Obsesi mutu berlebihan melalui standard telah meminggirkan relevansi dalam proses pembelajaran di sekolah. Keunikan murid hilang. Murid lebih sering dibandingkan dengan murid lain dengan standard itu. Padahal yang lebih penting adalah membandingkan seorang murid hari ini dengan diri murid itu sehari atau seminggu sebelumnya. Ketrampilan memaknai pengalaman murid berkembang melengkapi pertumbuhan fisik dan mental murid.
Kelemahan pokok persekolahan adalah lingkungannya yang terlalu aman dan nyaman, sehingga membosankan. Terutama bagi murid laki-laki. Di ruang-ruang kelas umumnya tidak ada tantangan yang berarti secara fisik, mental atau spiritual. Ini adalah kurikulum tak tertulis yang justru lebih membentuk murid, bukan kurikulum yang tertulis dan guru yang berapi-api di depan kelas. Full day schools bisa menjadi tempat belajar yang terburuk bagi murid.
Guru di persekolahan gagal menyiapkan lulusan yang mandiri, bertanggungjawab, sehat dan produktif. Banyak kampus didirikan untuk menutup-nutupi kegagalan persekolahan ini. Bahkan diperlukan sebuah Permendikbud untuk melindungi mahasiswa dari bahaya kekerasan seksual sebagian karena mahasiswa tidak tahu konsep aurat apalagi zina sebagai pengetahuan yg seharusnya dipelajari di rumah dan masjid dekat rumah. Akibatnya perguruan tinggi disibukkan untuk menghadapi mahasiswa yang tidak mandiri dan dewasa. Ini melemahkan tugas utama perguruan tinggi dalam rangka knowledge creation and innovation.
Suatu ketika Muhammad Rasulullah mengatakan hanya ada 2 pekerjaan di dunia ini, yaitu guru dan selain guru. Artinya, setiap orang adalah guru saat memberi teladan, dan menjadi murid saat melihat teladan. Ke depan ini, kita perlu lebih banyak belajar dan berguru, bukan bersekolah.
Rosyid College of Arts,
Gunung Anyar, 25/11/2021

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi