Rabu, 20 Mei 2026, pukul : 16:55 WIB
Surabaya
--°C

Neoliberalisme Itu Pagebluk

Pendekatan komparatif dengan pengalaman negara lain, memperkaya imajinasi dan pengetahuan pembaca, akan menjadi alternatif pembangunan di luar ideologi neoliberalisme.

Oleh: Yudhie Haryono | CEO Nusantara Centre

KEMPALAN: Sungguh. Tak perlu disangkal. Kini, hari libur itu jadi waktu terbaik membaca dan meresensi buku. Terlebih buku keren tentang mazhab neoliberal. Pemikiran pasar bebas. Agama ketamakan.

Ya. Neoliberalisme adalah terminologi yang datang tanpa diundang, hinggap tak mau pergi, hidup terus menggerogoti dan diimani (ekonom istana) tanpa kritik.

Padahal, ia penyakit paling berbahaya, brutal dan tak bisa diobati. Akibatnya jelas: warga-negara miskin, bodoh, terbelah, sakit, nganggur dan terjebak utang hingga tak berdaulat.

Ia meneror, ia pagebluk, ia mengintimidasi, ia memabukkan dan juga bak heroin: membuat penikmatnya sakaw dan berilusi bahagia sejahtera plus beradab.

Karena hipotesa di atas, kita harus membuat diagnosa dan obatnya. Lahirlah buku yang menghadirkan gambar utuh tentang operasi neoliberalisme – dari kebijakan efisiensi negara, institutionalisasi demokrasi liberal yang menguntungkan elit, dan  peran aktor global, hingga penundukan gerakan masyarakat sipil.

Pendekatan komparatif dengan pengalaman negara lain, memperkaya imajinasi dan pengetahuan pembaca, akan menjadi alternatif pembangunan di luar ideologi neoliberalisme.

Buku berjudul neoliberalisme ini terdiri dari sebelas bab dan 3 narasi besar: teori, kritik dan alternatif, buku ini cukup komprehensif. Tentu karena penulisnya sudah lama berkecimpung dalam teori-teori tersebut dan memimpin lembaga yang konsen dalam studi neoliberalisme.

Secara sederhana, gerak neoliberalisme di republik ini menghasilkan potret buram riil. Misalnya: kesenjangan dan ketimpangan. Keadaan ekonomi antara kaya dan miskin, karena kebijakan deregulasi dan privatisasi yang menguntungkan kalangan elit dan korporasi makin menjadi-jadi. Timpang memanjang. Senjang merenggang.

Kedua, neoliberalisme terlalu bergantung pada mekanisme pasar. Ini kemudian menyebabkan ketidakstabilan ekonomi dan meningkatkan risiko krisis. Itu terjadi berulang-ulang. Tiap tahun.

Ketiga, neoliberalisme mendefisitkan peran negara dalam mengatur ekonomi. Akibatnya terjadi kegagalan pasar dan meningkatkan ketidakadilan sosial, yang  berpotensi bisa melahirkan kerusuhan dan revolusi sosial.

Keempat, neoliberalisme mendorong eksploitasi sumber daya alam (SDA) tanpa memperhatikan kelestarian lingkungan dan hak-hak masyarakat lokal. Rakus tak bertepi. Greedy sampai mati.

Kelima, neoliberalisme mengurangi perlindungan sosial dan bisa meningkatkan ketidakpastian bagi pekerja dan rakyat miskin. Banjir pengangguran.

Keenam, neoliberalisme diimplementasikan secara tak adil, dengan mengabaikan kepentingan umum sambil mengutamakan kepentingan korporasi dan elit-silit.

Alhasil, ini bisa menjadi buku yang sangat penting dibaca, diresapi, dipahami, diapresiasi oleh khalayak umum, akademisi, aktivis, dan rakyat kebanyakan.

Juga harus menjadi inspirasi bagi pejabat publik. Tentu agar kita selamat dari amoknya dalam bernegara dan bersemesta. Semoga.

*) Yudhie Haryono, CEO Nusantara Centre

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.