Rabu, 13 Mei 2026, pukul : 20:44 WIB
Surabaya
--°C

Jadi WNI

KEMPALAN: AMBILLAH keputusan besar sebelum umur 40 tahun. Anda akan sukses besar.

Datuk Low Tuck Kwong melakukannya. Ia baru berumur 37 tahun ketika membuat keputusan besar dalam hidupnya: menanggalkan kewarganegaraan Singapura untuk menjadi warga negara Indonesia.

Kok berani.

Kok terpikir.

Kok melawan arus utama –banyak orang justru ingin jadi warga negara Singapura.

Ia sukses besar. Kelak. Di tahun 2019. Ia jadi pengusaha tambang batu bara –salah satu yang terbesar di Indonesia. Bayan Resources Group adalah miliknya. Yang tahun lalu saja meraih laba sekitar Rp 30 triliun.

Datuk Low juga terpilih sebagai orang terkaya No. 30 di Indonesia, mungkin kini sudah di 10 besar. Kekayaannya sudah sekitar Rp 70 triliun. Dua tahun terakhir saja naik Rp 30 triliun, berkat harga batu bara yang menggila.

Ia melihat, waktu membuat keputusan terbesar dalam hidupnya itu: untuk bisa jadi pengusaha sukses ia harus berusaha di Indonesialah.

BACA JUGA: Kera Slow

Kesempatannya sangat besar. Di Singapura bisnis-bisnis besar sudah dikuasai BUMN di sana.

Low Tuck Kwong sudah masuk Indonesia tahun 1986 atau 1987. Ia jadi kontraktor fondasi. Di Jakarta. Proyek pertamanya adalah di Ancol. Pinggir laut pantai utara Jakarta. Struktur tanah oloran seperti di tepi laut Ancol sangat lembek. Low Tuck Kwong bisa mengatasi kesulitan itu.

Ia memang berpengalaman di dunia konstruksi. Ayahnya punya perusahaan konstruksi besar di Singapura. Sang ayah punya anak 7 orang, termasuk Tuck Kwong.

Proyek pertama di Ancol itu masih kuat sampai sekarang: pabrik es krim besar, Diamond. Dari Ancol namanya terkenal ke seluruh Indonesia –khususnya di dunia konstruksi. Ia dianggap perintis sistem piling tumpuk –saya kurang paham maksudnya.

Dari kontraktor sipil, Datuk Low mengincar bidang kontraktor tambang. Hanya sebagai kontraktor. Di sinilah ia melihat betapa kaya hasil tambang Indonesia. Lama-lama ia tidak mau hanya jadi kontraktor. Ia ingin memiliki tambang sendiri.

Itu tidak mungkin.

Ia orang asing.

Kera Slow

KEMPALAN: SAMA sekali tidak sengaja. Tidak janjian. Saya bertemu orang yang kekayaannya naik Rp 30 triliun hanya dalam dua tahun itu (Baca Disway: Durian Low): Datuk Low Tuck Kwong. Di lokasi yang begitu jauh. Di pedalaman Kaltim yang sangat dalam.

Hari itu, sebenarnya, saya akan bermalam di mess staf kontraktor tambang milik Haji Aseng (Baca Disway: Haji Aseng). Saya sudah taruh tas di salah satu kamar di mess itu. Saya juga sudah menyumbangkan air tubuh di toiletnya. Bahkan saya sudah merencanakan mandi sebelum tidur dari air di ember di pojok kamar mandi itu.

Sore yang panas. Tas itu kami tinggal di kamar. Kami keliling kawasan pertambangan di daerah  hulu antara Sungai Senyiur dan Sungai Belayan –dua anak Sungai Mahakam.

Tiga jam kami bermobil. Lewat jalan-jalan lebar yang dibangun khusus untuk angkutan batu bara. Truk yang lewat pun khusus. Besar dan besar sekali. Satu truk bisa mengangkut 100 ton batu bara. Ada yang bisa sampai 180 ton –bak truknya digandeng. Kami melewati jalan sepanjang 70 km untuk bisa sampai ke tambang.
Lalu mampir ke kebun binatang.

Hahaha… Ada kebun binatang di situ. Tidak kaleng-kaleng. Luasnya  lebih 200 hektare. Pemiliknya:  Bayan Resources. Datuk Low, si penguasa tambang di situ. Kebun binatang ini ternyata tidak jauh dari mess Haji Aseng.

Di tengah kebun binatang itu ada seperti club house. Bentuknya villa-villa. Ada juga tempat minum kopi. Ruang rapat. Dan gym. Di situlah para eksekutif Bayan bermalam. Kalau lagi datang ke lokasi tambang.

Haji Aseng mengajak saya minum kopi dulu. Di kompleks villa-villa itu. Kami sudah berjam-jam keliling kawasan. Waktunya istirahat. Lihat kebun binatangnya besok pagi saja.

Kedatangan saya di villa itu, rupanya, langsung diinformasikan ke manajemen mereka di Jakarta. Maka saya pun diminta bermalam di salah satu villa di situ.

“Saya di mess Haji Aseng saja,” jawab saya. Saya ngotot pilih tetap tinggal di mess. Saya tidak mau Haji Aseng punya pikiran dapat istri muda yang lebih cantik, yang tua ditinggalkan.

Tapi Haji Aseng bukan istri tua. Ia justru mendorong saya untuk menerima tawaran itu. Setengah memaksa.

“Besok Datuk Low datang. Tinggal di sini. Sekalian bisa bertemu dan makan siang dengan beliau,” ujar staf di situ.

Tentu saya ingin bertemu orang sekaya itu. Belum tentu saya bisa menemuinya di Jakarta. Atau di Singapura. Urusan tas kecil itu mudah. Bisa dijemput untuk dibawa ke villa ini.

Kami pun menghabiskan sore di situ. Sambil ngobrol soal tambang. Lalu disusul makan malam di situ. Dengan menu ikan nila yang di-fillet, dengan diberi topping sambal matah. Enak sekali.

Biasanya saya menghindari ikan nila. Kurang gurih. Pilih gurami. Tapi malam itu saya mendapatkan nila yang berbeda. Sejak itu saya mau makan nila masakan istri saya. Di Kaltim ini. Rupanya rasa nila di sini berbeda dengan yang di Surabaya.

Setelah makan malam saya mendapat sajian data: soal tambang Bayan Resource.

Lalu tidur. Villanya seperti di Bali. Memasuki kompleks villa ini saya lupa kalau lagi di tengah pertambangan batu bara. Rasanya saya seperti lagi di Ubud.

Foto: Disway.id

Agenda saya berikutnya: pagi-pagi senam dansa. Sendirian. Di gym. Dengan musik dari hand phone –saya punya stok lebih 100 lagu senam di situ.

Habis senam barulah kami keliling kebun binatang. Sambil menunggu kedatangan Datuk Low. Ia datang ke sini tidak naik speed boat seperti yang saya lakukan. Ia naik  helikopter dari Bandara Balikpapan.

Sambil berjalan menuju bonbin, saya pun bertanya: mengapa membangun kebun binatang begini besar. Di lokasi yang begini pedalaman. Yang jangankan kota, kampung terdekat pun berpuluh kilometer jauhnya.

“Datuk Low sangat menyukai binatang,” ujar staf di situ.

Kebun binatang ini terpencar di empat atau lima kelompok. Kelompok burung dibikinkan rumah khusus. Atapnya jaring. Luasnya, ups, 2 hektare. Ratusan jenis burung ada di sini. Ribuan jumlahnya. Dari seluruh Indonesia. Juga dari banyak negara.

Kelompok harimau dibikinkan kawasan berjeruji besi seluas 1 hektare. Yang ada kandang di tengahnya. Di kandang itulah tempat mereka makan: 7 kg daging sehari. Per ekor. Ada 8 ekor di situ.

Awalnya petugas mengajari mereka: agar setiap jam 5 sore menuju kandang. Untuk makan. Kini, tanpa diajari, harimau itu sudah tahu: setiap jam 5 sore pasti pulang untuk makan.

“Seminggu sekali harimau itu kami wajibkan puasa. Tidak makan 24 jam,” kata penjaga di situ. “Untuk menjaga selera makan,” tambahnya.

Kelompok menjangan jadi satu dengan kuda. Khusus untuk koleksi kuda dibuatkan kandang ber-AC. “Kuda-kuda ini dari Belanda. Kami sesuaikan suhunya dengan di sana,” ujar penjaga kuda.

Kelompok unggas, termasuk burung unta, merak, dan berbagai jenis flamingo diberi tempat tersendiri. Luar biasa banyak jenis unggas dari banyak negara. Dengan warna bulu yang berbeda-beda.

Lalu ada kelompok kura-kura. Ternyata begitu banyak jenis kura di dunia. Ada pula kelompok ikan. Kolam ikan arwananya saja dua buah. Besar-besar. Yang dicampur dengan ikan patin. Dua-duanya bisa disatukan. Arwana bergerak di permukaan air. Patin di dasar kolam. Keduanya sama-sama hanya mau makan ikan kecil.

Maka di kompleks ini ada kolam ikan nila yang besar. Sebagian untuk dimakan manusia, sebagian besarnya untuk makan arwana dan patin. “Arwananya lebih 3.000 ekor,” ujar penjaga arwana itu.

Anda harus hafal nama-nama binatang di situ, siapa tahu Bayan akan mengadakan kuis.
Untuk kebun binatang ini saja 100 karyawan ditugaskan penuh di sini. Umumnya orang dari penduduk sekitar. Dokter hewannya empat orang. Lulusan Udayana dan UGM. Masih ada pula ahli gizi khusus binatang.

“Kera dan orang utan biasanya kekurangan protein,” ujar ahli gizi di situ. “Seminggu sekali, satu kera kami beri telur dua buah,” ujarnyi. Kurang protein itu lantaran makan mereka yang hanya lebih banyak buah. Ahli gizi binatang itu lahir di Bulungan, besar di Penajam, dan kuliah di Yogyakarta. Dua tahun bekerja di sini dia punya ide: menciptakan kue bergizi untuk binatang.

Kembali ke harimau. Delapan ekor itu awalnya hanya satu pasang. Dari Taman Safari. Di sinilah pasangan itu melahirkan untuk kali pertama: sepasang. Mati semua. Lalu melahirkan lagi sepasang. Hidup semua. Lalu melahirkan lagi dua kali. Masing-masing sepasang.

Sedang koleksi kudanya bukan kuda biasa. Datuk Low suka kuda mini. Tingginya, tertinggi, hanya 80 cm. Didatangkan dari Belanda. Sebanyak 12 ekor. Itulah sebabnya kandang kuda mini itu harus diberi AC.

Masing-masing kuda diberi nama. Saya masuk kandangnya Linda. Cantik. Dengan ekor kudanya yang seksi. Dan rambutnya terurai.

Koleksi keranya lengkap sekali. Termasuk kera putih. Juga kera dari banyak negara. Saya lagi cari-cari kera yang wajahnya mirip saya: tidak ketemu.

Yang terbaru: ada kera “slow motion” dari Thailand –kera yang lucu karena geraknya sangat-sangat lambat.
Kera “slow motion” itu baru saja tiba. Pagi itu. Masih ditempatkan di kandang khusus karantina –di belakang club house.

Jam 10.30 helikopter Datuk Low tiba. Saya menyambutnya di teras club house. Ia hanya pakai hem dan celana sangat biasa. Umurnya 74 tahun. Masih lincah. Badannya sangat langsing.

Setelah menyapa saya, ia menoleh ke seorang staf. “Sudah datang?” tanyanya.

Yang ditanyakan itu soal kera “slow motion” tadi. Yang ditanya mengangguk.
“Kita lihat yuk…,” katanya pada saya.

“Saya sudah melihatnya tadi pagi,” jawab saya.
“Kita lihat lagi…,” pintanya.

Kami pun ke kandang karantina itu. Dua kera itu lagi tidur.
Dalam hati, saya tersenyum. Kok yang ditanyakan pertama soal binatang. Bukan perkembangan perusahaan.

Bagi kebanyakan orang, kebun binatang ini sudah satu perusahaan besar sendiri. Setidaknya pembiayaannya. Orang utan pun dibuatkan rumah yang sangat khusus. Salah satu anak orang utan itu sangat manja: minta terus digendong petugas wanita di kandang itu.

Saya mencoba menggendongnya juga. Tidak mau. Ups. Ternyata mau. Ia bukan anak orang utan yang penakut.

Datuk Low pun mengajak ke kelompok burung. Ia terus bicara soal binatang. Dan binatang.
Ia sudah tahu soal perusahaan. Tidak perlu bertanya. Ia tentu hafal labanya tahun lalu saja Rp 30 triliun. Berarti laba Bayan dua kali lipat dari laba Adaro atau KPC–padahal produksinya hanya sekitar separo dari Adaro. Pun KPC.

“Betapa efisien Bayan,” kata saya. Dalam hati saja. (*)

Anda bisa menanggapi tulisan Dahlan Iskan dengan berkomentar http://disway.id/. Setiap hari Dahlan Iskan akan memilih langsung komentar terbaik untuk ditampilkan di Disway.

Komentar Pilihan Dahlan Iskan di Tulisan Berjudul Durian Low

Jo Neka

Selamat pagi pembaca Disway..Terutama Agami Shanks.Saham anda sudah naik 110% apakah sudah membayar pajak hihii. Maaf saya cuma iri..Salam sehat jiwa raga dan dompet. Salam sehat juga buat pak Thamrin Dahlan. om Leong. mas Joko, cak Budi U. mbah Mars pak Pry pak Mirza.dan lain lain..

Nurkholis Marwanto

BYAN kalau tidak berupaya mendiversifikasi usahanya, bisa dipastikan harga sahamnya kembali membumi. Saat boom komoditas usai. O iya, kenapa Abah tidak cocok di pasar modal. Yang pertama Abah pekerja keras, yang karakternya berlainan dengan investor pasar modal. Yang kedua Abah bisa sabar Dalam segala hal, namun kurang sabar dalam investasi di dunia pasar modal. Yang diperlukan investasi di pasar modal adalah kesabaran: kesabaran dalam belajar dan sabar dalam menunggu momen harga luar biasa murahnya. Tidak ikut-ikutan pompomer, yang tiap hari memberikan rekomendasi jual beli. Tidak ada investasi yang imbal hasilnya lebih tinggi selain pasar modal. Tinggal menaruh uang, lupakan. Eh saat teringat uangnya sudah berlipat ganda. Biarkan manajemen perusahaan terbaik yang bekerja. Toh mereka digaji tinggi.

Johannes Kitono

Permintaan batubara dunia tetap tinggi itu bukti banyak negara di dunia yang bohong. Pemimpinnya bilang Green Energy tapi tetap beli dan pakai Batubara biar harga sudah tinggi. Harga saham batubara yang semakin tinggi di bursa tidak bisa bohong. Menurut pakar ekonomi Chatib Basri, harga komoditi yang tinggi akan berdampak Penyakit Belanda, yaitu saking enaknya ekspor komoditi Batubara akan terjadi degenerasi industri yang mempunyai nilai tambah tinggi. Dan harus hati hati mengelolanya krn komoditi Batubara tidak selamanya tinggi.

Ibnu Shonnan

Di mana-mana, begitulah durian. Orang yang mencium harum baunya. Bahkan tetangga terdekatnya, belum tentu ikut merasakan nikmatnya.

Gito Gati

Tiongkok dan rusia berusaha “menundukkan” barat yang dinilai selalu menggunakan standard ganda. Saya secara pribadi senang kalau tiongkok dan rusia mampu “menundukkan” barat. Tentu saya tdk berharap bahwa barat benar2 tunduk oleh kedua negeri “komunis” itu. Karena sdh menjadi hukum alam, dominasi selalu menghasilkan “meminjam istilah iwan fals” kesewenang-wenangan. Semoga dunia segera menjadi lebih baik.

DeniK

Kalau ada yang bertanya mengapa Abah pakai sandal? Karena sudah jadi budaya kantor tambang yang di site , mengharuskan melepas sepatu ketika masuk kantor.

jafar ahmad

izin menyampaikan info ke Admin: 1. Aplikasi Disway tidak bisa dibuka menggunakan Iphone 2. Kalau buka di browser sangat banyak iklan yang mengganggu. Mohon tanggapan Terima kasih

Yea A-ina

Dialog dapur di atas kasur . Istri: uang belanja makin hari, makin gak ada nilainya, pak. Belanjaan untuk masak meroket harganya. Suami: lha gimana lagi, kenaikan gaji sudah berlalu di awal tahun. Darimana lagi pendapatan untuk nutup tekor belanjaan ibu? Istri: kadang ibu heran, apa fungsi pemerintah jika terjadi kenaikan harga kebutuhan pokok gini ya? Suami: lha mbuh bu, yang bapak tahu, tidak sedikit dari mereka yang cuma bisa narsis pasang baleho “minta” dicoblos pas pemilu 2024 sih. Harga bahan pokok meroket, mereka pura-pura gak tahu, mungkin memang tidak tahu. Istri: kalau itu namanya tidak tahu malu pak. Sekian….

Fauzan Samsuri

Namanya aja durian runtuh, yang pandai menangkap tentu dapat makan buahnya, yang tidak pandai menangkap bisa terluka kena durinya

Akagami Shanks

Saya baru dapat telphon dari orang dengan bahasa papua. Mereka coba mengetes ID dengan melakukan pengecekan. Agak ngeri sebenarnya membahas ini. Tentu bukan pinjol, saya tidak ada hutang dengan pinjol. Tuntutan saya sebenarnya normal. Ada pengawasan itu saja. ET, dan GT atau Goto punya hak untuk berbisnis dengan cara mereka sendiri. Tapi jika sampai ada ancaman, atau kejadian seperti orang2 yang di siram miras itu. Mungkin akan terjadi goncangan. Karena saya masih di anggap anggota perguruan silat. Sertifikatnya memang masih ada. Bukan PSHT / IKPSI. Tapi ini organisasi perguruan besar juga.

Dahlan Batubara

Saat ini marga saya ikut melejit. Gara2 bahan tambang ini. Ya..Dahlan Batubara hahahahaha… ini marga etnis Mandailing di Sumut. Wakil presiden Adam Malik jg marga Batubara. Lahir di Chemor, Perak, besar di Siantar. Ayahnya Abdul Malik asal Hutapungkut, Mandailing, Sumut. Sekampung dgn Jend. Abd Haris Nasution. Pun aktor Cok Simbara kepanjangan dari Ucok Hasyim Batubara. Lahir di Panyabungan, Mandailing Sumut. Pun Ucok Baba kepanjangan dari Ucok Batubara. Lahir di Batang Natal, Sumut.

Dacoll Bns

Lagi valuasi mas, hypenya mulai mereda, harga mulai terjun bebas, jadi banyak yg jual – jual sebelum rugi besar. Belum lagi perubahan teknologi blockchain nya dari Proof of Work jadi Proof of Stake yg butuh investasi besar.

Dacoll Bns

Kenapa batubara menjadi idola dari jaman pandemi yang lalu, pak Dahlan ??? Hal ini kemungkinan karena banyak PLTU -PLTU tua yang diaktifkan di beberapa negara khusus hanya untuk mengaliri listrik tambang kripto. Bahkan di Amerika sendiri sampai keluar moratorium untuk menghentikan perijinan pengaktifan kembali PLTU tua yg terbengkalai hanya untuk menambang kripto (kebanyakan PLTU tsb tsb ditenagai Batu Bara). Mungkin di China sebelumnya juga sempat seperti itu, yg pada akhirnya tambang kriptonya banyak dibubarkan pemerintah dan pindah ke Kazakhstan, juga di Russia yg masih menjadi pusat tambang kripto

alam barawa

Ada pepatah lama bilang, “burung sejenis hingga di ranting yg sama” atau “berkawan lah dg penjual parfum, maka kau dapatkan juga wangi2nya”. Nh jika dilihat lagi, Pakah Abah bakal Bisnis batubara lagi? Menarik untuk ditunggu hahah

Wahyu Wanoto

bukan hanya Adaro, KPC dan BYAN abah yg senang para pegusaha rosokan juga ikut senang bayangkan dalam beberapa bulan terakhIr hrg besi tua, tembaga, kuningan dan sejenisnya naik 2 kali lipat, jadi banyak OKB di bisnis ini hehe, tentunya dalam levelnya sendiri, bahkan lebaran kemarin melihat mobil fortuner dan pajero di madura menjadi pemandangan biasa saking banyaknya berseliweran di jalan

Asyrul Fikri

Saya sangat senang membaca tulisan yang berkaitan dengan Kalimantan khususnya Kalimantan Timur. Kita sama-sama beristrikan orang kalimantan timur. Bedanya saya dari Keritang, Indragiri Hilir, Provinsi Riau, dan istri saya Jahab, Tenggarong, Kutai Kertanegara. Mungkin sesuai dengan profesi saya di bidang sejarah, di Indragiri ada Danau Raja, sedangkan di Tenggarong disebut Kota Raja.

Kang Sabarikhlas

oalaa.. pantesan saya mancing pake umpan cacing selalu cuma dapat ikan sepat… duh.. kenapa ndak dari dulu kenal bang Jimmymarta yg pinter mancing…uang.

Jimmy Marta

Apa saya harus bilang wow! … Bertambah 30T dalam dua tahun.. Berkat keyakinan datuk low yg tetap tekun di usahanya. Padahal yg lain pd banting stir dan menjual tambangnya. Tapi anda jangan bayangkan 30T itu didapat dg modal sekian M. Salah. Abah kan bilang bertambah. Ada istilah cari uang dengan uang. Ibarat mancing, jika pakai umpan teri dapatnya paling anak tenggiri. Pakailah tongkol besar jika ingin dapat paus…

thamrindahlan

Enak aja baca disway. Enak lagi Abah banyak berteman orang kaya. Enak lagi durian runtuh dibagi bagi ke kami. Ujungnya ikut berbahagia berada di sini walau cuma disuguhi…. anda sudah tahu. Salamsalaman.

Durian Low

KEMPALAN: INI dia, orang yang kekayaannya, hanya dalam dua tahun terakhir, naik sekitar Rp 30 triliun. Uang beneran. Resmi. Bayar pajak semestinya. Bukan hasil sembunyi-sembunyi.

Dan ia orang Indonesia. Hatinya baik, kerja keras, dermawan, memperhatikan lingkungan dan penampilannya sederhana.

Krisis selalu menghasilkan orang kaya baru –meski juga membuat banyak orang menderita.

Krisis energi dunia, dua tahun terakhir, berkah besar baginya: Datuk Low Tuck Kwong. Ia pemilik Bayan Resource Group. Salah satu usaha tambang batu bara terbesar di Indonesia –meski baru separo ukuran Adaronya Boy Thohir dan KPC-nya Aburizal Bakrie.

Bayan Resource sudah lama masuk Bursa Efek Indonesia: 2008. Ia perusahaan publik. Angka-angka kinerjanya bisa dibaca oleh umum. Termasuk keuangannya. Kode pasar modalnya: BYAN.

Belakangan ini harga saham BYAN melejit cepat seperti roket. Menjadi Rp54.000/lembar –saat saya menulis artikel ini. Bandingkan dengan dua tahun lalu yang masih Rp14.000/lembar. Pun lima bulan lalu. Saat memasuki tahun baru. Harga saham BYAN masih Rp27.000/lembar. Berarti dalam lima bulan terakhir naik dua kali lipat.

Maka bila Anda membeli saham BYAN lima bulan lalu, hasilnya lebih besar dari usaha apa pun di Indonesia. Termasuk dibanding dengan bila Anda menempatkan uang di pinjol sekalipun. Yang tidak masuk akal itu. Yang membuat ribuan orang kehilangan investasinya itu.

BACA JUGA: Haji Aseng

Beda keduanya memang hanya dikit, beda satu huruf. Di BYAN uang Anda berlipat. Di pinjol uang Anda terlipat.

Saya tidak ahli saham. Juga tidak punya saham di mana pun di perusahaan publik. Tidak pula pernah tertarik pada pinjol. Saya orang kuno. Investasi selalu di dunia nyata. “Bodoh sekali,” ujar teman saya yang cepat kaya. Saya memang sudah tua. Sudah ketinggalan zaman.

Mungkin juga karena saya pernah punya pengalaman pahit: habis uang di pasar modal. Duluuuuu. Sudah lama sekali. Saya sudah lupa tahunnya. Di bidang investasi ternyata saya tergolong orang yang sulit move on.

Bayan Group kini memiliki 12 tambang. Di Kutai Kartanegara saja. Belum di Kutai Timur. Belum juga yang di Kalsel.

Disway Baru

KEMPALAN: ANDA harus tahu: saya pun punya perasaan sama. Soal… itu tuh… Disway yang baru, sejak 1 April lalu.

Jengkel, kesal, malu, menumpuk jadi satu.

Bedanya, Anda bisa menulis komentar –untuk menumpahkan kejengkelan Anda. Sedang saya hanya bisa memendam semua itu di dalam hati. Maksimum hanya bisa memilih komentar keras, telak dan sinis Anda untuk dimuat di Disway yang itu juga.

Maksud saya, biar mereka tahu: begitu banyak keluhan. “Baca sendiri tuh reaksi pembaca”. Kalimat itu pun hanya saya katakan di dalam hati.

Tentu Anda tidak percaya ini: saya pun sama dengan Anda, tidak diberi tahu!

Tahu saya, ya hari itu, sudah agak siang. Yakni, ketika ada pembaca mengadu: tidak bisa membuka Disway. Lalu saya mencoba membukanya di HP saya: ternyata juga gagal. Ada Disway-nya, tapi tidak ada isinya.

Saya sudah terbiasa membuka Disway hanya lewat Apps Disway –yang sudah tersedia di layar HP saya. Tinggal satu klik langsung sampai tujuan.

Hari itu saya tidak tahu cara lain selain itu. Lalu saya mengadu ke Disway: tidak bisa membukanya. Dijawab: harus lewat Google.

Oh… “kok mundur begini….”. Itu hanya saya katakan di dalam hati.

Saya pun ke Google Chrome. Seperti sedang browsing koran Pakistan. Ternyata memang muncul Disway di situ: dengan penampilan baru. Langsung kecewa. Berat. Hatiku pun kecewa. Merana. Hatiku pun merana.

“Kok Disway sayangku menjadi seperti itu”.

Semua itu saya tahan-tahankan di dalam hati. Saya berusaha kuat untuk tidak menghubungi mereka. Saya takut keceplosan marah. Lalu saya redam saja dengan ”menyeolah-olahkan” diri saya itu mereka.

Lalu saya bayangkan mereka pasti lagi stres berat. Kurang tidur. Diserang sana-sini.

Kalau saya hubungi mereka pasti hanya menambah stres saja. Maka saya pura-pura tidak tahu. Toh pagi itu sudah banyak komentar yang juga mewakili perasaan saya. Tentu mereka membaca komentar itu –dan memilah-milahnya. Apalagi keesokan harinya terbit komentar pilihan saya. Yang tidak menyembunyikan semua kekecewaan komentator. Mestinya mereka tahu bahwa saya tahu.

Hari kedua pun saya masih menahan diri. Saya lihat mulai ada perbaikan. Belum semua. Saya pun membayangkan betapa sibuknya tim Disway melakukan coding.

Sampai hari ini saya belum menghubungi mereka. Saya lihat perbaikan terus dilakukan. Saya percaya mereka tahu apa yang harus diperbaiki.

Misalnya yang terlihat sejak tiga hari lalu. Tulisan saya ini tidak lagi ditampilkan secara eceran. Berarti mereka memperhatikan keluhan pembaca.

Bukan sekadar mengeluh. Ada yang sampai mengirim komentar langsung ke HP saya. “Sulit kirim komentar. Saya kirim ke sini saja,” tulis Dipa, si wanita Disway itu. Dia pun kirim foto: antrean jeriken.

Sebagian memang salah saya: saya lupa bahwa duluuu mereka pernah memberi tahu tentang jadwal migrasi itu. “Bulan April tahun 2022,” kata mereka.

Itu dikatakan akhir tahun lalu. Ternyata benar-benar mereka lakukan. Tanggal 1 April tulisan saya ditransmigrasikan ke “Lampung” –daerah transmigrasi terbesar di Indonesia.

Disway bukan yang pertama dimigrasikan. Termasuk yang belakangan. Sebelum itu sudah banyak yang dimigrasikan ke rumah baru kita ini. Mereka adalah media-media dari berbagai kota di Sumatra dan Jawa.

Mereka itu dulunya berdiri sendiri-sendiri. Kini bergabung di markas besar baru kita ini.

Ke depan masih banyak lagi yang akan bermigrasi ke sini. Dari Sulawesi. Dari Kalimantan. Dari Bali. NTB. NTT. Juga dari Tobelo. Mungkin jumlahnya sampai 200 –sampai Juli nanti. Lalu menjadi 500 di tahap berikutnya. Lalu entah menjadi berapa lagi di akhir tahun – masih rahasia.

Saya –yang sudah 71 tahun– kadang tidak mengerti isi pembicaraan anak-anak muda itu. Sering saya hanya jadi pendengar yang pura-pura mengerti.

Maka saya seolah saya tahu bahwa mereka lagi amat sibuk. Mereka sedang berkomitmen untuk membesarkan Disway ini. Bukan dengan cara saya –tapi dengan cara anak muda.

Melihat perubahan ini saya pun seperti Anda. Saya lagi bertanya-tanya: Disway ini sedang menuju ke mana. Ke restoran? Ke kuburan?

“Kami tidak mau menuju kuburan,” kata mereka. Ya, sudah. Saya ikut saja.

Bagi saya, memercayai anak-anak muda sudah lama menjadi bagian dari napas sehari- hari. Bukan tanpa risiko. Sering. Bahkan, risikonya tak tertahankan –tapi biarlah saya sendiri yang tahu.

Hidup memang penuh risiko –bagi yang tetap ingin hidup.

Kini saya juga seperti Anda: kangen dengan rumah lama. Terutama kepada para perusuh itu. Perusuh Disway. Saya juga lupa siapa yang pertama menciptakan istilah perusuh itu. Cocok banget predikat itu untuk mereka.

Ke mana pantun? Ke mana Pak Thamrin? Aryo Mbediun? Mbah Mars? Ummi? Dan semuanya?

Pasti karena perubahan ini. Semoga bukan karena terlalu lama berdiri antre minyak goreng curah.

Saya sendiri menyikapi perubahan ini sebagai ”itulah perjalanan hidup”.

Seperti juga perjalanan hidup saya. Tahun-tahun belakangan saya harus sering makan makanan yang tidak saya sukai: brokoli, pepaya, oatmeal, air putih –hanya karena itu penting. Antara suka dan penting ternyata harus disikapi berbeda.

Saya juga sering benci mengapa harus menulis setiap hari. Terutama di hari-hari sangat sibuk. Toh saya terus menulis. Di Disway lama yang saya sukai maupun di Disway baru – yang Anda sudah tahu. (*)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan di Tulisan Burung Pengkhianat

Mister Xi
Pashtun,,, Anda sudah tahu,,, gadisnya cantik cantik,,, sampai bayangannya pun cantik,,, kalo nggak percaya,,, menikahlah dengan gadis pasthun,,, walau hanya dalam mimpi,,, wkwkwkkwkw,,,,,

Mister Xi
Maaf,, agak Out of the topic,,, Multi akun,,,, fake accounts ,,, bots,, anonymous,,, dan sejenisnya,,, marak kita jumpai di kaskus,, YM,, FB,,, twitter,,,Instagram,, yucub dan lain2,,, Mark Zuckerberg pun tahu itu,,,, tapi dibiarkan,,, untuk ngrame’in suasana,,, .. bukan,,, itu untuk penglaris (ini kt temen inyong yg punya usaha startup kecil2an).

Situasi terkini di Disway.id,,,, fitur ‘login for commenting‘ yg Only Fans,,,, ehh…. only one (google account),,, tidak ada opsi lain (semisal login with email, login with FB, login with twitter,,, login with phone number,,, etc),,, akan membuat jumlah komentar menurun,,,,,

Amat Kasela
Mister, saya cuma memberi informasi. Tiga permen Milkita sama dengan segelas susu.

Dian Gambar
Oh ya.. Sebagai emak-emak rumahan, biasanya kalau Abah menulis soal konflik politik negara lain, saya gampang ngertinya. Tapi untuk Srilangka dan Pakistan ini terus terang agak sulit memcernanya. Apa karena pengaruh puasa atau memang tulisannya kurang tanak jadi kurang enak ngunyahnya. Ngapunten Abah..

triyoga
yang berulang ulang hanya komentar tentang buruknya kualitas iklan. Saya bingung iklan yang mana? saya refresh sampai dua tenggak teh botol habis tak juga muncul itu iklan. Belakangan sadar. Saya pemakai opera. di pc. di smartphone juga pakai dns adguard. praktis gak pernah melihat iklan 🙂

Liam Then
Tetangga nya india yang hampir sama karakteristik teritori nya. India malah ekspor bahan makanan. Apakah dari dulu kebijakan produksi pangan Pakistan kalah kualitas di banding India? Padahal mulut yang harus di beri makan di India lebih banyak. Indonesia dalam hal ini juga kalah, lebih dari Pakistan. Karena lahan nya jauh lebih subur dari dua negara tersebut. Hehehe…kalo ada investigasi jurnalistik tentang importir beras. Pasti isinya akan sangat mengejutkan. Tapi reaksi nya akan biasa saja seperti : “Saya terkejut,marah,kecewa,mafia” – Selesai. Dejavu lagi.

Mirza Mirwan
Sekadar meluruskan. Sidang parlemen yang dimaksudkan Pak DI di atas bukan berlangsung “Kamis pekan lalu” (berarti 31 Maret), seperti ditulis Pak DI. Yang benar berlangsung Hari Minggu, 3 April. Benar, Minggu, awal puasa di Pakistan, seperti di sini versi pemerintah. Ada lagi, “Berarti sudah melebihi 271 — separo kursi DPR.” Itu juga
keliru. Separuh kursi DPR Pakistan (Qawmie Assimblie/National Assembly) adalah 171, karena total kursinya hanya 342. Untuk membentuk pemerintahan minimal harus memenangi 172 suara (kursi) DPR, atau separuh lebih satu. Seperti kemarin sudah saya tulis di komentar “di luar konteks”, pemungutan suara anggota DPR dijadwalkan hari ini, Sabtu, 9 April. Tabik.

*) Diambil dari komentar pembaca http://disway.id

Durian Nitrogen

KEMPALAN: SAYA sengaja berbuka puasa sedikit saja kemarin: satu liter air-putih-hangat dan pisang kepok masak yang saya panggang di teflon.

Target setiap hari membaca Quran 1 juz sudah selesai sebelum azan magrib. Lalu akan ada buka puasa besar setelah itu: pesta durian.

Teman saya, pengusaha sandal, baru saja membuka Rodjo Durian di Duta Mas, Angke, Jakarta Barat. Saya diantar teman saya, Liong, yang sengaja datang dari Surabaya: keluarga pabrik sepatu yang memproduksi sepatu AZA –singkatan Azrul Ananda, anak saya.

Belum lagi durian dibuka datang pula teman saya yang asal Medan. Namanya Venus Jong. Yang usahanya impor durian.  Lalu datang lagi petani durian dari Tegal: Yanto Sodri. Ia pakai kaus hitam dan sandal butut. Di kausnya tertulis: Durian vs Everybody.

Lalu datang lagi teman baru, juga Tionghoa, asal Singkawang. Ia memperkenalkan diri: Ong Aman, pengusaha onderdil mobil mewah di Pluit. Lalu memperkenalkan wanita berjilbab di sebelahnya: “ini istri saya,” katanya.

Kami menarik tiga meja untuk dijadikan satu. Meja-meja lain sudah diduduki penikmat durian lainnya.

Pemilik Rodjo Durian, Yayang (Thio Hok Liang), membacakan tata-tertib yang harus kami setujui. Pertama, protokol kesehatan. Waktu berfoto kami boleh buka masker tapi tidak boleh bicara.

Tata-tertib utama: kami harus makan durian lokal lebih dulu. Tidak boleh langsung Musangking.

Ia punya tiga jenis durian lokal: Palu, Padang, dan Bali. Kelak ia pengin jualan segala jenis durian lokal pilihan dari segala daerah.

Dengan aturan itu nafsu saya untuk segera makan Musangking saya tekan. Harus sabar. Orang puasa harus sabar –kecuali soal Vaksin Nusantara.

Peraturan lainnya: makan duriannya tidak boleh ngawur. Harus satu jenis dulu diselesaikan. Baru boleh ke jenis berikutnya.

Ada lagi peraturan khusus: setiap menyelesaikan satu jenis, harus diselingi minum. Jenis minumannya pun khusus. Yakni yang bisa menghapus ingatan akan rasa durian yang baru saja dimakan. Itu untuk menyiapkan mulut: agar siap menghadapi rasa durian berikutnya.

Minuman penyela itu adalah kopi. Tidak boleh pakai gula. Tidak boleh pakai susu. Hanya kopi hitam. Maka, kalau Anda melihat foto ada cangkir di sela-sela durian, itulah kopi yang dimaksud.

Tidak ada demokrasi di pesta ini: pemilik Rodjo Durian yang menentukan. Maka kami menerima saja ketika durian pertama yang disajikan adalah ini: durian dari Padang. Tanpa nama.

Enak sekali. Tapi tidak boleh emosi. Daftar durian yang harus dimakan masih panjang. Sambil makan durian Padang saya lihat suami-istri di meja sebelah. Kok makan duriannya kurang semangat. Saya datangi meja itu. Saya tanya kenapa. Saya sakit hati kalau melihat orang makan durian tanpa semangat yang menyala-nyala.

“Tidak enak,” kata sang suami.

“Pilih durian apa?” tanya saya.

“Padang.”

Lalu saya ambil durian Padang di meja saya yang sebagiannya baru saja saya makan. Saya sodorkan padanya.

“Coba rasakan ini. Juga durian Padang. Tapi enak sekali,” kata saya.

Semula ia tidak mau. Saya lihat wajah sungkan di mimiknya. Pemilik Rodjo Durian berdiri di sebelah saya. Ia ikut mendesak konsumennya untuk mau menerima tawaran saya.

Sang suami mengambil satu ruas. Memakannya. “Iya. Enak sekali,” katanya. Sang istri ikut mengambil. Saya pun bertanya pada sang istri. “Bumi langit,” katanya.

Sang pemilik memanggil manajernya: untuk mengetatkan seleksi durian yang dikirim oleh pemasok. Sang pemilik pun tidak mau kalah. Ia mengambil durian Musangking untuk diberikan kepada yang baru kecewa tadi. Puas. Mereka pulang dengan senyum.

Setelah menyelesaikan sesi durian Padang itu berarti saya harus minum kopi. Wah, bagaimana ini. Saya tidak terbiasa minum kopi. Tapi saya sudah telanjur sepakat menerima tata-tertib. Ya sudah. Seruput saja. Sedikit.

Ups…. Kopi hitam ini ternyata enak sekali. Saya kaget-kaget senang. Rupanya durian membawa pengaruh kepada rasa kopi.

Maka mulailah sesi durian Bali. Rasanya setara dengan yang dari Padang. Demikian juga durian Palu –yang sebenarnya datang dari luar kota Palu. Dagingnya lebih tebal. Tebal sekali. Sampai saya takut kekenyangan.

Tidak terasa kopi saya tinggal setengah gelas. Rupanya minum kopi terbaik itu di sela-sela makan durian. Atau makan durian terbaik itu di sela-sela kopi.

Lalu datanglah sesi yang dinanti-nanti: Musangking. Yang diimpor dari Malaysia. Sesi ini ternyata masih terbagi dalam dua sub-sesi.

Yang pertama, Musangking yang fresh. Yang didatangkan dari negara bagian Pahang. Rasanya, jangan ditanya lagi. Kita bisa langsung menyenangi apa yang harusnya kita benci: barang impor.

Kenyataan inilah yang harus membangkitkan semangat bersaing. Sudah 20 tahun durian kita dijatuhkan martabatnya oleh Malaysia. Kita harus bangkit mengejar.

Keinginan untuk bangkit itu saya lihat mulai ada. Di Bangka mulai ada perkebunan durian unggulan (Lihat Disway 30 April 2020). Petani Tegal berkaus “Durian vs Everybody” tadi juga mulai tanam Musangking di kebunnya. Yanto Sodri, petani Tegal itu, menanam 80 pohon durian di situ. Dari 80 pohon sudah ada Musangkingnya: dua pohon. Selebihnya durian lokal jenis Bawor.

“Kenapa tidak tanam Musangking semua?” tanya saya.

“Dapat bibitnya ya Bawor itu,” jawabnya. “Musangkingnya hanya dapat dua pohon,” tambahnya.

Yanto sudah panen 4 kali. Termasuk yang Musangking. Harga jual Bawor Rp 300.000/kg. Musangking Rp 450.000/kg.

Meski hanya tamatan SD, Yanto pintar berhitung bisnis. Bawor adalah durian lokal termahal. Ia tidak mau tanam Montong. Yang harga jualnya hanya Rp 130.000/kg.

Saya jadi ingin tahu seperti apa jenis Bawor itu. Tapi tidak dijual di Rodjo Durian. Musimnya sudah lewat.

Dari pengalaman Yanto itu kita menjadi tahu: kita punya problem bibit dan problem musim. Di samping banyak problem lainnya.

Yanto berumur 40 tahun. Begitu tamat SD ia merantau ke Jakarta. Jualan koran. Lalu jualan sandal murah. Bertahun-tahun. Akhirnya punya toko sandal. Kian tahun toko sandalnya kian banyak.

“Berarti sudah punya tabungan? Sudah bisa beli rumah?” tanya saya.

“Saya belum pernah bisa beli rumah,” jawabnya.

Hah?

“Mertua sudah membelikan rumah,” jawabnya.

Tabungan yang punya: cukup untuk membeli tanah 1.600 m2 dan bibit durian 80 batang. “Saya tidak membayangkan kalau masih perlu biaya pemeliharaan. Ternyata mahal,” katanya.

Yanto mempekerjakan 10 orang untuk 80 batang itu. Untuk gaji mereka saja sudah Rp 20 juta sebulan. Belum pupuknya.

Kita masih begitu jauh dari yang harus kita kejar: Malaysia. Apalagi durian kita terlalu banyak ragamnya. Pembeli masih harus berjudi: dapat enak atau tidak.

Padahal yang kita kejar juga terus berlari. Mereka terus menemukan penyempurnaan jenis Musangking yang ada sekarang. Bukan hanya bibitnya tapi juga teknologi pasca panennya.

Teknologi itu disebut nitrogen. Itulah yang ingin saya lihat. Tapi saat berbuka puasa kemarin yang disajikan lebih dulu adalah Musangking yang segar. Artinya: durian yang dikirim langsung dari kebun. Baik lewat kapal maupun pesawat.

Tidak perlu saya ceritakan enaknya. Anda lebih tahu dari saya.

Yang ini yang mungkin Anda perlu tahu: durian Musangking Nitrogen. Ini dia.

Pemilik Rodjo Durian mengeluarkan dua buah durian. Yang satu kulitnya hijau segar. Hijau sekali. Seperti durian mentah yang masih agak muda.

Durian ini baru dikeluarkan dari freezer. Lalu dipanasi di dalam microwave selama 20 menit. Ketika dibuka isinya masih dingin. Masih setengah beku. Warna yellowis.

Saya mencomot satu ruas. Saya makan. Seperti es krim legit yang baru diambil dari lemari pendingin.

Musangking yang satu lagi masih dibungkus aluminium foil warna kuning. Belum dipanaskan. Isinya masih beku. Masih keras seperti es batu. Karena itu tidak dibuka di situ. Hanya untuk dilihat.

Itulah durian Musangking Nitrogen. Di Malaysia, begitu dipanen, durian itu dimasukkan lemari pendingin dengan suhu minus 110 derajat. Selama dua jam. Beku. Pendinginnya nitrogen. Setelah itu baru dipindah ke ruang freezer penyimpanan. Untuk diekspor ke Jakarta. Terutama ke Tiongkok.

Dengan perlakuan seperti itu durian nitrogen bisa disimpan sampai 1 tahun. Diekspor lewat kapal pun tidak akan rusak.

Untuk pasar Indonesia importernya ada 4 perusahaan. Salah satunya teman baru saya itu. Tionghoa yang dari Medan itu: Venus Jong. Umur 33 tahun.

Awalnya ia bisnis di bidang keuangan. Sejak SD sekolahnya sudah di Singapura. Sampai tamat perguruan tinggi.

Teman bisnisnya orang Malaysia. Yang punya keluarga pemilik kebun durian di Pahang. Dari pertemanan itulah lantas Venus terjun ke bisnis durian.

Ia juga buka puasa kemarin. Venus ikut Islam sejak tiga tahun lalu. Pasar Musangking di Indonesia memang kian besar. Dulu kedatangan Musangking hanya seminggu sekali. Kini 4 kali seminggu.

Mengapa pasar Musangking membesar?

“Orang Indonesia itu suka durian. Tapi banyak yang takut. Akhirnya terjadi kompromi. Makan duriannya jangan banyak-banyak tapi harus yang istimewa,” ujar Yayang.

Pesta durian pun selesai.

Begitu kenyang malam kemarin. Saya ragu apakah masih perlu makan sahur. Tapi saya tetap mampir resto yang banyak di sekitar pecinan itu: take away. Saya beli menu sahur malam itu: nasi putih, kerapu lada hitam dan telur sadar oyster. (www.disway.id)

Penulis: Dahlan Iskan, Sang Begawan Media.

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.