Sabtu, 16 Mei 2026, pukul : 13:02 WIB
Surabaya
--°C

Dobrak Kenyamanan Kelas Ber-AC, Labschool Unesa 1 Gembleng Karakter Siswa Lewat Isu Global di Genilangit Magetan

MAGETAN-KEMPALAN: Sekolah berfasilitas premium umumnya identik dengan proses belajar di ruang kelas yang nyaman dan serba digital. Namun, langkah berbeda diambil oleh Labschool Unesa 1 Surabaya. Guna memutus ketergantungan siswa pada fasilitas modern, sekolah di bawah naungan Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ini memboyong ratusan muridnya ke kawasan pegunungan Genilangit, Magetan, Jawa Timur.

Selama tiga hari pelaksanaan program Labschool Character, Actions, and Solution (LCAS) International English Camp, para guru dan siswa dari jenjang SD, SMP, hingga SMA dipaksa menanggalkan kenyamanan perkotaan. Di tengah suhu dingin pegunungan, mereka diwajibkan berkomunikasi penuh menggunakan bahasa Inggris bersama 20 mahasiswa asing asal Uzbekistan dan Prancis.

Kolaborasi Lintas Budaya Dua Benua

Mahasiswa Uzbhekistan saat belajar seni budaya Karawitan di SMA Labschool Unesa 1 Surabaya.

Kehadiran para mahasiswa asing tersebut memberikan dimensi baru dalam pembelajaran luar kelas ini. Sembilan belas mahasiswa asal Uzbekistan dan satu mahasiswa dari Prancis terlibat aktif sebagai mitra wicara (speaking partners) bagi para siswa dan guru.

Sebelum diterjunkan ke lokasi perkemahan, para mahasiswa asing ini telah melaksanakan dan nengukuti pembelajaran selama dua pekan di Labschool Unesa 1 Lidah Wetan, Surabaya. Di sana, mereka tidak hanya mengajar, tetapi juga mengadopsi budaya lokal melalui pembelajaran seni karawitan Jawa. Transformasi kultural tersebut kemudian dibawa ke Magetan sebagai jembatan komunikasi lintas budaya dengan para  guru dan siswa.

Pedagogi Tekanan Positif di Alam Terbuka

Prof.Dr. Sujarwanto M.Pd,, bersama Prof. Gulam Ataev, Vice Dean state world language University , Taskent Uzbekistan memperlihatkan MoU usai penandatanganan (Foto-foto : Istimewa)

Direktur Lembaga Pengembangan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (LPPMP) Unesa, Prof. Dr. Sujarwanto, M.Pd., menyatakan bahwa program ini dirancang sebagai kritik terhadap model pembelajaran bahasa yang cenderung teoretis. Menurutnya, metode ini merupakan bentuk “tekanan positif” untuk memaksa siswa mempraktikkan kemampuan linguistik mereka.

“Selama ini pembelajaran bahasa Inggris sering mandek pada hafalan kosakata tanpa keberanian praktik. Di LCAS, kami menciptakan situasi di mana guru dan murid dipaksa keluar dari zona nyaman. Mereka berinteraksi langsung dengan penutur asing tanpa kamus saku atau penerjemah instan. Yang ada adalah keberanian untuk salah, lalu memperbaikinya,” ujar Bopo Prof Jar.

Profesor dengan disiplin ilmu pendidikan tapi gila olahraga ini menambahkan, indikator keberhasilan dari metode ini berfokus pada tiga aspek utama: peningkatan drastis pada kepercayaan diri siswa, terbangunnya kolaborasi aktif antarsiswa dan penutur asing, serta terasahnya kemampuan pemecahan masalah di lingkungan dengan fasilitas terbatas.

Sentuhan Empati di Akhir Program

Komponen penting lain dari program ini adalah integrasi pendidikan karakter dengan realitas sosial. Pada puncak acara, seluruh peserta menggalang aksi solidaritas dengan menyalurkan santunan berupa paket sekolah( alat tulis lengkap ) dan uang saku kepada anak-anak yatim di sekitar kawasan perkemahan Genilangit.

Pihak penyelenggara menegaskan bahwa langkah ini diambil agar kemampuan akademik dan global para  guru dan siswa tetap berpijak pada kepekaan sosial lokal.

“Kami tidak hanya ingin mencetak anak-anak yang fasih berbahasa Inggris, melainkan juga generasi yang peka terhadap ketimpangan sosial di sekitarnya. Santunan ini adalah pembelajaran nyata bahwa privilese fasilitas sekolah harus melahirkan kepedulian, bukan sekat sosial,” kata Bopo Prof.

Evaluasi Lima Capaian Utama

Berdasarkan pemantauan di lapangan, pelaksanaan program intensif ini mencatatkan lima perubahan signifikan pada perilaku siswa:

  1. Lonjakan adaptasi wicara bahasa Inggris dengan aksen penutur asing (Uzbekistan dan Prancis).
  2. Peningkatan kemandirian serta kedisiplinan manajemen waktu di alam terbuka.
  3. Perluasan toleransi terhadap perbedaan agama dan budaya global.
  4. Tumbuhnya inkubasi kepemimpinan dalam kelompok-kelompok kecil.
  5. Aktualisasi tanggung jawab sosial melalui eksekusi langsung aksi donasi.

Melalui skema pembelajaran luar ruang ini, Labschool Unesa 1 berupaya membuktikan bahwa pembentukan karakter dan kompetensi global siswa justru tercapai secara optimal saat batas-batas kenyamanan fisik dihilangkan.(Ambari Taufiq/M Fasichullisan)


forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.