Rabu, 20 Mei 2026, pukul : 16:55 WIB
Surabaya
--°C

Kelompok 36 MMD UB Mendorong Masyarakat Desa Wringinanom Lebih Melek Media Digital untuk Mengembangkan Potensi Daerahnya

KABUPATEN MALANG-KEMPALAN: Pemasaran digital memegang peranan vital saat ini. Karena, pemasaran digital dapat menjangkau audiens yang lebih luas, memberikan data terukur, dan meningkatkan efisiensi biaya.

Di Desa Wringinanom, kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, contohnya. Desa ini juga mempunyai banyak potensi lokal. Antara lain produk makanan, pertanian, dan kerajinan.

Sebab itulah mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) yang tergabung di Kelompok 36 program Mahasiswa Membangun Desa (MMD) di Desa Wringinanom mencoba untuk bisa mendorong masyarakat lebih melek media digital dalam mengembangkan potensi daerahnya.

MMD UB pun sudah melaksanakan program kerja yang bertajuk “Pemberdayaan Kewirausahaan Masyarakat Desa Wringinanom melalui Peningkatan Pengetahuan dan Skill Entrepreneurship serta Perluasan Akses Pasar Digital,’’ pada Senin (7/7).

Kegiatan tersebut berlangsung di kediaman Sumaji Rachmat selaku ketua UMKM Desa Wringinanom. Rata-rata, program ini dihadiri pelaku UMKM lokal, yaitu ibu rumah tangga.

Kegiatan tersebut bertujuan untuk mendorong masyarakat desa supaya mampu memanfaatkan potensi lokal yang mereka miliki. Sehingga bisa membuka peluang usaha yang dapat dipasarkan secara lebih luas melalui media digital.

Program ini jadi bentuk nyata kontribusi mahasiswa terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin kedelapan, yaitu pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi.

Mahasiswa Kelompok 36 MMD UB berfoto bersama ibu rumah tangga UMKM lokal Desa Wringinanom. Kecamatan Poncokusumo. Kabupaten Malang, peserta program "Pemberdayaan Kewirausahaan Masyarakat Desa Wringinanom Melalui Peningkatan Pengetahuan dan Skill Entrepreneurship serta perluasan Akses Pasar Digital,". (Foto: Dokumentasi Kelompok 36 MMD UB)
Mahasiswa Kelompok 36 MMD UB berfoto bersama ibu rumah tangga UMKM lokal Desa Wringinanom. Kecamatan Poncokusumo. Kabupaten Malang, peserta program “Pemberdayaan Kewirausahaan Masyarakat Desa Wringinanom Melalui Peningkatan Pengetahuan dan Skill Entrepreneurship serta perluasan Akses Pasar Digital,”. (Foto: Dokumentasi Kelompok 36 MMD UB)

Materinya meliputi pengenalan dasar kewirausahaan, pemetaan potensi usaha desa, manajemen usaha kecil, pembuatan branding dan kemasan, hingga pemasaran digital melalui platform Instagram dan Facebook.

Masyarakat diajak untuk belajar langsung mengambil foto produk, menulis deskripsi yang menarik, serta memposting produknya ke dalam grup jual-beli dan di media sosial pribadi.

Tidak hanya teori, kegiatan ini juga mencakup praktik langsung. Termasuk membuat akun usaha dan simulasi promosi digital yang sederhana dan mudah diterapkan pelaku usaha pemula.

Dosen Pembimbing Lapangan KKN UB Kelompok 36, Dr. Ir. Arief Andy Soebroto, ST., M.Kom, menyebut program ini merupakan langkah awal menciptakan wirausahawan digital di pedesaan.

’’Kami mengharapkan pelatihan ini dapat membuka jalan bagi masyarakat desa dalam meningkatkan pendapatan rumah tangga, serta membangun ekosistem usaha kecil yang mandiri dan berkelanjutan di Desa Wringinanom,’’ ucap Arief.

Ketua pelaksana program Daffa Putra Hardian menambahkan, kegiatan ini digelar tidak hanya sebagai edukasi jangka pendek. ’’Juga bisa jadi pondasi awal, supaya masyarakat di Desa Wringinanom lebih percaya diri mempromosikan dan menjual produk lokalnya secara mandiri,’’ imbuh Daffa.

Ibu-ibu rumah tangga pelaku UMKM lokal Desa Wringinanom, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, yang antusias dalam sesi tanya jawab. (Foto: Dokumentasi Kelompok 36 MMD UB)
Ibu-ibu rumah tangga pelaku UMKM lokal Desa Wringinanom, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, yang antusias dalam sesi tanya jawab.
(Foto: Dokumentasi Kelompok 36 MMD UB)

Daffa pun mengharapkan setelah pelatihan ini, peserta dapat terus mengembangkan usahanya masing-masing, dan mampu memanfaatkan media digital untuk memperluas pasar.

Kegiatan pelatihan ini ditutup dengan sesi tanya jawab, pembagian modul pelatihan, dan pengisian kuisioner evaluasi sebagai bagian dari indikator keberhasilan kegiatan tersebut.

Berdasarkan respons dari peserta, kegiatan ini dinilai sangat bermanfaat dan relevan dengan kebutuhan masyarakat desa saat ini. Salah satu peserta menyampaikan bahwa materi pelatihan sangat mudah dipahami, dan dirinya menjadi termotivasi untuk mulai memasarkan produk makanannya secara online.

Dengan berakhirnya program ini, diharapkan masyarakat Desa Wringinanom mampu melanjutkan dan mengembangkan semangat kewirausahaan, serta semakin percaya diri dalam memanfaatkan teknologi digital untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi keluarga. (YMP)

25 Tim Putra dan  24 Tim Putri Ikuti Kejurnas Voli Pantai Antar Klub U 17 MAVI Cup 2025

SIDOARJO-KEMPALAN: Sebanyak 25 tim putra dan 24 tim putri mengikuti kejuaraan nasional voli pantai antar klub U17 MAVI Cup di lapangan voli pantai Sidoarjo 23-27 Juli 2025. 

Beberapa daerah yang punya basis voli pantai seperti Daerah Istimewa Yogjakarta (DIY) DKI Jakarta, Jawa Barat Jawa Tengah, Lampung, Banten, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, Bali, Bengkulu dan Jawa Timur.

Ketua pelaksana Djoko Supriyadi menjelaskan, ajang bergengsi voli pantai tingkat nasional yang di prakarsai Mantan Atlet Voli Indonesia (MAVI) bekerjasama dengan Pengkab PBVSI Sidoarjo ini selain mencari bibit atlet yang berbakat juga memberikan kesempatan para pemain muda untuk mengasah mental tanding para pemain dan pelatih dalam menghadapi event yang lebih besar.

“Ya ini merupakan salah satu kejuaraan bergengsi tingkat nasional dalam rangka HUT Bhayangkara ke 79. Meski masih tingkat junior atau U 17 tapi kejuaraan ini sangat bergengsi sekali. Terbukti ada ratusan atlet dari 11 Provinsi ikut ambil bagian,” jelas Djoko Supriyadi di sela sela pertandingan pembuka (23/07).

Sementara itu salah satu pelatih voli pantai nasional Bambang Eko Suhartawan yang juga menjadi pemrakarsa di gelarnya kejuaraan ini mengatakan kejuaraan ini sangat tepat untuk menguji mental tanding para pemain muda sekaligus para pelatih untuk menyusun taktik dan strategi dalam menghadapi pertandingan resmi.

” Ya kejuaraan ini sangat bagus untuk melihat talenta talenta muda berbakat dan juga sebagai ajang unjuk kemampuan pemain muda dalam berkompetisi resmi seperti ini.Tidak hanya pemain para pelatih juga di uji dalam sebuah kompetisi resmi,” ungkap Wawan kepada awak media.

Bambang Eko Suhartawan juga tak lupa menerjunkan para pelatih senior dan berlisensi untuk memantau pemain bertalenta yang nantinya bisa menjadi bank data pemain untuk timnas Indonesia.( Ambari Taufiq)

Istri Melahirkan

KEMPALAN : Istri Cak Tar hamil sembilan bulan. Kata teman-teman Cak Tar, ada dukun sakti bernama Wak Jo yang bisa memindahkan rasa sakit wanita yang melahirkan ke ayah anak yang dikandung.

Lantaran ingin menyenangkan istri, Cak Tar menuruti teman-temannya. Saat akan melahirkan, segera Cak Tar mengantar istrinya –Ning Kum– ke dukun yang katanya sakti itu.

Tiba di rumah Wak Jo dekat sawah, setelah berbasa-basi lantas Cak Tar ditanya oleh dukun itu, kira-kira seberapa kuat Cak Tar menanggung sakit orang melahirkan.

Untuk permulaan Cak Tar minta seperempat dulu. Oleh Wak Jo, kemudian kedua kaki Cak Tar diikat dengan tampar plastik lantas disuruh memegangi tempat tidur istrinya yang segera akan melahirkan.

Kata Wak Jo dukun itu, meski cuma seperempat, tapi sakitnya tidak ketulungan.

Sesudah membaca mantra, Wak Jo mulai memindahkan sakit istri Cak Tar yang perutnya sudah duluan mulas-mulas. Ternyata Cak Tar menter, tenang-tenang saja, tidak ada teriakan sama sekali sebagaimana orang yang sedang menahan rasa sakit. Wak Jo heran, lantas membatin : ‘kok kuat sekali orang ini’.

Wak Jo lantas memindahkan lagi rasa sakit istri Cak Tar, kali ini sampai tingkatan separuh. Tenyata Cak Tar masih menter tidak merasakan sakit sama sekali.

Lantaran masih terlihat kuat, rasa sakit istrinya dipindahkan lagi hingga menjadi tiga-perempat.

Meski bingung, Wak Jo nurut saja permintaan Cak Tar. “Sudahlah Wak Jo, pindahkan semua rasa sakit, biar bojoku tidak merasakan sakit sama sekali !”.

Sesudah mengeluarkan nafas panjang, Wak Jo memaksimalkan seluruh tenaganya untuk memindahkan seluruh rasa sakit istri Cak Tar. Ternyata Cak Tar tetap menter, kuat. Ada sih sedikit pucat di wajah Cak Tar, tapi itu dampak rasa takut, bukan karena rasa sakit.

Tidak lama kemudian, bayinya lahir. Istri Cak Tar –Ning Kum– terlihat segar bugar. Oleh Wak Jo, Cak Tar disalami, “Hebat kamu, Nak.”

Tak lama kemudian Cak Tar sekeluarga pamit setelah memberikan salam tempel.

Saat akan masuk ke mobil, sopir Cak Tar dibangunkan diam saja. Lantas tubuhnya digoyang-goyang, ternyata dia sudah tidak bernafas.


Lantas, bagaimana “analisis” alias uthak athik gathuk anekdot ini?

Pertama-tama mari kita pahami bahwa wanita melahirkan secara alami itu sakitnya bukan main. Apalagi didahului dengan hamil, yang makin lama perut makin membesar dan makin menyulitkan posisi bagaimanapun bagi wanita yang sedang hamil. Makanya lantas ada upaya untuk mengurangi rasa sakit dengan operasi caesar. Atau munculnya dukun yang dianggap sakti macam Wak Jo (tolong ini dipahami sebagai anekdot).

Selanjutnya — lha ini yang lantas memunculkan banyak “plot twist” bahwa anekdot di atas menunjukkan setting kehidupan keluarga muda kaya. Gambaran konkritnya yakni dengan mereka mempekerjakan seorang sopir. Banyak orang punya mobil, tetapi tidak banyak yang mampu menggaji sopir. Kita anggap saja mereka keluarga kaya yang kira-kira masuk golongan menengah sedikit mendekati atas.

Ada empat pelaku dalam cerita anekdot ini, yaitu suami (Cak Tar), istri (Ning Kum), dukun (Wak Jo), dan seorang sopir.

Suami adalah Si Nasib Malang. Kita bayangkan saja istrinya adalah wanita cantik, molig.

Dan tampaknya sang suami bangga dengan kecantikan sang istri. Demi sang istri dia rela mengorbankan apapun termasuk menahan rasa sakit saat istri melahirkan. (Kok gak diupayakan operasi caesar saja ya, namanya saja anekdot … 😃).

Sang Istri tipe orang yang memanfaatkan potensi (kekayaan) suami sekaligus kelemahan suaminya yang bangga bukan main akan kemoligan dirinya. Boleh jadi ada “Faktor X” mengapa dia berani berselingkuh dengan sopir. Padahal suami sudah memberikan segalanya buat dia — dalam hal ini harta benda melimpah.

Namun (lha ini), siapa tahu sang istri pura-pura tidak tahu kalau suami punya banyak demenan di luar sana, atau bahkan punya simpanan istri lain. Lu bisa, gue juga bisa, begitu kira-kira posisi moralitas –dan bisa jadi– psikologi Ning Kum sang istri itu.

Dalam konteks ini, dukun digolongkan profesi yang kalah menang nyirik, mirip team sukses calon gubernur/bupati. Sang calon babak belur menang atau kalah dalam memperebutkan kursi kekuasaan –bapak-ibu dan mas-mbak team sukses– tetap dapat cuan (kira-kira begitu imajinasi awam 🙂).

Nah, sopir adalah tipikal orang-orang susah, yang –maaf– pada posisi pecundang, dan seringkali jadi “kambing hitam”.

Meski demikian, pada akhirnya mas sopir meninggalkan bom waktu melalui istri majikannya yang mengandung anaknya itu.

Metaforanya atau katakanlah “titik bidiknya” adalah proyeksifikasi masyarakat di sebuah negara.

Jika kesusahan rakyat tak juga bisa diurai benang kusutnya, maka cepat atau lambat akan meninggalkan persoalan yang bakal merusak tatanan pemerintahan, sistem sosial kemasyarakatan, bahkan merontokkan kehidupan bernegara di suatu masa kelak.

Jika ingin rumah tangga langgeng sentosa, baik-baiklah mengelola aturannya. Jika ingin negara kesejahteraan (welfare state) tercapai, tegakkan demokrasi dan hukum. “Jangan ada dusta di antara kita….” (Amang Mawardi).

Pemkot Surabaya Gelar FGD, Bahas Dinamika Regulasi di Dunia Usaha

SURABAYA-KEMPALAN: Pemkot Kota Surabaya melalui Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker) menggelar Forum Group Discussion (FGD) dengan tema “Strategi dan Dukungan Pemerintah Kota Surabaya dalam Menghadapi Dinamika Regulasi di Dunia Usaha”. Acara ini dibuka oleh Asisten Administrasi Umum Anna Fajriatin dan  dihadiri Kepala Disperinaker Kota Surabaya Agus Hebi Djuniantoro di Graha Sawunggaling, Rabu (23/7).

Dalam sambutannya, Anna Fajriatin menekankan pentingnya kolaborasi dan kontribusi antara pemerintah dan pelaku usaha untuk menciptakan sinergi luar biasa di Kota Pahlawan. “Intinya FGD ini adalah kolaborasi, kontribusi. Bagaimana menciptakan sebuah strategi di Pemerintah Kota Surabaya antara pemerintahnya, antara pelaku usahanya saling bersinergi, saling berkolaborasi untuk menuju sebuah kekuatan yang luar biasa,” katanya.

Anna juga mendorong para pelaku usaha untuk menyampaikan kendala dan masukan mereka dalam FGD tersebut. Ia menegaskan bahwa Pemerintah Kota Surabaya tidak bisa berjalan sendiri tanpa dukungan dari pelaku usaha.

“Tidak mungkin Pemerintah Kota Surabaya itu berjalan sendiri, tanpa berdampingan dengan teman-teman ini di pelaku usaha semuanya. Karena tujuan bersama kita adalah melayani warga Surabaya,”tegasnya.

Sementara itu, Kepala Disperinaker Kota Surabaya Agus Hebi Djuniantoro dalam paparannya menyoroti bagaimana regulasi di tingkat nasional dan daerah terus mengalami perubahan. Termasuk melalui Undang-Undang Cipta Kerja dan reformasi kebijakan lainnya.

“Tentu, dinamika ini membawa tantangan tersendiri bagi pemerintah daerah, khususnya Pemerintah Kota Surabaya,” jelas Hebi.

Menurutnya, sebagai kota besar dan pusat pertumbuhan ekonomi di Jawa Timur, Surabaya harus mampu menyesuaikan, mengembangkan, dan merumuskan kebijakan lokal yang inovatif, adaptif, dan solutif. FGD ini menjadi wadah strategis untuk berdiskusi dan bertukar pikiran mengenai strategi serta dukungan Pemkot Surabaya dalam menghadapi dinamika regulasi.

Ada empat poin konkret yang diharapkan dari FDG ini, yaitu menyusun strategi responsif terhadap perubahan regulasi yang berdampak langsung pada pelayanan publik dan tata kelola pemerintahan, memperkuat sinergi lintas sektor, baik internal OPD, mitra kerja, maupun masyarakat sipil.

“Mengidentifikasi kebutuhan dukungan kebijakan dan sumber daya dalam penerapan regulasi baru, dan mendorong lahirnya inovasi kebijakan di tingkat lokal yang tetap selaras dengan kerangka hukum nasional,” terangnya.

Hebi menambahkan, acara FGD kali ini diikuti oleh 500 peserta, terdiri dari 466 pelaku usaha dan 34 perwakilan asosiasi. Mereka berpartisipasi aktif dalam diskusi yang memaparkan tiga materi penting, antara lain hubungan Industrial yang Harmonis, Dinamis dan Berkeadilan, disampaikan oleh Arif Sumanto, Mediator Hubungan Industrial Disnakertrans Provinsi Jawa Timur.

Kedua, Arah Pembangunan Ekonomi Kota Surabaya ke Depan, disampaikan oleh Prof. Dr. Dra. Ignatia Martha Hendrati, Guru Besar Ekonomi Internasional Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.

Kemudian, materi ketiga mengenai Strategi dan Dukungan Pemerintah Kota Surabaya dalam Menghadapi Dinamika Regulasi di Dunia Usaha, disampaikan oleh tim dari Disperinaker Kota Surabaya Ibrahim Zaky, S.T. (Kepala Bidang Pelatihan dan Penempatan Tenaga Kerja), Chairani Agustiana, S.E. (Kepala Bidang Industri), serta Tranggono Wahyu Wibowo (Kepala Bidang Hubungan Industrial, Syarat Kerja dan Jamsostek).

“Kami berharap acara FGD ini  dapat menghasilkan rekomendasi konkret yang memperkuat kapasitas Pemkot Surabaya dalam menjawab berbagai dinamika regulasi ke depan. Demi terwujudnya Surabaya yang semakin nyaman dan sejahtera bagi masyarakatnya,” harap Hebi. (Dwi Arifin)

Istri Melahirkan

KEMPALAN : Istri Cak Tar hamil sembilan bulan. Kata teman-teman Cak Tar, ada dukun sakti bernama Wak Jo yang bisa memindahkan rasa sakit wanita yang melahirkan ke ayah anak yang dikandung.

Lantaran ingin menyenangkan istri, Cak Tar menuruti teman-temannya. Saat akan melahirkan, segera Cak Tar mengantar istrinya –Ning Kum– ke dukun yang katanya sakti itu.

Tiba di rumah Wak Jo dekat sawah, setelah berbasa-basi lantas Cak Tar ditanya oleh dukun itu, kira-kira seberapa kuat Cak Tar menanggung sakit orang melahirkan.

Untuk permulaan Cak Tar minta seperempat dulu. Oleh Wak Jo, kemudian kedua kaki Cak Tar diikat dengan tampar plastik lantas disuruh memegangi tempat tidur istrinya yang segera akan melahirkan.

Kata Wak Jo dukun itu, meski cuma seperempat, tapi sakitnya tidak ketulungan.

Sesudah membaca mantra, Wak Jo mulai memindahkan sakit istri Cak Tar yang perutnya sudah duluan mulas-mulas. Ternyata Cak Tar menter, tenang-tenang saja, tidak ada teriakan sama sekali sebagaimana orang yang sedang menahan rasa sakit. Wak Jo heran, lantas membatin : ‘kok kuat sekali orang ini’.

Wak Jo lantas memindahkan lagi rasa sakit istri Cak Tar, kali ini sampai tingkatan separuh. Tenyata Cak Tar masih menter tidak merasakan sakit sama sekali.

Lantaran masih terlihat kuat, rasa sakit istrinya dipindahkan lagi hingga menjadi tiga-perempat.

Meski bingung, Wak Jo nurut saja permintaan Cak Tar. “Sudahlah Wak Jo, pindahkan semua rasa sakit, biar bojoku tidak merasakan sakit sama sekali !”.

Sesudah mengeluarkan nafas panjang, Wak Jo memaksimalkan seluruh tenaganya untuk memindahkan seluruh rasa sakit istri Cak Tar. Ternyata Cak Tar tetap menter, kuat. Ada sih sedikit pucat di wajah Cak Tar, tapi itu dampak rasa takut, bukan karena rasa sakit.

Tidak lama kemudian, bayinya lahir. Istri Cak Tar –Ning Kum– terlihat segar bugar. Oleh Wak Jo, Cak Tar disalami, “Hebat kamu, Nak.”

Tak lama kemudian Cak Tar sekeluarga pamit setelah memberikan salam tempel.

Saat akan masuk ke mobil, sopir Cak Tar dibangunkan diam saja. Lantas tubuhnya digoyang-goyang, ternyata dia sudah tidak bernafas.


Lantas, bagaimana “analisis” alias uthak athik gathuk anekdot ini?

Pertama-tama mari kita pahami bahwa wanita melahirkan secara alami itu sakitnya bukan main. Apalagi didahului dengan hamil, yang makin lama perut makin membesar dan makin menyulitkan posisi bagaimanapun bagi wanita yang sedang hamil. Makanya lantas ada upaya untuk mengurangi rasa sakit dengan operasi caesar. Atau munculnya dukun yang dianggap sakti macam Wak Jo (tolong ini dipahami sebagai anekdot).

Selanjutnya — lha ini yang lantas memunculkan banyak “plot twist” bahwa anekdot di atas menunjukkan setting kehidupan keluarga muda kaya. Gambaran konkritnya yakni dengan mereka mempekerjakan seorang sopir. Banyak orang punya mobil, tetapi tidak banyak yang mampu menggaji sopir. Kita anggap saja mereka keluarga kaya yang kira-kira masuk golongan menengah sedikit mendekati atas.

Ada empat pelaku dalam cerita anekdot ini, yaitu suami (Cak Tar), istri (Ning Kum), dukun (Wak Jo), dan seorang sopir.

Suami adalah Si Nasib Malang. Kita bayangkan saja istrinya adalah wanita cantik, molig.

Dan tampaknya sang suami bangga dengan kecantikan sang istri. Demi sang istri dia rela mengorbankan apapun termasuk menahan rasa sakit saat istri melahirkan. (Kok gak diupayakan operasi caesar saja ya, namanya saja anekdot … 😃).

Sang Istri tipe orang yang memanfaatkan potensi (kekayaan) suami sekaligus kelemahan suaminya yang bangga bukan main akan kemoligan dirinya. Boleh jadi ada “Faktor X” mengapa dia berani berselingkuh dengan sopir. Padahal suami sudah memberikan segalanya buat dia — dalam hal ini harta benda melimpah.

Namun (lha ini), siapa tahu sang istri pura-pura tidak tahu kalau suami punya banyak demenan di luar sana, atau bahkan punya simpanan istri lain. Lu bisa, gue juga bisa, begitu kira-kira posisi moralitas –dan bisa jadi– psikologi Ning Kum sang istri itu.

Dalam konteks ini, dukun digolongkan profesi yang kalah menang nyirik, mirip team sukses calon gubernur/bupati. Sang calon babak belur menang atau kalah dalam memperebutkan kursi kekuasaan –bapak-ibu dan mas-mbak team sukses– tetap dapat cuan (kira-kira begitu imajinasi awam 🙂).

Nah, sopir adalah tipikal orang-orang susah, yang –maaf– pada posisi pecundang, dan seringkali jadi “kambing hitam”.

Meski demikian, pada akhirnya mas sopir meninggalkan bom waktu melalui istri majikannya yang mengandung anaknya itu.

Metaforanya atau katakanlah “titik bidiknya” adalah proyeksifikasi masyarakat di sebuah negara.

Jika kesusahan rakyat tak juga bisa diurai benang kusutnya, maka cepat atau lambat akan meninggalkan persoalan yang bakal merusak tatanan pemerintahan, sistem sosial kemasyarakatan, bahkan merontokkan kehidupan bernegara di suatu masa kelak.

Jika ingin rumah tangga langgeng sentosa, baik-baiklah mengelola aturannya. Jika ingin negara kesejahteraan (welfare state) tercapai, tegakkan demokrasi dan hukum. “Jangan ada dusta di antara kita….” (Amang Mawardi).

Khofifah Serahkan Alsintan kepada 15 Gapoktan di Tuban

TUBAN-KEMPALAN: Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa terus melakukan modernisasi pertanian dengan menyerahkan bantuan Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan) kepada 15 Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) di Desa Temandang, Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban, Senin (21/7) sore.

Bantuan Alsintan yang disalurkan terdiri dari cultivator, traktor roda dua, corn seller mobile, combine harvester besar, dan power thresher multiguna mobile. Alat tersebut dialokasikan kepada Gapoktan dari berbagai kecamatan. Antara lain, Kecamatan Grabagan, Semanding, Soko, Parengan, Rengel, Bangilan, Jatirogo, Kerek, dan Merakurak.

Penyaluran bantuan ini menjadi bagian langkah integral Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim dalam mempercepat transformasi pertanian berbasis mekanisasi, efisiensi, dan produktivitas tinggi guna menjawab tantangan globalisasi, krisis iklim, dan mewujudkan provinsi yang berdaulat pangan. Sekaligus memperkuat sentra pangan strategis Jawa Timur.

“Modernisasi pertanian bukan lagi pilihan, tapi keniscayaan. Modernisasi pertanian ini menjadi kunci kedaulatan pangan, Kita butuh pertanian yang efisien, produktif, dan mampu menggerakkan ekonomi desa. Alsintan adalah katalisator penting untuk mencapai hal itu,” ujar Khofifah.

Alsintan, kata Khofifah, menjadi salah satu dari pilar penunjang dalam mewujudkan modernisasi di sektor pertanian. Adapun tiga pilar itu, Efisiensi Budidaya melalui Alsintan dan teknologi presisi; Hilirisasi Pertanian dengan penguatan nilai tambah produk; serta Regenerasi Petani untuk mendorong lahirnya petani milenial.

“Alsintan adalah pintu masuk untuk tiga hal penting ini. Tapi modernisasi tidak cukup dengan alat, kita butuh ekosistem yaitu teknologi, pembiayaan, pendampingan, dan pasar yang terintegrasi,” jelasnya.

Dengan alsintan ini, Khofifah optimistis bahwa produktivitas pertanian di Tuban akan terdongkrak. Terlebih selama 2024, Tuban mencatat produksi padi sebesar 523.067 ton Gabah Kering Giling (GKG) atau setara dengan 302.030 ton beras.

Jumlah tersebut menempatkan Bumi Ronggolawe ini sebagai salah satu dari lima besar produsen padi tertinggi di Jawa Timur. Selain itu, Tuban juga menjadi produsen jagung terbesar di Jatim dengan total produksi 847.820 ton jagung pipilan kering.

“Pertumbuhan ini adalah bukti kerja keras petani kita yang terus produktif meski dihadapkan pada fluktuasi harga, hama, dan tantangan iklim. Pemerintah harus hadir memastikan mereka tidak berjalan sendiri,” ungkap Khofifah.

Besarnya hasil pertanian di Tuban dan kabupaten/kota di Jatim lainnya, menempatkan provinsi paling timur Pulau Jawa ini menjadi lumbung pangan nasional. Berdasarkan Angka Tetap BPS 2024, Jatim menyumbang 17,44 persen produksi padi nasional atau sebesar 9,270 juta ton GKG atau setara 5,352 juta ton beras, serta 30,36 persen produksi jagung nasional atau 4,59 juta ton jagung pipilan kering.

Terbaru, hingga 1 Juli 2025, produksi padi Jatim periode Januari–Agustus 2025 meningkat 11,78 persen  atau 8.177.151 ton GKG, sementara produksi jagung naik 10,08 persen atau setara dengan 2.810.288 ton.

Selain alsintan, Khofifah juga mencermati proses konversi penggunaan pupuk di Tuban yang mulai mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia total dan beralih secara bertahap ke pupuk organik. Ia menilai ini sebagai langkah positif dan sangat sehat untuk kelestarian dan keberlanjutan lahan pertanian.

Khofifah juga menekankan pentingnya memetakan potensi-potensi Tuban di sektor lain, seperti peningkatan produktivitas petani tebu, pengembangan sapi perah untuk mendukung sektor susu, dan pemberdayaan peternak ayam.

“Jawa Timur menyumbang 51,87 persen terhadap produksi gula nasional. Ke depan, Tuban juga  ikut berkontribusi melalui pemetaan titik-titik potensial untuk budidaya tebu,” tegasnya.

Sementara di sektor susu, Khofifah mengungkapkan bahwa saat ini Indonesia masih mengimpor sekitar 79 persen kebutuhan susu nasional. Sedangkan kondisi saat ini, Jawa Timur telah berkontribusi sekitar 60 persen terhadap produksi susu nasional. Ia pun berharap Tuban dapat memanfaatkan potensi peternakan sapi perah yang ada.

Dalam kesempatan ini, Khofifah juga mengapresiasi Bupati Tuban Aditya Halindra Faridzky atas dukungan luar biasa terhadap sektor pertanian. Ia berharap seluruh Poktan dan Gapoktan dapat melihat peluang pasar secara jangka panjang sehingga berdampak positif bagi penguatan ekonomi lokal dan kesejahteraan petani.

Di akhir acara, Khofifah mengingatkan pentingnya pengelolaan alsintan secara kolektif, produktif, dan berkelanjutan. Ia juga menegaskan kembali pentingnya membangun ekosistem pertanian yang inklusif dan kolaboratif, mulai dari hulu sampai hilir.

“Ini bukan sekadar bantuan alat. Ini adalah bentuk kehadiran negara. Ini investasi jangka panjang menuju pertanian yang lebih berdaulat, efisien, dan tangguh,” katanya

“Pertanian adalah napas bangsa. Kita pastikan petani-petani kita bangga dengan profesinya, sejahtera hidupnya, dan kuat menghadapi masa depan,” pungkasnya

Sementara itu, Bupati Tuban Aditya Halindra Faridzky menyampaikan terima kasih atas bantuan alsintan dari Gubernur Jawa Timur. Ia berharap para petani dapat memaksimalkan pemanfaatan bantuan tersebut tidak hanya untuk kelompoknya, tetapi juga dapat membantu kelompok tani lain dalam meningkatkan hasil produksi.

“Terima kasih Bu Gubernur, semoga keberadaan alat ini bisa benar-benar dirasakan manfaatnya secara luas oleh petani-petani Tuban, dan semoga Ibu Gubernur selalu senantiasa diberikan perlindungan dan kesehatan di setiap langkah dalam memimpin Jawa Timur,” ungkapnya. (Dwi Arifin)

Aktivis Kritik Anggota DPRD dari PKB soal BSPS di Sumenep: “Yazid Tak Netral, BK Harus Bertindak!”

SUMENEP – KEMPALAN: Aktivis sekaligus konten kreator, Ainur Rahman, melontarkan kritik tajam kepada anggota DPRD Sumenep dari Fraksi PKB, Akhmadi Yazid. Kritik ini disampaikan Ainur menyusul pernyataan Yazid yang meminta aparat penegak hukum (APH) menangkap salah satu ASN Disperkimhub Sumenep terkait pusaran dana program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS).

Menurut Ainur, sikap Yazid dinilai tidak netral dan terkesan sarat kepentingan politik.

“Saya heran, kenapa Mas Yazid hanya bernafsu minta ASN ditangkap, padahal Korkab Kiki menyebut banyak pihak lain juga terlibat. Ada oknum DPR, wartawan, kepala desa, bahkan anggota DPRD. Tapi kenapa yang disorot cuma ASN?” kata Ainur dalam rilisnya, Selasa (22/7/2025).

Ainur menilai pernyataan Yazid sebagai bentuk ketidakadilan dalam menyikapi informasi awal yang masih perlu pembuktian lebih lanjut.

“Ini tudingan masih prematur. Semestinya disampaikan ke penyidik, bukan di-publish begitu saja. Kalau memang ada bukti transfer, chat, voice, atau video, ya bawa ke ranah hukum,” ujarnya.

Lebih jauh, Ainur juga mengingatkan bahwa dalam logika hukum, pihak pemberi suap juga harus diperiksa lebih dulu, bukan hanya penerima.

“Kalau tuduhan Korkab itu benar, maka justru Korkab dulu yang harus diproses. Jangan langsung suruh tangkap ASN. Ini ada apa?” tegasnya.

Menutup pernyataannya, Ainur mendesak Badan Kehormatan (BK) DPRD Sumenep untuk segera memproses dugaan pelanggaran etika yang dilakukan Yazid.

“Sikap seperti ini bisa merusak citra DPRD. BK harus bertindak,” pungkasnya. (Ham)

Editor: Nur Izzati Anwar

Merasakan Serunya “Reuni” Skuad Golf Kota Surabaya Peraih Tujuh Emas Porprov Jatim saat Turnamen “Golf With Surabaya Athletes”

SURABAYA-KEMPALAN: Setelah berjuang membawa Kota Surabaya meraih gelar juara umum cabor golf dengan raihan tujuh medali emas pada ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porpov) IX Jatim 2025, tim golf Kota Surabaya kembali berkumpul, Sabtu (19/7).

Tepatnya dalam turnamen golf yang bertajuk “Golf With Surabaya Athletes” di Pakuwon Golf & Family Club, Surabaya. Seperti namanya, dalam turnamen golf ini, pegolf peserta ditantang untuk mengalahkan atlet Surabaya dalam tantangan Nearest to the Pin di hole 1 dan 2.

Seluruh peserta dan atlet Kota Surabaya. (Foto: Istimewa)

Animo pegolf peserta menantang pegolf atlet Surabaya pun cukup besar. Total, di antara 55 pegolf yang berpartisipasi dalam turnamen tersebut, ada sekitar 100 pukulan yang harus dihadapi Nathan Christoper Widjaya dkk.

Nathan mengakui, dia memang sudah terbiasa bermain di course Pakuwon. Jadi, di atas kertas dia sudah memahami course tersebut. ’’Insting pukulan tetap diasah,’’ kata Nathan.

BACA JUGA: Dua Birdie dari Tiga Hole Terakhir yang Menyelamatkan Tim Foursome Mix Kota Surabaya

Pegolf Kota Surabaya Nathan Christoper Widjaya saat memukul. (Foto: Istimewa)

Tidak hanya insting pukulan yang diasah di dalam turnamen fun itu. ’’Challenge dari peserta juga mengasah mental. Ini yang serunya, dan tidak membosankan juga,’’ sebut Clement Soetrisno, salah seorang pegolf atlet Surabaya lainnya.

Bukan hanya Nathan dan Clement, keempat pegolf Surabaya lainnya yang menantang peserta antara lain: William Justin Wijaya, Jevan Lucius Ludy, Calista Allegra Dewantara, dan Phoebe Gani. Hanya Hikari Kikuchi yang absen dalam ajang tersebut.

Selain turnamen yang dikonsep fun golf dan tantangan Nearest to the Pin, ketika akhir turnamen itu juga melelang outfit yang dikenakan pegolf-pegolf Surabaya saat Porprov lalu. Seperti topi dan baju. Dari hasil ajang lelang tersebut sukses mengeruk uang jutaan Rupiah.

Kapten tim Kota Surabaya dalam Porprov, Rudy Ayong, menyebut turnamen ini sebagai relaksasi bagi pegolf Surabaya setelah berjuang di Porprov. Tidak hanya jadi peserta, mereka pun bahkan diajak untuk mengorganisir turnamen tersebut.

Kapten tim Kota Surabaya Rudy Ayong setelah pukulannya melenceng. (Foto: Istimewa)

’’Jadi mereka juga belajar tentang pekerjaan sesuai dengan bidangnya,’’ tuturnya. Ayong, dan orang tua pegolf Surabaya lainnya, hanya bertugas sebagai supervisor untuk putra dan putri mereka.

Ayong menyebut, mereka juga memberi pelajaran langsung kepada atlet-atlet Surabaya tentang mentalitas bertanding. Dia mencontohkan dirinya sendiri saat melakoni playoff berebut status Best Gross Overall (BGO) dengan peserta, Donny Leimena.

Ayong dan Donny sama-sama mengoleksi over 5. Sehingga, pemenang diputuskan lewat babak playoff di hole 1. Ayong kurang beruntung. Karena bola yang dia pukul melenceng dan masuk ke pepohonan. Sehingga, Donny yang jadi pemenangnya.

Pegolf peserta Annabelle Leimena saat memukul di tee box 1 Pakuwon Golf & Family Club, Surabaya. (Foto: Istimewa)
Pegolf peserta Annabelle Leimena saat memukul di tee box 1 Pakuwon Golf & Family Club, Surabaya. (Foto: Istimewa)

’’Di situlah pentingnya mentalitas ketika bertanding. Seperti saya hari ini. Karena saya tidak pernah bermain playoff, saya grogi dan pukulan saya melenceng,’’ ungkap Ayong. Di ajang ini, Donny Leimena menyabet gelar BGO dan putrinya Annabelle Leimena bisa jejak ayahnya dengan memenangi Ladies Gross Overall. (YMP)

Membela Manchester United, Mbeumo Berharap Bisa Mengikuti Jejak Pemain Ini

MANCHESTER-KEMPALAN: Manchester United untuk kali pertama memperkenalkan rekrutan barunya musim panas ini, Bryan Mbeumo. Dibeli dari Brentford FC seharga 71 juta Pounds (Rp 1,56 triliun), Mbeumo diharapkan menambah kekuatan lini serangan United.

Bersama kapten Bruno Fernandes dan Matheus Cunha, Mbeumo jadi opsi serangan dari lini kedua The Red Devils (julukan United). Mbeumo pun langsung dibawa dalam skuad United untuk pramusim.

Mbeumo akan mengenakan jersi bernomor punggung 19 dalam musim pertamanya bagi United kali ini. Selasa malam WIB (22/7), Mbeumo diperkenalkan sebagai pemain anyar United.

BACA JUGA: Cetak Gol Kemenangan Manchester United, Begini Kata Zirkzee

Berbicara dalam laman resmi klub, Mbeumo pun mengungkapkan sosok yang membuat dirinya memilih pergi ke United. Sosok tersebut adalah pemain yang pernah jadi mesin gol United.

’’Momen top di Manchester United yang pernah aku ingat adalah momen ketika klub ini mempunyai pemain seperti Cristiano Ronaldo. Aku tahu, ini klub besar, dan aku senang bisa berada di sini,’’ ucap Mbeumo.

Gelandang yang berusia 25 tahun tersebut merupakan penggemar CR7. Gara-gara CR7, Mbeumo kecil pun membeli jersi United. Karenanya, dia pun ingin mengikuti jejak CR7 untuk United.

’’Sejak awal, aku sudah ingin memperkuat klub dengan kekuatan yang masif. Kini, aku di sini (United), aku sangat bergembira. Bagiku United merupakan klub terhebat di dunia,’’ tutur Mbeumo.

Bryan Mbeumo (kiri) dan Cristiano Ronaldo semasa membela Manchester United (kanan). (Foto: Instagram)
Bryan Mbeumo (kiri) dan Cristiano Ronaldo semasa membela Manchester United (kanan). (Foto: Instagram)

Salah satu yang ingin dia rasakan adalah mencetak gol seperti idolanya, CR7. Gol itu pun tercipta di kandang United, Old Trafford. Yang lebih dikenal dengan sebutan Theatre of Dreams.

Mbeumo sudah tidak sabar menjejakkan kaki di Old Trafford sebagai penggawa United. Bukan sebagai lawan United. ’’Pendukungnya sangat gila. Stadionnya juga hebat. Semua pemain di dunia pasti ingin bermain di sini,’’ tegasnya. (YMP)

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.