Sabtu, 20 Juni 2026, pukul : 02:40 WIB
Surabaya
--°C

Meniru Resep Sukses Kesebelasan Jepang

Keberhasilan Jepang membuktikan bahwa sepak bola modern tidak bisa dibangun di atas fondasi yang instan, melainkan lewat manajemen yang rapi, komitmen yang konsisten, dan visi yang melampaui zaman. 

Oleh: Said Salim

KEMPALAN: ​Sebelum panggung sepak bola Asia dikuasai oleh kedigdayaan kesebelasan Jepang seperti sekarang, peta kekuatan di benua Asia pernah didominasi oleh poros kekuatan yang berbeda.

Kita tentu ingat bagaimana tim nasional Iran, Arab Saudi, dan Korea Selatan bergantian menjadi raja yang ditakuti di Asia. Mereka adalah raksasa tradisional yang seolah memiliki hak paten atas tiket Piala Dunia dan trofi Piala Asia.

Namun, peta kekuasaan itu perlahan bergeser secara dramatis. Jepang, yang dulunya sempat kesulitan meruntuhkan dominasi ketiga negara tersebut, kini justru melesat sendirian memimpin di depan dan menjadi standar tertinggi sepak bola modern di Asia.

Kisah kebangkitan sepak bola Jepang ini seringkali dipandang sebagai sebuah keajaiban yang instan, padahal kenyataannya adalah buah dari sebuah kesabaran yang luar biasa.

Banyak yang mengira Jepang mendadak melesat begitu saja sejak era 1990-an, namun jika kita bedah secara historis, era 80-an justru menjadi masa-masa yang penuh rasa frustrasi bagi mereka karena kerap gagal melangkah ke panggung dunia dan selalu berada di bawah bayang-bayang negara-negara di kawasan Asia. Titik balik yang sesungguhnya baru dimulai pada awal tahun 1990-an.

BACA JUGA  Bandingkan Gerakan Mahasiswa 77/78 dengan Gerakan Mahasiswa Generasi sekarang (2026)

Melalui rencana kerja yang dirancang dengan sangat matang, Jepang mulai bertransformasi dari tim yang diremehkan menjadi kekuatan utama yang tak pernah absen di Piala Dunia sejak tahun 1998, bahkan berkali-kali merengkuh trofi Piala Asia.

Resep utama dari keberhasilan fantastis ini terletak pada visi jangka panjang yang mereka sebut sebagai Proyek 100 Tahun. Ketika meluncurkan rencana ini awal 90-an, Jepang tidak sedang memikirkan cara instan untuk menang di turnamen bulan depan, melainkan menargetkan diri untuk menjadi juara dunia pada tahun 2050.

Fondasi pertama yang mereka bangun adalah memodernisasi kompetisi domestik dengan melahirkan J. League pada tahun 1993. Liga yang semula hanya berupa kompetisi antar-perusahaan semi-profesional diubah total menjadi suatu liga profesional yang mandiri dan melekat kuat pada identitas kota atau daerah masing-masing.

Pada masa awal, mereka bahkan sengaja mendatangkan bintang-bintang dunia seperti Zico dari Brazil demi menularkan etos kerja dan profesionalisme kepada para pemain lokal.

Langkah tersebut dibarengi dengan pembenahan akar rumput melalui kurikulum pembinaan usia dini yang seragam di seluruh negeri.

Federasi sepak bola mereka menciptakan standar yang sama untuk diterapkan di sekolah-sekolah dan akademi, sehingga sejak usia anak-anak, para pemain sudah fasih dengan filosofi permainan yang mengandalkan kolektivitas, kecepatan, dan teknik operan pendek, serta disiplin taktik yang tinggi.

BACA JUGA  Autopsi MoU AS – Iran: Mengaku Menang

Hebatnya lagi, pembinaan ini bersinergi secara sempurna dengan kompetisi sepak bola antar-SMA yang sangat megah di Jepang menjadikannya lumbung bakat yang tak pernah kering bagi klub-klub profesional.

Sebagai puncaknya, Jepang sangat jeli dalam menjalankan strategi ekspor pemain. Mereka menyadari bahwa untuk menyamai level tim-tim raksasa dunia itu, para pemain terbaiknya harus teruji di kompetisi tertinggi Eropa.

Klub-klub J. League pun tidak egois, mereka dengan senang hati melepas aset terbaiknya ke klub-klub Eropa, bahkan ke liga sekunder sekalipun, demi jam terbang dan kematangan mental.

Hasilnya kini terlihat jelas di mana mayoritas skuad Timnas Jepang telah mengisi pos-pos penting di liga-liga top dunia dan telah berhasil melampaui para mantan penguasa Asia.

Keberhasilan Jepang membuktikan bahwa sepak bola modern tidak bisa dibangun di atas fondasi yang instan, melainkan lewat manajemen yang rapi, komitmen yang konsisten, dan visi yang melampaui zaman. 

Ini semua bisa menjadi contoh dalam pengembangan demi kemajuan sepak bola kita.

*) Said Salim, Pengamat Bola Senior dari Ampel Surabaya

Pendapat dalam artikel ini adalah pandangan pribadi.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.