KEMPALAN: Bahaya jika laga racing yang identik dengan sportivitas ditarik pada politik, yang cenderung penuh kepentingan. Gelaran Formula E semata laga racing, dan semestinya tidak dilihat dengan pendekatan politik.
Aroma anyir politik memang keras tercium, sejak awal gagasan besar itu ingin dihadirkan. Menggiring seolah racing itu jadi jalan lempang Anies menapak menuju 2024. Ditarik pada politik. Karenanya, suasana menjegal Anies menjadi satu keharusan bagi mereka yang tidak mampu “bersaing” dengan tawaran visi besar.
Formula E itu gagasan visioner, menyongsong masa depan dengan sebuah pesan, bahwa Jakarta, dan mestinya Indonesia keseluruhan, siap memasuki masa depan bebas emisi, artinya bebas polusi. Pastilah itu juga akan bertautan pada kesehatan warga di masa depan yang lebih baik.
Maka, jangan tarik event racing ini pada politik. Sama sekali tidak mengena, dan itu jahat. Menarik dan menghubungkan Formula E dengan kontestasi Pilpres 2024, itu seolah menarik Anies Baswedan, yang memang elektabilitasnya bertengger di atas, jadi pihak yang disalahpahami. Itu tidak fair, dan lalu ingin dihentikan dengan “mensabotase” dengan segala cara gelaran internasional Formula E.
Menarik Formula E seolah gelaran politik, itu pikiran licik dan picik yang bisa dilihat terang benderang. Yang muncul justru apresiasi publik luas pada Anies yang hadir dengan visi besar, tapi tak bersambut selayaknya.
Menggiring nalar publik seolah Formula E itu ajang politik, tentu pikiran jahat yang tidak semestinya dihadirkan. Dibanding dengan ajang MotoGP Mandalika yang mendapat perhatian istimewa, mendapat gelontoran promosi setidaknya dari 8 perusahaan BUMN. Tapi itu tidak terjadi pada ajang Formula E, yang 0 promosi dari BUMN. Formula E seolah anak tiri yang disia-siakan pengambil kebijakan dengan bermain politik tak wajar.
Meski demikian, Anies dan tim tetap optimis menggelar ajang bergengsi itu. Meski coba dihentikan pihak-pihak tertentu dengan berbagai cara, tidak mempan, Anies dan timnya tetap kokoh menghadirkan ajang racing Formula E, yang hari ini, Sabtu (4 Juni) akan berlangsung. Sekitar 150 negara mengikuti gelaran itu secara live, dan nama Jakarta-Indonesia akan disebut-sebut dengan penuh kekaguman.
Anies Baswedan perlu mewanti dengan himbauan pada mereka yang hadir di Sirkuit Ancol untuk tidak membawa atribut politis. Gelaran racing bukan ajang politik. Tidak ada yel-yel politis dihadirkan. Itu yang mesti difahami. Semoga Presiden Jokowi hadir dalam perhelatan itu, sebagaimana yang direncanakan. Kehadirannya bisa sedikit menepis, bahwa Formula E itu memang bukan ajang politik.
Dan saya beserta keluarga, yang hanya berkesempatan menyaksikan lewat televisi, berharap mendapat sajian balap mobil yang baru pertama kali dihelat di negara kita, itu dengan suka cita. Meski tentu armosfernya tidak senikmat menyaksikan langsung di lokasi. Ya… tapi mau apa lagi. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi