KEMPALAN : Istri Cak Tar hamil sembilan bulan. Kata teman-teman Cak Tar, ada dukun sakti bernama Wak Jo yang bisa memindahkan rasa sakit wanita yang melahirkan ke ayah anak yang dikandung.
Lantaran ingin menyenangkan istri, Cak Tar menuruti teman-temannya. Saat akan melahirkan, segera Cak Tar mengantar istrinya –Ning Kum– ke dukun yang katanya sakti itu.
Tiba di rumah Wak Jo dekat sawah, setelah berbasa-basi lantas Cak Tar ditanya oleh dukun itu, kira-kira seberapa kuat Cak Tar menanggung sakit orang melahirkan.
Untuk permulaan Cak Tar minta seperempat dulu. Oleh Wak Jo, kemudian kedua kaki Cak Tar diikat dengan tampar plastik lantas disuruh memegangi tempat tidur istrinya yang segera akan melahirkan.
Kata Wak Jo dukun itu, meski cuma seperempat, tapi sakitnya tidak ketulungan.
Sesudah membaca mantra, Wak Jo mulai memindahkan sakit istri Cak Tar yang perutnya sudah duluan mulas-mulas. Ternyata Cak Tar menter, tenang-tenang saja, tidak ada teriakan sama sekali sebagaimana orang yang sedang menahan rasa sakit. Wak Jo heran, lantas membatin : ‘kok kuat sekali orang ini’.
Wak Jo lantas memindahkan lagi rasa sakit istri Cak Tar, kali ini sampai tingkatan separuh. Tenyata Cak Tar masih menter tidak merasakan sakit sama sekali.
Lantaran masih terlihat kuat, rasa sakit istrinya dipindahkan lagi hingga menjadi tiga-perempat.
Meski bingung, Wak Jo nurut saja permintaan Cak Tar. “Sudahlah Wak Jo, pindahkan semua rasa sakit, biar bojoku tidak merasakan sakit sama sekali !”.
Sesudah mengeluarkan nafas panjang, Wak Jo memaksimalkan seluruh tenaganya untuk memindahkan seluruh rasa sakit istri Cak Tar. Ternyata Cak Tar tetap menter, kuat. Ada sih sedikit pucat di wajah Cak Tar, tapi itu dampak rasa takut, bukan karena rasa sakit.
Tidak lama kemudian, bayinya lahir. Istri Cak Tar –Ning Kum– terlihat segar bugar. Oleh Wak Jo, Cak Tar disalami, “Hebat kamu, Nak.”
Tak lama kemudian Cak Tar sekeluarga pamit setelah memberikan salam tempel.
Saat akan masuk ke mobil, sopir Cak Tar dibangunkan diam saja. Lantas tubuhnya digoyang-goyang, ternyata dia sudah tidak bernafas.
Lantas, bagaimana “analisis” alias uthak athik gathuk anekdot ini?
Pertama-tama mari kita pahami bahwa wanita melahirkan secara alami itu sakitnya bukan main. Apalagi didahului dengan hamil, yang makin lama perut makin membesar dan makin menyulitkan posisi bagaimanapun bagi wanita yang sedang hamil. Makanya lantas ada upaya untuk mengurangi rasa sakit dengan operasi caesar. Atau munculnya dukun yang dianggap sakti macam Wak Jo (tolong ini dipahami sebagai anekdot).
Selanjutnya — lha ini yang lantas memunculkan banyak “plot twist” bahwa anekdot di atas menunjukkan setting kehidupan keluarga muda kaya. Gambaran konkritnya yakni dengan mereka mempekerjakan seorang sopir. Banyak orang punya mobil, tetapi tidak banyak yang mampu menggaji sopir. Kita anggap saja mereka keluarga kaya yang kira-kira masuk golongan menengah sedikit mendekati atas.
Ada empat pelaku dalam cerita anekdot ini, yaitu suami (Cak Tar), istri (Ning Kum), dukun (Wak Jo), dan seorang sopir.
Suami adalah Si Nasib Malang. Kita bayangkan saja istrinya adalah wanita cantik, molig.
Dan tampaknya sang suami bangga dengan kecantikan sang istri. Demi sang istri dia rela mengorbankan apapun termasuk menahan rasa sakit saat istri melahirkan. (Kok gak diupayakan operasi caesar saja ya, namanya saja anekdot … 😃).
Sang Istri tipe orang yang memanfaatkan potensi (kekayaan) suami sekaligus kelemahan suaminya yang bangga bukan main akan kemoligan dirinya. Boleh jadi ada “Faktor X” mengapa dia berani berselingkuh dengan sopir. Padahal suami sudah memberikan segalanya buat dia — dalam hal ini harta benda melimpah.
Namun (lha ini), siapa tahu sang istri pura-pura tidak tahu kalau suami punya banyak demenan di luar sana, atau bahkan punya simpanan istri lain. Lu bisa, gue juga bisa, begitu kira-kira posisi moralitas –dan bisa jadi– psikologi Ning Kum sang istri itu.
Dalam konteks ini, dukun digolongkan profesi yang kalah menang nyirik, mirip team sukses calon gubernur/bupati. Sang calon babak belur menang atau kalah dalam memperebutkan kursi kekuasaan –bapak-ibu dan mas-mbak team sukses– tetap dapat cuan (kira-kira begitu imajinasi awam 🙂).
Nah, sopir adalah tipikal orang-orang susah, yang –maaf– pada posisi pecundang, dan seringkali jadi “kambing hitam”.
Meski demikian, pada akhirnya mas sopir meninggalkan bom waktu melalui istri majikannya yang mengandung anaknya itu.
Metaforanya atau katakanlah “titik bidiknya” adalah proyeksifikasi masyarakat di sebuah negara.
Jika kesusahan rakyat tak juga bisa diurai benang kusutnya, maka cepat atau lambat akan meninggalkan persoalan yang bakal merusak tatanan pemerintahan, sistem sosial kemasyarakatan, bahkan merontokkan kehidupan bernegara di suatu masa kelak.
Jika ingin rumah tangga langgeng sentosa, baik-baiklah mengelola aturannya. Jika ingin negara kesejahteraan (welfare state) tercapai, tegakkan demokrasi dan hukum. “Jangan ada dusta di antara kita….” (Amang Mawardi).

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi