Rabu, 13 Mei 2026, pukul : 12:56 WIB
Surabaya
--°C

Membaca Isyarat 2029: Pertemuan Sarung Pesantren dan Iket Pasundan

Pertemuan keduanya adalah harapan akan panen raya bagi Indonesia – sebuah masa di mana agama dan budaya tak lagi diperdebatkan, melainkan dipersatukan untuk kesejahteraan rakyat.

Oleh: Sulung Nofrianto

KEMPALAN: Ada sebuah masa di mana politik tak lagi sekadar urusan baliho dan angka survei. Kelak ada masanya politik menjadi urusan “rasa”, silsilah, dan juga bagaimana Indonesia menghadirkan dua putra yang dipanggil oleh sejarah. Ini bukan sekadar perkara teknis pencalonan, hitung kursi parlemen, atau rekan koalisi.Saru

Menjelang 2029, kita tak hanya menanti pergantian kalender kekuasaan saja, melainkan sedang meraba denyut nadi sejarah yang lebih dalam. Dan ini bukan sekadar koalisi antara “Sarung” Pesantren dan “Iket” Pasundan, melainkan tenun kebangsaan antara religiusitas yang berakar dan kebudayaan yang membumi.

Ada sebuah isyarat yang mulai terbaca di antara beragam wacana: sebuah simfoni yang bakal digubah oleh dua putra zaman, Muhaimin Iskandar dan Dedi Mulyadi. Bila terwujud, kita akan menyaksikan peristiwa bersejarah yang disebut oleh Benedict Anderson sebagai penguatan kembali imagined communities.

Muhaimin Iskandar: Menara Spiritualitas dari (Jawa) Timur

Muhaimin Iskandar – atau yang akrab disapa Cak Imin dan Gus Imin – adalah pewaris sah KH Bisri Syansuri, yang di nadinya mengalir darah sang Pendiri Nahdlatul Ulama. Mengacu konsep habitus milik Pierre Bourdieu, Muhaimin adalah perwujudan modal budaya dan simbolik yang terakumulasi melalui rahim pesantren.

Membaca Cak Imin adalah membaca dialektika antara “kitab kuning” dan “meja birokrasi”. Kepiawaiannya sudah diuji zaman dalam memimpin PKB sebagai partai jangkar. Kedalaman batinnya mampu menyentuh akar rumput santri. Ia adalah mantan aktivis PMII yang sudah khatam dengan asam garam parlemen hingga kursi menteri.

Dalam perspektif Max Weber, Gus Imin merepresentasikan otoritas tradisional yang bertransformasi menjadi otoritas legal-rasional. Ia adalah santri yang fasih membaca gerak zaman lewat kacamata kitab klasik dan firasat politik. Ia mewakili wajah Jawa yang moderat, tenang, namun memiliki resiliensi yang tangguh.

Dedi Mulyadi: Akar Kebudayaan dari (Jawa) Barat

Jika Muhaimin Iskandar adalah representasi menara spiritualitas, maka Dedi Mulyadi – akrab disapa KDM – adalah personifikasi dari akar kebudayaan dan kedaulatan rasa. Sebagai putra Sunda, Dedi membawa politik ke ruang publik yang lebih akrab: di pematang sawah, aspal jalan, dan dalam balutan iket kepala yang menjadi cirinya.

KDM bukan sekadar pemimpin daerah dengan populasi terbanyak di Indonesia. Ia adalah seorang altruis dan budayawan yang mengerti bahwa memimpin manusia adalah soal memimpin hati. Tempaan aktivisme HMI-nya membuat nalarnya juga tajam, namun kecintaannya pada tradisi membuatnya tetap membumi.

Mengutip inspirasi dari pemikiran Soedjatmoko tentang dimensi kultural dalam pembangunan, KDM sendiri memahami bahwa memimpin manusia adalah soal memuliakan kosmologi lokal. Ia adalah birokrat yang tak kaku, seorang pemimpin yang memahami bahwa pembangunan tanpa kebudayaan adalah raga tanpa jiwa.

Keseimbangan Baru: Saat Jawa dan Sunda Bersenyawa

Kombinasi Cak Imin-KDM adalah sebuah “Dynamic Equilibrium“. Jawa dan Sunda – tanpa bermaksud menafikan suku lainnya – adalah dua pilar terbesar nusantara. Jika semuanya menyatu dalam satu harmoni kepemimpinan, maka soal stabilitas sosiopolitik bukan lagi sekadar impian, melainkan keniscayaan.

Gus Imin membawa legitimasi religius-tradisionalis, sementara KDM membawa legitimasi kultural-populis. Keduanya adalah mantan aktivis, birokrat ulung, dan memiliki massa pendukung yang organik. Pertemuan PMII dan HMI dalam satu surat suara adalah reuni sejarah yang ditunggu oleh aktivis lintas generasi.

Jalan Terhormat sang Begawan: Solusi untuk 2029

Namun di tengah gemuruh harapan muncul pertanyaan, bagaimana memosisikan fajar masa depan tanpa meredupkan matahari yang ada sekarang? Mengacu pada teori Vilfredo Pareto tentang circulation of elites, transisi kepemimpinan harus berjalan secara sirkular agar tidak menciptakan turbulensi yang merusak tatanan.

Solusi elegan bagi posisi Prabowo Subianto dan Joko Widodo yaitu meletakkannya pada maqam Statesman atau Begawan Bangsa setelah masa pengabdiannya yang tuntas. Dalam filsafat Aristoteles, hal ini disebut juga sebagai bentuk tertinggi dari kebajikan politik atau phronesis.

Prabowo dan Jokowi akan mencapai puncak kepemimpinan semacam penjamin stabilitas atau The Guardian yang menjaga estafet kepemimpinan tetap berada pada jalurnya. Dengan mendukung Cak Imin-KDM, Prabowo dan Jokowi akan dikenang sebagai patriot yang ikhlas membukakan jalan bagi generasi berikutnya.

Penutup: Menanam Padi, Mengetam Harapan

Pada akhirnya, 2029 adalah soal bagaimana merawat ladang demokrasi. Cak Imin-KDM adalah dua petani politik yang sudah lama menanam.

Pertemuan keduanya adalah harapan akan panen raya bagi Indonesia – sebuah masa di mana agama dan budaya tak lagi diperdebatkan, melainkan dipersatukan untuk kesejahteraan rakyat.

Hanya kepada Allah kita menggantungkan harapan agar Indonesia selalu menjadi negeri yang aman dan rakyatnya dianugerahi kemakmuran.

*) Sulung Nofrianto, Penulis

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.