bisa disebut pihak yang “mengerahkan” kekuatan meneror warganya sendiri. Karena lewat pintu kebijakan yang dibuatnya, semua itu bisa terjadi.
Kabupaten Purworejo, wa bil khusus desa Wadas, ubudiah warganya lebih dekat pada nahdliyyin (NU), dan pilihan politiknya pada PDI-P. Bagaimana bisa warga Wadas yang punya sumbangsih memenangkan Ganjar Pranowo yang diusung PDI-P, sebagai Gubernur Jawa Tengah, bahkan hingga dua periode, tapi justru warganya menerima perlakuan tidak semestinya. Duh, kasihan.
Wadas pastilah bukan tanah jajahan. Memperlakukan warga Wadas dengan gaya penjajah memperlakukan tanah jajahannya, itu bentuk kezaliman nyata yang mesti dilawan. Heroik perlawanan warga Wadas itu langkah sepatutnya. Itu hak manusia merdeka.
Wadas memang sebuah desa, bagian dari Indonesia yang telah merdeka lebih dari tujuh dekade lalu, tapi diperlakukan dengan tindak kezaliman nyata. Diperlakukan seolah tanah jajahan. Semua berawal dari kebijakan pemimpin yang tidak hadir bagi rakyat yang dipimpinnya. Itu yang terjadi dengan Wadas, yang warganya tak mendapat hak semestinya… Wallahu a’lam. (*)
Editor: Muhammad Tanreha

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi