Semua gaya Srimulat dianggap aneh dan menjadi lucu. Gaya aneh itu belakangan menjadi tren dan banyak ditiru oleh pelawak lain dan juga ditiru sebagai fashion oleh publik. Gaya bencong Tessy sekarang ditiru oleh banyak komedian. Gaya rambut Gogon malah menjadi fashion internasional sebagai gaya Mohawk yang ditiru selebritas internasional. Jambul Nusantara ditiru oleh Shahrini.
Gaya celana pendek cingkrang dan baju kedodoran sering dipakai oleh Gepeng. Model pakaian kedodoran itu sekarang termasuk dalam gaya fashion yang disebut sebagai ‘’oversize’’ dan banyak diikuti oleh pecinta fashion.
Kita tidak ingat apakah ada pemain Srimulat yang pernah memakai sepatu atau sandal beda warna. kalau ada tentu hal itu akan mengundang tawa terpingkal. Coba kita bayangkan, Nunung berdandan cantik dengan make up menor dan sepatu hak tinggi tapi warnanya beda, satu merah satunya kuning.
Menlu Retno Marsudi bukan anggota Srimulat. Tapi cara dia mencari perhatian mirip dengan para pelawak Srimulat. Sayang sekali, Srimulat sekarang sudah mati suri tidak pernah tampil bareng lagi. Kalau Srimulat masih ada, mungkin Bu Menlu bisa tampil sebagai bintang tamu.
Para ahli semiologi mungkin juga pada sibuk menginterpretasikan simbol yang dipakai Retno Marsudi. Sepatu beda warna adalah penanda atau signifier yang menjadi penanda sesuatu. Setiap penanda selalu ada petanda atau signified yang menjadi objek tanda.
Mungkin sepatu selen Retno Marsudi menjadi tanda bahwa kebijakan luar negeri Indonesia juga selen. Tidak sinkron antara kiri dan kanan. Tidak sinkron antara apa yang diucap dengan apa yang diperbuat. Tidak sinkron antara apa yang diomongkan Presiden dengan omongan menterinya sendiri.
Praktik kebijakan selen terlihat dalam konferensi lingkungan COP26 di Glasgow. Dalam pidatonya Jokowi mengatakan Indonesia siap berkomitmen menghentikan penebangan hutan pada 2030, dan puncaknya akan menghentikan total pada 2050. Belum kering bibir Jokowi, Menteri KLH Siti Nurbaya Bakar sudah menyanggah dengan mengatakan bahwa Indonesia tidak akan menghentikan program pembangunan nasional hanya karena kebijakan deforestasi.
Pernyataan Jokowi dan Siti Nurbaya menjadi selen. Satu ke kanan satunya ke kiri. Satu merah satunya biru. Kalau terjadi di panggung Srimulat orang akan terkawa terpingkal-pingkal. Tarsan sebagai juragan bicara berbuih-buih, tapi kemudian dimentahkan oleh Asmuni sebagai babu alias asisten rumah tangga.
Jokowi sendiri mengakui bahwa masyarakat Indonesia sekarang terjangkit gejala selen. Kata Jokowi, di luar negeri Indonesia banyak dibanggakan dan dikagumi, tapi di dalam negeri sendiri malah dicaci-maki. Gejala selen itu oleh Jokowi disebut sebagai inferior complex karena warisan penjajah.
Manusia Indonesia, kata Jokowi, tidak pede ketika berhadapan dengan orang asing. Beda dengan Jokowi yang selalu pede di forum internasional. Meskipun Bahasa Inggrisnya tidak fasih dan selalu pakai masker, Jokowi tetap pede berbicara dengan para pemimpin dunia.
Gejala selen juga diungkapkan oleh Syafii Maarif yang melihat adanya beda warna antara kebijakan dengan pelaksanaan. Kebijakan sudah bagus, tapi pelaksanaannya banyak melenceng. Kata Syafii di luar negeri citra Indonesia bagus, tapi di dalam negeri compang-camping dan berantakan.
Rancak di labuah. Mentereng di luar tapi remuk di dalam. Warna cerah di luar, tapi busuk di dalam. Itulah kondisi selen di Indonesia. (*)
Editor: Reza Maulana Hikam

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi