Jadi, apakah rasa sejati kopi? Saya tidak boleh menjelaskan kepada Anda –sebelum Anda mencapai level makrifat, makrifat kopi. Artinya: saya tidak tahu juga.
Saya menghabiskan 3 gelas kali seperempat kopi kearifan lokal itu. Dalam 10 menit. Tiap satu menit satu sesapan.
Habis. Dituangkan lagi. Sedikit. Di sesap lagi. Habis lagi.
BACA JUGA: Low 100 Kilo
Nasrullah pun menjalankan birokrasi berikutnya: kopi Colombia Wush Wush. Dengan ritual yang sama.
Wush Wush harganya was-was. “Saya tidak mampu membeli kiloan. Saya hanya mampu membeli sachetan 18 gram,” katanya. Berapa harga Wush Wush 18 gram itu? “Rp 500.000,” ujar Nasrullah.
Inilah yang ingin saya sampaikan ke Gubernur Lampung. Atau gubernur mana saja. Yang daerahnya penghasil kopi. Atau, jangan-jangan mereka sendiri sudah lebih tahu. Bahwa jenis kopi itu tidak hanya satu atau dua. Sama-sama Colombia atau Panama, masih terbagi dalam jenis-jenisnya. Tiap jenis pun masih terbagi ke dalam area penanaman. Beda lahan beda rasa. Beda penanganan beda pula. Maka petani kopi yang ingin mendapat harga tinggi bisa mengikuti gaya itu.
Jumlah tonase tidak lagi terlalu menentukan jumlah pendapatan. Area tidak harus luas. Yang penting bisa menghasilkan jenis kopi berharga tinggi. Lewat penyelidikan tanah, bibit dan cara memperlakukannya.
Yang sudah telanjur punya 5 hektare pun bisa mencoba: ambil setengah hektare saja dulu. Perlakukan secara khusus. Yang punya potensi terbaik. Jadikan yang setengah hektare itu Kopassus-nya kopi Anda.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi