Jumat, 8 Mei 2026, pukul : 13:58 WIB
Surabaya
--°C

Haji Aseng

KEMPALAN: Ia sudah lama menunggu saya. Di depan masjid besar di kota kecil itu. “Kita salat duha dulu,” katanya. Kami pun menuju tempat ambil air wudu.

Yang mengajak salat itu Aseng. Itu nama panggilan. Nama lengkapnya Djie Tjin Seng. Ia pengusaha besar. Ia lahir di Tarakan. Besar di Balikpapan. Usahanya di banyak kota.

Rupanya ia biasa bersalat duha. Tidak seperti saya. Itu adalah salat duha saya yang pertama –setidaknya dalam dua tahun terakhir.

Dalam hal salat saya kalah jauh dari Aseng. Bukan saja seringnya, juga khusyuk-nya. Saya perhatikan salatnya: tiga kali lebih lama dari salat saya.

Sambil menunggu Aseng menyelesaikan salat duha –salat khusus ketika matahari setinggi penggalah– saya menuju tumpukan Alquran di rak yang menempel di dinding. Ingin tahu saja.

BACA JUGA: Dokter Pasien

Itulah tumpukan Quran khas masjid zaman sekarang: banyak juga buku kecil ditaruh di situ. Isinya: doa dan tahlil. Sampulnya: gambar orang yang telah meninggal dunia. Atau nama orang itu.

Itulah buku yang diterbitkan untuk memperingati orang yang meninggal dunia. Biasanya buku seperti itu dibagikan kepada peserta doa di rumah duka. Lalu sebagian ditaruh di masjid.

Saya lihat, misalnya, ada buku untuk memperingati meninggalnya Helland Eddward (Ewai) bin H. Moh Hasan. Dari nama yang meninggal itu kelihatannya almarhum dari suku Dayak. Memang banyak juga orang Dayak yang Islam –meski umumnya Kristen.

Terbaca juga pengumuman Umrah New Normal: Rp 35,5 juta. Yang Normal Rp 30,5 juta.

Masjid itu ada di Kotabangun. Kota kecil sekali. Di hulu Sungai Mahakam. Kami janjian bertemu Aseng di situ. Masjid itu, semula, saya kira, hanya untuk memudahkan penanda meeting point. Ternyata ia mengajak salat duha juga.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.