Selasa, 19 Mei 2026, pukul : 05:13 WIB
Surabaya
--°C

Pj.Gubernur Jatim Ajak  Cek Kesehatan Gratis, Kado Ultah dari Negara

SURABAYA-KEMPALAN: Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Timur Adhy Karyono mengajak masyarakat Jatim untuk memanfaatkan program pemeriksaan kesehatan gratis ‘kado ulang tahun’ dari negara.

Pasalnya, mulai Senin (10/2), setiap masyarakat Jatim yang berulang tahun akan mendapatkan kado ulang tahun berupa pemeriksaan kesehatan gratis.

“Cek kesehatan gratis (CKG) ini sebagai hadiah ulang tahun untuk masyarakat. Jadi mari ramai-ramai manfaatkan kesempatan ini. Jangan tunggu sakit baru berobat. Biaya pengobatan biasanya sangat mahal,” kata Adhy, Selasa (11/2).

Adhy menyebutkan tidak ada batasan usia untuk program tersebut. Setiap warga Jatim yang berulang tahun mulai dari bayi, balita, anak prasekolah, dewasa dan lansia dapat memanfaatkan program CKG tersebut.

“Siapapun yang berulang tahun bisa melakukan tes CKG, mulai dari bayi hingga lansia,” katanya.

“Jadi jangan tunggu sampai merasa sakit, datang dan periksakan kesehatan. Karena program ini tidak hanya untuk yang sakit, tetapi untuk semua kalangan agar dapat menjaga kesehatan sejak dini,” tambahnya

Lebih lanjut Adhy menjelaskan, program CKG ditujukan untuk mendeteksi faktor risiko kesehatan, kondisi pra-penyakit, serta penyakit dengan tujuan meningkatkan kualitas hidup dan angka harapan hidup masyarakat Jatim.

Selain itu, pemeriksaan kesehatan juga mencakup berbagai jenis penyakit baik untuk bayi baru lahir hingga lansia. Jenis pemeriksaan untuk bayi baru lahir, meliputi pemeriksaan kekurangan Hormon Tiroid sejak Lahir, kekurangan enzim pelindung sel darah merah (G6PD), kekurangan hormon adrenal sejak lahir, penyakit jantung bawaan (PJB) kritis, kelainan saluran empedu dan status pertumbuhan. 

Sementara untuk balita dan anak prasekolah, pemeriksaan meliputi status pertumbuhan, perkembangan, tuberkulosis, telinga, mata, gigi, talasemia dan gula darah (mulai usia 2 tahun).

Sedangkan jenis pemeriksaan untuk dewasa dan lansia meliputi skrining merokok, tingkat aktivitas fisik, status gizi, gigi, tekanan darah, gula darah, tuberkulosis. Selanjutnya, risiko stroke, risiko jantung, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) dan fungsi ginjal (yang dimulai usia 40 tahun).

Selanjutnya ada pemeriksaan kanker payudara dan kanker leher rahim (pada perempuan mulai usia 30 tahun), kanker paru dan kanker usus (pada laki-laki mulai usia 45 tahun).

Lalu kesehatan mata, telinga, kesehatan jiwa, hati (Hepatitis B; Hepatitis C; Fibrosis/sirosis hati), calon pengantin (anemia ((hanya pada perempuan), Sifilis, HIV), serta geriatri (mulai usia 60 tahun).

“Kita telah memetakan beban penyakit berdasarkan siklus hidup masyarakat, mulai dari bayi baru lahir, balita, remaja, dewasa, hingga lansia,” katanya

Dalam menyukseskan program tersebut, Adhy juga menghimbau kepada Dinas Kesehatan beserta jajarannya untuk menyiapkan SDM, sarana prasarana, dan unsur pendukung lainnya demi menyukseskan program CKG ini.

Menindaklanjuti arahan tersebut , Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur Erwin Astha Triyono menjelaskan, CKG di Jatim akan dilaksanakan berdasarkan siklus hidup, dengan fokus utama pada tiga skema yaitu Layanan CKG ulang tahun, Layanan CKG sekolah, dan Layanan CKG khusus untuk ibu hamil dan balita.

Layanan CKG ulang tahun melibatkan pemeriksaan untuk anak usia 0-6 tahun serta masyarakat usia 18 tahun ke atas. Pemeriksaan kesehatan ini akan dilakukan di 973 puskesmas dan nantinya di klinik yang telah bekerja sama dengan BPJS Kesehatan.

“Masyarakat bisa mendapatkan CKG dalam kurun waktu mulai dari hari ulang tahun + 30 hari. Namun, khusus bagi masyarkat yang lahir di bulan Januari dan Februari, diberikan waktu hingga April 2025. Hal ini diharapkan mempermudah masyarakat untuk mengakses layanan kesehatan tanpa harus menunggu lama,” katanya

Berikutnya CKG sekolah akan dilaksanakan mulai Juli 2025, yang bertepatan dengan tahun ajaran baru. Pemeriksaan ini akan menyasar anak usia 7-17 tahun yang berada di sekolah-sekolah.

“Sedangkan CKG khusus bagi ibu hamil dan balita dapat melakukan pemeriksaan di Puskesmas dan Posyandu terdekat,” katanya.

Untuk mempermudah masyarakat dalam mendaftar CKG, pemerintah telah menyediakan aplikasi Satu Sehat Mobile (SSM). Dengan aplikasi tersebut, masyarakat bisa mendaftar online tanpa harus antre di Puskesmas.

“Untuk mendaftar, masyarakat hanya perlu mengunduh aplikasi SSM. Setelah mengunduh aplikasi, mereka akan menemukan fitur CKG (Cek Kesehatan Gratis). Sebelum menggunakan fitur ini, pastikan untuk mengisi profil di aplikasi tersebut,” katanya

Setelah mengisi profil, masyarakat dapat mendaftar untuk pemeriksaan kesehatan dengan memilih tanggal pemeriksaan, yang harus dilakukan H+30 setelah ulang tahun. Selain itu, aplikasi ini juga memungkinkan pengguna untuk mendaftarkan keluarga atau anak mereka untuk pemeriksaan yang sama.

Bagi masyarakat yang tidak menggunakan aplikasi SSM, terdapat alternatif pendaftaran melalui WhatsApp dengan nomor 081110500567. Fitur chatbot pada nomor tersebut akan memandu masyarakat dalam melakukan pendaftaran CKG secara mudah.

“Oleh karena itu, kami menghimbau kepada seluruh masyarakat Jawa Timur untuk segera mendaftarkan diri melaluli aplikasi SSM maupun melalui WhatsApp agar segera mendapatkan CKG sebagai kado ulang tahun dari pemerintah.” pungkasnya. (Dwi Arifin)

Muslimat NU dan Peran Strategis Perempuan dalam Ketahanan Bangsa

Kongres ke-18 Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) di Surabaya pada 10 Februari 2025 menegaskan bahwa perempuan, khususnya para ibu, adalah pilar utama dalam membangun peradaban dan ketahanan bangsa.

Muslimat NU tidak sekadar menjadi wadah spiritual, tetapi juga kekuatan sosial yang melahirkan solusi nyata bagi tantangan masyarakat, mulai dari lingkungan, kemiskinan ekstrem, hingga kesehatan.

Presiden Prabowo Subianto, yang membuka kongres ini, menyoroti peran penting Muslimat NU dalam menjaga keseimbangan sosial.

Program Mustika Darling (Muslimat Cantik Sadar Lingkungan), Mustika Mesem (Muslimat Cantik Mengentaskan Kemiskinan Ekstrem), dan Mustika Segar (Muslimat Cantik Sehat dan Bugar) membuktikan bahwa perempuan bukan sekadar pendamping dalam pembangunan, tetapi aktor utama yang memastikan kesinambungan sosial dan kesejahteraan masyarakat.

Pemikiran tentang peran perempuan dalam ketahanan negara bukanlah sesuatu yang baru. Margaret Thatcher, mantan Perdana Menteri Inggris, pernah menyatakan:

“Any woman who understands the problems of running a home will be nearer to understanding the problems of running a country.”

( “Setiap perempuan yang memahami masalah dalam mengelola rumah tangga akan lebih dekat dalam memahami masalah dalam mengelola sebuah negara.”)

Thatcher menekankan bahwa perempuan memiliki kepekaan sosial yang tinggi dalam mengelola sumber daya dan menyelesaikan masalah, baik dalam lingkup keluarga maupun negara.

Pemikiran ini sangat relevan dengan peran Muslimat NU, yang mengelola program-program berbasis komunitas dengan efektif dan efisien.

Sementara itu, dari dalam negeri, RA Kartini pelopor emansipasi perempuan Indonesia mengajarkan bahwa pendidikan dan pemberdayaan perempuan adalah kunci untuk kemajuan bangsa.

Dalam surat-suratnya yang dikumpulkan dalam Habis Gelap Terbitlah Terang, Kartini menulis:

“Perempuan yang cerdas akan melahirkan generasi yang kuat, berkarakter, dan berdaya saing.”

Pernyataan ini sejalan dengan pesan Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar, yang dalam kongres ini menegaskan bahwa ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya.

Jika ibu memiliki wawasan luas dan kepedulian tinggi, maka generasi mendatang akan tumbuh menjadi individu yang berkualitas dan siap menghadapi tantangan global.

Presiden Prabowo dalam pidatonya juga menekankan pentingnya efisiensi dalam pemerintahan.

Ini menjadi pesan penting dalam konteks pengelolaan anggaran dan program sosial yang harus benar-benar memberi manfaat bagi rakyat.

Selain itu, humornya tentang “TNU” (Tentara Nahdlatul Ulama) yang jumlahnya melebihi Panglima TNI Jenderal Agus Subianto mencerminkan bagaimana pemimpin negara dapat membangun hubungan yang hangat dan akrab dengan masyarakat.

Kongres ini menegaskan bahwa Muslimat NU bukan hanya penjaga tradisi, tetapi juga agen perubahan yang aktif dalam pembangunan.

Dengan program-program konkret yang mereka jalankan, Muslimat NU tidak hanya merawat warisan keislaman, tetapi juga memperkuat ketahanan sosial, ekonomi, dan lingkungan.

Di tengah ketidakpastian global dan tantangan domestik, perempuan tidak bisa lagi hanya dipandang sebagai pendamping—mereka adalah pemimpin yang membentuk masa depan.

Seperti yang ditunjukkan Muslimat NU, kekuatan perempuan bukan hanya dalam wacana, tetapi dalam aksi nyata yang membawa dampak bagi Indonesia yang lebih kuat dan berdaya.

Oleh Bambang Eko Mei

Pers Indonesia: Dari Kemerdekaan Menuju Kekacauan

Seperempat abad silam kebebasan pers di Indonesia adalah cita-cita suci yang diperjuangkan dengan darah dan air mata. Reformasi 1998 membuka ruang bagi media untuk tumbuh subur tanpa campur tangan negara. Tetapi, kebebasan tanpa kontrol melahirkan ironi! Media berkembang pesat namun kualitas jurnalisme merosot tajam. Hari ini masyarakat pers tengah menuai hukum karma dari kebijakan yang mereka dukung sendiri.

Sebuah ironi pahit terungkap dalam data. Dewan Pers mencatat ada lebih dari 60.000 media massa di Indonesia, tetapi hanya 1.500 yang terverifikasi. Berarti lebih dari 97% media yang beroperasi tanpa standar jelas. Bukan hanya soal legalitas tetapi juga tentang akuntabilitas. Berapa banyak media yang tidak memiliki redaksi yang jelas? Berapa banyak wartawan yang tak paham kode etik? Realitanya amat sangat buram.

Dr. Dhimam Abror Djuraid, Dewan Pakar PWI Pusat, pernah mengungkapkan sindiran tajam: “Lebih sulit mendirikan usaha tempe dibanding mendirikan media.” Betapa mirisnya ketika industri yang seharusnya menjadi benteng informasi malah menjadi sarang informasi sampah dan jurnalisme abal-abal. Maka yang mengherankan apabila fenomena media virtual yang ada sekarang sebagian besar merupakan sampah peradaban.

MACAN KERTAS
Sebagai lembaga yang dibentuk untuk menjaga marwah pers, Dewan Pers justru terjebak dalam kelemahan sistemik. Sejak menjadi lembaga independen melalui UU No. 40 Tahun 1999, lembaga ini kehilangan kewenangan untuk mengontrol media secara efektif.

Apa yang bisa dilakukan Dewan Pers hanya sebatas menjaga kode etik, menyelesaikan sengketa pers, dan mengeluarkan sertifikasi wartawan.

Hanya saja realita atas semua itu tak cukup untuk menertibkan kekacauan pers. Dewan Pers hanya bisa mengeluarkan teguran tetapi tidak bisa menutup media yang melanggar kode etik. Keberadaannya tak ubahnya macan kertas tak bertaring. Hanya bisa mengkritik tetapi tak bisa menghukum. Bisa mengeluarkan sertifikasi tetapi tak bisa memastikan kualitasnya.

Lebih parah lagi, uji kompetensi wartawan (UKW) yang digelar kini justru menjadi bisnis tersendiri. Banyak wartawan yang lolos UKW tanpa kemampuan memadai, sekadar karena memiliki dana untuk mengikuti ujian. Hasilnya? Wartawan dengan sertifikasi resmi tetapi kualitasnya rendah. Kondisi ini justru makin memperburuk citra pers.

MEDIA SAKIT
Dewan Pers hanya salah satu dari banyak masalah dalam dunia jurnalisme kita. Masalah terbesarnya ada pada media sendiri.

Kondisi ini telah menciptakan ekosistem media yang sakit. Sebagian besar media tidak menggaji wartawannya. Kemudian membiarkan mereka mencari penghasilan sendiri dari “kerja sama liputan berbayar” atau bahkan pemerasan.

Jurnalisme clickbait mendominasi dengan berita bombastis yang tidak berbasis fakta tetapi hanya mengejar sensasi. Hilangnya fungsi kontrol sosial karena media lebih sibuk menjadi corong kepentingan kelompok tertentu daripada menyuarakan kebenaran.

Di tengah kegaduhan ini, wartawan bodrek semakin merajalela. Mereka bukan lagi pencari berita tetapi pencari keuntungan. Dengan bermodal kartu pers dan kamera ponsel, mereka menjelma menjadi “preman berjubah pers” yang lebih sering menekan ketimbang melaporkan.

Di lapangan, banyak pejabat yang mengeluh atas keberadaan wartawan-wartawan tanpa media jelas yang datang dengan ancaman tersirat. “Kami punya informasi negatif tentang Anda, tapi bisa kita selesaikan secara baik-baik.” Praktik seperti ini sudah menjadi rahasia umum tetapi dibiarkan begitu saja.

Pekanbaru, Riau, 8 Februari 3025. Dalam sesi diskusi pada Sarasehan Nasional Hari Pers Nasional, Dr. Dhimam Abror, Ketua Dewan Pakar PWI Pusat dan Hilman Hidayat, Ketua PWI Jawa Barat, berbicara tentang pentingnya preservasi atau menjaga kelestarian jurnalisme untuk memperkuat demokrasi di era digital.

Dhimam menyatakan bahwa ruang digital memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk lebih aktif dalam berpartisipasi dalam proses demokrasi, tetapi juga menuntut media untuk tetap independen, akuntabel, dan beragam dalam pemberitaan.

Dhimam menerangkan, preservasi jurnalisme bukan hanya tentang mempertahankan prinsip-prinsip jurnalisme tradisional, tetapi juga bagaimana media beradaptasi dengan dunia digital untuk menyuarakan kebenaran.

BENANG KUSUT
Dialog jurnalistik tak ubahnya mengurai benang kusut. Menyalahkan kondisi ini tanpa solusi hanya akan membuat masalah semakin akut. Jika pers ingin kembali ke jalurnya, reformasi harus segera dilakukan.

Diantaranya melakukan regulasi ketat dalam pendirian media. Saat ini, siapa saja bisa mendirikan media dengan mudah. Kita memerlukan regulasi baru yang menetapkan standar lebih ketat termasuk transparansi manajemen dan struktur organisasi yang jelas.

Penguatan peran Dewan Pers, lembaga ini harus diberi wewenang lebih dari sekadar penjaga rambu. Tapi harus bisa menutup media yang tidak memenuhi standar, bukan cuma sekadar mengeluarkan imbauan.

Uji kompetensi harus dikembalikan ke esensi awalnya, yakni memastikan wartawan benar-benar kompeten. Prosesnya harus lebih transparan dan berbasis meritokrasi – mrmberikan penghargaan pada yang berprestasi – bukan sekadar bayar membayar.

Perlu mekanisme pengawasan media digital. Perkembangan media digital adalah realitas yang tak bisa dihindari. Tapi harus ada mekanisme pengawasan yang lebih ketat, seperti sertifikasi bagi media online agar tidak semua orang bisa seenaknya menyebarkan informasi tanpa tanggung jawab.

Media yang sehat membutuhkan model bisnis yang berkelanjutan. Jika media terus mengandalkan “liputan berbayar” atau iklan tanpa integritas, jurnalisme akan terpuruk.

SELAMATKAN PERS
Suasana Februari terasa sesak dengan ucapan “Selamat Hari Pers Nasional.” Tetapi apa yang sebenarnya kita rayakan? Pers yang sakit juga wartawan yang tak berintegritas?

Jika masyarakat pers tidak memiliki keberanian mengubah perubahan, jangan kaget jika publik semakin kehilangan kepercayaan terhadap media. Jurnalisme yang seharusnya menjadi pilar demokrasi bisa berubah menjadi alat penghancur.

Sekaranglah waktunya bagi pers untuk melakukan refleksi total. Apakah kita ingin tetap menjadi penjaga kebenaran atau justru menjadi bagian dari pengacau informasi?

Jika kita tidak segera bertindak maka sejarah akan mencatat bahwa, pers Indonesia pernah berjaya tapi kemudian hancur akibat ulahnya sendiri.

Oleh : Rokimdakas
Wartawan & Penulis
10 Februari 2025

Jalan Tasawuf KH. Syaiful Ulum Nawawi (4)

Kempalan: “Yang menghina agamamu tidak bisa merusak agamamu. Yang bisa merusak agamamu justru perilakumu yang bertentangan dengan ajaran agamamu.”

Pernyataan yang mengandung kata bijak ini disampaikan oleh Gus Mus (KH.Mustofa Bisri) kyai yang penyair yang tindakan dan nasihatnya dikenal mencerminkan kesufian tinggi — dimana kalimat ini diposting di akun Facebook Pondok Pesantren Darul Ibadah Al-Baiad pada 3 Februari 2014.

Tentang “quote” Gus Mus itu, KH. Syaiful Ulum Nawawi mengatakan dengan suara baritonnya yang menyiratkan kelembutan, “Benar, kan.”

Lantas beliau mencoba mempersepsikan ke jangkauan yang lebih luas, “Bahwa kejatuhan pemimpin-pemimpin besar di dunia, dipercepat oleh orang-orang dalam. Banyak contohnya.
Ada sekian ‘Brutus’ yang menjelma ke sosok yang lain.”

Oleh karenanya, “Yang baik akan kau dapatkan, jika kau berani meninggalkan yang tidak baik,” ujar KH. Syaiful Ulum Nawawi yang lantas menyusulkan senyumnya.

Masih dalam konteks alinea pertama tulisan ini, salah satu cara untuk memperkuat agama (Islam), mengutip tweet Pondok Pesantren Sidogiri, pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Darul Ibadah Al-Baiad ini, menyatakan :

Tawakkal adalah ketangguhan hati atas jaminan Allah. Percayalah ! Meski sendiri, Allah tidak akan meninggalkanmu sendirian.
Tawakkal bukan pasrah bongkokan tanpa usaha, melainkan sebuah proses melalui husnul ikhtiar.

Oleh sebab itu, “Saat ada yang memujimu jangan terlalu bahagia. Saat ada yang mencacimu jangan terlalu bersedih, karena yang terlalu bisa membuatmu malu,” kata KH. Syaiful Ulum Nawawi.

Dalam kaitan di atas, mengutip HR. Hakim, beliau menambahkan: “Malu dan iman selalu berkumpul. Jika salah satu gugur maka gugur pula lainnya.”

Serangkaian kata-kata bercahaya langit itu, akan makin bercahaya tatkala dilengkapi dengan “quote” Gus Mus yang tertulis di status Facebook Pondok Pesantren Darul Ibadah Al-Baiad, tanggal 24 Februari 2014 :

Mustahil sesuatu yang sudah ditentukan Allah untukmu akan lari ke orang lain. Maka tenanglah, jangan iri dan dengki. Hiduplah dengan hati yang putih bersih dan pikiran yang jernih. Bersama Allah-lah, maka Allah akan bersamamu.

Maka dari itu, “Tetaplah selalu bersama Alloh.
Jika DIA mengambil darimu sesuatu yang kamu perkirakan tidak hilang, maka DIA akan memberimu sesuatu yang tidak pernah kamu perkirakan akan memilikinya,” ujar Pak Kyai dari Pandugo, Surabaya, ini.
(Amang Mawardi – Bersambung).

Prabowo Mulai Blunder

Oleh: M Rizal Fadillah

KEMPALAN: Ada yang ingin pisahkan saya dengan Jokowi, lucu. Itu diungkap Prabowo dalam Kongres Muslimat NU di Surabaya. Ia minta mantan Presiden itu tidak dikuyu kuyu, dijelek-jelekin. Weleh nampaknya ucapan Prabowo itu memupus harapan banyak orang agar Prabowo konsisten dengan ucapannya untuk menegakkan hukum. Adili Jokowi itu adalah proses hukum yang bersandarkan pada track record buruk selama Jokowi memimpin bangsa.

Prabowo ternyata bersikap tidak strategis, tidak proporsional, dan terlalu mendahulukan subyektivitas hubungan pribadi dengan Jokowi. Payah jika Presiden tidak memahami makna-makna dan perasaan hukum rakyatnya. Omong kosong jika ia bicara tentang rakyat, rakyat, dan rakyat.
Harapan yang digantungkan kepada Prabowo agar bertindak obyektif atas Jokowi akan sirna bila harapan itu ternyata dianggap sebagai adu domba.

Prabowo bukan pemimpin hebat, kegagalan berkompetisi pada beberapa Pilpres berujung pada sikap frustrasi. Ia berkhianat atas karakter gigih, jujur, dan mandiri. Ia menggantungkan lehernya pada bantuan dan  kendali Jokowi. Rela menjadi budak yang patuh kepada guru politiknya. Padahal sebagian rakyat menganggap guru politiknya itu perampok, koruptor, tukang bohong dan pelanggar hak asasi manusia.

Blunder pertama dan utama Prabowo sebagai Presiden adalah melindungi Jokowi tanpa syarat. Menjadi bagian dari masalah negara. Banyak aktivis dan pendukung kritis siap membantu  Prabowo sepanjang ia melepaskan Jokowi. Ini bukan persoalan adu domba, justru menolong Prabowo agar tidak menjadi domba. Domba yang digembalakan oleh Srigala.

Prabowo mesti pisah dengan Jokowi. Prabowo adalah Presiden, Jokowi itu Presiden sebelumnya. Jangan campur baurkan jasa pribadi dengan kewajiban ketatanegaraan. Kesetiaan kepada partai saja seharusnya berakhir setelah kesetiaan pada negara mulai. Prabowo tidak perlu sering teriak didukung rakyat karena banyak juga rakyat yang berkeyakinan bahwa Prabowo itu menang dengan curang.

Skandal Bansos Jokowi, Sirekap, kerja pejabat  hingga mobilisasi aparat memberi indikasi manipulasi atas suara rakyat. Rakyat dapat memaklumi mungkin memaafkan asal Prabowo berubah dan kembali ke jatidirinya yang tidak menjadi domba. Menunaikan amanah dan menegakkan hukum dalam realita bukan cita-cita. Yang ditunggu bukti bukan janji atau mimpi-mimpi.

Ketika rakyat sudah terlalu lama ditipu oleh janji palsu dan dibuat terlena oleh jampi-jampi Jokowi, maka Prabowo mesti mengubah semua. Bukan justru  menjadi boneka dan pelanjut dari budaya basa-basi dan janji-janji. Kalau demikian, maka sama saja. Jika Jokowi adalah Presiden bohong-bohong, maka Prabowo itu Presiden omon-omon.

Musibah rakyat belum berakhir. Presidennya masih menjadi pikiran dan beban dari rakyat.

*) Pemerhati Politik dan Kebangsaan

Bandung, 11 Februari 2025

Editor: Izzat

Tahun 2026, Mensos Gus Ipul Targetkan Kemiskinan Ekstrem 0 Persen

Mensos Saifullah Yusuf saat menandatangani MoU dengan FRI di Graha Unesa, Senin (10/2). (Foto: Dwi Arifiin/kempalan.com).

SURABAYA-KEMPALAN:Kementerian Sosial (Kemensos) bersama Forum Rektor Indonesia (FRI) Perguruan Tinggi di Jatim bertekad untuk mengentas kemiskinan di Indonesia. Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf menargetkan mampu menurunkan kemiskinan ekstrem hingga 0 persen pada tahun 2026.

Selanjutnya, pada lima tahun yang akan datang, ditargetkan kemiskinan (bukan ekstrem) di Indonesia bisa bawah angka lima persen.

Hal itu disampaikan Mensos Saifullah Yusuf usai menandatangani MoU Kemensos dengan FRI di Graha Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Senin (10/2).

“Itu target yang sangat optimistis, dan untuk itu kita ingin semua mau mengambil peran,” ucap Gus Ipul, sapaan akrab  Saifullah Yusuf.

Untuk mencapai target tersebut, ia meminta semua pihak, mulai dari pemerintah daerah, perguruan tinggi baik negeri maupun swasta, saling bahu membahu bekerja sama dalam menurunkan angka kemiskinan.

“Presiden ingin ke depan, diatasi secara seksama dan menggunakan data terbaru, efektif, tepat sasaran. Sekaligus kita harapkan tahun ini, maupun tahun depan paling lambat, kemiskinan ekstrem menjadi 0 persen,” kata Gus Ipul.

Menurut Gus Ipul, Kemensos ingin pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan perguruan tinggi mengambil peran. Artinya tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan mengatasi bersama-sama.

Tujuannya, agar langkah-langkah yang dilakukan benar-benar terukur berdasarkan sesuatu kajian akademis. “Kita ingin mengajak perguruan tinggi untuk di wilayah-wilayah tertentu. Kita ingin di sekitar perguruan tinggi itu ada kampung-kampung yang memang digarap bersama-sama. Bersama Kemensos dan kementerian yang lain, juga perguruan tinggi,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan mengatakan, dengan MoU ini, PTN/S bisa turut mengatasi permasalahan di masyarakat. Salah satunya adalah masalah pengentasan kemiskinan, khususnya di Jatim dengan kajian.

“Sehingga fenomena kemiskinan tidak hanya sekadar memberikan bantuan, tapi perlu ada treatment lain setelah ada kajian dari berbagai sisi. Kajian dari berbagai sisi inilah yang dikerjakan oleh perguruan tinggi dan diimplementasikan di masyarakat. Ini perlu pengorganisasian dalam mengeksekusinya dan ini nanti diatur oleh Pak Rektor Unesa (Nurhasan),” kata Fauzan. (Dwi Arifin)

Buka Kongres XVIII Muslimat NU, Presiden Prabowo Puji Kekuatan TNU

Presiden Praboso Subianto (tiga dari kanan) bersama Wapres Gibran Rakabuming Raka (dua dari kanan) saat menghadiri pembukaan Kongres XVIII Muslimat NU di Jatim Expo Surabaya, Senin (10/2) siang.

SURABAYA-KEMPALAN: Presiden RI Prabowo Subianto resmi membuka Kongres XVIII Muslimat NU yang digelar di Jatim Expo Surabaya, Senin (10/2) siang.

Acara ini juga dihadiri Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka dan sejumlah menteri negara, Kapolri, Panglima TNI, Rais Aam PBNU, Ketua Umum PBNU, dan juga Sekjen PBNU.

Presiden Prabowo membuka kongres serta memberikan pengarahan di hadapan 7.000 jamaah muslimat yang hadir dari penjuru daerah di Indonesia serta PCI luar negeri.

Beberapa menteri negara yang hadir antara lain Menteri Agama, Menteri Sosial, Menteri PPPA, dan juga sejumlah kepala lembaga.

Dalam sambutannya, Ketua Umum PP Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa melaporkan pada Presiden Prabowo bahwa saat ini Muslimat NU mengelola 209 panti asuhan, 111 layanan kesehatan yang 49 di antaranya adalah rumah sakit.

“Kami juga membina 72 ribu majelis taklim se indonesia, menbina 16 ribu taman pendidikan Alquran, membina 9800 TK, dan RA. Kami juga mengelola 7.000 PAUD,” ujarnya.

Ia pun kemudian mengulas tema kongres yang diangkat kali ini,  yaitu “Merawat Tradisi, Menguatkan Kemandirian, dan Meneduhkan Peradaban”.

Menurut Khofifah, tema itu sengaja diangkat untuk menciptakan masyarakat yang kuat demi membangun bangsa yang berharkat dan bermartabat.

Menguatkan kemandirian, kata dia, penting untuk membangun masyarakat dan bangsa, kekuatan keluarga yang dapat mewujudkan kemandirian bangsa dan negara agar bisa bersaing dengan masyarakat dunia.

“Muslimat NU ingin menggerakkan anggota dan pengurus untuk meneduhkan peradahban. Karena jika ibu-ibunya baik maka dunia akan baik. Dalam ajaran Islam, Al Ummu Madrasatul Ula, ibu adalah sekolah pertama bagi anaknya,” terang Khofifah.

“Berkaitan dengan tema itu, maka perlu kekuatan akhlak dan kekuatan ilmu pengetahuan, penguat generasi penerus bangsa,” tandasnya.

Selain itu, di hadapan Presiden Prabowo Subianto, Khofifah meluncurkan program Muslimat Cantik Mengentaskan Kemiskinan Ekstrem (Mustika Mesem), Muslimat Cantik Sadar Lingkungan (Mustika Darling), dan Muslimat Cantik Sehat dan Bugar (Mustika Segar).

Secara simbolis, peluncuran ini ditandai dengan pemakaian rompi pada jajaran Satgas Mustika Mesem dan Mustika Darling. Sedangkan Mustika Segar akan dilaksanakan di Asrama Haji.

“Mustika Darling ini sengaja kami gagas karena kami paling sering menggelar kegiatan pengajian. Maka kami ingin setiap kegiatan yang kita lakukan, tidak meninggalkan sampah,” kata Khofifah.

Sedangkan Mustika Mesem diluncurkan secara nasional lantaran program ini sudah dilaksanakan secara konsisten di sejumlah daerah di Indonesia. Dikatakan Khofifah, Mustika Mesem adalah peran muslimat untuk mengentaskan kemiskinan ekstrem di daerahnya.

“Izin Pak Presiden program ini adalah program rantangan yang kita distribusikan pada keluarga masyarakat yang masuk dalam daftar miskin ekstrem,” ujar Khofifah.

“Dan sejauh ini sudah berjalan. Dalam pengajian yang digelar Muslimat NU kami membawa satu jamaah satu telur. Yang kemudian kita sedekahkan pada masyarakat yang rentan stunting,” tegasnya.

Sementara itu, dalam sambutannya, secara khusus Presiden Prabowo mengapresiasi pelaksanaan Kongres XVIII Muslimat NU . Bahkan ia menyebut kesolidan jamaah Muslimat NU sangat menginspirasi.

“Saya ingin  sampaikan terima kasih untuk muslimat. Karena kekuatan suatu bangsa juga kehebatan suatu bangsa dibayar oleh darah putra bangsa dan air mata ibu-ibu,” kata Prabowo.

“Sangat benar yang disampaikan Rais Aam, emak-emak yang menentukan masa depan bangsa ini. Jadi saya sangat hormat, dan saya sampaikan penghargaan pada muslimat, pada PBNU yang membesarkan muslimat,” lanjutnya.

Prabowo menyebut bahwa jamaah Muslimat NU yang memiliki puluhan juta jamaah di seluruh Indonesia dan juga luar negeri, maka Ketua Umum PP Muslimat NU selayak tentara bintang empat.

“Ketua muslimat kalau di TNI setara bintang empat. Kekuatan TNI kalah dengan TNU (Tentara Nahdlatul Ulama),” tegas Prabowo.

Lebih lanjut secara khusus Presiden Prabowo memberikan apresiasi untuk program Muslimat NU yang diluncurkan pada pembukaan kongres. Yaitu Muslimat Cantik Mengentaskan Kemiskinan Ekstrem (Mustika Mesem), Muslimat Cantik Sadar Lingkungan (Mustika Darling).

“Saya terkesan dengan program muslimat. Program dari Ibu Ketum, Mustika darling. Karena kita memang harus menjaga kebersihan. Kebersihan sebagian dari iman. Kebersihan untuk mewujudkan keindahan. Kita perlu menjaga sekitar kita,” puji Prabowo.

“Begitu juga komitmen Muslimat NU untuk ikut serta entaskan kemiskinan ekstrem lewat program Mustika Mesem. Masalah kemiskinan adalah masalah krusial, itulah mengapa masalah ini saya jadikan sebagai panggilan perjuangan saya sebagai presiden. Saya jadikan tugas untuk saya kerjakan mengentaskan kemiskinan untuk rakyat,” sambungnya.

Bertemu dengan para emak-emak Muslimat NU, Presiden Prabowo menyampaikan komitmennya untuk mendorong pembangunan bangsa. Khususnya di bidang pendidikan. Ia menegaskan bahwa ia ingin memperbaiki sekolah-sekolah di pelosok negeri yang kondisinya sudah tidak layak.

“Siapa di sini yang berprofesi sebagai guru. Saya sekarang sedang melakukan penghematan anggaran. Saya mau hemat uang, uang itu untuk rakyat. Kita punya 330 ribu sekolah. Saya ingin memperbaiki semua sekolah Indonesia. Sedangkan anggaran perbaikan sekolah hanya cukup untuk 20 ribu sekolah. Kalau tidak melakukan penghematan ketat, berapa tahun kita mau selesaikan. Karena itu perjalanan dinas perjalanan luar negeri harus dikurangi. Jika perlu lima tahun gak usah ke luar negeri. Kalau jalan-jalan pakai uang sendiri,” tegas Prabowo dengan berapi-api.

Komitmen Presiden Prabowo tersebut disambut tepukan riuh jamaah Muslimat NU yang hadir. Hal ini menunjukkan dukungan penuh Muslimat NU untuk memajukan pembangunan, khususnya dalam mengentaskan kemiskinan dan perbaikan di sektor pendidikan. (Dwi Arifin)

Pacitan Jadi Host Kejurnas Ju Jit Su Piala Kajati Jatim 2025 

PACITAN-KEMPALAN : Sebanyak 350 atlet Ju Jit Su dari seluruh Indonesia akan adu kepiawaian pada kejurnas Ju Jit Su Piala Kajati Jatim 2025 di GOR Pacitan 13-15 Februari 2025.

Kejurnas dalam rangka hari jadi Kabupaten Pacitan ke 280 ini akan mempertandingkan kelas Newaza putra-putri, Contact, Fighting System, Duo Show System dan juga mempertandingkan test event pemula atau junior under 14 tahun. Khusus untuk test event ini pesertanya di batasi hanya 80 atlet dan hanya akan mengikuti dua nomor pertandingan yakni Newaza dan Fighting.

Ketua Pengprov Ju Jit Su Jatim Eko Surcahyo mengatakan, kejuaraan bergengsi tingkat nasional ini sengaja digelar di Kabupaten Pacitan karena Pacitan daerah yang paling siap. Selain itu, juga untuk pemerataan dan penyebaran cabor beladiri asal Jepang ini ke seluruh pelosok negeri khususnya di Jawa Timur.

” Ya  kami sengaja menempatkan kejurnas Piala Kajati Jatim ini di Pacitan. Sebab pemerintah Kabupaten Pacitan, OPD dan Kajari sangat welcome terhadap perkembangan cabang olah raga Ju Jit Su,” terang Eko.

Para atlet Ju Jit Su saat tampil di Kejurprov Ju Jit Su 2024 di kota Blitar (foto :doc kempalan)

Lebih lanjut ketua Pengprov Ju Jit Su Jatim Eko Surcahyo mengatakan, ini momen penting 280 tahun memperingati hari jadi Kabupaten Pacitan. Jadi waktu sangat tepat bagi kota yang terkenal dengan seribu gua ini untuk mengembangkan dan membagkitkan olahraga dan menggerakkan perekonomian di kota tersebut.

” Ini moment yang bagus bagi Kabupaten Pacitan. Banyak aspek yang perlu di gali mulai dari olahraga, perekonomian, wisata maupun generasi muda yang berkelanjutan. Terbukti prestasi olahraga Ju Jit Su Pacitan juga di bilang moncer dalam satu tahun terakhir ini,” ujar Eko.

Eko juga menambahkan, kejurnas Ju Jit Su ini juga sebagai ajang seleksi atlet daerah yang akan bertanding di PORPROV IX Jatim 2025 di Malang Raya. Hampir semua Pengkab/Pengkot di Jatim mengirimkan atlet terbaiknya.

Sebelum di mulainya agenda utama kejurnas Ju Jit Su, juga akan di lakukan pelantikan sabuk kehormatan untuk 

Ketum KONI Pusat, Kajati Jatim,Kajari Pacitan dan Bupati Pacitan.(Ambari Taufiq/ M Fasichullisan)

Presiden Prabowo Resmi Buka Kongres Muslimat NU, Apresiasi Khusus Program Mustika Mesem dan Mustika Darling

SURABAYA– Presiden RI Prabowo Subianto resmi membuka Kongres XVIII Muslimat NU yang digelar di Jatim Expo Kota Surabaya, Senin (10/2/2025), siang.

Lengkap hadir bersama Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka dan sejumlah menteri negara, Kapolri, Panglima TNI, serta Rais Aam PBNU, Ketua Umum PBNU dan juga Sekjen PBNU, Presiden Prabowo membuka kongres serta memberikan pengarahan di hadapan 7.000 jamaah Muslimat yang hadir dari penjuru daerah di Indonesia serta PCI Luar negeri.

Tidak hanya itu, kongres ini juga dihadiri banyak menteri negara seperti Menteri Agama, Menteri Sosial, Menteri PPPA dan juga sejumlah kepala lembaga.

Dalam laporannya, Ketua Umum PP Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa melaporkan pada Presiden Prabowo bahwa saat ini Muslimat NU mengelola 209 panti asuhan, 111 layanan kesehatan yang 49 diantaranya adalah rumah sakit.

“Kami juga membina 72 ribu majelis taklim se indonesia, menbina 16 ribu taman pendidikan alquran dan kami membina 9800 TK dan RA. Kami juga mengelola 7.000 PAUD,” ujarnya.

Ia pun kemudian mengulas tema kongres yang diangkat kali ini yaitu Merawat Tradisi, Menguatkan Kemandirian, dan Meneduhkan Peradaban.

Dikatakan Khofifah tema itu sengaja diangkat untuk menciptakan masyarakat yang kuat demi membangun bangsa yang berharkat dan bermartabat.

Menguatkan kemandirian, dikatakannya penting untuk membangun masyarakat dan bangsa, kekuatan keluarga yang dapat mewujudkan kemandirian bangsa dan negara agar bisa bersaing dengan masyarakat dunia.

“Muslimat NU ingin menggerakkan anggota dan pengurus untuk meneduhkan peradahban. Karena jika ibu-ibunya baik maka dunia akan baik. Dalam ajaran Islam, Al Ummu Madrasatul Ula, ibu adalah sekolah pertama bagi anaknya,” kata Khofifah.

“Berkaitan dengan tema itu Muslimat NU maka perlu kekuatan akhlak dan kekuatan ilmu pengetahuan, penguat generasi penerus bangsa,” pungkasnya

Tak hanya itu, di hadapan Presiden Prabowo Subianto, Khofifah meluncurkan program Muslimat Cantik Mengentaskan Kemiskinan Ekstrem (Mustika Mesem), Muslimat Cantik Sadar Lingkungan (Mustika Darling), dan Muslimat Cantik Sehat dan Bugar (Mustika Segar).

Secara simbolis, peluncuran ini ditandai dengan pemakaian rompi pada jajaran satgas Mustika Mesem dan Mustika Darling. Sedangkan Mustika Segar akan dilaksanakan di Asrama Haji.

“Mustika Darling ini sengaja kami gagas karena kami paling sering menggelar kegiatan pengajian. Maka kami ingin setiap kegiatan yang kita lakukan, tidak meninggalkan sampah,” kata Khofifah.

Sedangkan Mustika Mesem diluncurkan secara nasional lantaran program ini sudah dilaksanakan secara konsisten di sejumlah daerah di Indonesia. Dikatakan Khofifah, Mustika Mesem adalah peran Muslimat untuk mengentaskan kemiskinan ekstrem di daerahnya.

“Izin Pak Presiden program ini adalah program rantangan yang kita distribusikan pada keluarga masyarakat yang masuk dalam daftar miskin ekstrem,” tegas Khofifah.

“Dan sejauh ini sudah berjalan. Dalam pengajian yang digelar Muslimat NU kami membawa satu jamaah satu telur. Yang kemudian kita sedekahkan pada masyarakat yang rentan stunting,” tegasnya.

Dalam sambutannya, secara khusus Presiden Prabowo mengapresiasi kongres hari ini. Bahkan ia menyebut kesolidan jamaah Muslimat NU sangat menginspirasi.

“Saya ingin sampaikan terima kasih untuk Muslimat. Karena kekuatan suatu bangsa juga kehebatan suatu bangsa dibayar oleh darah putra bangsa dan air mata ibu ibu,” tegas Prabowo.

“Sangat benar yang disampaikan Rais aam, emak emak yang menentukan masa depan bangsa ini. Jadi saya sangat hormat, dan saya sampaikan penghargaan pada muslimat pada PBNU yang membesarkan Muslimat,” imbuhnya.

Lebih lanjut Prabowo menyebutkan bahwa jamaah Muslimat NU yang memiliki puluhan juta jamaah di seluruh Indonesia dan juga luar negeri, maka Prabowo menyebut ketua umum PP Muslimat NU selayak tentara bintang empat.

“Ketua muslimat kalau di TNI bintang empat. Panglima TNI pasukanmu kalah dengan TNU (Tentara Nahdlatul Ulama),” ujarnya.

Lebih lanjut secara khusus Presiden Prabowo memberikan apresiasi untuk program Muslimat NU yang diluncurkan hari ini. Yaitu Muslimat Cantik Mengentaskan Kemiskinan Ekstrem (Mustika Mesem), Muslimat Cantik Sadar Lingkungan (Mustika Darling).

“Saya terkesan dengan program muslimat. Program dari ibu ketum, Mustika darling. Karena kita memang harus menjaga kebersihan. Kebersihan sebagian dari iman. Kebersihan untuk mewujudkan keindahan. Kita perlu menjaga sekitar kita,” tegas Prabowo.

“Begitu juga komitmen Muslimat NU untuk ikut serta entaskan kemiskinan ekstrem lewat program Mustika Mesem. Masalah kemiskinan adalah masalah krusial, itulah mengapa masalah ini saya jadikan sebagai panggilan perjuangan saya sebagai presiden. Saya jadikan tugas untuk saya kerjakan mengentaskan kemiskinan untuk rakyat,” imbuhnya.

Bertemu dengan para emak-emak Muslimat NU, Presiden Prabowo menyampaikan komitmennya untuk mendorong pembangunan bangsa. Khususnya di bidang pendidikan. Ia menegaskan bahwa ia ingin memperbaiki sekolah-sekolah di pelosok negeri yang kondisinya sudah tidak layak.

“Siapa di sini yang berprofesi sebagai guru. Saya sekarang sedang melakukan penghematan anggaran. Saya mau hemat uang, uang itu untuk rakyat. Kita punya 330 ribu sekolah. Saya ingin memperbaiki semua sekolah Indonesia. Sedangkan anggaran perbaikan sekolah hanya cukup untuk 20 ribu sekolah. Kalau tidak melakukan penghematan ketat berapa tahun kita mau selesaikan. Karena itu perjalanan dinas perjalanan luar negeri harus dikurangi,” pungkas Prabowo.

Komitmen Presiden Prabowo tersebut disambut tepukan riuh oleh jamaah Muslimat NU yang hadir. Hal ini menunjukkan dukungan penuh Muslimat NU untuk memajukan pembangunan khususnya dalam mengentaskan kemiskinan dan perbaikan di sektor pendidikan.

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.