Rabu, 13 Mei 2026, pukul : 19:56 WIB
Surabaya
--°C

Alat Puruhito

USAI senam pagi saya buka HP. Ups… Sudah ada WA dari Prof Dr Puruhito: 06.44. Soal tulisan di Disway edisi kemarin.

Anda sudah tahu: beliau perintis bedah jantung di Surabaya. Pernah jadi rektor Universitas Airlangga. Keahliannya diperoleh dari Jerman. Prof Dr Tahalele adalah muridnya. Puruhito yang minta Tahalele memperdalam ilmu bedah jantung di Jerman. Di Universitas yang sama. Dari guru besar yang sama.

Kini Prof Tahalele sudah pensiun. Sudah empat tahun. Sudah pindah ke universitas swasta. Tahalele jadi dekan fakultas kedokteran di Universitas Katolik Widya Mandala.

Berarti betapa seniornya Prof Puruhito. Di usia 79 tahun, beliau masih aktif. Mengajar. Menguji. Menulis. Badannya sehat. Tegap. Perutnya rata. Sudah delapan buku Puruhito diterbitkan. Semua jadi pegangan di universitas. Misalnya buku Kolokium Bedah, Pengantar Bedah Vaskulus, Dasar-Dasar Pemberian Cairan dan Elektrolit pada Kasus-Kasus Bedah. Dan banyak lagi.

Saya pun minta izin: agar WA jam 06.44 itu bisa diterbitkan di Disway. Bukan saja penting, tulisan Prof Puruhito kali ini seperti bukan tulisan gaya lama beliau. Ini seperti Puruhito muda kembali. Sejak beliau sendiri menjalani operasi bedah jantung 8 tahun lalu, tampilan beliau seperti lebih muda.

Inilah WA pukul 06.44 itu:

***

MEMBACA tulisan Anda dengan judul Rebutan Alat, saya jadi ”malu” (maaf pakai tanda petik). Malu sebagai dokter. Bahwa memang terjadi apa yang Anda sampaikan itu. Di rumah sakit, ya memang begitu adanya.

”Malu” karena terjadi ”aib”. Seharusnya tidak pantas ada dokter seperti itu, mengingat ”sumpah dokter” yang pernah diucapkan waktu dilantik sebagai dokter. Hal itu seolah telah melanggar sumpah itu. Khususnya dalam konteks ”kesejawatan” (”Saya akan memperlakukan teman sejawat saya sebagai saudara kandung”). Juga pada pengabdian kepada pasien (”kepentingan pasien akan saya utamakan”).

Menjadi direktur RS (di Indonesia saja?) memang rupanya tidak ”mudah”. Saya masih ingat kata dr Soeroso, mantan direktur RSUD dr Soetomo sebelum dr Djoni Wahyudi. dr Suroso mengatakan, menjadi direktur RSUD ternyata lebih ”rumit” ketimbang menjadi bupati. Beliau memang mantan bupati (Madiun/ Nganjuk?)

BACA JUGA: Rebutan Alat

Saya tidak pernah jadi direktur RS, tapi sebagai mantan rektor juga menemukan problem yang hampir sama antara rektor PTN (waktu itu belum PT BH) dengan rektor PTS.

Untuk rumah sakit, sekarang makin ”rumit” dengan adanya ”macam-macam” RS: RS-Vertikal seperti di Kupang. Di Surabaya juga akan dibangun RS Vertikal. Ada lagi RSUD (milik Pemprov atau Pemkot/ Pemkab). RSUD dr Soetomo dan RS Haji Surabaya adalah ”milik” Pemprov Jatim. RS BDH dan RS Soewandi ”milik’ Pemkot Surabaya). Ditambah lagi ada RS-Universitas (yang ada di hampir semua PTN di Indonesia (RS USU, RS UI, RS UGM, RS UA, dan seterusnya) yang ”milik” Rektor (?) atau milik PT terkait? atau milik Kemendikbudristek? Walah, jadi rumit. Itu di bawah Kemenkes atau Kemendikbudristek? (sebagai mantan rektor saya juga tidak bisa menjawab dengan tepat). Apalagi juga disebut ”Rumah Sakit Pendidikan” – Vertikal ? RS Daerah ? (mungkin perlu bantuan para ”sahabat Disway” atau ”perusuh Disway” untuk ”membanding-banding ké” RS-RS tersebut.)

Contohnya RSUD dr Soetomo. Sudah berpuluh tahun sebagai ”RS Pendidikan di Unair”. Sekarang ada RSU Airlangga yang juga ”RS Pendidikan Unair”. Kami di prodi pendidikan spesialis juga punya ”RS Jejaring”. Yakni untuk membantu pendidikan spesialis (upaya ”percepatan Pendidikan Spesialis” – seperti Anda tulis beberapa waktu lalu). Ini wewenang Kemenkes kah atau Kemendikbudristek?

Rumit juga ya?

BACA JUGA: Natal X’Mas

Nah, yang Anda tulis tentang ”rebutan alat” itu (termasuk yang membuat saya ”malu” tadi) memang ”terjadi” di beberapa sektor. Maaf, karena Anda juga menyebut SpBTKV yang ikut rebutan, tapi bukan dengan SpA tapi dengan Cath-Lab (di RSUD dr Soetomo sudah tidak lagi, tapi di RS lain juga di luar Surabaya masih ada). Malah pernah ada Permenkes yang menyebutkan tentang penggunaan alat radiologi dan juga ”kebijakan direktur” setempat. Yang pasti (seperti Anda tulis) tidak ada di RS Swasta. Tapi toh pernah terjadi ”penguasaan alat” oleh spesialis tertentu dengan memblokir hari-hari penggunaan alat tersebut. Dan direktur tidak mampu mengatasinya karena ”kalah wibawa” dengan spesialis tersebut.

Problem itu juga terkait dengan ”azas monoloyalitas” (satu dokter satu SIP atau satu tempat praktek). Yang pasti perubahan soal ini akan membuat banyak dokter (termasuk spesialis) akan protes. Sekarang SIP dibatasi hanya 3 tempat praktik/Rumah Sakit.

Pasti direktur RS akan ”senang” bila para dokter itu ”loyal” bekerja HANYA di RS nya saja. Dari pagi sampai sore/malam. Bahkan sekalian ”praktik” di RS nya itu juga. Itu memang ideal. Seperti di beberapa negara lain.

Di Singapore saya kenal beberapa spesialis khusus yang bekerja di lebih dari satu RS. Tapi di Jerman sejauh ini memang semua dokter ”loyal” hanya bekerja di satu rumah sakit, dari pagi sampai sore. Kebijakan ”monoloyalitas” ini memang ideal untuk keperluan pendidikan spesialis yang ”hospital based” (lagi ribut juga masalah ini), karena ”dokter-guru-pendidik” bisa konsentrasi membimbing calon spesialis.

BACA JUGA: Gading Wulan

Cuma saat ini jumlah pendidik inilah yang masih terbatas, hanya ada di kota besar. Sementara itu para “dokter pendidik” ini juga perlu “tambahan penghasilan” dengan punya SIP di RS lain. Jadi dilematis kalau harus ”monoloyal”. Terjadinya ”rebutan alat” juga karena sebab-sebab tersebut.

Semua itu menjadikan ”rumit” nya menjadi direktur RS Pemerintah (Vertikal, Pemprov, Pemkot/PemKab) atau bahkan direktur RS Pendidikan (masih ”RS Pemerintah”).

Entahlah bagaimana kelak kalau ada RS Swasta yang menjadi ”RS Pendidikan Spesialis” seperti wacana yang sudah mulai ada ke arah sana. Saya tahu ada RS Swasta yang punya CEO dan juga punya direktur RS, tapi yang ”kuasa” adalah CEO nya. Maaf saya tidak punya gelar “MARS” mungkin kurang tepat menyebut hal ini.

Mungkin kelak juga harus ada gelar “MAU” (Management Administrasi Universitas – Sekolah Rektor) untuk mengelola RS Pendidikan sebagai “milik” Rektor/PT.

Saya masih ingin komentar panjang, tapi rasanya hal ini sudah cukuplah sedikit memberi masukan untuk Anda, dari sudut pandang seorang pensiunan rektor, masih mendidik spesialis di RSUD (yang bukan Vertikal, dengan segala keterbatasan pengadaan alat-alat canggih.

BACA JUGA: Ranking Antipiretik

Apalagi waktu saya masih muda dulu, sulit sekali memperoleh alat-alat untuk melaksanakan bedah jantung.

Untung saya tidak pernah punya jabatan struktural pimpinan di RSUD dr Soetomo. Di hari tua ini saya tetap mendidik agar tidak lupa dan tidak ”nganggur”.

Semoga Pak Dahlan yang saya kagumi, tetap sehat (saya salut betul karena saya tahu Anda punya ”hati” khusus yang dirawat dengan obat-obat hebat dan kesehatan yang prima bisa selalu berkelana ke mana-mana tanpa lelah, menikmati kuliner dan durian Musangking…).

Prof Dr dr Puruhito (*)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan*
Edisi 28 Desember 2022: Rebutan Alat

John Prasetio
Terlihat jelas ada sedang upaya sabotase dan distorsi masalah pelayanan kesehatan. Masalah alat-alat di Rumah sakit tidak dapat dijadikan alasan untuk mencegah kebijakan pemerintah perihal peralihan sistem pendidikan profesi dari University Based kepada Hospital Based. Masalah utama dan pertama sistem pelayanan kesehatan di Indonesia adalah terletak pada jumlah dokter sub-spesialis (Konsultan). Dengan meningkatkan jumlah dokter sub-spesialis (Konsultan) maka otomatis akan disertai dengan penambahan jumlah dokter spesialis dan dokter umum (general practioners). Sesuai dengan usulan dan masukan pada kolom Komentar yang ditujukan kepada Pemerintah c.q. Menteri Kesehatan pada artikel “Salah Kaprah Tentang Dokter” tanggal 13 Desember 2022, masalah utama pada regulasi & peraturan dibidang kesehatan terletak pada keterlibatan, kekuasaan, dan kewenangan yang diberikan oleh negara kepada Asosiasi Profesi Kedokteran (IDI), Konsil Kedokteran Indonesia, Kolegium Kedokteran, dokter-dokter, ormas-ormas, asosiasi farmasi, asosiasi rumah sakit, dll. Pemerintah menjadi tersandera sendiri karena ulah kebijakannya yang memberikan wewenang, dan kekuasaan kepada pihak-pihak non-pemerintah. Satu-satunya solusi adalah mereformasi besar-besarnya dgn mencabut seluruh kewenangan & kekuasaan pihak-pihak non-pemerintah. Organisasi profesi, para dokter, Konsil Kedokteran, Kolegium, dll dapat memberikan masukan dan saran kepada Pemerintah tetapi harus ditempatkan diluar sistem dari kepemerintahan.

EVMF
”Minggu ini akan kita keluarkan permenkes penggunaan alat-alat itu,” ujar Menkes Budi Sadikin kepada Disway. ”Prinsipnya, siapa pun yang punya kompetensi harus boleh menggunakan alat tersebut,” tambahnya. Bapak Menteri Kesehatan yang sepertinya “terlalu pintar” : masalah yang perlu diatasi BUKAN pengaturan penggunaan alat-alat kesehatan, TETAPI mesti diupayakan Kecukupan Peralatan Kesehatan !! Misalnya saja Cathlab yang sedang dipakai oleh Bagian Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah (SpJP) dengan antrian pasien yang saaaaangaaaaat panjaaaaaaaaaang, tentu saja akan kesulitan untuk berbagi penggunaan dengan Bagian Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Kardiovaskular (SpPD-KKV) ; apalagi “kepanikan” keluarga pasien yang terus mendesak untuk mendapatkan jadwal penanganan medik secepatnya. Lha kalau Bagian Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah (SpJP) sudah melakukan penjadwalan, sudah pasti mereka akan ngotot untuk menggunakan Cathlab tersebut, sebagai pertanggung-jawaban terhadap pasien !! Mengapa tidak disediakan 2 Cathlab untuk 2 bagian berbeda tersebut, yang sama-sama sangat membutuhkan alat vital tersebut !!

Liam Then
APBN 2022 sebesar 3.106,4 triliun rupiah, dengan penerimaan cukai rokok yang kurang lebih 5-6 persen dari APBN negara. Bisa di artikan rakyat indonesia yang merokok membiayai 5-6 persen APBN dengan merusak kesehatan mereka. Rp188 triliun pendapatan cukai rokok per November, jika di dollar-kan setara dengan 11,7 miliar dollar. Livelpool harganya “cuma” 5 em dollar. Ibaratnya perokok Indonesia belum genap 2022 habis, duit cukainya sudah bisa buat beli dua Liverpool , masih ada sisa 1 em dollar buat operasional. Unilever perusahaan blue chip basis Inggris , 129.33 em dollar nilainya. Bisa di ibaratkan , perokok Indonesia duit cukai 2022 nya bisa buat beli hampir 10 persen kepemilikan Unilever pusat. Yang forecast pendapatan usahanya stabil di 60 miliar dollar/ tahun selama lima tahun kedepan. Artinya jika duit cukai rokok 2022 di hemat, kemudian buat di belikan kemilikan saham Unilever hampir 9 persen, lumayan aman. Ada potensi menghasilkan buat 5 tahun kedepan. Dan tentunya , dengan pameo ada uang enak belanja, pemerintah bisa dapat duit heran saban tahun. Jadi bisa di belikan macam alat-alat rumkit canggih. Terakhir, duit rp188 triliun kalo dibelikan krupuk,mungkin bisa bikin seisi Tiongkok batuk-batuk.

Johannes Kitono
Kemarin pagi dapat wa call Pak Pry yang beruntung terpilih sebagai peserta Agrinex Camp di penghujung tahun ini. Beliau dapat bocoran dari mb Pipit Disway bahwa di kampung Agrinex tidak ada fasilitas air panas. Nah ini masalahnya, Pak Pry kalau tidak mandi air panas tidak bisa tidur. Tentu tidak seperti film 007 James Bond, dimana saat sang aktor kedinginan salah satu pemanasnya adalah memeluk cewek cantik lawan mainnya.Jadilah panas luar dalam dan bisa juga kepanasan. Saran buat Pak Pry, contohlah juragan disway ketika masih jadi sesuatu dan saat rapat dengan wakil rakyat di Senayan. Dibalik jaketnya selalu ada botol aqua yang berisi air hangat. Mungkin saat rapat yang umumnya hanya basa basi saja beliau membayangkan botol aqua yang hangat itu salah satu Bond’s Girls.Jadi Pak Pry silahkan bawa botol aqua dengan berbagai ukuran.

Pryadi Satriana
Bukan begitu, saya sdh terbiasa mandi dg air hangat/panas, apalagi di musim hujan begini. Juga biasa menyediakan air hangat/panas utk diminum waktu terbangun tengah malam. Masuk angin atau pun air dingin untuk mandi bisa jadi masalah ‘serius’ buat saya. Diminta bawa teko listrik – masih dicek sama Mbak Pipit ketersediaan daya listriknya – dan juga termos. Lha ini kukira ‘Kampung Agrinex’ adalah ‘kampung agro -wisata’, lha ternyata kok ‘kampung tenanan’? Lha gimana mau narik ‘turis asing’, lha wong ‘turis lokal’ ae ‘maju-mundur’ ngene? Memang sudah konfirmasi keberangkatan, tapi tokek di kamar saya berbunyi, “Ora … berangkat … ora …berangkat …”. #nginep gratis, kondisi ‘sak ada-e’, masuk angin urusen dewe#

Johannes Kitono
Idealnya seorang direktur bukan profesi dokter. Tapi alumni Public Health atau FKM yang juga menyandang MBA. Karena bukan dokter tentu bukan anggota IDI dan tidak perlu sungkan sama para dokter senior. Nasibnya tidak akan seperti Dr Terawan Menkes yang dipecat oleh koleganya.Sebagai penyandang MBA tentu direktur bisa hitung efisiensi peralatan dan kapan paybacknya sehingga bisa investasi lagi alat baru yang lebih canggih.Tentu yang jadi masalah apakah ada penyandang SKM dan MBA yang bersedia jadi Direktur di RSUD ?

Andrie Bagia
Saya ingin ikut komentar abah. Ini komentar ketiga saya di disway. Saya penasaran apakah birokrasi pendaftaran-pelayanan-pembayaran RSUP sebagus swasta. Anak kedua saya sakit hingga harus dirujuk ke RSUD tingkat provinsi di Jawa Timur dan RS orthopedi rujukan nasional di Jawa Tengah. Kesimpulan saya sama: pelayanannya bagus, stafnya ramah, tapi birokrasinya mbulet dan rumit. Entah siapa penanggung jawab pembuat prosedurnya. Bagi orang sehat dan ada uang untuk transport mungkin bisa menjalaninya. Bagi yang tidak punya dua hal itu, rasanya sulit. Di RS Jawa Timur ini saya melihat suami istri umur 70-80 tahun berobat rawat jalan. Sang suami sakit dengan kursi roda didorong istrinya yang berjalan begitu pelan. Tidak ada yg lain membantunya. Hanya berdua. Tidak bisa dibayangkan jika harus rawat inap seperti anak saya yang pengurusan berkasnya seperti bola pingpong. Pindah dari satu ruang ke ruang lain, satu gedung ke gedung lain. Di RS Jawa Tengah, ada satu keluarga dari Jambi yang sudah 4 kali bolak-balik RS ini tiap minggu karena memang dirujuk ke sini. Biaya berobatnya tidak seberapa, ongkos pulang perginya bisa dihitung sendiri. Masalah kedua ini juga perlu kajian tersendiri.

Rahma Huda Putranto
Abah DI, mohon izin memberikan masukkan untuk tema tulisan esok hari. Ada fenomena menarik dalam persidangan Bharada E. Seorang filsuf sekaligus rohaniawan sekelas Romo Magniz bersedia menjadi saksi ahli. Tidak tanggung-tanggun, diberitakan dengan jelas. Beliau menjadi saksi ahli yang meringankan. Tentu ini kejadian yang menarik. Seorang begawan mau turun gunung. Pasti ada pertimbangan mendalam dari beliau. Mohon bisa dituliskan, bah. Saya yakin sesuatu di baliknya bakal menjadi pelajaran baik untuk kita semua.

Denny Herbert
Di Flores juga untuk operasi katarak, yg sebenarnya lebih sederhana dibandingkan open surgery lainnya, belum bisa.. kasihan sekali. Padahal tinggat katarak sangat tinggi di Flores bagian pesisir karena UVnya sangat tinggi.. jadi kebutaan dini sangat tinggi di sana. Bila sudah buta akhirnya produktivitas menurun dan menyusahkan orang lain karena harus dibantu… Mohon pemerintah bisa bantu masalah ini…

Alex Ping
Masalah kurangnya dokter spesialis lagi diatasi, muncul masalah kurang alat, kurang alat lagi dicarikan solusi sudah ribut pengelolaannya. Bahkan keputusan direksi seakan harus sama dengan keputusan dokter ‘berwibawa’. Jika hal ini ditanyakan kepada seorang mantan gubernur, maka beliau akan menjawab dengan mudah: “Sebenarnya hal ini sudah saya analisa jauh sebelumnya, mana bisa menteri kesehatan mengatur rumah sakit, menteri kesehatan ya harusnya mengatur rumah sehat.”

Jimmy Marta
Kalau SOP pemakaian peralatan saja sampai menkes yg buat, itu terlalu. Harusnya itu bisa dibuat kepala bagian medik nya RS. Paling tinggi sang Dirut nyalah. Jika di rumah sakit tsb ada keberpihakan pd spesialis tertentu untuk menguasai peralatan spesial, ambil langkah spt penunjukan menkes. Dirut nya dipilih bukan dari dokter. Ambil setingkat manager. Yg ahli manajemen.

Leong putu
Baiknya Pak mentri membuat aturan secara menyeluruh untuk rumah sakit. Mulai dari parkir, tarif parkir,cara parkir. Lanjut peraturan mengenai karyawan, usia karyawan, cara berpakaian, cara berbicara, cara melayani, semua hal yang berkaitan dengan karyawan dibuatkan Bapak menkes. Lanjut ke pelayanan. Antrian pasien, Rekam medik, rawat inap, tarif layanan, kamar rawat inap, poli rawat jalan. Apotek, lama antrian ambil obat, senyum petugas apotek. Semua di atur Pak Menkes. Lanjut kebersihan Rumah sakit, cat tembok, kebersihan WC , taman², larangan merokok di RS, kebersihan got, kebersihan dapur. Semua hal yang menyangkut kebersihan diatur Pak Menkes. Alkes, semua yg atur pak Menkes, sampai jadwal pemakaiannya pun harus seijin pak Menkes. Dokter juga harus diatur pak Menkes, jadwal kerjanya juga sekalian. Intinya, semua yang berkaitan dengan pekerjaan di rumah sakit pemerintah.diatur oleh pak Menkes. Agar kepala rumah sakitnya bisa lebih fokus. Lebih fokus melayani istri atau suaminya. … Akhirnya… Ini komen saya yang paling serius yang pernah saya buat, sambil ngopi sachetan bareng istri. Tanpa madu.

Jo Neka
Harga karcis.parkir juga ya om Leong..

Om Diki
sejak Indonesia merdeka, baru kali kali ini CDI menulis artikel yang bagus.

Yuli Triyono
Soal rebutan memang sudah kodratnya manusia, ada dimana-mana. Di Qatar kemarin rebutan bola, di sini rebutan alat kesehatan modern.

Jokosp Sp
Alatnya bisa canggih. Namun manusianya tidak bisa canggih. Kenapa harus Pak Menteri sampai turun tangan harus bikin aturan pemakaian alat. Bodoh sekali, kurang kerjaan, dan harus ribet seperti itu. Menguras banyak tenaga dan pikiran. Ayak – ayak wae kata orang. Sesederhana pengaturan di swasta. Kalau cukup oleh ” Direktur ” Rumah Sakit, kenapa harus sampai ke Menteri ?. Aturan dibuat untuk ditaati, bukan untuk dilanggar. Justru ada aturan siapapapun yang melanggar bisa kena sangsi atas pelanggaran itu. Alat dibeli dengan sangat mahal, itu harus produktif, harus maksimal jam pemakaiannya. Uang pembelian harus cepat kembali, dan sebelum depresiasi alat misal 5 tahun habis. Di swasta selalu memperhitungkan itu. Misal beli alat 5 milyar, maka akan dibagi 5 thn x 365 hari/ tahun x kerja alat misal 20 jam/ hari –> Rp 5.000.000.000,- : ( 5 Thn x 365 hari) : 20 jam/ hari = Rp 136.986,-/ jam. Swasta selalu mau untung untuk beli alat baru. Kemudian agar tidak ketinggalan teknologi maka tinggal ngalikan penjualan (sewa) per jamnya misal 4x lipat jadi Rp 136.986,-/ jam x 4 = Rp 547.944,-/ jam ( ini akan lebih besar misal dimasukkan biaya produksi termasuk di dalamnya biaya listrik, biaya spare part, biaya maintenance, dan biaya operator per jam ). Di swasta tidak ada yang sulit mengenai aturan. Jelas dan tegas. Pelanggar harus ada sangsi, termasuk yang tidak bisa mengoperasikan alat jadi produktif. Itu biasa disebut tidak kompeten. Ya dimundurkan, ganti orang lain. Semudah itu.

No Name
Kalo demikian halnya, tambah bbrp persyaratan utk menjadi Dirut RS ; 1. tidak memiliki/mengidap penyakit; jantung, paru, liver, ginjal , usus, THT, 2. Kadar gula & kolesterol normal, tidak hipertensi/ hipotensi Agar sang Dirut tidak berpihak ke salah satu kubu pemakai alat. Salam hormat dari Lombok

Aku dan kita Official
Sy baru Nemu cara login bila eror (pake chrome) Tapi butuh beberapa akun google. 1. Ketika bisa login jgn logout 2. Buka tab baru utk buka chd 3. Jika di tab baru eror gk bs login, buka chd pertama. 4. Pindah akun google. 5. Selesai, anda bisa ikutan coment tapi akun google nya beda. Mgkin ada yg lebih simpel tapi sy bisa ikutan komen dgn cara di atas

*) Dari komentar pembaca http://disway.id

Rebutan Alat

TIDAK semua direktur rumah sakit berfungsi dengan baik. Terutama di rumah sakit pemerintah. Pusat dan terutama daerah.

Beda dengan di rumah sakit swasta.

Salah satunya: dalam hal wewenang penggunaan alat-alat modern di rumah sakit. Semacam ada rebutan wewenang di situ. Akibatnya, pasien harus antre panjang. Sampai ada yang tidak sempat tertangani.

Karena itu, reaksi pun muncul ketika Menkes menyatakan akan melengkapi peralatan di banyak rumah sakit. Dikira persoalannya hanya rumah sakit kekurangan alat.

Padahal, ada juga masalah manajemen di dalamnya. ”Jangan sampai alat mahal-mahal yang akan dibeli itu nanti mubazir,” ujar sahabat Disway di bidang itu. ”Lebih baik Menkes mengatur dulu siapa saja yang akan boleh menggunakan alat mahal itu. Agar tidak jadi rebutan antardisiplin ilmu,” ujarnya.

Selama ini penggunaan alat-alat tersebut diatur oleh keputusan direksi. Ini soal internal. Soal manajemen murni. Tapi, ada direksi yang kalah wibawa dengan sekelompok dokter di keahlian tertentu.

Ada juga direksi rumah sakit yang takut pada ancaman sekelompok dokter. Misalnya: mereka akan meninggalkan rumah sakit tersebut kalau keinginan mereka tidak dipenuhi.

Alat-alat mahal yang sering jadi ”korban” rebutan itu, misalnya, cathlab. Yakni, alat mahal untuk kateterisasi jantung.

Di beberapa rumah sakit, alat itu jadi rebutan antara departemen spesialis jantung dan pembuluh darah (SpJP) versus departemen spesialis penyakit dalam konsultan kardiovaskular (SpPD-KKV).

Bergantung kelompok mana yang kuat. Bisa jadi kelompok SpJP yang kuat sehingga alat tersebut di bawah kekuasaan SpJP. Akibatnya, departemen satunya tidak bisa ikut menggunakan. Atau sebaliknya.

Alat itu pun tidak bisa dipergunakan secara maksimal. Kalau di swasta, yang demikian bisa berbahaya. Investasi untuk membeli alat tersebut tidak bisa kembali.

Alat mahal lain yang nasibnya sama adalah MRI. Yang biasa jadi rebutan antara departemen spesialis anak (SpA) dan departemen spesialis radiologi (SpR).

Ada juga alat yang jadi rebutan antara departemen spesialis bedah toraks kardiovaskular (SpBTKV) dan departemen spesialis anak.

Ada lagi rebutan antara departemen spesialis penyakit dalam hematologi dan onkologi medik (SpKHOM) lawan departemen spesialis bedah onkologi (SpBOnk). Yakni, alat untuk kemoterapi.

Di rumah sakit swasta, problem kekuasaan pada alat seperti itu pasti tidak ada. Alat itu mahal. Biasanya dibeli dengam cara kredit. Berarti, alat tersebut harus menghasilkan uang yang cukup. Tidak boleh menganggur. Harus selalu dipakai.

Pemikiran seperti itu tidak ada di rumah sakit pemerintah. Alatnya dibeli dengan uang negara. Tidak perlu mencicil. Tidak ada ancaman disita.

Paling-paling pasien yang jadi korban. Terutama pasien dari kelompok dokter spesialis yang ”kalah” dalam penguasaan alat mahal tersebut. ”Kalau pasiennya kaya bisa kita sarankan periksa di RS swasta. Tapi, kasihan pasien yang miskin,” ujar sahabat Disway itu.

Bagaimana sikap Menkes?

”Minggu ini akan kita keluarkan permenkes penggunaan alat-alat itu,” ujar Menkes Budi Sadikin kepada Disway. ”Prinsipnya, siapa pun yang punya kompetensi harus boleh menggunakan alat tersebut,” tambahnya.

Dengan keluarnya permenkes itu nanti, beban direktur rumah sakit pemerintah jadi ringan. Tidak perlu lagi takut pada satu departemen spesialis. Apalagi sungkan. Toh, tinggal ikut aturan menteri.

Menkes baru saja meresmikan rumah sakit pusat terbesar di Indonesia Timur. Di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Luasnya 18 hektare. Di pinggiran selatan Kota Kupang. Sekitar 15 menit dari RS Katolik St Carolus Borromeus. Atau setengah jam dari RS Siloam yang di pusat Kota Kupang. Hanya sekitar 20 menit dari RSUD W.Z. Johannes, Kupang.

Selama ini RSUD W.Z. Johannes yang terbesar. Terlengkap. Tapi, belum punya kemampuan pasang ring di jantung. Atau menghancurkan batu ginjal. Ahlinya sudah ada. Tapi, alatnya yang belum. Demikian juga bedah saraf untuk penderita stroke. Ahlinya sudah ada, alatnya belum ada.

Maka, RSUP yang baru itu andalannya. Akan dilengkapi semua alat modern. Setingkat dengan RS tipe A. Bisa sebagai rujukan untuk seluruh NTT.

Di pulau sebesar Flores pun belum bisa dilakukan tiga jenis pengobatan tadi. Selama ini rujukannya ke Surabaya. Maka, setelah ini mereka cukup ke Kupang. Meski tetap juga harus naik pesawat terbang.

RSUP baru itu diberi nama Ben Mboi. Seorang dokter. Tokoh nasional asal Flores. Pernah jadi gubernur NTT dua periode. Istrinya, dr Nafsiah Mboi, pernah jadi menteri kesehatan. Masih sehat sekarang.

Almarhum W.Z. Johannes juga tokoh nasional asal NTT: lahir di Pulau Rote. Ia ahli radiologi pertama Indonesia. Ia adik Herman Johannes yang pernah jadi rektor Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Satu tokoh itu dari Rote. Satu lagi dari Flores. Nama mereka kini abadi di Kupang. Mereka tentu tidak pernah rebutan alat kesehatan. Waktu itu memang belum ada alat yang bisa diperebutkan. (Dahlan Iskan)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan.Edisi 26 Desember 2022: Natal X’Mas

Juve Zhang

Kalau ayah dan anak saling bertengkar bahkan ketika sang ayah meninggal pun sang anak tak mau mengurusi dan tak mau melayat pun. begitu tulisan Disway dulu.sekarang sang anak jadi penguasa tunggal. Apa yg harus didengar dari khotbah nya? Bullshit ,atau Chicken shit kira kira begitulah. Bullshit di Amerika Chicken shit di Indonesia.wkwkwk.

Mirza Mirwan

Umat Kristiani di Indonesia patut bersyukur, karena bisa merayakan Natal dalam suasana aman — meskipun untuk saudara kita korban gempa Cianjur harus merayakannya di tenda darurat. Di AS, khususnya di bagian timur laut, Natal tahun ini berlangsung dalam suasana mencekam. Badai musim dingin (winterstorm) dan badai salju (blizzard/snowstorm) menghantui mereka sejak seminggu terakhir. Korban tewas sudah mencapai sekurang-kurangnya 24 orang. Dan sekitar 300.000 rumah terpaksa tanpa listrik. Pak John Mohn, ayah angkat Mas Azrul, termasuk beruntung. Kota Hays, seperti juga kota-kota di Texas lainnya, setakat ini tak pernah diberitakan dilanda badai musim dingin ataupun badai salju. Makanya bisa berkunjung ke rumah mantan isteri dan ke rumah anak-anak Bu Chris, isterinya sekarang. Sementara di New York, khususnya di Buffalo dan sekitarnya, orang-orang hanya mengurung diri di rumah. Ketebalan salju mencapai +/- 1 meter. Manakala badai salju datang, salju itu akan terangkat dan diterbangkan angin yang berkekuatan dahsyat. Durasinya sekitar 3-4 jam. Terakhir Buffalo dilanda “blizzard” tahun 2016 yang lalu. Alhamdulillah, dua “keponakan” saya di New York City bisa mengikuti misa Natal di Gereja Setakat ini Brooklyn, NYC, belum pernah dilanda “winterstorm”, alih-alih “blizzard”. Konon suhunya antara -3° sampai -6° saja. Kebetulan Brooklyn memang jauh di tenggara Buffalo, +/- 475 km.

bagus aryo sutikno

Lain ladang lain belalang Lain lubuk lain ikannya Belalang kena pesticides Ikannya kena putas . . MENGENASKAN

Manto Simare-mare

Saya Kristen, saya tdk merayakan natal dan tahun baru…Alasannya? Perayaan itu bukanlah ajaran Alkitab…Selidikilah asal usul natal dan thn baru… Pasti itu bukan ajaran Alkitab…Di dlm Injil, TDK ada ayat yg mencatat bahwa Yesus dan rasul² nya pernah merayakan hari hari natal dan thn baru…

Juve Zhang

Jeff Bezos pun tak mau jumpa ayah kandungnya, rupanya di sana budaya nya sudah beda. Mereka melihat ayah kandung sebagai donor sperma ,11/12 donor darah. Wwkwkk.

bagus aryo sutikno

Berakit-rakit ke pulau Selayar Tidak lupa berbekal sayur keningkir Membayangkan uang satu milyard Sampoku habis saja tak gonjaki pake air

hoki wjy

entah karena kebetulan atau tidak setelah wawancara Pak Dahlan dg Pak Low Tuck Kwong harga saham Byan naik terus dan saya yg dulu berpikir tdfk mungkin ada yg bisa menggeser posisi orang terkaya di Indonesia yaitu Budi Hartono dg kekayaan USD 22.2 Miliar (Rp 346 triliun) karena jarak dg yg nomor 2 terlalu jauh namun beberapa hari ini heboh bahwa Low Tuck Kwong untuk sementara berhasil menjadi orang terkaya di Indonesia dg kekayaan USD 25.2 miliar (Rp 392 triliun) mungkin Pak Dahlan juga engak pernah membayangkan bisa wawancara dan bertemu dg orang terkaya nomor 1 di Indonesia.saya curiga pak Dahlan juga ada menggemgamm saham Byan.

bagus aryo sutikno

Jambu alas kulit’e ijo Sing digagas wes nduwe bojo . Ada gula ada semut Belum randha jangan direbut

Atho’illah

Wakakak Ke Pandeglang pergi mendaki/ Melihat alam yang sangat asri/ Bukannya saya tidak berani/ Risa-nya saja yang sulit didekati/

Atho’illah

Masihkah tajam pisau belati/ Dengam belati memotong ikan/ Risa akan terus ku nanti/ Sampai nyawa tak dikandung badan/

Atho’illah

Bah, dari 20 nama yang terpilih di undian kemarin apakah tidak ada tiket khusus untuk saya dan Mbak Risa? Jalan-jalan ke Alam Desa/ Desa indah di pulau jawa/ Andai saya berjumpa Risa/ Akan bahagia sepenuh jiwa/

Dacoll Bns

Kalau di Bali kebiasaan mengantarkan makanan sebelum hari raya di sebut nge-‘jot’. Sebelum Galungan misalnya, tetangga yg Hindu mengantarkan makanan ke tetangga yg muslim, sedangkan yg muslim sebelum hari raya idul fitri nge-jot ke tetangga yg Hindu. So, lebih baik jangan sok mengajari bangsa Indonesia kalau terkait masalah toleransi …

Kliwon

Semangat hari Senin para perusuh dan para sahabat.. “Barangsiapa yang hari ini bekerja dengan sungguh², penuh semangat, tekun dan ikhlas, niscaya esok hari dia akan menemui hari Selasa.” –Mandornya Fir’aun saat briefing membangun piramida–

Atho’illah

Nataru = nangis terbakar api cemburu Mantan pacar sama mantan gebetan pada pergi berlibur sama kekasihnya, saya cuma bengong aja di rumah sambil lihatin story mereka, Om. Hahaha

Leong putu

Hari ini satu perusuh kumat lagi. Lama tdak muncul, si jomblo expired akhirnya nongol. Aat. …. Sambal tomat asam manis / Minuman nikmat syrup markisa / Si jago gombal Aat yang manis / Semoga gak berjodoh dg mbak Risa /

Leong putu

Hmmmm…… Film horor penuh misteri / Film kocak itu komedi / Jangan coba hina istri / Ntar bisa tidur kamar mandi /

bagus aryo sutikno

Seledri dimakan kijang Kijang lucu naik kereta Istri saya itu istri orang Karena saya bukan boneka

Udin Salemo

Nenek mengunyah daun sirih/ Sirih pemberian kang Zain/ Kini zaman semakin canggih/ Ibadahpun dilakukan online/ Salam goto menuju gocap untuk Kang Aji. Uang 6 T itu kecil bagi tlkm. Hehehe…

thamrindahlan

Salah satu kiat ampuh melawan Pikun ialah menjadi anggota Komunitas Anti Copas. Abah sudah menerapkan perilaku anti copy paste .sejak menjadi wartawan. Penyakit copas semakin merebak di era kehadiran WAG terutma ketika menyampaikan ucapan duka cita, ultah dan selamat hari raya / natal. Celakanya lagi sering terjadi kelucuan karena asal copas sehingga si penerima ucapan tersenyum kecut. Yok langsung ketik semua ucapan karena cara ini melatih kecerdasan dan ketrampilan intelektual jurnalis. Selamat Natal dam Tahun Baru 2023 Semoga anggota Perserikatan Pemburu Pertamax Subuh (PERUSUH) Sukses di dunia maya dan dunia nyata. Amin.

Liam Then

Saya orangnya terbuka, mau ucapkan selamat apa saja ke saya, saya terima , asal ada angpao dan amplopnya.

Denny Herbert

Sebagai seorang nasrani yg dewasa, saya pikir tidak perlu kita sensitif tehadap tulisan ucapan mau lengkap atau menggunakan singkatan X atau apapun itu.. yg penting ketulusannya… Kalau kita terlalu curiga atau sensitif, kita kehilangan makna Natal itu sendiri… Tulisan abah ini sangat baik.. ini bisa menjadi bakal disrupsi yaitu agama tanpa perlu tempat ibadah fisik lagi.. cukup online saja apalagi susah beribadah

Liam Then

“kamu adalah domha tersesat” “Boi ,aku ini macan, kata istriku semalam” “Semalam tanggal satu kan” “Iyah Boi, lumayanlah, paling tidak aku sebulan sekali lah ,jadi macan”

*) Dari komentar pembaca http://disway.id

Natal X’Mas

KEMPALAN: BANYAK pendeta yang tidak punya gereja. Natal tahun ini mereka bisa ”punya” gereja: di YouTube. Atau di dunia maya lainnya.

Pendeta Ruth Julia misalnya. Dia melakukan kebaktian Natal lewat YouTube. Bersama anggota persekutuan doa-nyi. Ruth memimpin kebaktian Natal itu dari Australia. Anggota persekutuan doa Ruth ada di berbagai kota di Indonesia.

Ruth ke Australia untuk menengok anak. Tapi Covid merajalela. Dia kena lockdown di sana. Puji Tuhan, pemerintah Australia lagi membuka kesempatan izin tinggal bagi pendeta. Ruth berhasil mendapat kartu hijau Australia.

Natal tahun ini juga istimewa bagi Gereja Bethany yang besar itu: kali pertama melakukan kebaktian di gereja. Tidak lagi online. Luka-luka bekas pertikaian lama di dalam keluarga pendirinya terlihat mulai sembuh. Gereja yang bisa menampung 20.000 jemaat itu nyaris penuh. Setidaknya di lantai dasar dan lantai balkon pertamanya. Balkon paling atas masih ditutup.

Sahabat Disway di gereja itu menuturkan: ia bersama istri datang ke Bethany Sabtu, tanggal 24 malam. Kebaktian berlangsung sekitar 2 jam. Termasuk  menyanyikan banyak lagu rohani. Ia duduk tanpa jarak dengan istri, tapi berjarak satu kursi dengan keluarga lainnya. Kolektenya dilakukan di dekat akhir kebaktian. Kali ini kolekte bisa dilakukan dengan dua pilihan. Bisa memasukkan uang ke kantong yang diedarkan, atau klik saja ke layar di panggung. Waktu kolekte diedarkan itu layar di panggung menyala. Di layar itu ditampilkan barcode. “Saya pilih klik barcode di layar,” ujar sahabat Disway itu.

Gereja Bethany jadi berita besar lima tahun lalu. Bertahun-tahun. Sang ayah, Alex Tanuseputra, pendiri Bethany, dipecat oleh anaknya sendiri. Diadukan ke polisi. Terjadilah pecat-memecat. Saling bikin laporan polisi. Dan saling serang. Semua itu jadi makanan media saat itu.

Alex meninggal dunia dua  tahun lalu. Satu pendeta lagi, yang juga di pusat pusaran peristiwa, meninggal dunia tiga tahun lalu.

Jadilah sang anak, Aswin,  pemimpin tertinggi Bethany saat ini. Tanpa harus lagi mengadukan bapaknya ke polisi.

YouTube telah membuat pendeta-pendeta yang tidak punya gereja eksis di masyarakat. Bahkan dari YouTube bisa dapat ”kolekte” besar. Yang hasilnya sampai bisa untuk membangun gereja di daerah-daerah.
Tentu, di saat teman-teman Kristen ke kebaktian kemarin malam, saya juga fokus: mengirimkan ucapan selamat Natal kepada mereka. Tiga jam waktu yang saya habiskan untuk kirim ucapan Natal itu. Via WA. Saya ketik sendiri. Bukan copy paste.

Pun ketika mereka sudah pulang dari kebaktian saya belum selesai mengirim ucapan Natal.
Kadang saya salah kirim. Teman-teman yang saya kira Kristen ternyata beragama lain. “Saya Buddha,” balas Albert Yaputra. Ia anggota DPR dari Dapil Kalbar. “Saya mualaf, sudah empat tahun,” balas Dino dari Manado. “Saya ke kelenteng, tidak ke gereja,” jawab yang lain.

Gading Wulan

KEMPALAN: INI bukan cerita bagi para penggila kuliner. Tidak usah dibaca. Ini khusus bagi jenis orang yang seperti ini: memuliakan tubuh dengan cara yang mulia.

Dia seorang dokter. Spesialis patologi klinis. Namanyi: Wulan. Sudah menjelajah daerah yang paling dihindari seorang dokter baru: Papua. Bukan Jayapura, tapi Wamena. Bukan di Wamena tapi di Kurima. Bahkan bukan di Kurimanya, tapi lebih dalam lagi: di Puskesmas Angguruk.

Pokoknya pedalamannya pedalaman Jayawijaya, Papua Tengah. Itu jauh sekali dari Wamena yang jauh itu. Masih harus naik pesawat kecil 45 menit lagi.

Dari sana Wulan pindah ke daerah yang juga tidak diharapkan siapa pun: pulau Rote di NTT.

Tapi Wulan menjalani semua itu dengan bahagia. Begitu tahu akan ditempatkan di Papua, Wulan minta sekalian lokasi yang tersulit dari yang paling sulit.

BACA JUGA: Ranking Antipiretik

Tiga tahun Wulan di pedalaman Kurima. Hanya sekali pulang ke Kediri. Saking jauhnya.
Dari Kurima, Wulan masih ke daerah terpencil lainnya: di pulau Rote. Dua tahun lagi di sini.

Pilihan hidup Wulan awalnya ingin jadi arsitek. Sedang ibunyi sangat berharap Wulan jadi dokter. Wulan anak nomor 9 dari 10 bersaudara. Banyak kakaknya yang sakit-sakitan. Dari situlah keinginan sang ibu lahir. Wulan harus jadi dokter. “Saya lupakan arsitektur. Saatnya saya menunjukkan bakti ke ibu,” ujar Wulan.

Wulan lulus tes di Universitas Brawijaya, Malang. Tidak terlalu jauh dari ibunyi di Kediri.

Tsinghua Lutfiya

KEMPALAN: TENTU banyak anak muda seperti Lutfiya ini: yang begitu lulus S1 cari beasiswa untuk bisa ke S2.

Pasti juga banyak yang seperti Lutfiya: ditolak di satu beasiswa cari yang lain. Pun ketika sampai yang ke-12 masih ditolak.

Dalam kasus Lutfiya, baru pencarian yang ke-13 bisa mendapatkannya. Itu pun setelah berusaha tiada henti selama lima tahun. Dia tidak pernah menyerah. Tidak pernah putus ada. Cari terus. Sampai dapat.

BACA JUGA: Ancaman Gocapan

Toh akhirnya Lutfiya mendapatkan juga beasiswa dari universitas terbaik yang dia impikan. Di Tiongkok: Tsinghua University.

Lutfiya ke rumah saya kemarin. Dari Lombok dan balik ke Lombok. Untuk pamitan: besok lusa dia berangkat ke Beijing.

Dia berangkat dari Jakarta. Rupanya sudah mulai ada lagi penerbangan langsung Jakarta-Beijing. Pakai Air China. Atau mungkin lewat Xiamen. Lutfiya tidak peduli lewat mana. Yang penting dia bahagia banget: berangkat kuliah S2 di luar negeri.

Lutfiya diterima di hubungan internasional. Sesuai dengan S1-nya di HI Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Ada 56 mahasiswa yang diterima di jurusan itu. Dari seluruh dunia. Umumnya dari negara berkembang seperti Pakistan, Brazil, Mesir, Thailand dan negara-negara Afrika.

Lutfiya mendapat sub-jurusan ”pemimpin masa depan”: future leader. Ada 12 orang di kelas itu. “Rasanya saya yang paling muda. Yang lain banyak yang sudah menjadi politisi atau pejabat pemerintah,” ujar Lutfiya.

Untuk bisa dapat beasiswa itu Lutfiya menjalani banyak tahapan. Dia jalani semua itu. Lamaran pertamanyi pun seperti itu. Sibuk. Ribet. Ujungnya: ditolak. Begitu terus. Sampai 12 kali.

Cari Uang

KEMPALAN: INI pasti bukan karena harga ayam segar yang lagi naik. Juga bukan karena kenaikan harga cabai.

Tidak ada yang begitu penting di Singapura. Tapi negeri itu mengangkat pejabat sementara perdana menteri. Senin lalu. Untuk masa jabatan selama 7 hari. Sampai tanggal 19 Juni depan.

Semua itu karena Sang Perdana Menteri Lee Hsien Loong lagi ingin jalan-jalan. Ingin cuti. PM Lee tidak sakit. Tidak ke luar negeri. Tidak ke mana-mana. Dalam keterangan resmi hanya disebut: PM Lee lagi local leave.

Istilah local leave kini populer di Singapura. Itu untuk mengganti istilah cuti di dalam negeri. Mengingat dalam negeri Singapura itu kecil sekali maka istilah local leave memang sangat cocok dipakai.

“Mungkin PM mau sekadar jalan-jalan ke Marina Bay,” komentar warga di sana. “Mungkin ia ingin merasakan jalan-jalan sebagai orang biasa,” tambahnya.

BACA JUGA: Jahat Enak

Kata “jalan-jalan” memang sudah menjadi bahasa Inggris di Singapura. Maka kata “jalan-jalan” bisa ditemukan di tengah kalimat Inggris yang membicarakan cutinya Sang PM.

Kata Melayu lain yang juga sudah menjadi bahasa Inggris di Singapura adalah kena. Terutama selama masa pandemi. He is in hospital kena Covid last week. Kata kena juga sering dipakai dalam perjudian. ”Kena undian artinya menang taruhan.

Di samping untuk jalan-jalan local leave-nya perdana menteri ini juga untuk membaca. Ia mengatakan ada beberapa bacaan yang tertunda. Maksudnya: membaca buku. Begitu pentingnya membaca buku. Sampai perdana menteri pun harus cuti.

Berapa pun banyaknya alasan tujuan cuti itu hanya satu: mencoba menampilkan calon pemimpin baru Singapura. Dari G4. Generasi ke-4. Setelah Lee Kuan Yew, Goh Chok Tong dan Lee Hsien Loong.

Nama G4 itu Anda sudah tahu:

黄循财. Huang Xun Cai. Di Singapura nama itu dieja dengan Wong Shyun Tsai. Secara internasional dipanggil Lawrence Wong.

Jahat Enak

KEMPALAN: MINGGU kemarin adalah hari bersejarah dalam hidup saya. Sejarah kecil: minum kopi terbanyak. Sampai lima jenis kopi. Sekali duduk. Dua jam.

Saya harus bisa memahami mengapa begitu banyak pembaca Disway yang gila kopi. Saya juga ingin melupakan minyak goreng, batu bara, cabe, dan PMK. Setidaknya dalam dua jam itu. Maka saya cari Jo. Ia seumur anak saya. Sekolahnya juga di Amerika, electrical engineering. Lalu sekolah lagi: balap mobil. Di Kanada. Untuk bidang tekniknya.

“Jangan ngopi dengan saya. Dengan teman saya saja. Kelas saya masih di bawahnya,” ujar Jo. Maka saya diperkenalkan dengan teman seumurnya juga: Dukun Kopi. Sekolahnya di Melbourne, Australia. Jurusannya computer science. Awalnya ia ke Australia karena terpaksa. Kakak perempuannya tidak kerasan di sana. Maka biar pun hampir naik kelas 2 SMA di St Louis Surabaya, Dukun Kopi mengulangi lagi kelas 1 di Australia.

Saya pun ke kafenya. Di Jalan Musi. The Little Prince.

Ternyata si Dukun Kopi mengajak temannya lagi. Yang lebih gila kopi. Sang teman, Arek Suroboyo. Kelahiran Krian. Bapaknya jualan buah di pasar desanya. Ia lulus D3 perkapalan ITS. Mereka seumur. Lalu masuk ITATS untuk S-1. Sambil bekerja.

BACA JUGA: Ayam Meme

Nama anak ini Nasrullah. Ia datang menenteng sesuatu. Ada rodanya. Dibawa masuk ke kafe. Ternyata ia datang naik kendaraan roda satu. Dengan ransel di punggungnya. Tidak ada tempat parkir kendaraan jenis itu di depan cafe. Juga takut hilang.

Harganya Rp 55 juta.

Nasrullah menaruh ransel di atas meja. Membukanya. Mengeluarkan isinya.

Ampuuuuun!

Ia keluarkan kompor mini, timbangan, saringan, shower, teko kaca, dan penggilas kopi. Ia keluarkan juga sachet (kantong plastik yang divakum) tipis berisi biji kopi yang sudah diroster. Nama-nama kopi itu, berikut dari mana asalnya, tertulis di sachetnya. Dari Colombia, Panama, Latumojong, dan Tretes.

Yang dari Colombia tidak hanya satu jenis. Ada Emanuel Encro, ada Wush Wush, dan beberapa lagi yang saya tidak kuat mengingatnya. Yang dari Panama pun ada jenis Elifa, Geisha, dan beberapa lagi. Yang Geisha pun ada yang dari kebun Santa Veresa dan dari Esmeralda.

Stres Lois

KEMPALAN: SAYA juga sudah tahu: hari itu dokter Lois meninggal. Senin 6 Juni tengah hari. Sang suami lagi di Makassar. Selasa keesokan harinya, Hasan Aslam, sang suami, baru mendapat tiket ke Tarakan. Lewat Balikpapan.

Dokter Lois –yang terkenal karena tidak percaya Covid itu virus yang wajar– meninggal di Tarakan, Kalimantan Utara. Di rumah Sang ibu. Yang –yang ketika saya ke sana kapan itu– masih ada plang nama dr Lois di depannya. Pertanda dr Lois pernah buka praktik di rumah itu.

Anda juga sudah tahu: dokter Lois meninggal akibat kanker servik. Dia memang asli Tarakan. Orang tuanya asal Krayan, kecamatan di perbatasan segitiga Kaltara, Sabah, dan Serawak.

Sang ayah adalah kepala suku Dayak Lundai atau Lundu di Krayan. Suku itu juga ada di Sabah dan Serawak. Ada jalan darat dari Krayan ke Sabah, tapi tidak ada jalan darat ke Tarakan nun jauh.

Ketika sakit di Jakarta, dokter Lois memang selalu minta pulang ke Tarakan. Selalu pula menanyakan sang ibu. “Maka saya kabulkan permintaan itu karena kami percaya itu sebagai pertanda pamit,” ujar Hasan.

Menurut Hasan, Lois sudah mengeluh sejak awal 2016. Jauh sebelum Covid. Perutnyi sakit. “Dia mengira itu pertanda hamil. Dia minta diantar ke dokter kandungan,” ujar Hasan.

Dia memang ingin punya anak. Sudah sangat lama.

Malam itu Hasan mengantarkan Lois ke dokter. Setelah diperiksa dokter memberikan obat penguat kandungan. Hasan minta agar saya tidak menuliskan nama klinik dan dokternya.

Setelah minum obat Lois mengeluh tambah sakit. Kian malam kian berat. Menderita sekali. Sampai perutnyi ditempeli botol berisi air mendidih. Itu cara tradisional di daerahnyi. Juga di mana-mana. Cara itu pun tidak membuat reda.

Menjelang Subuh, Hasan mengantar sang istri ke dokter kandungan yang lain. Yakni teman sejawat Lois.

“Begitu dilakukan USG terlihat perut Lois penuh darah,” ujar Hasan menirukan keterangan dokter. Darah itu harus segera dikeluarkan. Satu liter. “Harus juga dioperasi. Sekarang. Kalau tidak Lois meninggal,” kata Hasan masih menirukan keterangan dokter.

Lois pun mau dioperasi. Hasan menandatangani persetujuan suami. Operasi lancar. Lois sehat kembali. “Hanya saja, kalau berhubungan, selalu ada bercak darah,” ujar Hasan.

Awalnya Hasan itu pasien dokter Lois. Keluhan utama Hasan: obesitas. Berat badan Hasan 95 kg. Umur, saat itu, 45 tahun. Tinggi badan 175 cm. Ia duda. Pengusaha properti di Makassar. Ia orang terkenal di Makassar. Ia keponakan pengusaha terkemuka Indonesia di zaman Bung Karno: Abdurrahman Aslam.

Sang paman adalah lima naga Indonesia zaman itu. Yang mendapat izin monopoli banyak bidang. Kekayaannya lebih besar dari kelas keluarga Jusuf Kalla sekarang.

Dokter Lois biasa terbang ke mana-mana. Urusan kecantikan dan perawatan badan. Dia memang praktik di dua bidang itu. Di Jakarta.

Suatu saat Lois ke Maknassar. Banyak pasiennya menunggu di Makassar. Hasan pun bikin janji untuk bertemu.

“Awalnya saya kira dokter Lois itu laki-laki,” ujar Hasan. “Ketika dia datang disertai seorang laki-laki. Saya kira yang laki-laki itu yang bernama Lois,” tambahnya.

Hasan pun diberi sejumlah obat. Ia ikuti semua yang diperintahkan Lois. “Berat badan saya turun tinggal 74 kg,” ujar Hasan. “Dalam waktu tiga bulan,” tambahnya.

Sampai-sampai banyak teman Hasan mengira ia lagi sakit. Pun ibunya. “Sampai Umi saya minta saya ke dokter,” ujar Hasan.

Hasan sendiri merasa tetap sehat. Ia tantang teman-temannya main bulu tangkis. Ia gemar badminton.

Teman-temannya pun percaya ia sehat. Hasan juga terus main golf. Tidak pernah ada keluhan dengan penurunan drastis berat badannya.

Awalnya Hasan tidak tahu status perkawinan Lois. Yang ia tahu: Lois tidak pernah bersama suami. “Belakangan saya tahu Lois sudah menjanda,” kata Hasan. Itu sama sekali di luar dugaannya. Hasan tahu Lois itu Dayak. Berarti Kristen. Tidak mungkin janda. Di Kristen hampir tidak ada perceraian. Harus sehidup semati.

Setelah tahu itu, hubungan dokter-pasien pun berubah menjadi sahabat tapi mesra. Lois menjadi dokter cinta. Dalam dua tahun. Perhatian Lois ke Hasan melebihi perhatian seorang dokter pada pasien. “Dia selalu mengingatkan jadwal minum obat saya,” ujar Hasan. Lois ternyata juga sudah lama bercerai.

Tahun 2014 mereka menikah –setelah dua tahun dalam status TTM. Keluarga Lois keberatan soal agama. Tapi Hasan berjanji akan memberi kebebasan pada sang istri. Kepada ayah Lois, Hasan berjanji akan mengayomi putrinya itu.

Ada juga masalah dengan ibunda Hasan. “Umi saya baru setuju kalau Lois masuk Islam,” ujar Hasan. Maka ketika melangsungkan perkawinan Lois ikut suami. “Dia mandi wajib dulu. Lalu mengucapkan syahadat,” ujar Hasan.

Sampailah Covid-19.

Lois, lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia Jakarta itu berada di barisan anti-Covid. Dia tidak pernah mau pakai masker. Dia selalu share video-video dari luar negeri yang berbeda arus dengan mainstream. Teman-teman dokter sesama lulusan UKI juga dia kirimi. Di luar negeri memang banyak juga yang bersikap seperti Lois.

Rupanya almamater Lois sangat malu. Pun alumni UKI. Terutama teman angkatannyi. Mereka sering berusaha menyadarkan Lois. Gagal. Nama Lois pun mereka anggap membuat almamater tercemar.

Anda pun sudah tahu: dokter Lois lantas dianggap menderita gangguan jiwa. ODGJ. Lois marah dengan penilaian itu. Hasan juga marah. “Saya kan suaminyi. Yang tahu dia setiap hari,” ujar Hasan.

Rupanya anggapan “Lois menderita ODGJ” itu sangat serius. Suatu saat Hasan didatangi teman-teman Lois sesama dokter UKI. Para teman itu tidak mau bertemu Lois. Justru mau mereka bertemu Hasan. Tujuan mereka: agar Hasan bisa memaksa Lois untuk dibawa ke rumah sakit jiwa. Saat itu sudah dibawakan ambulans.

Hasan naik darah. Tapi masih ia tahan. Hasan bertanya: di rumah sakit nanti akan diapakan.

Maka para teman itu menjelaskan. Lois akan diberi suntikan tertentu dan makan obat tertentu. Setelah mendengar nama-nama obat itu Hasan tidak bisa menahan amarah.

“Kalian ini akan membuat istri saya menjadi benar-benar gila,” ujar Hasan mengenang kejadian saat itu.

Hasan menilai istrinya baik-baik saja. Cerdas. “Kalian kan tahu teman kalian yang bernama Lois ini kan cerdas sekali. Kenapa kalian perlakukan begini,” ujar Hasan pada mereka.

Teman-teman itu, kata Hasan, memang mengakui Lois cerdas. Juga sering mendebat dosen. Sering pula diminta mendampingi tamu-tamu asing, ahli dari luar negeri.

Di masa Covid, Lois punya teori penyembuhan sendiri. Banyak juga yang berobat padanyi. Hasan memberi contoh ingat ini: seorang jenderal minta tolong Lois. Ibunya sakit keras, kena Covid. Sang anak tidak ingin sang ibu dibawa ke rumah sakit. Dokter Lois diminta datang ke rumahnya di Lebak Bulus Jakarta. Bahkan diminta tinggal di rumah pasien tersebut. Agar pengobatannyi intensif.

Maka dokter Lois ke rumah itu. Tinggal di situ. Ditemani Hasan. Di kamar sebelah kamar pasien.

Lois pun memberikan pengobatan. Ini obat yang diberikan: norit 3×5 tablet, VCO 1 sendok makan, atau minyak zaitun asli 2 sendok makan. Lalu curcuma FCT 3×2 tablet, KSR600 2X1 dan NEUROBION FORTE 2X1 untuk pagi dan malam. Menjelang tidur ditambah Fluimucil 2 kapsul.

Tiga hari Lois tinggal di rumah itu bersama suami. Sang ibu semakin sehat. Dalam seminggu pulih.

“Sampai sekarang masih sehat?” tanya saya.

“Masih. Kami berhubungan baik dengan keluarga beliau,” ujar Hasan.

Di rumah itu Lois minta agar seisi rumah untuk tidak pakai masker.

Lois pernah ingin memperjuangkan prinsipnyi itu ke berbagai instansi kesehatan.

Suatu hari Louis ingin menemui Jenderal Doni Monardo, penanggung jawab Covid kala itu. Lois datang ke kantor Doni yang dijaga ketat dengan protokol kesehatan paling baik. Lois datang tidak pakai masker. Petugas mengharuskan dia pakai masker.

Lois berdebat di situ. Akhirnya tidak bisa bertemu Doni Monardo. Dia pulang. Tetap tidak bermasker.

Anda pun masih ingat: dokter Lois akhirnya ditahan polisi. Lalu dilepaskan, setelah meminta maaf. Sejak itu nama Lois seperti lenyap dari peredaran.

Tiba-tiba Senin lalu Harian Disway memberitakan dokter Lois meninggal dunia. “Tekanan untuk Lois luar biasa. Dia down sekali,” ujar Hasan. “Rasanya itu yang membuat dia kena kanker,” tambahnya.

Sampai Selasa sore belum dimakamkan. Masih menunggu kedatangan Hasan. Juga menunggu kakak Lois yang di Jakarta. Hasan menyerahkan sepenuhnya pada keluarga Lois untuk urusan pemakaman. Pun kalau itu harus secara Kristen. Tentu kali ini dengan masker di seluruh tubuhnyi. (*)

Komentar Pilihan Disway

Edisi 9 Juni 2022: Low 100 Kilo

tomosu

Sebenarnya gampang sih kalau mau membuat kalimantan lebih makmur, tidak perlu iri dengan sumbangan rp 200 milyar ke itb dkk: Cukup bikin aturan semua keuntungan baru bara, sawit dll diinvestasikan kembali ke bumi kalimantan. Mesin dan roda ekonomi akan bergulir dengan cepat, dan rakyat banyak akan menikmati. Tentu harus disiapkan lingkunganinvestasi yang matang. China melakukan seperti ini. Makanya mesin ekonomi nya bisa lari cepat.

Jimmy Marta

Rasanya tdk cukup dengan kata luar biasa untuk datuk low ini. Warrbyasah…. Karena biasa di luar. Out of the box. Tidak tamat sma tp visioner. Mungkin otaknya encer ditambah dna yg tokcer. Efisiensi adalah kunci datuk low dalam mengelola usahanya. Walau pancingnya supermahal, tp jelas karena mau ikan super super. Sedikit sbg komparasi yg dibuat datuk ini dalam pembangunan jalan. Yg digambarkan abah lebar dan luas. Mungkin setara toll. Menurut pengusaha jalan toll Yusuf Hamka biaya pembuatan toll di indonesis per km Rp.500-700M . Yang dibikin datuk low untuk 100km biaya 5T. 50M per km. Habis 5T atau 8T tak seberapa untuk dapat ratusan T…. Kalkulasi khas bisnisman….

thamrindahlan

Sebelum melengkapi pantun Abah ada baiknya awak ber-opini sedikit. Selain gelar Datuk, sepantasnya Mr. Low Tuck Kwong mendapat Bintang Maha Putra dari Negara Republik Indonesia. Begitu besar jasanya menghidupkan Pulau Borneo , Mengembalikan kekayaan bumi untuk kesejahteraan rakyat untuk jangka panjang seperti membangun jalan lebar dan kuat serta rel kereta api. Selaiknya jalan 100 Km itu diberi nama Jalan Datuk Low Tuck Kwong . Melengkapi Pantun Tantangan Abah : Ikan Patin Ikan Jelawat Ikan pesut kejar kejaran Membaca rutin disway jangan kelewat Berita Yahut pasti menambah wawasan Salamsalaman

dar_smd

cuma bisa bilang wow, Tuhan maha kaya, menyediakan batubara gratis untuk di keruk oleh orang berduit biar perut tambah buncit, sementara warga kaltim yang tidur di atas batubara masih banyak yang hanya bisa menjadi penonton, sialnya lagi beberapa waktu lalu di temukan fakta ada perusahaan perusahaan tambang menyalurkan dana CSRnya ke luar wilayah kaltim, relnya rusia tidak jadi kenapa, gosipnya anda pasti sudah tau, ada intervensi amerika

edi hartono

Iklan yg setiap saat muncul ketika membaca artikel disway memang sangat menarik. Ada Cut Tari yg sedang bersiap di atas ranjang. Ada juga Maria Vania yg sedang nungging. Di bawahnya ada Maria Vania lagi, berpakaian ketat, duduk dengan paha terbuka. Luar biasa, merdeka, wkwkwk

irud Zombie

LUAR BINASA, pak DIS. Menulis fakta yg mungkin hanya ada di Indonesia: 1 orang dpt menguasai lahan seluas itu, agresif mengeruk SDA yg tidak dapat diperbaharui. Utk dijual ke luar negri. Akan habis dalam waktu yg tak lama lagi. INI GILA. Negara yg waras kayak US tidak akan pernah ada yg seperti ini, dan tidak akan ada tokoh yg mau memuji hal seperti ini… Harusnya semua ini diatur, dikendalikan agar negara menjaga ketersediaan SDA masa depan. Pengusaha tdk ugal2an gitu menguras bumi demi kepentingan pribadi. Masalah bangun jalan / jembatan itu? Ah pak DIS berlebihan. Saya fokus ke kuantitas SDA yg dikeruknya. (Saya yakin pak DIS tidak akan tampilkan komentar ini. Tapi sudahlah. Kita sama2 paham) L.A.M, Malang Jatim

Liam Then

Kalo orang Tionghoa menghiburnya pasti begini, anggap saja buang suwee…cuma logika mengatakan suwee kok mahal banget. Turut berduka cita bro. Harapan saya semoga bank ada sistem respon cepat, otomatis. Sekarang kan sudah jaman AI , teknologi informasi terintegrasi. Begitu ada laporan masuk terverifikasi betul, rekening pelaku korban segera dibekukan oleh system. Waktu uang hasil kejahatan di tarik tentu ada kamera cctv di atm, kantor cabang, bisa rekam wajah pelaku, sekalian data rekening yang digunakan pelaku. Hal susahnya ini butuh dorongan undang-undang perbankan yang memaksa semua bank di Indonesia terapkan satu sistem yang sama. Terkoneksi sehingga respon cepat. Kalo masalah uang hasil kejahatan, sudah pasti sebagian di buat dugem, sebagian buat DP expander buat di pake 3 bulan. Lah kok saya tahu? Jangan curiga kwkwkkwkwk . Orang seperti itu yang dapat duit setan ,habisnya juga tak begitu saja. Tak mungkin mereka habis menipu sumbang panti asuhan ,atau sumbang aspal pengerasan jalan gang. Saya turut berduka cita ,semoga bro JK dapat proyek cuan, balasan ditipu 295 jt.

Johannes Kitono

Pagi ini saat membaca Low 100 kilo muncul lagi berita di Disway. Ada Pasutri asal Padang jadi korban Link phishing sebesar Rp.1 mily dan 114 jt. Saya sebagai korban penipuan sindikat sebesar Rp.245 juta ( 2 Juni 22 ) via BCA tentu ikut prihatin dan merasakan kesedihan pasutri ini. Dengan kejadian ini hrs siap mental dan yang penting utamakan jaga kesehatan. Mungkin uang tidak bisa kembali, kalau sistem handle Bank dan Polisi masih seperti begini. Sangat lambat dan terikat birokrasi. Saat perbankan dan Polisi baru mau respon. Pasti uang hasil kejahatan Perbankan ini sudah dibagi bagi dan mungkin buat kawin lagi. Perlu ada terobosan supaya kejahatan Perbankan tidak bertambah seperti Pinjol yang sudah capai 12 T. Tentu lembaga Bank dan OJK wajib memberi rasa aman kepada nasabah untuk melakukan transaksi. Perlu ada Lembaga/ Kantor Ditektip Swasta yang fokus investigasi kejahatan Perbankan bukan Perselingkuhan. Libatkan Aparat Penegak Hukum ( APH ) seperti PPATK dan Polisi. Begitu ada laporan resmi ke Halo BCA dan Bukti Lapor Polisi. Bisa langsung lacak dan ikuti aliran dana ke rek Bank para pelaku kejahatan tsb yang biasanya pakai identitas palsu. Investasi utk Lembaga/ Kantor Ditektip Swasta ini pasti sangat murah dibandingkan dengan akibat negatip yang telah ditimbulkannya. Juragan Disway yang mempunyai akses luar biasa mungkin membantu dan bisa memulainya. Atau dibiarkan saja supaya setiap hari tetap ada berita korban Link Phishing atau Pinjol di mass media.

ayu nuryani

Saya sebenernya paling senang kalo Abah ngebahas tentang orang2 kaya, konglomerat2..jadi saya bisa belajar gimana itu “akalnya orang kaya”. Walaupun tetep kadang2 nyinyir, tapi sungguh saya kagum sm yg kaya raya itu para1% itu, mereka pantas sekaya itu, karena memang pintar sekali.. eka tjipta Wijaya, sekarang Datuk Low baru saya tau detailnya dari Abah disini Oh iya.. misal 60juta ton/tahun kalo dikali 20 tahun aja udah 1200juta ton, bener2 akal orang cerdas, pantesan dia kaya raya, sayang saya gabisa ngitung kalo pake harga yg 400 USD atau 100 atau , angka hasil di kalkulator hp saya, saya ga ngerti bacanya hahahha.. hebat! Makasih abah, sehat2 terus dan semoga lekas jadi itu jalur keretanya Bayan

Akagami Shanks

Loe kheng hong juga mengajarkan analisa fundamental tapi dia sendiri sekali beli (5%), supaya bisa jual tipis-tipis. Lain waktu di markup lagi. Sangat mengispirasi memang ke 2 Low ini. Tidak cuma pintar. Jadi begini saja Dr Low, you bisnis kan cuma ngeruk alam. Skill cuma sekedar bisa ngeruk. Nothing more. Itupun pelakunya para karyawan. Coba alokasi (90%) dari total pendapatan pertahun selama 5 tahun ke apalah, yang bermanfaat ke warga kalimantan. Supaya beda level sedikit dengan pengeruk batu bara lain yang juga pernah jadi komut di perusahaan teknologi itu. Begitukan pak pry (wkwkwk) ?. Ini pak dis mau gantung orang apa gimana iya.

Anwarul Fajri

Beberapa hari cuma bisa ngiler aja baca serial tulisan abah tentang taipan yg tajir melintir. Nek aku wes kadung nesu iso tak dol kabeh pulau kalimantan sak isi isine….. Hahahaha….#sokkuasadanhalu

irud Zombie

Jika 20 tahun lagi batubara habis, negara akan beli barang kemana ya?? Lha ini barang harusnya dijaga utk cadangan strategis nasional. Kyk negara2 besar bgtu. Tapi dasar msh banyak type indown kw mental nya puja puji konglo. Hidup pak DIS, hidup konglo

petteng calemot

Banyak komen julid kalo bahas orang kaya. Apalagi yg tdk kuliah.. wkwk. Tapi jangan kecil hati, jangan silau dengan survivorship bias. Yg muncul di berita memang yg sukses saja, padahal secara rata-rata ya tdk spt itu. Banyak orang yg IQ sangat tinggi malah benci sekolah ketika muda. Belum lagi faktor keluarga, lingkungan, keberuntungan dll. Kalau saya justru bersyukur kita dpt orang spt datuk Low. Belum tentu pengusaha murni lokal punya kemampuan dan jaringan spt beliau. Dan perusahaannya Tbk. Semua kewajiban dijalankan. Kucing putih kucing hitam yg penting bisa nangkap tikus. Sama sajalah dengan pemain bola hasil naturalisasi. Malah kebalikannya dapat bayaran besar dari pajak kita. Dan nasibnya baik; gak ada yg julid haha

Pryadi Satriana

Abah itu “merasa” orang NU. Dari keluarga yg mengelola pondok pesantren. Tapi, waktu berkunjung ke pesantren Gus Mus, seingat saya nggak ada tuh foto ngobrol bareng Gus Mus. Jangan2 juga malah ndhak ketemu sama Gus Mus. Lha ini ketemu Datuk Low kok keliatan gayeng tenan. Maklum, pebisnis ketemu pebisnis yg diomongin proyek, cuan, ROI, dsb. Gitu ya, Bah? Uang, uang, dan uang

Kang Sabarikhlas

Wow!..pengunjung restoDisway mbludak, rameee… Pun saya nimbrung melahap masakan menu kemarin, ternyata kayak jangan lodeh yg banyak santan, semakin kemarin semakin gurih, apalagi ada sambel trasi buatan CakPry Satriapedes jadi nikmat kemringet. dan saya manggut² dengar suara Nella K nyanyi “Jangan Nget Ngetan” “…Hidup kudu dinikmati/jangan sampai kamu frustasi/opo maneh sampe stres diri/gara gara…catatan nget²an.” anu..mungkin saya jadi korban yg simpati karna lama baca sejarah penjajahan kok lama..duh. Kalau Abah jadi jubir sungguh terbuka dan nyata. dan masyarakat suka yg mulai nyata daripada rencana yg lama. dan saya ndak tahu ini salah siapa, lha wong saya ndak tamat sma… saya maklumi Abah ndak ngajak saya main pantun tapi sebagai arekwani ya saya ladeni main pantun : Ikan patin ikan jelawat/Ikan pesut kejar kejaran/memang prihatin si ikan sepat/slalu merengut gk dpt pinjeman… duh…kapan ketemu datukmaringi…

Dahlan Batubara

Luar biasa pak Low. Kalah pemerintah. Di Mandailing, Sumut bahkan belum ada jalan baru yg dibuka sejak Indonesia diproklamirkan. Semua jalur jalan di Mandailing itu dibuka oleh kolonial Belanda.

bitrik sulaiman

Ikan patin ikan jelawat Ikan pesut kejar_kejaran Lahir bathin tetap semangat Susut perut karena rajin senam dansa-dansaan.

thamrindahlan

Ikan patin ikan jelawat / Ikan persut kejar kejaran / Bukan Putin teman sejawat / Sosok Datuk LTK warga teladan / Salamsalaman

Johan

Ada kepercayaan di sebagian kalangan orang Tionghoa. Darmabakti paling utama seorang dermawan adalah membangun jalan dan jembatan. Lebih penting dari membangun kelenteng sekali pun. Membangun jalan dan jembatan manfaatnya paling besar untuk masyarakat. Dipakai oleh semua kalangan tak peduli apapun status dan agamanya. Karma baik yang ditanam bisa terwariskan entah sampai berapa generasi. Apalagi ini membangun jalan sampai 100 KM, wah entah berapa besar karma baik yang akan di panen Datuk Low. Tapi yang jelas cuan nya juga tidak kalah besar karena jalan yang dibangunnya itu. Hhhh

Abu Abu

Batik keraton batiknya solo/ Kayu lapuk dimakan rayap/ Andai saja sekaya Datuk Low/ Jalan-jalanan saya bikinkan atap. Biar pengendara motor tak kepanasan. Horang kaya mah bebas.

omami clan

Sebagai pekerja tambang kelas teri di sebuah perusahaan kontraktor kelas teri pula Saya pernah iseng bertanya pada bos saya ketika lewat jembatan layang Adaro di perbatasan Kalsel-Kalteng, kenapa kita tidak mengaspal jalan dari tambang menuju ke pelabuhan supaya bisa lebih kuat (minim perawatan) dan tidak perlu berhenti ketika hujan serta bisa pake kendaraan besar dan bisa di gandeng yang tentu lebih irit bahan bakar? Jawabnya standar, karena biaya mahal sedang cadangan batu baranya hanya sampai pada tahun tertentu, setelahnya jalan juga akan menjadi milik masyarakat (pemerintah) berikut lahan bekas tambangnya Artinya mereka merasa rugi mungkin Setelah membaca tulisan Abah hari ini ironi saya muncul, ketika ada sebuah perusahaan tambang yang empunya orang Singapura kemudian menjadi WNI, kemudian membangun jalan aspal, kemudian membangun jembatan, kemudian mau membangun rel kereta dan mungkin ada kemudian-kemudian lain yang bahkan sudah tau semua yang di bangun kelak akan di serahkan kepada masyarakat (pemerintah) Kalau memang benar, berarti masih ada pengusaha yang baik di sektor energi atau khususnya batu bara, dan itu berbanding terbalik dengan yang saya tahu dan temui di lapangan selama ini Ikan patin ikan jelawat Ikan pesut kejar-kejaran Jika janji tidak terawat Pasti sesal jadi tanggungan

A fa

Ikan patin ikan jelawat Ikan pesut kejar kejaran Haqul yakin mantapkan niat Semua maksud dapat diwujudkan. Ikan patin ikan jelawat Ikan pesut kejar kejaran Harus yakin banyak bersholawat Semoga sakaratul maut dimudahkan. Ikan patin ikan jelawat Ikan pesut kejar kejaran Tulisan disway abah yang buat Orang berebut komentar pilihan.

Muin TV

Bayan tentu sudah berhitung. Membangun jalan itu habis Rp. 3 triliun. Tapi batu bara yang bisa lewat di atasnya lebih 30 juta ton setahun. Dengan harga batu bara USD 400/ton saat ini angka-angka di atas hanyalah angka. Salah Bah. Angka-angka di atas adalah duit semua. Coba saya hitung: $ 400 X 30.000.000 (ton) = $ 12.000.000.000 (12 milyar dolar) $ 12.000.000.000 X Rp. 14.000 = Rp. 168.000.000.000.000 (seratus enam puluh delapan triliun rupiah) Kalau produksinya naik jadi 60 juta ton, ya … kalikan 2 saja. Rp. 336 triliun rupiah. Jadi, duit 8 triliun yang dipakai untuk membangun jalan dan rel kereta api itu cuma “seupil” aja bagi BAYAN. Itu pun dipakai selama 25 tahun. Kata Soimah, “Jos gandos untuk Datuk Low.” Ikan patin ikan jelawat Ikan pesut kejar-kejaran Kalau muka banyak jerawat Itu muka atau minyak makan.

andri andri

Terima kasih abah tulisanya menginspirasi sekali. Tapi saya mau bertanya, Apakah benar ujung jalan nya di muara wahau, Karna saya berasal dari muara wahau dan saya juga pernah ke tambang Bayan di Tabang. mungkin maksud abah di muara pahu.

Jokosp Sp

Dengan jalan sepanjang 100 km, tidak memungkinkan Semi Dump Trailer jalan non stop tanpa berhenti dan melakukan pengecekan kondisi Tyre dan under cariagenya ( bearing dan brake system ). Maka dipertengahan jalan, atau di km 50 harus dibangun Work Shop besar khusus Unit tersebut dan Stock Room besar untuk pemindahan muatan Batu Baranya. Berarti Work Shop Vacility harus lengkap dengan Overhead Cran 100 – 200 ton. Sedang di Stock Room harus disediakan sekelas Whelloader WA800 untuk loading Coal nya dan Excavator PC200 untuk bantu maintenance. Untuk Support Maintenance unit break down di jalan hauling juga harus disediakan Cran Truck Tyre dan Tyre Handle sekelas WA600 agar proses maintenance cepat dan ringan karena yang dihandle Vessel Trailer dengan muatan s/d 100 ton. Dari sisi maintenance Road Hauling juga harus ada satu team dan work shop khusus dengan peralatan seperti Compactor, Grader, Excavator sekelas PC200. Harus ada juga dibangun Tower Dispatch System, yang gunanya untuk mengatur arus perjalanan Semi Dump Trailernya agar tidak crodit dan terecord secara konsisten jam per jam untuk jadi laporan ke CCR ( Coal Control Room ). Sehingga produksi Coal Hauling perjamnya bisa dilihat grafik perkembangannya. Namun Cost Hauling sejauh 100 km cukup tinggi. Semakin jauh semakin tidak efisien karena harus doble handling dan cost tyre yang bengkak. Jika dibanding dengan sistem rel kereta jauh lebih effisien, bisa dicontoh yang sudah ada di PT. Bukit Asam di Sumatera. lanjut…

Satria Pramayoga

Meskipun abah sudah melakukan kampanye masif dan sistematis, menjelaskan panjang, lebar, tinggi pembangunan di sumatra dan kalimantan saya masih tidak tertarik untuk transmigrasi ke kalimantan. Kalau abah sendiri tertarik tinggal di hutan, mending jangan ajak-ajak. Kami masih suka hidup di kota bah.

ahyauddin ilyas

terimakasih abah atas tulisan menarik tapi penuh tandatanya kok ,kenyataan tidak sesuaui berarti ini baru hayalan belaka

Abd Qohar

Kekayaan alam Indonesia kok jadi seperti milik pribadi ya… apa memang spt itu ya pengelolaannya di Indonesia. Membangun sedikit saja sudah bisa spt pahlawan. Padahal yg dikeruk dari bumi pertiwi sangat2 banyak Abu Abu

K

Ikan patin ikan jelawat/ Ikan pesut kejar-kejaran/ Ayo kita makan ketupat/ Tak perlulah menunggu lebaran.

bagus aryo sutikno

Ikan patin ikan jelawat Ikan pesut kejar-kejaran. Indonesia punya pabrik pesawat Cuma bisa untuk barter ketan

Juve Zhang

Rupanya Abah ini sedang menjadi ” marketing ” executive dari Bayan , jadi pertemuan dengan Datuk Low ini bukan ” kebetulan” karena di ajak Ji Seng, ada “perjanjian” khusus lah jumpa di site ,Tabang, sambil jalan jalan. Cuma cerita Datuk Low ini tidak se sederhana yg ada di permukaan, pasti banyak cerita seru ,siapa saja yg ikut “urunan” naro modal di Bayan, itu yg “rahasia” gak layak di siarkan Disway. Saham Datuk yg 61% itu saya yakin ada beberapa “teman teman” Datuk yg tak mau muncul. Apalagi bangun infrastruktur nya luar biasa besarnya.

Low 100 Kilo

KEMPALAN: KELIHATANNYA seperti mustahil. Tapi inilah langkah besar Datuk Low Tuck Kwong berikutnya. Di usianya yang 74 tahun: meningkatkan produksi batu bara menjadi 60 juta ton setahun.

Angka itu hampir dua kali lipat dari produksi grup Bayan Resources tahun lalu. Mustahil? Ia punya akal –akalnya orang kaya: ia bangun jalan baru. Sepanjang 100 km.

Jalan baru itu langsung ke arah sungai Mahakam. Lebih besar dan dalam. Bisa angkut batu bara lebih banyak – -dibanding hanya lewat sungai Belayan dan Senyiur seperti selama ini.

Ujung jalan baru itu memang di Muara Wahau. Jauh di hulu Mahakam. Di pedalaman sekali. Lebih hulu dari Kotabangun. Bahkan lebih hulu lagi dari Muara Muntai. Berarti lebih hulu dari dua danau besar di sungai itu: Danau Melintang dan Danau Semayang.

Lebih jauh tapi lebih menguntungkan.

BACA JUGA: Jadi WNI

Jalan baru itu bukan baru akan dibangun, tapi sedang dibangun. Anggaran pembangunannya Rp 3 triliun lebih. Harus membangun pula tujuh jembatan –salah satunya jembatan besar melintasi sungai Belayan.

Saya menelusuri jalan itu. Di bagian yang sudah jadi. Besar. Lebar. Lurus. Kuat. Kelak, kalau pecah perang, misalnya, jalan ini bisa untuk landasan pesawat tempur. Kelas apa pun.

Jembatan sungai Belayan itu juga sudah selesai. Akan diserahkan ke masyarakat. Bayan memang membangun dua jembatan sungai Belayan. Bersebelahan. Yang satu untuk umum. Satunya lagi khusus untuk batu bara –sedang dalam pengerjaan.

Jembatan untuk umum itu bisa disebut jembatan masa depan. Belum ada sambungan jalan di sebelah sono-nya. Tidak ada juga desa atau kota lain di sono. Yang ada kebun sawit melulu.

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.